Yuk, Nikah Mut’ah

Ada tawaran menarik dari seorang sahabat. Bayangkan, tiap bulan dikasih puluhan juta, dibelikan rumah gedong, plus plesiran dan belanja-belanja kapan mau. Wuiiiihhh… hampir saya mengiyakan.
Tapi syaratnya: menikah dengan dia dalam hitungan bulan, maksimum dua tahun. Kalau saya hamil, maka anak yang dilahirkan harus di bawah pengasuhannya. Wah, syaratnya ini yang sulit buat saya untuk mengiyakan menerima berbagai fasilitas yang akan diberikan. Kawin kontrak atau nikah mut’ah untuk beberapa bulan atau beberapa tahun: yes… no… yes… no… yes… no way. Continue reading “Yuk, Nikah Mut’ah”

Advertisements

Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan

Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu bagian dalam catatan kehidupan saya. Saat itu kami tinggal di lingkungan orang-orang keturunan Tionghoa. Salah satu alasan mengapa kami memilih tinggal di situ adalah karena kesamaan latar belakang. Saat itu saya juga masih disibukkan mengantar putra bungsu saya yang masih TK nol kecil.
airplane_vortex - wikipedia
Satu hari setelah penjarahan toko-toko di pusat bisnis di kota Palembang, tetangga-tetangga kami menjadikan rumah-rumah mereka sebagai gudang penampungan barang-barang dari toko-toko mereka di pusat bisnis. Barang-barang itu diangkut ke rumah-rumah menggunakan truk-truk dan pickup setelah maghrib usai. Tetangga depan rumah saya yang putrinya menjadi salah satu karyawan swasta, merelakan bosnya menggunakan rumah mereka sebagai gudang.
Saya sempat bertanya padanya apakah dia merasa lingkungan kami akan aman karena justru isu ras keturunan Tionghoa yang berhembus saat itu. Entah mendapat ide darimana, tetapi semua tetangga kami meyakinkan saya bahwa lingkungan kami aman, karena berada di lorong temaram dengan satu pintu keluar. Rumah-rumah kami berada tepat di tengah-tengah rumah-rumah penduduk lokal.

Masih pada satu hari setelah kerusuhan, saya dan putra saya makan bakmi di warung depan yang mengarah ke jalan raya. Tempat usaha kami berada di depan warung kecil itu, sedangkan lorong menuju rumah kami berada di sebelah kiri warung (di depan tempat usaha kami). Saat itu hanya ada tiga orang pengunjung ditambah dua orang penjual dan pelayan. Sedang enak-enaknya menikmati makanan, seseorang datang terburu-buru dan berbicara kepada pemilik warung dengan serius. Lalu pemilik warung bicara pada kami bahwa dia akan menutup warungnya segera. Pembeli pria yang telah menyelesaikan makannya, segera membayar dan berlalu. Karena putra saya terlihat sangat menikmati makanannya, pemilik warung yang sudah kami kenal dengan baik membiarkan dia menghabiskan bakminya.
Continue reading “Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan”

Jokowi atau Prabowo atau…???

forumkeadilan.com-jokowi dan prabowo

Saya menulis ini sebelum Pemilu Legislatif (Pileg) karena pilihan saya (satu suara) akan mempengaruhi calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres). Itu karena adanya ketentuan minimal 20 persen suara untuk mengajukan calon presiden di Pilpres. Pilpres lebih menarik minat saya dibandingkan Pileg. Saya kok ga bisa lagi percaya janji-janji manis para legislator, tapi masih berharap ada seorang pemimpin hebat yang bisa membawa negara ini lebih besar.

Dalam tulisan ini hanya dibahas dua orang kandidat karena hanya dua orang ini pilihan alternatif yang mungkin buat saya (Di antara capres yang sudah diumumkan. Ga termasuk yang masih akan konvensi). Saya bukan fans Jokowi maupun Prabowo. Saya ga pernah tertarik menjadi simpatisan PDIP maupun Gerindra. Saya ga pernah berpikir untuk menghadiri kampanye PDIP, Gerindra, atau partai mana pun. Saya bahkan ga hafal nomor PDIP, Gerindra, atau partai lain dalam surat suara yang akan dicoblos. Tapi bukankah saya harus memilih?

