Yuk, Nikah Mut’ah

Ada tawaran menarik dari seorang sahabat. Bayangkan, tiap bulan dikasih puluhan juta, dibelikan rumah gedong, plus plesiran dan belanja-belanja kapan mau. Wuiiiihhh… hampir saya mengiyakan.
Tapi syaratnya: menikah dengan dia dalam hitungan bulan, maksimum dua tahun. Kalau saya hamil, maka anak yang dilahirkan harus di bawah pengasuhannya. Wah, syaratnya ini yang sulit buat saya untuk mengiyakan menerima berbagai fasilitas yang akan diberikan. Kawin kontrak atau nikah mut’ah untuk beberapa bulan atau beberapa tahun: yes… no… yes… no… yes… no way. Continue reading “Yuk, Nikah Mut’ah”

Advertisements

Menjelajahi Ramadhan

Di bulan Ramadhan sekian tahun lalu, seseorang tak dikenal datang ke dalam tidur saya. Setiap malam. Sejak itu, saya berubah dalam memandang Ramadhan.

Tak ingat persis waktunya, namun kedatangannya sekitar 10 kali. Wajahnya tak pernah terlihat jelas karena dia selalu berdiri dalam cahaya amat terang. Yang saya yakini adalah dia seorang pria (karena berjanggut putih-kecoklatan) bertubuh tinggi langsing. Dan dia selalu mengenakan jubah putih. Saat disambangi pertama kali, saya mengira saya baru berjumpa the Christ. Continue reading “Menjelajahi Ramadhan”

Muslim Rakitan

Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.

Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.

Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki 😀 Continue reading “Muslim Rakitan”

Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?

page2_1Tulisan ini mungkin isi kepala sebagian Muslim di dunia yang membuat beberapa video Condell dilarang beredar online. Ini angan-angan bodoh sebenarnya. Datangnya dari pikiran badut saya saat menyaksikan betapa naif pria itu, meski dia lumayan populer di negaranya. Saya pemerhati video-videonya, entah dengan alasan apa, tanpa pernah tertarik mengomentari langsung. Pertemuan saya dengan video pertamanya saat saya sedang berburu video tentang Islam untuk seorang teman di tahun 2007. Continue reading “Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?”

ANTV Mempropagandakan Black Magic!

Tulisan ini mennumbergenai tayangan berjudul Luar Biasa pada Malam Minggu, 18 April 2009. Setelah tayangan ‘Supernatural ‘ yang saya ikuti sambil seringkali memejamkan mata atau menyembunyikan wajah di balik bantal, saya lanjutkan menonton ‘Luar Biasa’. Karena jadwal saya menonton tidak rutin, saya tidak tahu apakah acara tersebut hanya acara selingan malam itu atau memang acara rutin dalam periode tertentu.

Tanpa mempermasalahkan hal tersebut, saya tertarik saat sang host Dona Agnesia menyatakan bahwa Ustad Sutrisno (mudah-mudahan saya tidak salah menuliskan nama beliau) telah menemukan pil ajaib yang dapat menyembuhkan aneka penyakit. Awalnya saya tidak berprasangka buruk, saya pikir hanya mencampurkan berbagai jenis tumbuhan. Secara kimia, beberapa substansi kimiawi dapat bercampur tanpa saling menetralkan atau meracuni satu sama lain. Continue reading “ANTV Mempropagandakan Black Magic!”

Selamat Paskah dari Vatikan

Dari kecil dulu saya suka banget menantikan acara-acara keagamaan di TV. Dan itu masih kerap saya lakukan sekarang. Ga jelas asal mulanya kesukaan itu timbul. Senang aja mendengar bahasa-bahasa asing diucapkan, atau melihat beragam bangsa berbaur tanpa sibuk memikirkan bahwa mereka berbeda bangsa, berbeda bahasa, bahkan berbeda ras.

