Mengatasi Rambut Rontok Secara Alami dengan Fenugreek

Tulisan ini bukan iklan. Tetapi setelah berhasil mengatasi kerontokan rambut, dan berhasil juga pada orang-orang di sekitar saya, saya ingin membaginya untuk Anda yang sedang mencari solusi mengatasi rambut rontok. Silakan klik di sini atau HERBAL di bagian atas kanan blog ini. 

FenugreekBertahun-tahun saya menyisir rambut menggunakan sisir bergigi jarang, itu pun masih tetap rontok puluhan lembar setiap kali menyisir. Akhirnya saya menjadi takut menyisir meski dengan sisir bergigi jarang. Saya hanya sesekali, sekitar 2-3 kali dalam seminggu, menyisir menggunakan sisir. Selebihnya, saya menggunakan jari-jari tangan untuk merapikan rambut. Bermacam cara sudah saya lakukan untuk mengatasi kerontokan rambut. Mulai dari menggunakan beragam zat kimia (sampai yang harganya ratusan ribu per botol) dan herbal, menggunakan shampoo anti hair fall, melakukan pemijatan kulit kepala secara rutin, dan sebagainya, dan lain-lain. Hasilnya: NOL BESAR. Continue reading “Mengatasi Rambut Rontok Secara Alami dengan Fenugreek”

Advertisements

Yuk, Nikah Mut’ah

Ada tawaran menarik dari seorang sahabat. Bayangkan, tiap bulan dikasih puluhan juta, dibelikan rumah gedong, plus plesiran dan belanja-belanja kapan mau. Wuiiiihhh… hampir saya mengiyakan.
Tapi syaratnya: menikah dengan dia dalam hitungan bulan, maksimum dua tahun. Kalau saya hamil, maka anak yang dilahirkan harus di bawah pengasuhannya. Wah, syaratnya ini yang sulit buat saya untuk mengiyakan menerima berbagai fasilitas yang akan diberikan. Kawin kontrak atau nikah mut’ah untuk beberapa bulan atau beberapa tahun: yes… no… yes… no… yes… no way. Continue reading “Yuk, Nikah Mut’ah”

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki. Continue reading “Indonesian Men are Dogs!”

DICARI: Pria Lokal

(Partner saya geli mendengar argumen saya menuliskan ini.)

OUR FLAG
Saya mencari seorang pria lokal. Artinya, pria berkebangsaan Indonesia, (kalau memungkinkan) keturunan ibu-bapak berkebangsaan Indonesia pula. Kriteria yang diinginkan:
– Bisa menjadi imam agama di rumah, (atau paling ga) mau belajar menjadi imam keluarga.
– Bisa memasak, (atau paling ga) ga komplain jika harus menyiapkan makanan sendiri.
– Bisa menyetrika pakaian dan membersihkan rumah.
– Mengerti perbaikan rumah, jadi ga perlu memanggil tukang cat untuk dinding yang mengelupas.
– Mengerti peralatan listrik, jadi ga perlu memanggil tukang listrik untuk mengganti lampu yang rusak.
– Mengerti mesin kendaraan, jadi ga perlu menelpon Auto 2000 jika mogok di jalan.
– Bisa menyetir, ga keberatan ngebut.
– Bukan politikus atau berminat terhadap politik.
– Bukan penikmat dangdut dan OT, alkohol, drugs apa pun jenisnya, swinger atau semacamnya, serta tidak bertato dan piercing.
– Bukan penggila TV dan internet, terutama jenis messenger dan networking, tapi ga gaptek. Continue reading “DICARI: Pria Lokal”

Membalas Kasih dengan Caci Maki

Sebenarnya masalah awalnya ‘cuma’ karena kami belajar mencintai sesama, menganggap mereka sebagai keluarga, dan membantu tanpa pamrih. Masalah muncul saat orang yang dianggap saudara malah jatuh cinta dan mengharapkan balasan.