Jokowi yang digaung-gaungkan cocok sebagai the next president akhirnya terbukti menjadi calon yang diusung partai banteng berhidung putih itu. Kedua kandidat itu, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subiyanto,  saya ulas di sini sesuai alfabet nama mereka. Continue reading “Jokowi atau Prabowo atau…???”

Pilih 1, 2 atau 3???

Ulasan berikut sama sekali ga politis banget. Tapi mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak orang yang123 akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres bulan depan. Jika di Pileg banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya, kayaknya di Pilpres jumlahnya akan sedikit berkurang.

Sebelum nama-nama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diumumkan, saya rada ga susah memutuskan siapa yang akan saya pilih. Karena waktu itu, sosok SBY cukup oke di mata saya untuk meneruskan apa yang sedang dibangun bangsa ini. Tapi setelah nama-nama pasangan pemimpin itu diumumkan, dan terutama setelah kampanye mulai berjalan, saya malah bimbang.

Saya bukan tipe orang yang suka melihat pemimpin menyindir orang lain tanpa berani menyebutkan nama. Dan sayangnya itu dilakukan SBY akhir-akhir ini. Kalau Megawati yang melakukannya, saya agak-agak maklum, biasa… perempuan! Kelambatan dan keraguan SBY sebagai presiden dalam menangani beberapa kasus yang dihadapi bangsa ini, juga antara lain alasan saya menengok kandidat lainnya. Continue reading “Pilih 1, 2 atau 3???”

Inilah Indonesia, Manohara!

Entah bagaimana latar belakang hidup gadis cantik bernama Manohara Odelia Pinot itu. Yang pasti, dada saya ikut sesak karena sedih bercampur geli.
Sedih melihat gadis muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari putra saya, harus mengalami nasib mengenaskan. Lebih sedih karena nasib jelek itu malah diperolehnya karena kemolekannya.
Namun saya geli mendengar komentar-komentar polosnya yang diucapkan dengan bibir yang hanya terbuka kecil. Suaranya yang lembut masih terlalu polos untuk menyuarakan nasib bangsa ini di mata bangsa lain, terutama tetangga bebuyutan, Malaysia.

Cerita pilu Manohara di mata saya tak lebih buruk dari cerita para TKW, yang katanya penyumbang devisa bagi negara ini. Tentu bukan tentang cerita kesuksesan TKW di negeri orang hingga bisa membangun rumah megah. Walau bisa jadi rumah yang dibangun di kampung halaman dan sejumlah uang yang dikirimkan malah digunakan sang suami untuk memikat wnaita lain di kampung halamannya, sementara si TKW harus beradu fisik dengan majikannya di negeri orang. Continue reading “Inilah Indonesia, Manohara!”

Syariat Islam di Indonesia

Membaca di banyak website asing yang mengkopi artikel tentang sekian provinsi dari keseluruhan provinsi di Indonesia telah menjalankan syariat Islam, menimbulkan banyak pertanyaan bagi diri saya sendiri. Dua di antaranya saya tuangkan di sini.

Pertama, apakah benar hal itu sedang terjadi di negara ini?red-and-blue1
Bukan karena saya tidak cinta Islam padahal saya seorang Muslim, maka saya menolak syariat Islam dijalankan di negara ini. Maksud saya, jika dijalankan dengan sepenuhnya seperti tuntunan Alquran dan Hadist sebagai landasan negara. Kenapa saya tidak setuju? Karena negara ini terlalu plural dengan kultur bangsa sangat heterogen.