Dan hari ini saya menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Senang mendengar Sri Paus mengucapkan ‘Selamat Paskah’ dengan dialeknya. Menurut saya sih, dialek Bahasa Indonesia Paus Johannes jauh lebih sempurna dibandingkan Paus Bennedict, meski yang diucapkan hanya kata-kata singkat. Bahkan dulu saya ikut sibuk menghitung jumlah bahasa yang digunakan Sri Paus. Continue reading “Selamat Paskah dari Vatikan”

Syariat Islam di Indonesia

Membaca di banyak website asing yang mengkopi artikel tentang sekian provinsi dari keseluruhan provinsi di Indonesia telah menjalankan syariat Islam, menimbulkan banyak pertanyaan bagi diri saya sendiri. Dua di antaranya saya tuangkan di sini.

Pertama, apakah benar hal itu sedang terjadi di negara ini?red-and-blue1
Bukan karena saya tidak cinta Islam padahal saya seorang Muslim, maka saya menolak syariat Islam dijalankan di negara ini. Maksud saya, jika dijalankan dengan sepenuhnya seperti tuntunan Alquran dan Hadist sebagai landasan negara. Kenapa saya tidak setuju? Karena negara ini terlalu plural dengan kultur bangsa sangat heterogen.

Dengan latar belakang yang memiliki keluarga dengan kebudayaan dan agama heterogen, saya cenderung menjadi sangat hormat pada agama dan kepercayaan orang lain. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin dijalankan syariat Islam di negara ini, sepatutnyalah hanya dijalankan pada para pemeluknya. Mulailah dari para pemeluknya, dan jangan setengah-setengah, apa pun resikonya. Karena bisa jadi dengan adanya penerapan syariat Islam yang terbatas hanya pada pemeluknya, jumlah kaum Muslim di negara ini akan mungkin mengkerucut dengan sangat cepat. Continue reading “Syariat Islam di Indonesia”

Resolusi Tahun Baru

sunnyTiap akhir tahun saya bikin resolusi. Seringkali ditulis berupa file di komputer. Biasanya selalu spesifik. Misalnya saya pernah menuliskan ‘saya harus beli rumah sebelum September’ dan hal-hal semacam itu. Umumnya resolusi saya terpenuhi. Entah karena Tuhan kasihan atau memang kerja keras saya diberkati-Nya.
Tapi tahun ini, seiring dengan pertambahan usia, resolusi saya mirip impian-impian yang saya sendiri ga terlalu peduli akan terjadi atau ga, di bulan berapa atau kapan, atau bahkan jika impian-impian itu tetap akan menjadi impian selamanya. Seperti yang banyak orang katakan, saya bukan pemimpi yang baik karena ga pernah punya mimpi tentang dunia nyata. Mimpi saya hanya hidup di alam mimpi saat saya tidur. Dan saya  ga pernah membawanya ke luar dunia mimpi agar menjadi impian di alam nyata.

Tahun ini saya ga menuliskan resolusi berbentuk file, tapi saya simpan di kepala dan menuliskannya di sini. Siapa tahu ada orang lain di luaran sana yang saya kenal maupun ga, memiliki resolusi yang mirip, atau syukur-syukur kalau resolusi saya bisa menjadi inspirator seseorang 🙂 Continue reading “Resolusi Tahun Baru”

Wanita-Wanitalah yang Mendorong Suami Berpoligami

Waktu punya pikiran untuk menuliskan hal ini di blog, saya kemukakan ini pada partner saya. Dia terkejut.
‘Come on, babe, it ain’t something nice for women as you know and you’re a woman, aren’t you? Would you let me to date another woman when you’re not around?’
me Meski tahu saya tidak keberatan dengan kehidupan poligami sebagaimana hal ini dinyatakan dalam agama yang saya anut, dia tidak ingin menjalaninya dalam hidupnya. Tapi saya sungguh tidak pernah memintanya bertahan sendiri saat saya tidak bersamanya. Namun tentu saya tidak merestui jika dia hanya melakukannya untuk kesenangan semalam.

‘I don’t care what Islam says about men-women’s relationship but for me, I just need one woman in my life!’ katanya sewaktu kami membahas tentang seorang tokoh negara ini yang menikahi wanita kedua. Saya hanya tertawa.