Saya masih memberikan toleransi saat seorang wanita yang ditolong oleh sahabat dekat saya, menganggap saya perempuan murahan yang kebetulan mendapat perhatian lebih. Saya menganggap kemarahannya adalah bentuk ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Saya memilih diam dan menulikan telinga. Saya lebih suka mengelak dibandingkan berbenturan, namun kalau terpaksa, saya tak pernah takut menghadapinya.

Saat sahabat saya memutuskan untuk menjelaskan dengan caranya, dengan membeberkan perlakuan baik saya padanya, keputusan itu tak saya bantah. Ketika sahabat saya menjelaskan bahwa perhatiannya pada wanita itu adalah kepedulian manusiawi tanpa dalih cinta pria-wanita di dalamnya, itu tak saya amini. Pun ketika sabahat saya mengatakan pada wanita itu bahwa dia mencintai perempuan lain, itu bukan urusan saya.

Menjadi urusan saya kemudian bahwa sahabat saya terluka karena kebaikan dan cinta kasihnya sebagai manusia dihancurkan. Katanya: I’ll never talk to her and her family in my life. They’re not my family. No more.
Continue reading “Membalas Kasih dengan Caci Maki”

Sialan, Cewek!


Kalau saya tanya putra-putra saya, mereka bilang saya ibu paling lembut sedunia. Menurut partner saya, saya sama seksinya dengan gadis-gadis kalender! Aha, saya harus sering-sering ngaca, nih! 🙂 Anehnya, selain keluarga dekat, saya sering dikira (separuh) pria. Sekali-sekali dikira pria, tidak masalah buat saya. Tapi keseringan? Wow, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri saya!

Puluhan bahkan mungkin ratusan orang awalnya menganggap saya seorang pria, cuma karena membaca tulisan atau komentar saya di media, baik online maupun offline. Karena itu saya menuliskan ini. Serius, sumpah (mati), saya seorang wanita. Tulen. Maksudnya, bukan trans-seksual.

Beberapa pengalaman ‘menjadi pria’ saya tuliskan di sini.

‘Mau beli apa, Pak?’ pertanyaan sang penjual kaki lima sebelum mendongakkan kepala menatap saya.

‘Terima kasih, Mas,”’ kata seorang pria muda setelah saya turunkan di depan gang rumahnya. Saya membuka helm, tersenyum. Pria muda itu meminta maaf berkali-kali karena mengira orang yang barusan memberinya tumpangan adalah seorang pria.

Seorang ibu menghentikan laju motor saya. Sang ibu minta diantarkan ke rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit, beliau mengangsurkan lembaran dua puluh ribu. Wuih, saya dikira tukang ojek! Continue reading “Sialan, Cewek!”

Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….

Seringkali seorang suami atau istri memperkenalkan pasangannya (suami atau istri) kepada orang lain dengan mengatakan: ini mantan pacar saya.

Waduh, buat saya itu ga banget!

Kebayang kan bagaimana kita mengejar pasangan kita sebelum dia menjadi istri atau suami? Kebayang kan bagaimana kita mempersiapkan diri, mungkin dengan sedikit mematut diri di depan cermin, untuk memberikan kesan menarik di mata si dia? Plus segudang aktivitas lain yang tak biasa kita lakukan untuk orang lain, kecuali dengan alasan si dia ‘spesial’ dan pantas menerimanya.

Jika kemudian dia telah menjadi istri atau suami, sesuatu yang dulu kita impikan dan sekarang menjadi kenyataan, adalah sesuatu yang seharusnya patut disyukuri. Namun seringkali kebiasaan manis yang dulu dilakukan, mendadak hilang saat si dia telah menjadi suami atau istri. Ucapan indah yang dulu kerap dilontarkan mendadak menguap entah ke mana. Continue reading “Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….”

Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku

Bukan bermaksud menjadi oven pemanggang ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia, atau sok membela gadis cantik yang katanya sempat ‘bagaikan hidup di sangkar emas’, maka tulisan ini hadir.

