Thx God, I’m Still Alive!

Kesehatan saya makin memburuk sejak setahun lalu. Diagnosis kelainan genetik dalam darah yang harus saya tanggung seumur hidup makin terasa dampaknya dalam tubuh saya. Sudah terlalu banyak obat yang harus saya telan setiap harinya. Dengan cek Hb terakhir hanya 8,5 dokter meminta saya istirahat panjang. Tapi it’s something impossible. Meninggalkan pekerjaan sama artinya membiarkan tubuh merasakan sakit yang lebih.

Saya tak mau menyerah pada rasa sakit. Kalau sudah tak tertahankan, saya tambahkan dosis pengobatan. Tak berdaya menentang keadaan membuat saya justru makin kuat berupaya memperbaiki kesehatan. Memiliki kesedihan adalah manusiawi sekali, tapi terlarut dalam kesedihan tak berujung hanyalah manusia bodoh.
Continue reading “Thx God, I’m Still Alive!”

Advertisements

Saya Hanya Ingin Istirahat

Dengan alasan kesehatan dan semilyar alasan lainnya, saya memutuskan berhenti menulis di blog ini. Untuk semua teman dan pembaca yang telah meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya di sini, saya mengucapkan terima kasih yang tak terbalaskan.

Saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata atau tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca atau pihak mana pun. Apa yang saya tulis hanyalah pengalaman-pengalaman dan opini pribadi, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun.

Saya tidak tahu kapan saya akan kembali atau apakah saya akan kembali. Saya hanya ingin menutup pintu perjuangan yang telah saya mulai sejak bertahun-tahun lalu namun tak kunjung tampak ujungnya. Daddy saya bilang saya adalah wanita yang penuh kasih dan layak dicintai. Saya tidak yakin jika saya masih seperti itu.

Saya hanya ingin beristirahat. Entah sampai kapan.

Sentuhan Kematian

Empat orang yang sangat saya cintai di masa hidup mereka, seringkali mengunjungi saya belakangan ini.

Yang pertama pergi adalah suster kepala. Kami biasa memanggilnya Suster Bernadeth. Meski tak pernah memuji di depan hidung saya, beliau selalu menceritakan cinta dan kasihnya terhadap saya di depan anak-anak lain. Tujuh tahun dalam hidup saya, saya lalui bersama beliau hingga wafatnya dan selama itu pula saya belajar mengisi hati dengan cinta kasih.

Ayah pergi sesudahnya. Ayah adalah pria yang selalu saya banggakan nomor satu jika bicara soal kejujuran dan keteguhan pada kebenaran. Continue reading “Sentuhan Kematian”

Saya Berharap Tertidur Selamanya

Pernah merasakan hatimu kosong meski telah membaca kitab suci sekian lembar?
Meski berada di keramaian namun merasa begitu kesepian. Orang-orang di sekitarmu berbicara namun kamu tidak bisa mendengarkan suara mereka. Saat suara-suara itu bisa didengar, malah membuatmu mual.
Kamu bisa merasakan kulit mereka namun tak mampu merasakan kehangatannya. Tatapan keingintahuan mereka malah membuat hatimu menggigil.
Ingin rasanya melarikan diri, namun semua jalan berujung buntu, seolah terkunci gembok raksasa. Kamu mencoba berlari sejauh mungkin namun nyatanya langkahmu terpaku di lantai yang sama.

(Saya harap saya tertidur selamanya.) Continue reading “Saya Berharap Tertidur Selamanya”

Let Him On His Peace Way

Masih soal Michael Jackson, sang raja pop, sebagaimana dia menasbihkan dirinya. Bukan cuma karena sebel membaca banyak argumen negatif setelah kepergiannya atau tulisan dengan ulasan dadakan ga berhati soal M.J., tapi lebih karena ada ‘sesuatu’ di dalam hati saya. Jarang-jarang sih saya ‘bicara’ pake hati tapi mungkin karena saya kurang sreg dengan berbagai tulisan soal M.J. yang mungkin maksudnya mau membela tapi kok terkesan malah membuka luka lama di mata saya.

MJ

Tahun 2004-2005 pertama kali saya mendengar lagu berjudul Give Thanks to Allah dari sebuah website berbasis di tanah Arab. Tahun 2007 lagu itu memborbardir dunia Islam, terutama di berbagai website yang di-support Muslim. Lagu itu diklaim dinyanyikan oleh M.J. yang konon katanya beralih kepercayaan ke dalam Islam, mengikuti jejak sahabat-sahabat dan abang kandungnya. Mengikuti kematiannya di tahun 2009, lagu itu kembali ramai dibicarakan.

Tapi jujur, di kuping saya, lagu itu amat berbeda, baik dalam isi apalagi vokal. Desahannya beda banget. Beda. Amat beda. . Continue reading “Let Him On His Peace Way”

Imam Samudra di Mata Saya

Kematian Imam Samudra dan dua rekannya yang dianggap sebagian orang sebagai akhir penantian panjang, ternyata masih menyisakan sesuatu di kepala saya. Dulunya saya sempat terpesona dengan kecerdasan yang terukir secara fisik di wajahnya dan cara bicara Imam Samudra. Tapi kisah tragis di balik sikap anti non Muslim yang diacunya menjadikan saya ga bisa memandangnya sebagai sosok panutan.

Sejak November berjalan, saya cukup rajin memelototi televisi sampai-sampai putra saya keheranan apa yang saya tunggu. Dia cukup kaget waktu saya jawab saya menunggu berita eksekusi Imam Samudra. Sebab dia tahu saya paling ga bahagia mendengar kematian seseorang, meskipun tentang seseorang yang pernah menyakiti saya, misalnya. Lagian, saya ga diuntungkan maupun dirugikan secara langsung dengan eksekusi itu. Dan hari di mana esksekusi berlangsung, saya mengajak putra saya nongkrong di depan TV dan mengamati hampir semua stasiun TV yang menayangkan atau kemudian mengupas kehidupan dan sepak terjang mereka, serta orang-orang di sekitar mereka. Continue reading “Imam Samudra di Mata Saya”