Menjelajahi Ramadhan

Di bulan Ramadhan sekian tahun lalu, seseorang tak dikenal datang ke dalam tidur saya. Setiap malam. Sejak itu, saya berubah dalam memandang Ramadhan.

Tak ingat persis waktunya, namun kedatangannya sekitar 10 kali. Wajahnya tak pernah terlihat jelas karena dia selalu berdiri dalam cahaya amat terang. Yang saya yakini adalah dia seorang pria (karena berjanggut putih-kecoklatan) bertubuh tinggi langsing. Dan dia selalu mengenakan jubah putih. Saat disambangi pertama kali, saya mengira saya baru berjumpa the Christ. Continue reading “Menjelajahi Ramadhan”

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Continue reading “Penyebar Kebencian”

Merry Christmas, Suster!


Merry Christmas, Suster! Merry Christmas, Pastor!
Lalu para suster biara dan pastor akan menciumi kening saya, menyapu telapak tangan di atas kepala saya sambil mendoakan keberkahan dalam hidup saya.
‘Merry Christmas, sayang!’ yang selalu diucapkan dengan senyum tulus.

Itu puluhan tahun lalu. Sekarang sang pastor sudah kembali ke negara asalnya, Belanda. Suster kepala meninggal saat saya SMP. Saya tidak pernah lagi mengunjungi kepastoran sejak itu. Keinginan mengabdi sebagai nun pun telah saya buang jauh-jauh. Namun kenangan itu selalu datang setiap Christmas tiba.

Terlalu banyak kenangan. Tahun lalu saya masih menerima sms ‘Wish you had a merry x-mas!’ dan ‘I’d hand u roses in next christmas. I promise.’ Continue reading “Merry Christmas, Suster!”

Ramalan? Let’s See!

Film 2012 dan berbagai tayangan ramalan di televisi mengembalikan ingatan masa remaja saya. Ibunda seorang teman baik saya di SMP adalah peramal hebat dan ahli pengobatan. Kami menyebutnya dukun. Peramal lainnya, seorang teman berkebangsaan India. Keduanya meramalkan saya tanpa pernah saya minta, di tempat dan waktu berbeda. Teman India meramalkan kehidupan saya setelah usia 30. Ramalannya mengagetkan saya karena mirip ramalan sang ibunda.

Suatu hari semasa saya masih SMP, sang bunda meramalkan saya akan menikah di usia relatif muda. Tentu semua yang mendengarkan ramalan itu hanya bisa tersenyum. Reaksi saya? Ketawa ngakak!
Saat itu semua teman tahu saya bercita-cita menjadi nun dan ga pernah berniat menikah sama sekali. Continue reading “Ramalan? Let’s See!”

MOM, I’M A GAY!

imagesMulut saya terkunci sekian detik mendengar pengakuan itu. Meski sebelumnya dia telah mewanti-wanti bahwa saya mungkin akan shock. Saya mempersiapkan diri pada pengakuan terburuk, namun itu masih saja membuat saya terdiam 2-3 menit.
‘Yes, Mom, I’m a gay.’
Dia – salah satu putra saya – mengulangi lagi pernyataannya.

Saya kira semua ibu ingin melihat anak-anaknya tumbuh ‘normal’. Menjadi gay bukanlah sesuatu yang ‘cukup normal’ buat saya. Continue reading “MOM, I’M A GAY!”

Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?

page2_1Tulisan ini mungkin isi kepala sebagian Muslim di dunia yang membuat beberapa video Condell dilarang beredar online. Ini angan-angan bodoh sebenarnya. Datangnya dari pikiran badut saya saat menyaksikan betapa naif pria itu, meski dia lumayan populer di negaranya. Saya pemerhati video-videonya, entah dengan alasan apa, tanpa pernah tertarik mengomentari langsung. Pertemuan saya dengan video pertamanya saat saya sedang berburu video tentang Islam untuk seorang teman di tahun 2007. Continue reading “Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?”

Selamat Paskah dari Vatikan

Dari kecil dulu saya suka banget menantikan acara-acara keagamaan di TV. Dan itu masih kerap saya lakukan sekarang. Ga jelas asal mulanya kesukaan itu timbul. Senang aja mendengar bahasa-bahasa asing diucapkan, atau melihat beragam bangsa berbaur tanpa sibuk memikirkan bahwa mereka berbeda bangsa, berbeda bahasa, bahkan berbeda ras.