Memaklumi Pria Berpoligami

Seks….

Poligami tidak berarti seorang suami tidak lagi mencintai istrinya. Jika poligami yang dijalankan sesuai syariat agama (Islam dalam hal ini) maka tentu ada alasan kuat untuk melakukannya. Pikiran paling dangkal mungkin adalah soal seks. Continue reading “Wanita-Wanitalah yang Mendorong Suami Berpoligami”

Imam Samudra di Mata Saya

Kematian Imam Samudra dan dua rekannya yang dianggap sebagian orang sebagai akhir penantian panjang, ternyata masih menyisakan sesuatu di kepala saya. Dulunya saya sempat terpesona dengan kecerdasan yang terukir secara fisik di wajahnya dan cara bicara Imam Samudra. Tapi kisah tragis di balik sikap anti non Muslim yang diacunya menjadikan saya ga bisa memandangnya sebagai sosok panutan.

Sejak November berjalan, saya cukup rajin memelototi televisi sampai-sampai putra saya keheranan apa yang saya tunggu. Dia cukup kaget waktu saya jawab saya menunggu berita eksekusi Imam Samudra. Sebab dia tahu saya paling ga bahagia mendengar kematian seseorang, meskipun tentang seseorang yang pernah menyakiti saya, misalnya. Lagian, saya ga diuntungkan maupun dirugikan secara langsung dengan eksekusi itu. Dan hari di mana esksekusi berlangsung, saya mengajak putra saya nongkrong di depan TV dan mengamati hampir semua stasiun TV yang menayangkan atau kemudian mengupas kehidupan dan sepak terjang mereka, serta orang-orang di sekitar mereka. Continue reading “Imam Samudra di Mata Saya”

Menumpahkan Amarah

Amarah temannya setan. Saat marah artinya setan sedang bersemanyam di raga kita. Menumpahkan amarah sama saja memberikan kesempatan setan untuk tertawa. Makin besar kemarahan seimbang dengan makin besarnya ketawa setan.

Inti sari itu yang saya peroleh dari beberapa buku keagamaan yang saya telusuri untuk menumpahkan kemarahan saya pada seseorang. Bukankah itu artinya saya ga boleh punya marah? Tapi saya lagi marah! Atau kalau marah ga boleh dilakukan, saya bisa katakan itu bukan kemarahan tapi suatu perasaan yang ingin saya tumpahkan. Kalau saat itu si oknum ada di depan saya dan saya punya belati, dan hukum ga mempermasalahkan, maka saya ga pikir dua kali menghujamkan benda itu ke dadanya. Tapi tentu hukum ga diam, terutama kalau menyangkut harga nyawa manusia.
Continue reading “Menumpahkan Amarah”

Islam Bukan Arab!

Mendengarkan musik hukumnya haram dalam Islam? Saya sih udah mendengar hal ini sekian tahun lalu waktu dari salah seorang teman yang terheran-heran saya kok mau-maunya mendengarkan Guns and Roses padahal mereka terlibat alkohol dan sebagian lagi drugs. Di depannya, saya bilang bahwa saya mendengarkan musik mereka bukannya mau bergabung dalam komunitas alkoholik atau penikmat drugs. Tapi memang itu yang saya lakukan.

Teman itu merekomendasikan beberapa lagu nasyid yang dinyanyikan pria turunan Arab untuk saya dengar. Oke, saya suka, tapi ga tersentuh. Mungkin otak saya terlalu tumpul untuk mengkaji syair indah dalam lagu nasyid itu. Atau hati saya terlalu gelap untuk menangkap cahaya terang yang dipancarkan lagu tersebut. Entahlah. Akhirnya si teman itu menyerah. Dia bilang, saya orang baik hanya mungkin terlalu independen dan udah termakan virus pluralisme. Saya cuma tersenyum, ga ngerti apa maksudnya. Continue reading “Islam Bukan Arab!”

You’re Down!