Dengan latar belakang yang memiliki keluarga dengan kebudayaan dan agama heterogen, saya cenderung menjadi sangat hormat pada agama dan kepercayaan orang lain. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin dijalankan syariat Islam di negara ini, sepatutnyalah hanya dijalankan pada para pemeluknya. Mulailah dari para pemeluknya, dan jangan setengah-setengah, apa pun resikonya. Karena bisa jadi dengan adanya penerapan syariat Islam yang terbatas hanya pada pemeluknya, jumlah kaum Muslim di negara ini akan mungkin mengkerucut dengan sangat cepat. Continue reading “Syariat Islam di Indonesia”

Mimpi Rakyat dan Mimpi Pemimpin

Punya impian muluk bukan cara saya memandang hidup. Meski orang bilang seorang pemimpi besar akan menjadi sukses, saya tetap tak bergeming. Impian-impian saya tidak seindah impian orang kebanyakan. Saya tidak pernah bermimpi memiliki rumah mewah saat uang di tabungan hanya beberapa perak, sekedar agar tabungan tidak ditutup bank. Saya tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan presiden negeri ini, saat saya belum menyumbangkan sesuatu yang cukup berarti untuk bangsa ini. Sebuah pemikiran yang kelewat sederhana, mungkin. Namun lewat cara sederhana ini saya bisa menjadi seseorang yang bangga pada kehidupan saya – meski tidak selalu bagus untuk diungkapkan -, bisa bebas berkata apa yang mau saya bicarakan, dan bisa menjejakkan kaki ke mana pun ingin melangkah tanpa ketakutan tak beralasan.

Jangan Memberi Mimpi Terlalu Indah!

Apa yang bisa kita lakukan sekarang hendaknya tidak hanya menjadi bunga tidur, atau sekadar bumbu segar debat berkepanjangan. Setiap insan dianugrahi kepekaan terhadap lingkungan. Masalahnya, tidak setiap orang mau mengasahnya. Kalau pun akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari sebuah lingkungan -entah itu RT, RW, hingga lingkungan besar bangsa ini- banyak yang tidak mau menaruh kepedulian. Yang dipikirkan adalah bagaimana memperbaiki nasib diri dan golongannya. Continue reading “Mimpi Rakyat dan Mimpi Pemimpin”

Guru Mendidik Anak Menjadi Koruptor

Jika anda menghampiri sekumpulan orang dan bertanya di bidang apa Indonesia dikenal dunia, mungkin akan banyak yang menyatakan: korupsi. Berbeda dengan beberapa dekade lalu di mana orang akan cepat menyatakan bulutangkis tiredatau penduduknya yang ramah atau Bali yang eksotis. Tak heran kemudian kita mengenal KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang malah kadang tidak ditempatkan pada porsi sebenarnya. Misalnya, saat Habibie menjadi presiden, banyak suara berkeberatan putra beliau menjabat kepala BPPN karena dianggap nepotisme. Padahal secara struktural maupun skill, putra beliau layak menduduki jabatan itu. Puluhan tahun di era kepemimpinan Soeharto, negara asing menjuluki the first lady Indonesia sebagai Mrs. Ten Percent. Ironis sekali, padahal sang presiden adalah tokoh yang cukup disegani kawan maupun lawan di panggung politik luar negeri. Saat Megawati menjadi presiden, di kota saya beredar rumor bahwa suap-menyuap yang notabene sanak familinya korupsi, tidak lagi dilakukan di balik amplop, tapi si penerima suap akan menentukan jumlah setoran yang diinginkannya. Kasarnya, korupsi adalah tindakan lazim dilakukan anak negeri ini. Pembentukan KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang sampai saat ini terus menyeret korban-korban baru, adalah bukti kekuatiran anak bangsa atas mengguritanya lilitan korupsi di negeri ini.

Bukan karena secara garis keturunan tidak memiliki kerabat untuk diajak kolusi, maka saya memilih bersikap anti pati terhadap KKN, terutama korupsi. Continue reading “Guru Mendidik Anak Menjadi Koruptor”

Puisi Cinta

Saya ga pernah berniat bikin blog untuk mempublikasikan puisi karena puisi adalah kerjaan saya di masa muda. Kalau akhirnya puisi saya dipublikasikan di sini hanya karena memenuhi permintaan beberapa orang. Puisi ini saya bacakan di acara Teacher Award, 25 November lalu.