Masih dalam rangka liburan, saya jadi aktif menonton TV setelah jadi ‘ibu rumah tangga yang baik’. Dua hari berturut-turut melototin berita infotainment yang sama, tentang suami Manohara Odelia Pinot yang berbangga hati telah memenangkan kasus melawan istrinya sendiri di pengadilan negeri jiran itu. Meski tak beraliansi pada Manohara atau ibunya yang tampak terlalu ‘wah’ di mata saya, tak urung saya terhenyak dengan berita itu. Ini semua karena si Tengku dari Kelantan (silakan cari di Google namanya, saya lagi malas) sambil senyam-senyum plus bahasa yang ga banget buat telinga saya, dengan bangga menyatakan kemenangannya dan betapa adilnya pengadilan di negaranya mewajibkan istrinya membayar hutang-hutang sebagai seorang istri.

Di mata saya, si Tengku hanya mempertontonkan kedunguannya dalam Islam. Continue reading “Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku”

Bunuh Diri. Tertarik?

(Semoga Sang Empunya Kehidupan mengampuni dosa-dosa kita semua. Semoga Dia memilihkan tempat indah buat saudara saya setelah Dia memberikan ‘rumah gelap gulita’ di dunia ini padanya.
Mohon maaf kepada semua pihak jika merasa saya mengungkit ‘cerita lama’.)

Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi. Pilihan tempatnya pun mewah, misalnya hotel atau mall.

Seorang sahabat baik, yang sudah saya anggap saudara, juga meninggal karena bunuh diri. Setelah dua kali gagal, akhirnya dia benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dengan cara ketiga. Tulisan ini tidak untuk mengungkit atau menyalahkan pihak mana pun. Kami berdua telah melalui kehidupan yang amat berat. Saya mencoba keluar dari belenggu itu dengan mengikis satu-persatu rantai perangkap. Sedangkan dia memilih menyerah karena tak sanggup lagi melawan. Continue reading “Bunuh Diri. Tertarik?”

Hadiah Ultah Termanis

Hampir dapat dipastikan setiap orang pernah menerima hadiah ulang tahun. Entah waktu masih bayi, jaman remaja, atau saat dewasa. Hadiah ulang tahun bisa sangat mahal harganya, bisa pula ga dijual di toko mana pun di dunia ini. Misalnya sebuah ciuman di pipi oleh orang tua saat kita ulang tahun di masa balita.

Bulan ini saya mendapat hadiah ulang tahun termanis. Uniknya, hadiah itu dikirimkan tanggal 1, padahal saya ulang tahun tanggal 8. Alasan si pengirim, dia takut kelupaan momen itu (waduh, alasan yang ga banget!). Selain karena kuatir saya ga mengecek e-mail pada hari ulang tahun.
Continue reading “Hadiah Ultah Termanis”

Mencari Pengantin Buat Sahabat

Setiap kali bertemu atau saling menelpon, saya ga lupa menanyakan apakah sahabat saya sudah mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Dia laki-laki yang baik, ga pernah mau berpikir negatif pada orang lain, sehingga seharusnyalah mendapatkan pendamping yang baik. Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia lebih betah melajang. Mungkin karena pernah memilih jalan hidup yang super bodoh dan terperangkap di dalamnya selama beberapa tahun. friends Setelah akhirnya terbebas pun, dia ga kunjung melamar seorang gadis untuknya. Jadilah saya sibuk mendorong-dorongnya untuk memilih satu.
Saking sebelnya, dia malah bilang: ‘lo-nya ga mau diajak kawin.’
Wah, andai saja saya penganut poliandri…! 🙂 Ga terasa sekian bulan lewat tanpa sebuah telpon atau sms karena kesibukan masing-masing. Continue reading “Mencari Pengantin Buat Sahabat”

Wanita-Wanitalah yang Mendorong Suami Berpoligami

Waktu punya pikiran untuk menuliskan hal ini di blog, saya kemukakan ini pada partner saya. Dia terkejut.
‘Come on, babe, it ain’t something nice for women as you know and you’re a woman, aren’t you? Would you let me to date another woman when you’re not around?’
me Meski tahu saya tidak keberatan dengan kehidupan poligami sebagaimana hal ini dinyatakan dalam agama yang saya anut, dia tidak ingin menjalaninya dalam hidupnya. Tapi saya sungguh tidak pernah memintanya bertahan sendiri saat saya tidak bersamanya. Namun tentu saya tidak merestui jika dia hanya melakukannya untuk kesenangan semalam.