What s*ck!
It made me so mad ’cause I wanted it bad. And now it’s getting worse that whatever I had I could’t take. If the d*mned love or the f*cked hate that I’ve got for you in the past why I couldn’t feel that even a second? I just wanna know if my tears was as much as the sea or if the smiles had covered my face. But I couldn’t remember them all. Never did before or future!
Food without having a taste ain’t a food. Life without feeling ain’t worth at all. Could mother f*ckers in this f*cking world give my past back? I don’t care I must face the d*mned sh*t future. I just wanna know what kinda f*cked life I had for years! Feel so sorry about sh*t past I’ve never known….

Meski gue bukan pendendam bukan berarti gue ga bisa membunuh. Meski gue ga suka perang bukan berarti gue ga mampu menusukkan belati. Sekali lagi lo coba lakukan semua yang pernah lo lakukan sama isi otak gue di masa lalu, lo ga bakalan pernah bisa rasakan asinnya garam. Gue hari ini bukan gue sekian tahun lalu. Gue hari ini dengan seluruh isi otak gue, ga mudah tersentuh oleh air mata, meski disertai darah. Gue ga bakalan bergeming meski seluruh mayat bangkit dan menghantui gue. Apalagi cuma elo! Continue reading “You’re Down!”

Muslim tapi Rasis!

Awalnya saya penasaran dengan seseorang yang selalu mengomentari komentar saya di Youtube, kecuali di channel-channel musik Guns n Roses. Meski kadang komentar saya hanya sebaris, ID itu tetap membalasnya.
Saat dia masuk ke Channel Youtube saya, dan berkomentar menyebut saya The Liar, rasa penasaran saya jadi sebal.
Iseng dan sedikit tensi tinggi, saya taruh ID messenger saya selama 12 jam di channel.
Dan benar, orang nekat itu memanggil saya saat saya online. Saya ga bodoh untuk bicara tertulis. Selain karena saya bukan pengobrol di messenger, saya juga ga ingin ditipu. Lewat tulisan, bisa jadi dia tidak sendiri. Bisa saja mereka mengeroyok saya. Continue reading “Muslim tapi Rasis!”

Agama? Akhhh!!!

Menulis soal Islam? Akhhh!!!

What the hell are you thinking about my faith? I’m still learning more and more. Not because I don’t wanna share it to others but because I do dont know about Islam. Okay?’

Ini alasan saya sewaktu seorang sahabat meminta saya menulis soal Islam atau sesuatu yang bersentuhan dengan itu di blog Bahasa Inggris saya.
Teman ini sedang tertarik dengan Islam. Setiap dia menanyakan sesuatu berkaitan dengan aturan dan hukum Islam, saya lebih suka merekomendasi website yang bisa membantunya. Soalnya apa yang ditanyakannya seringkali juga menjadi pertanyaan saya dan belum saya temukan jawabannya. Tapi katanya, website-website itu ga memberikan jawaban berarti.

‘Bukankah kamu telah bertahun-tahun menjadi Muslim?’ tanyanya satu kali.
Alamak… dia tetap ga mau mengerti bahwa saya ‘hanya Muslim Indonesia’ berlatar belakang agama heterogen campur aduk ga jelas! Continue reading “Agama? Akhhh!!!”

Lebaran: Makan, Tidur!

Meski ga terlalu antusias saya menyambutnya -karena banyak hal- akhirnya lebaran datang juga. Saya memilih menghabiskan beberapa hari lebaran di rumah kakak di Prabumulih. Pertama karena paling dekat dan mereka menjemput saya. Kedua karena waktu libur saya ga lama. Kalau ke Jakarta atau Bandung cuma 3-4 hari, waktu saya akan habis di jalan. Bisa-bisa seharian saya jadi ‘wanita jalanan’ karena muter-muter jalan sepanjang hari. Maklum di Jakarta saya harus mengunjungi puluhan sanak keluarga. Dan karena saya satu-satunya sanak keluarga yang tinggal jauh di seberang, maka akan menjadi aneh kalau saya ga menghabiskan waktu 1-2 jam di rumah setiap sanak famili.