KAU DAN AKU

LAUTANMU HANYALAH AIR
SUNGAIKU ADALAH ALIRANNYA
PANTAIMU ADALAH LANDAI
TEMPAT NYIURKU MELAMBAI
NAFASMU ADALAH LAMBANG HIDUP
BAGAI UDARA YANG KUHIRUP

SEBAB MENTARI KITA BERSINAR SAMA
MAKA KITA TIDAK BERBEDA
KARENA DARAH KITA SAMA MERAH
MAKA NURANI KITA TIDAK BERKATA BEDA
KARENA KITA DATANG DARI TUHAN YANG SAMA
MAKA KEMANUSIAAN KITA TIDAKLAH BEDA Continue reading “Puisi Cinta”

Menjadi Pengecut Adalah Pilihan

mouthPernah menemukan hal-hal yang patut dipertanyakan tapi tidak mendapatkan jawaban meski telah mengeluarkan sekian puluh pertanyaan?
Pernah merasa seseorang menyembunyikan sesuatu tetapi tidak bisa mengungkapkannya apakah benar ada yang disembunyikan?

Lelah rasanya dipertontonkan hal-hal semacam itu di sekitar saya. Cuma bikin capek kuping mendengar uraian panjang lebar tapi tidak satu pun yang secara esensi menyinggung apa yang dibahas. Tidak ubahnya berjalan berputar di tempat yang sama padahal jalan tembus ke tujuan membentang di depan mata.

Saya ingin punya keberanian untuk bukan sekedar berkata-kata tapi juga bertindak. Tapi semua itu hanyalah ‘keinginan’. Artinya saya tidak pernah menggerakkan tangan untuk menyumbat mulut yang mengumbar kebohongan. Saya tidak pernah mengirimkan telapak tangan untuk menggampar mulut yang menjual nama Tuhan tapi ngacir duluan saat dimintai pertanggungjawaban. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya memilih menjadi pengecut yang hanya menonton. Saya hanya berani bilang salah adalah salah pada si pelaku tapi tidak berani mengambil sepotong kayu dan menghantamkan ke tubuhnya untuk menyadarkannya. Padahal saya punya tangan, saya punya kayu yang siap dihantamkan. Hanya saja tidak melakukannya!

Pengecut adalah sebutan yang sesungguhnya untuk orang-orang seperti saya, yang membiarkan (mungkin malah menikmati!) berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan berlangsung di depan hidung saya. Kepengecutan itu membuat saya hanya mampu berkata tapi tidak bertindak. Kata-kata, bagaimana pun kerasnya, kadang kala tidak bekerja sama sekali. Continue reading “Menjadi Pengecut Adalah Pilihan”

Pria Indonesia Payah!

Saya cukup fair menuliskan hal ini dengan berbagai alasan. Pertama karena saya berada di lingkungan yang mayoritas pria. Saya kerap terkondisi di mana 99%-nya pria. Bahkan dalam banyak kasus, saya merupakan wanita satu-satunya di lingkungan pria. Lingkungan membuat saya lebih dekat dan lebih banyak bergaul dengan pria dibandingkan wanita. Jadi saya cukup kenal berbagai karakter.

Kedua, saya bukan aktivis perempuan yang merasa terkekang oleh keberadaan pria lalu bersikap anti pria. Plus kehidupan nyata membuat saya cukup kenal banyak suku di Indonesia (meski ga jamannya lagi bicara masalah suku saat ini), sehingga cukup fair menuliskan pendapat saya tentang pria Indonesia.

Jangan bilang saya kelewat feminis kalau saya bilang pria Indonesia payah! Tentu saja ini generalisasi dari berbagai media publik. Kalau ada yang ‘ga payah’ maka mereka termasuk pengecualian. Jadi generalisasi saya cukup valid. Kira-kira kalau ada sensus maka hasilnya akan mengukuhkan pendapat saya. Jika anda pria, mari melihat ‘wakil’ anda di berbagai media. Ada anggota MPR/DPR, para jenderal, bintang sinetron, penyanyi, aktivis kemanusiaan, para menteri, bahkan presiden Indonesia yang terhormat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Continue reading “Pria Indonesia Payah!”