Dan hari ini saya menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Senang mendengar Sri Paus mengucapkan ‘Selamat Paskah’ dengan dialeknya. Menurut saya sih, dialek Bahasa Indonesia Paus Johannes jauh lebih sempurna dibandingkan Paus Bennedict, meski yang diucapkan hanya kata-kata singkat. Bahkan dulu saya ikut sibuk menghitung jumlah bahasa yang digunakan Sri Paus. Continue reading “Selamat Paskah dari Vatikan”

Resolusi Tahun Baru

sunnyTiap akhir tahun saya bikin resolusi. Seringkali ditulis berupa file di komputer. Biasanya selalu spesifik. Misalnya saya pernah menuliskan ‘saya harus beli rumah sebelum September’ dan hal-hal semacam itu. Umumnya resolusi saya terpenuhi. Entah karena Tuhan kasihan atau memang kerja keras saya diberkati-Nya.
Tapi tahun ini, seiring dengan pertambahan usia, resolusi saya mirip impian-impian yang saya sendiri ga terlalu peduli akan terjadi atau ga, di bulan berapa atau kapan, atau bahkan jika impian-impian itu tetap akan menjadi impian selamanya. Seperti yang banyak orang katakan, saya bukan pemimpi yang baik karena ga pernah punya mimpi tentang dunia nyata. Mimpi saya hanya hidup di alam mimpi saat saya tidur. Dan saya  ga pernah membawanya ke luar dunia mimpi agar menjadi impian di alam nyata.

Tahun ini saya ga menuliskan resolusi berbentuk file, tapi saya simpan di kepala dan menuliskannya di sini. Siapa tahu ada orang lain di luaran sana yang saya kenal maupun ga, memiliki resolusi yang mirip, atau syukur-syukur kalau resolusi saya bisa menjadi inspirator seseorang 🙂 Continue reading “Resolusi Tahun Baru”

Black Magic Merampas Masa Lalu Saya!

Sampai detik ini saya ga percaya apa yang orang lain percaya. Mereka bilang saya dikuasai kekuatan hitam dari luar yang ga mampu saya tolak. Masa’ sih, saya begitu begonya sampai-sampai mau dikekang kekuatan lain di luar keinginan saya? Masak sih mata saya buta sekian tahun lamanya sehingga ga bisa melihat kekuatan itu dalam diri saya? Bukankah otak saya yang menyuruh kaki saya melangkah ke mana? Bukankah otak saya yang menyuruh saya berkata sesuatu? Bukankah otak saya yang menguasai semua indera saya agar saya melakukan ini dan itu?
Faktanya, jangan tanya di mana saya atau apa yang saya lakukan dalam sekian tahun lamanya karena otak saya sungguh ga mampu mengingatnya. Bukan karena saya lupa, tapi memang saya ga bisa merasakan pernah melewati sekian tahun dalam kehidupan saya. Yang dapat saya rasakan tentang sekian tahun itu hanyalah ketakutan tanpa alasan, lidah yang kelu, dan rasa mual yang hebat setiap mampu merasakan kekeluan itu.

Ga masuk akal sehat saya bahwa saya yang lahir dan dibesarkan di tanah yang penuh black magic dan mengenal kekuatan hitam itu dengan amat baik, ternyata malah ditipu mentah-mentah oleh kekuatan hitam itu sendiri.
Orang bilang saya wanita tangguh tapi ternyata hanyalah onggokan serpihan rapuh!
Continue reading “Black Magic Merampas Masa Lalu Saya!”

Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!

Pada beberapa teman baik yang saya yakin dan percaya ga sudi melihat saya berubah buruk atau kepleset ke jurang kesalahan, saya selalu wanti-wanti untuk mengkritik saya kapan pun saya melakukan kesalahan atau menyimpang. Dan kalau saya masih keras hati alias tetap lebih suka menyimpang, mereka boleh menjewer kuping saya, atau kalau perlu mendaratkan tendangan keras. Saya takut menyimpang dari jalan kebenaran apalagi jika melakukan itu dengan kesadaran dan perasaan bangga.

Puluhan tahun saya hidup dalam dunia yang ga banyak orang pernah melaluinya. Belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun saya lalui ga ubahnya kedelai-keledai yang meletakkan jiwanya di telapak kaki. (Saya sulit membedakan keduanya. Dan lagi malas nyari di google. Jadi saya tulis keduanya)
Bayangkan, keledai-kedelai sudah cukup mewakili binatang terbodoh di jagat ini, dan jiwa yang seharusnya mengendalikan semua anggota tubuhnya diletakkan di tempat terendah yang terinjak-injak setiap saat (kecuali keledai-kedelai yang senang bersepatu!) bahkan ga bisa memilih mana tempat yang layak diinjak dan mana yang seharusnya dilangkahi. Saya ga lebih baik dari itu! Continue reading “Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!”

Kok Ga Bisa Lembut Sih???

Saya terkagum-kagum pada sebuah puisi yang ditulis seorang anak muda tentang Tuhannya. Sayang, menjadi kebiasaan saya hanya mampir, membaca dengan sungguh hati, memberikan komentar, lalu pergi tanpa mengingat siapa penulisnya atau apa nama blognya.