‘I don’t care what Islam says about men-women’s relationship but for me, I just need one woman in my life!’ katanya sewaktu kami membahas tentang seorang tokoh negara ini yang menikahi wanita kedua. Saya hanya tertawa.

Memaklumi Pria Berpoligami

Seks….

Poligami tidak berarti seorang suami tidak lagi mencintai istrinya. Jika poligami yang dijalankan sesuai syariat agama (Islam dalam hal ini) maka tentu ada alasan kuat untuk melakukannya. Pikiran paling dangkal mungkin adalah soal seks. Continue reading “Wanita-Wanitalah yang Mendorong Suami Berpoligami”

Pria Indonesia Payah!

Saya cukup fair menuliskan hal ini dengan berbagai alasan. Pertama karena saya berada di lingkungan yang mayoritas pria. Saya kerap terkondisi di mana 99%-nya pria. Bahkan dalam banyak kasus, saya merupakan wanita satu-satunya di lingkungan pria. Lingkungan membuat saya lebih dekat dan lebih banyak bergaul dengan pria dibandingkan wanita. Jadi saya cukup kenal berbagai karakter.

Kedua, saya bukan aktivis perempuan yang merasa terkekang oleh keberadaan pria lalu bersikap anti pria. Plus kehidupan nyata membuat saya cukup kenal banyak suku di Indonesia (meski ga jamannya lagi bicara masalah suku saat ini), sehingga cukup fair menuliskan pendapat saya tentang pria Indonesia.

Jangan bilang saya kelewat feminis kalau saya bilang pria Indonesia payah! Tentu saja ini generalisasi dari berbagai media publik. Kalau ada yang ‘ga payah’ maka mereka termasuk pengecualian. Jadi generalisasi saya cukup valid. Kira-kira kalau ada sensus maka hasilnya akan mengukuhkan pendapat saya. Jika anda pria, mari melihat ‘wakil’ anda di berbagai media. Ada anggota MPR/DPR, para jenderal, bintang sinetron, penyanyi, aktivis kemanusiaan, para menteri, bahkan presiden Indonesia yang terhormat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Continue reading “Pria Indonesia Payah!”

Perbandingan: Pria Indonesia dan Pria Bule

Koleksi Pribadi  Ga fair kalau bilang pria Indonesia ga menghormati wanita, sedangkan bule tahu gimana mengambil hati wanita. Tapi secara   umum fakta ini benar. Setidaknya pengalaman saya mengatakan begitu 🙂

Karena berat badan saya terus turun, saya minta pendapat: Gimana ya naikkin berat badan? Kok gue tambah kurus saban hari?
Komentar pria Indonesia: Iya, lo makin kurus aja. Hati-hati loh, ntar tinggal tulang, mesti pake kasur dobel!
Komentar pria bule: But you look sexy!
Meski saya tahu si bule bohong besar, tapi paling ga dia menenangkan saya. Continue reading “Perbandingan: Pria Indonesia dan Pria Bule”

Saya Kerja (Bukan) PSK

Hari Senin jam enam pagi lewat sedikit saya berangkat dari rumah. Di salah satu persimpangan antara Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sosial Palembang, seorang gadis ABG berkulit coklat matang turun dari mobil mengkilap. Saya simpan nomor plat mobil itu di kepala. Saya ingat wajah pengemudinya karena kaca mobilnya ga terlalu gelap. Si Gadis celingukan. Beberapa tukang ojek menghampirinya. Tapi dia sepertinya ga tertarik naik ojek. Atau lebih tepatnya, wajahnya tampak bingung.
Saya kok jadi punya pikiran rada negatif soal si gadis dan pengemudi yang ga pake acara buka kaca mobil, tapi langsung ngacir.