Perbandingan: Pria Indonesia dan Pria Bule

Koleksi Pribadi  Ga fair kalau bilang pria Indonesia ga menghormati wanita, sedangkan bule tahu gimana mengambil hati wanita. Tapi secara   umum fakta ini benar. Setidaknya pengalaman saya mengatakan begitu 🙂

Karena berat badan saya terus turun, saya minta pendapat: Gimana ya naikkin berat badan? Kok gue tambah kurus saban hari?
Komentar pria Indonesia: Iya, lo makin kurus aja. Hati-hati loh, ntar tinggal tulang, mesti pake kasur dobel!
Komentar pria bule: But you look sexy!
Meski saya tahu si bule bohong besar, tapi paling ga dia menenangkan saya. Continue reading “Perbandingan: Pria Indonesia dan Pria Bule”

Kekerabatan, Kultur Manis Indonesia

Selama ini saya ga pernah merasa saya bukan bagian dari masyarakat Indonesia. Tapi sekarang, saya heran kenapa saya yang lahir dan dibesarkan di tanah ini menjadi asing dengan kultur yang ada.
Artikel ini dibuat setelah saya mampir ke berbagai blog yang dengan antusias menuliskan betapa manisnya berkumpul bersama kerabat (famili, sanak keluarga, atau apa pun istilahnya) selama lebaran.

Dari berbagai tulisan itu saya dapat merasakan betapa kental kekerabatan dalam masyarakat Indonesia. Hei, saya orang Indonesia juga tapi kok ga bisa merasakan hal yang sama? Saya heran gimana seorang adik bisa kangen setengah mati pada kakaknya cuma karena sudah setahun ga ketemu. Kok bisa, ya?
Saya pernah ga ketemu satu-satunya abang kandung saya selama delapan tahun. Bahkan terakhir kami bertemu enam tahun lalu. Jika dia jadi berangkat ke luar negeri untuk bekerja akhir tahun ini, saya ga tahu kapan kami akan bertemu lagi. Saya ‘hanya’ menerima kiriman oleh-oleh tiap kali saudara-saudara saya balik dari luar negeri. Continue reading “Kekerabatan, Kultur Manis Indonesia”

Saya Kerja (Bukan) PSK

Hari Senin jam enam pagi lewat sedikit saya berangkat dari rumah. Di salah satu persimpangan antara Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sosial Palembang, seorang gadis ABG berkulit coklat matang turun dari mobil mengkilap. Saya simpan nomor plat mobil itu di kepala. Saya ingat wajah pengemudinya karena kaca mobilnya ga terlalu gelap. Si Gadis celingukan. Beberapa tukang ojek menghampirinya. Tapi dia sepertinya ga tertarik naik ojek. Atau lebih tepatnya, wajahnya tampak bingung.
Saya kok jadi punya pikiran rada negatif soal si gadis dan pengemudi yang ga pake acara buka kaca mobil, tapi langsung ngacir.

Iseng, saya parkir kendaraan di tempat aman. Saya hampiri gadis itu.
‘Mau ke mana, Dek?’ saya tanya.
Dia ga menjawab.
‘Saya wartawan. Mau nanya-nanya doang. Ga perlu nyebutin nama, deh. Boleh, ya?’ saya tunjukkan press ID saya. Continue reading “Saya Kerja (Bukan) PSK”

Saya (Ga Layak Jadi) Guru

Status kepegawaian saya, jelas saya guru sekolah menengah. Saya mengajar kimia. Menjadi guru -meski bukan cita-cita awal, saya ingin jadi penjaga pantai atau jurnalis waktu kecil- adalah salah satu bagian hidup yang harus saya jalani. Herannya hampir ga ada orang yang baru kenal akan percaya bahwa saya guru.

Saat anak saya masih TK, saya malah ditertawai beberapa orang tua teman-teman anak saya, waktu salah satu ibu menanyakan apa saya akan ikut tes penerimaan guru SMA sebentar lagi. Memang saya hampir ga pernah nimbrung ngerumpi. Selesai mengantar anak, saya akan langsung pulang.
‘Mana bisa tamatan SMP jadi guru. Minimal sarjana,’ celetuk salah satu ibu yang ikut mendengarkan.
Padahal saat itu saya sarjana dan udah kerja, meski bukan sebagai guru. Continue reading “Saya (Ga Layak Jadi) Guru”

Haram atau Halal Saya Hantam!