Kok bisa sih mereka menulis selembut itu? Saya kok ga pernah bisa ya?
Bertahun-tahun lalu saya menulis banyak puisi tentang Tuhan dan agama. Tiga di antaranya saya sertakan di sini. Pelarian Terakhir menjadi juara 3 suatu lomba puisi se-propinsi. Sajak Luka menang di tingkat kabupaten. Sajak Buat Tuhan bikin saya mesti berurusan dengan polisi 🙂 Continue reading “Kok Ga Bisa Lembut Sih???”

Muslim tapi Rasis!

Awalnya saya penasaran dengan seseorang yang selalu mengomentari komentar saya di Youtube, kecuali di channel-channel musik Guns n Roses. Meski kadang komentar saya hanya sebaris, ID itu tetap membalasnya.
Saat dia masuk ke Channel Youtube saya, dan berkomentar menyebut saya The Liar, rasa penasaran saya jadi sebal.
Iseng dan sedikit tensi tinggi, saya taruh ID messenger saya selama 12 jam di channel.
Dan benar, orang nekat itu memanggil saya saat saya online. Saya ga bodoh untuk bicara tertulis. Selain karena saya bukan pengobrol di messenger, saya juga ga ingin ditipu. Lewat tulisan, bisa jadi dia tidak sendiri. Bisa saja mereka mengeroyok saya. Continue reading “Muslim tapi Rasis!”

Agama? Akhhh!!!

Menulis soal Islam? Akhhh!!!

What the hell are you thinking about my faith? I’m still learning more and more. Not because I don’t wanna share it to others but because I do dont know about Islam. Okay?’

Ini alasan saya sewaktu seorang sahabat meminta saya menulis soal Islam atau sesuatu yang bersentuhan dengan itu di blog Bahasa Inggris saya.
Teman ini sedang tertarik dengan Islam. Setiap dia menanyakan sesuatu berkaitan dengan aturan dan hukum Islam, saya lebih suka merekomendasi website yang bisa membantunya. Soalnya apa yang ditanyakannya seringkali juga menjadi pertanyaan saya dan belum saya temukan jawabannya. Tapi katanya, website-website itu ga memberikan jawaban berarti.

‘Bukankah kamu telah bertahun-tahun menjadi Muslim?’ tanyanya satu kali.
Alamak… dia tetap ga mau mengerti bahwa saya ‘hanya Muslim Indonesia’ berlatar belakang agama heterogen campur aduk ga jelas! Continue reading “Agama? Akhhh!!!”

Apa Ramadhan Istimewa? No way!

Tiap mendengar ceramah saya selalu dicecoki kalau Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan paling istimewa, bulan yang amat dinantikan kaum muslim dari orok sampe jompo. Benarkah?

Sekian tahun lalu saya masih bisa mengerti. Saya berharap saya bisa seperti banyak orang di luaran sana yang amat menantikan Ramadhan. Tapi tidak saat ini. Saya sangat berharap tidak ada bulan yang disebut Ramadhan. Bukan karena saya tidak suka harus berpuasa, meski saya tidak pernah benar-benar full puasa sebulan penuh setelah akil baliq. Bukan juga karena saya harus mengeluarkan sebagian harta sebagai ritual kelanjutan Ramadhan.

Tapi Ramadhan… benarkah harus beda? Continue reading “Apa Ramadhan Istimewa? No way!”

Aku Islam Sekuler

Apa sih Islam sekuler? Ini menjadi tanda tanya besar di kepalaku ketika seorang kolega mengatakan sifatku sangat jelas sebagai Islam sekuler. Ceritanya bermula saat sambil lalu aku menonton acara infotainmen yang sedang diputar di televisi di ruang rapat. Soal artis wanita belum bersuami yang tidak mau menjawab pertanyaan seputar kehamilannya. Sambil iseng kukomentari soal tayangan itu, ‘Kok pada sibuk ngurusin sama siapa dia hamil. Berapa bulan? Udah kawin apa belum sebenarnya? Itu kan urusan dia. Mau punya suami apa nggak, kenapa pada sibuk? Lagian kalau belum punya suami, nggak boleh hamil?’ Inilah yang menjadi sumber temanku mengatakan aku Islam sekuler. Tanpa perlu mengecek kamus, aku tahu sekuler berarti bersifat keduniawian atau hanya peduli soal materi di dunia. Kasarnya, sekuler berarti orang yang mengatasnamakan materi dan bukan agama sebagai pegangan hidup. Ah, gila. Faktanya, aku Muslim meski bukan penganut yang alim. Tahu dirilah…. Continue reading “Aku Islam Sekuler”