Iseng, saya parkir kendaraan di tempat aman. Saya hampiri gadis itu.
‘Mau ke mana, Dek?’ saya tanya.
Dia ga menjawab.
‘Saya wartawan. Mau nanya-nanya doang. Ga perlu nyebutin nama, deh. Boleh, ya?’ saya tunjukkan press ID saya. Continue reading “Saya Kerja (Bukan) PSK”

Pelacuran dan Kawin Kontrak

Saya dikabari teman dari Arab Saudi hot issue‘ di sana tentang seorang perempuan Indonesia yang tertangkap basah menjadi pelacur di negara itu. Menurutnya, perempuan itu -sekitar 35 tahun- dibawa seseorang berkebangsaan Bangladesh dan dihargai SR 150 atau sekitar Rp 360.000,- (kurs Rp 9.000,-) per sekali pakai. Saya tanggapi dingin, merasa itu bukan sesuatu yang aneh di sini. Hampir tiap hari di koran lokal bisa dibaca berita serupa. Dengan rasa bersalah, teman tadi mengatakan itu terjadi -seperti pengakuan si wanita yang dibacanya di koran- karena faktor kemiskinan si wanita. Saya menanggapinya, ‘Don’t trust the woman much, she may lie.‘

Teman tadi lalu memberikan link Youtube tentang penggerebekan itu. Tampak belasan pria bertubuh tegap yang saya asumsikan polisi Saudi, memaksa masuk ke dalam sebuah rumah. Di dalamnya ada seorang wanita berwajah Asia Tenggara bersama empat pria berwajah Asia Selatan tapi sayangnya video itu berbahasa Arab dan semua komentar juga dalam Bahasa Arab. Meski berusaha mencernanya, video tersebut tetap tak banyak membantu.

Untuk meringankan ‘beban’ saya (itu yang dipikirkan teman saya, mungkin) maka dia mengatakan, ‘I’m so sorry, Wyd. I ain’t trying to say something bad about your country but it’s really a hot issue here so I think that I need to tell you. I’m sorry if my words hurt you.’ Hah? Saya tidak merasa tersinggung sama sekali bahkan terganggu pun tidak. Mungkin saya tipe wanita tak sensitif sehingga tak terlalu peduli dengan keadaan wanita bangsa sendiri. Atau Ratna Sarumpaet sungguh tahu isi hati saya sehingga pernah tega menilai saya sebagai perempuan yang kurang berempati terhadap nasib sesama perempuan?

Ujung-ujungnya pembicaraan saya dan teman tadi berlangsung bagai perdebatan karena dia terkesan chauvanisme. Saya -meski tidak mewakili unsur mana pun dari bangsa ini kecuali secara pribadi mewakili diri saya sendiri- tentu tak bisa menyetujui sikap aparat syariat Islam Saudi (CID) yang menyebarkan berita ini secara besar-besaran. Tapi juga tak bisa menyalahkan mereka. Terlebih lagi prostitusi (perdagangan jasa seksual) adalah hal yang sangat terlarang di Saudi, bertolak dari syariat Islam yang melandasi hukum di negara itu.

Tanpa menyangkutpautkan dengan latar belakang agama yang saya anut, saya pribadi tak setuju dengan prostitusi, apa pun alasannya. Saya tak akan pernah setuju ada daerah yang dikhususkan untuk melegalkan prostitusi, yang disebut lokalisasi. Lokalisasi sama artinya melegalkan prostitusi. Jika prostitusi legal di suatu tempat berarti legal pula dijalankan di tempat lainnya, setidaknya di wilayah hukum yang sama. Tapi apa yang kita dapati? Penggerebekan hotel-hotel murah untuk menangkap pelaku prostitusi kerap terdengar tetapi siapa yang tidak kenal Kramat Tunggak yang sempat berjaya bertahun-tahun lamanya dan menghidupi sekian juta jiwa lewat jasa perdanganan daging manusia tersebut? Atau Dolly di Surabaya? Dua hal yang sungguh saling bertolak belakang.