Jangan tanya berapa banyak makanan ‘haram’ masuk ke tubuh saya sejak kecil.
Di tempat saya dilahirkan di mana 50-50 muslim dan non muslim (umumnya keturunan Cina), di mana perkawinan ras ga pernah jadi masalah, dan karena banyak saudara kami non muslim, kami ga pernah menganggap makanan mereka sebagai barang haram.
Karena itu kemudian istilah halal-haram dihantam dengan versi amat kabur.

Dulu, kalau ikutan makan makanan siang bawaan teman non muslim dan ada babinya, misalnya mie goreng plus udang dan babi, maka saya akan menyisihkan babi ke pinggir dan menikmati mie plus udang doang. Babinya haram tapi udang dan mie, ga! Continue reading “Haram atau Halal Saya Hantam!”

Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!

Memasuki pertengahan puasa, orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Uh, saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik lebaran’. Wong saya ga punya kampung halaman! Pilihan saya untuk mudik adalah Jakarta, atau Bandung, atau yang paling dekat Prabumulih (kota kecil penghasil minyak Sumsel). Semuanya tempat kakak-kakak saya plus famili-famili. Mereka menetap di kota-kota itu karena berbagai alasan. Mungkin awalnya hanya karena pekerjaan, terus menikah dan telanjur punya anak, jadi keterusan tinggal di kota itu. Tapi ga satu pun dari ketiga kota itu memiliki arti penting dalam hidup saya pribadi.
Pun saya ga ‘tega’ menghabiskan lebaran di Palembang, tempat saya mencari nafkah sekarang ini. Karena saya ga punya kerabat di kota ini. Teman-teman kerja yang sudah saya anggap saudara sendiri, semuanya sibuk dengan rutinitas lebaran. Sibuk menyambut keluarganya yang mudik ke kota ini. Atau mereka malah mudik ke kampung halaman di luar kota. Jadi…. Continue reading “Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!”

Kursi Nomor 1 Sumsel

Dengan alasan ke-golput-an saya, seorang teman meminta saya menuliskan soal Pilkada Sumsel. Sebenarnya saya ga memilih golput. Karena saya ga terdaftar sebagai pemilih maka otomatis saya golput. Dengan alasan ini, menurut dia, saya yang ga suka politik praktis, pastilah ga akan condong ke salah satu pihak. Sekali pun saya punya hak pilih, saya ga akan pernah menjadi tim sukses pihak mana pun, berapa pun mereka mau membayar saya. Sekali lagi, saya ga tertarik politik praktis. Continue reading “Kursi Nomor 1 Sumsel”

MARI TURUN KE JALAN

Wah, saya ga lagi membakar amarah orang agar ikut demo ke jalan. Turun ke jalan dalam konteks ini adalah melihat bagaimana situasi jalanan di Palembang. Kalau anda pernah ke Medan, dan tahu bagaimana ‘gila’-nya supir di jalanan kota itu terutama supir angkutan umum, maka anda akan menemukan hal yang sama di Palembang. Bedanya, hal ini dilakukan hampir semua pengendara dari berbagai jenis kendaraan. Diperburuk lagi dengan parahnya kondisi jalanan kota Palembang, secara umum. Continue reading “MARI TURUN KE JALAN”

Pilkada: Pemilihan Walikota Palembang

Pilkada Walikota Palembang berlangsung Sabtu, 7 Juni 2008. Seperti pilkada di propinsi lain, sebelumnya diadakan kampanye termasuk iring-iringan kendaran bermotor, dan bahkan arak-arakan pasangan calon walikota dan calon wakil walikota layaknya sepasang pengantin. Kebetulan pasangan itu calon walikotanya wanita sedangkan calon wakil walikotanya pria.

Saya mungkin termasuk orang yang apatis pilkada akan berlangsung ‘bersih’. Mulai dari masa kampanye yang sudah didahului dengan berbagai aksi mogok pasangan yang menilai pasangan tertentu menjalankan an unfair game, manipulasi surat suara, hingga tak jelasnya program serta misi-visi para pasangan. Continue reading “Pilkada: Pemilihan Walikota Palembang”