Surat Komentar untuk Puisi Cinta

Biasanya saya mendapat e-mail dari seseorang yang tulisan dalam blognya saya komentari. Isinya pun biasanya terima kasih atas kritik judes saya šŸ™‚ Beberapa di antaranya sengaja mengirimkan e-mail setelah membaca satu atau lebih tulisan saya di sini atau di Me, Views and Diary karena ga mau berkomentar di blog. Sebagian lainnya -umumnya remaja- menjadikan saya teman curhat. Saya senang mendapat kenalan baru, wanita maupun pria, remaja maupun dewasa.

Herannya meski mereka ga pernah melihat wajah saya, lewat foto atau web cam, mereka tetap mau menjalin persahabatan dengan saya. Dan mereka sungguh percaya bahwa saya seorang wanita. Padahal biasanya setiap orang selesai membaca satu tulisan saya, pastilah mengira saya seorang pria šŸ™‚
Kalau pun tulisan saya tentang wanita, beberapa orang mengira saya hanya menuangkan opini saya sebagai pria dalam pandangan wanita. Seorang pria malah mengirim e-mail dan mengira saya homo frustasi setelah membaca ‘Pria Indonesia Payah!’ Saya jamin pria ini hanya membaca satu tulisan itu karena seseorang di luar sana -sayang tidak mencantumkan kontak yang bisa dihubungi- mengirimkan tulisan tersebut ke sebuah web berita.

Tapi e-mail terakhir yang berkomentar tentang Puisi Cinta sungguh bikin saya malu hati. Saya copy-paste e-mail tersebut: Continue reading “Surat Komentar untuk Puisi Cinta”

Puisi Cinta

Saya ga pernah berniat bikin blog untuk mempublikasikan puisi karena puisi adalah kerjaan saya di masa muda. Kalau akhirnya puisi saya dipublikasikan di sini hanya karena memenuhi permintaan beberapa orang. Puisi ini saya bacakan di acara Teacher Award, 25 November lalu.

KAU DAN AKU

LAUTANMU HANYALAH AIR
SUNGAIKU ADALAH ALIRANNYA
PANTAIMU ADALAH LANDAI
TEMPAT NYIURKU MELAMBAI
NAFASMU ADALAH LAMBANG HIDUP
BAGAI UDARA YANG KUHIRUP

SEBAB MENTARI KITA BERSINAR SAMA
MAKA KITA TIDAK BERBEDA
KARENA DARAH KITA SAMA MERAH
MAKA NURANI KITA TIDAK BERKATA BEDA
KARENA KITA DATANG DARI TUHAN YANG SAMA
MAKA KEMANUSIAAN KITA TIDAKLAH BEDA Continue reading “Puisi Cinta”

Kok Ga Bisa Lembut Sih???

Saya terkagum-kagum pada sebuah puisi yang ditulis seorang anak muda tentang Tuhannya. Sayang, menjadi kebiasaan saya hanya mampir, membaca dengan sungguh hati, memberikan komentar, lalu pergi tanpa mengingat siapa penulisnya atau apa nama blognya.

Kok bisa sih mereka menulis selembut itu? Saya kok ga pernah bisa ya?
Bertahun-tahun lalu saya menulis banyak puisi tentang Tuhan dan agama. Tiga di antaranya saya sertakan di sini. Pelarian Terakhir menjadi juara 3 suatu lomba puisi se-propinsi. Sajak Luka menang di tingkat kabupaten. Sajak Buat Tuhan bikin saya mesti berurusan dengan polisi šŸ™‚ Continue reading “Kok Ga Bisa Lembut Sih???”