Di Palembang sempat ada lokalisasi berlabel ‘Kompleks Teratai Putih’. Pilihan nama yang cantik untuk sebuah lokalisasi, yang mengesankan keluguan dan kesucian. Sekarang secara hukum tempat itu sudah ditutup dengan dipasangnya plang besar tentang itu, meski -katanya- aktivitas di dalamnya masih tetap berjalan seperti dulu, cuma tak seramai dulu saat masih dilegalkan.

Ada cerita lucu yang saya alami tentang Kompleks Teratai Putih saat pertama datang ke Palembang. Waktu saya tanyakan apa tempat tujuan wisata di Palembang, seorang teman kuliah menyebut kompleks itu sambil tersenyum. Karena tidak tahu jalan, saya mendesak beberapa teman untuk mengantarkan saya ke sana. Setelah didesak berhari-hari, akhirnya teman-teman tadi (semuanya laki-laki) mau mengantarkan saya ke sana di suatu sore. Sungguh suatu tempat wisata yang tak pernah saya bayangkan akan berkunjung sebelumnya.

Memberantas Pelacuran?

Jawaban yang selalu saya dengar adalah: tidak mungkin. Bahwa usia pelacuran sama tuanya dengan usia manusia itu sendiri adalah alasan yang kerap saya dengar untuk ‘menolak’ penghapusan aktivitas itu. Jadi secara kemanusiaan dan demi kepentigan kemanusiaan, pelacuran tak mungkin diberantas. Namun tentu saja tak berarti kita harus menyediakan sekian luas tanah negeri ini untuk menampung pelacuran.

Argumentasi yang mengatakan hal ini lebih baik untuk menghindari pelacuran berkembang di tempat-tempat umum dan bersentuhan langsung dengan pihak-pihak yang tak menginginkan pelacuran berada di sekitar mereka, tidak dapat dijadikan dasar untuk memfasilitasi kegiatan tersebut.

Jika pelacuran tak layak dihadirkan di depan khalayak dewasa secara umum maka tidak akan pernah ada tempat yang cukup layak untuk aktivitas itu.

Kawin Kontrak = Pelacuran yang Dihalalkan?

Kawin kontrak (mut’ah) diyakini sebagai perkawinan yang (tampaknya) didasarkan hukum Islam, biasanya terjadi antara seseorang (umumnya pria) yang meninggalkan pasangannya dalam jangka waktu tertentu dengan seorang wanita untuk menghindarkannya dari prostitusi berdasarkan perjanjian berapa lama usia perkawinan akan mereka jalani. Saya tidak menemukan referensi yang dapat dipercaya tentang sikap pemerintah Indonesia terhadap kawin kontrak. Tahun lalu Indonesia mendeportasikan beberapa pria Arab yang terlibat kawin kontrak dengan wanita pribumi.

Namun anehnya 2 atau 3 tahun lalu saya sempat menonton sebuah talk show yang membahas kawin kontrak, sekaligus para pelakunya hadir menceritakan pengalaman mereka. Kalau benar kawin kontrak secara yuridis adalah sebuah pelanggaran, maka tidak mungkin stasiun televisi tersebut menghadirkan pelaku tanpa menutupi jati diri mereka.

Dalam keterbatasan ilmu agama saya, saya tidak akan menyatakan apakah kawin kontrak sah atau tidak sah. Ada lembaga berwenang yang berhak menyatakan hal tersebut. Dalam pandangan saya, kawin kontrak lebih merupakan cara pelaku mengakali hukum Islam. Akal-akalan ini berawal dari satu hal: kebutuhan seksual. Jika kawin kontrak dinyatakan absah maka perkawinan bukan lagi ritual sakral. Karena bisa saja perjanjian perkawinan antar kedua belah pihak hanya berlaku untuk satu tahun atau satu bulan atau satu minggu. Lalu apa bedanya dengan perkawinan satu hari atau satu malam saja?

Artinya, apa bedanya kawin kontrak dengan pelacuran, selain adanya akad yang bisa diucapkan kapan saja sebelum kedua orang berlainan jenis saling menghalalkan? Lebih tepatnya, kawin kontrak tak lebih sebagai prostitusi terselubung atau prostitusi yang dengan sengaja dihalalkan.