Di luar sholat lima waktu, rutinitas lebaran saya adalah makan plus tidur! Continue reading “Lebaran: Makan, Tidur!”

Haram atau Halal Saya Hantam!

Jangan tanya berapa banyak makanan ‘haram’ masuk ke tubuh saya sejak kecil.
Di tempat saya dilahirkan di mana 50-50 muslim dan non muslim (umumnya keturunan Cina), di mana perkawinan ras ga pernah jadi masalah, dan karena banyak saudara kami non muslim, kami ga pernah menganggap makanan mereka sebagai barang haram.
Karena itu kemudian istilah halal-haram dihantam dengan versi amat kabur.

Dulu, kalau ikutan makan makanan siang bawaan teman non muslim dan ada babinya, misalnya mie goreng plus udang dan babi, maka saya akan menyisihkan babi ke pinggir dan menikmati mie plus udang doang. Babinya haram tapi udang dan mie, ga! Continue reading “Haram atau Halal Saya Hantam!”

Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!

Memasuki pertengahan puasa, orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Uh, saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik lebaran’. Wong saya ga punya kampung halaman! Pilihan saya untuk mudik adalah Jakarta, atau Bandung, atau yang paling dekat Prabumulih (kota kecil penghasil minyak Sumsel). Semuanya tempat kakak-kakak saya plus famili-famili. Mereka menetap di kota-kota itu karena berbagai alasan. Mungkin awalnya hanya karena pekerjaan, terus menikah dan telanjur punya anak, jadi keterusan tinggal di kota itu. Tapi ga satu pun dari ketiga kota itu memiliki arti penting dalam hidup saya pribadi.
Pun saya ga ‘tega’ menghabiskan lebaran di Palembang, tempat saya mencari nafkah sekarang ini. Karena saya ga punya kerabat di kota ini. Teman-teman kerja yang sudah saya anggap saudara sendiri, semuanya sibuk dengan rutinitas lebaran. Sibuk menyambut keluarganya yang mudik ke kota ini. Atau mereka malah mudik ke kampung halaman di luar kota. Jadi…. Continue reading “Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!”

Apa Ramadhan Istimewa? No way!

Tiap mendengar ceramah saya selalu dicecoki kalau Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan paling istimewa, bulan yang amat dinantikan kaum muslim dari orok sampe jompo. Benarkah?

Sekian tahun lalu saya masih bisa mengerti. Saya berharap saya bisa seperti banyak orang di luaran sana yang amat menantikan Ramadhan. Tapi tidak saat ini. Saya sangat berharap tidak ada bulan yang disebut Ramadhan. Bukan karena saya tidak suka harus berpuasa, meski saya tidak pernah benar-benar full puasa sebulan penuh setelah akil baliq. Bukan juga karena saya harus mengeluarkan sebagian harta sebagai ritual kelanjutan Ramadhan.

Tapi Ramadhan… benarkah harus beda? Continue reading “Apa Ramadhan Istimewa? No way!”

Gelar Gelar Gelar

Tengoklah deretan panjang di depan dan belakang nama seorang praktisi akademisi. Nama boleh sepotong tapi gelar akademik plus gelar keagamaan berbaris mengikuti. Hal itu yang akan saya bahas kali ini. Seperti biasa, siapa pun berhak berbeda pendapat dengan pendapat yang saya tulis di sini. Dan seperti biasa saya hanya menuliskan pandangan saya tanpa bermaksud menggurui atau bahkan mempengaruhi pendapat orang lain agar menyetujui pendapat saya.

Gelar Akademik dan Jabatan

Jumlah orang Indonesia yang bergelar akademik, baik S-1, S-2, maupun S-3 sudah tak terhitung jumlahnya, baik tamatan luar negeri terlebih dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri. Herannya kebiasaan menuliskan berbagai gelar akademik itu tak surut ditelan waktu. Dulu saya berpikir kebiasaan itu hanya muncul karena jumlah orang yang menyandang gelar tersebut masih dapat dihitung dengan jari. Tapi nyatanya tidak. Continue reading “Gelar Gelar Gelar”