Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut

Kamu harus ke psikolog. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar rasa takut yang belum bisa saya atasi sepenuhnya.

pamsclipart.cameo_silhouette_of_a_woman_with_scary_thought_words_in_a_spiral_0515-1101-2618-5354_SMU

Saya tertawa. Ke psikolog? Saya ga gila. Ga sakit. Saya hanya takut. Dan itu pun tak datang setiap saat. Paling hanya sesekali dalam seminggu. Atau sebulan. Kadang malah hanya sesekali dalam beberapa bulan. Ketakutan itu tidak terlalu membebani buat saya. Kalau saya takut dan sedang sendiri, maka saya akan terjaga sepanjang malam dan membiarkan tubuh bersandar pada kursi dengan laptop menyala di depan meja seolah saya sedang bekerja. Saya baru berani merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah azan subuh dan orang-orang mulai beraktivitas. Continue reading “Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut”

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki. Continue reading “Indonesian Men are Dogs!”

Menjadi Free Thinker

                                 

Sekian tahun dalam hidup saya, saya jalani sebagai free thinker. Itu terjadi karena saya sok telah tahu hal yang sebenarnya saya masih buta banget. Saat itu saya hanya percaya bahwa ada ‘sesuatu’ yang menguasai alam semesta ini. Sisi positifnya, saya menggunakan logika dalam menjalani kehidupan, memandang sesuatu berdasarkan fakta, ga takut mengatakan yang salah dan benar sesuai porsinya.
Sisi negatifnya? Na’uzubillahi min zhaliq…. Bejibun! Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Continue reading “Menjadi Free Thinker”

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Continue reading “Penyebar Kebencian”

Tips Melupakan Patah Hati. Hasilnya Nyata!

Saya belum pernah patah hati. Karena saya ga pernah siap mempertaruhkan segalanya buat seseorang yang bukan sanak keluarga saya. Tapi atas permintaan beberapa komentator di tulisan Are U in Love? saya menuliskannya di sini.
Berikut ini tips yang pernah saya berikan pada beberapa teman yang menanyakan bagaimana caranya melupakan patah hati:
Berteman dengan internet. Jadi perokok berat. Konsumsi alkohol banyak-banyak. Petantang-petenteng di sekitar preman.
Hasil nyatanya bisa dilihat di akhir tulisan. Continue reading “Tips Melupakan Patah Hati. Hasilnya Nyata!”

Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku

Bukan bermaksud menjadi oven pemanggang ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia, atau sok membela gadis cantik yang katanya sempat ‘bagaikan hidup di sangkar emas’, maka tulisan ini hadir.

Masih dalam rangka liburan, saya jadi aktif menonton TV setelah jadi ‘ibu rumah tangga yang baik’. Dua hari berturut-turut melototin berita infotainment yang sama, tentang suami Manohara Odelia Pinot yang berbangga hati telah memenangkan kasus melawan istrinya sendiri di pengadilan negeri jiran itu. Meski tak beraliansi pada Manohara atau ibunya yang tampak terlalu ‘wah’ di mata saya, tak urung saya terhenyak dengan berita itu. Ini semua karena si Tengku dari Kelantan (silakan cari di Google namanya, saya lagi malas) sambil senyam-senyum plus bahasa yang ga banget buat telinga saya, dengan bangga menyatakan kemenangannya dan betapa adilnya pengadilan di negaranya mewajibkan istrinya membayar hutang-hutang sebagai seorang istri.

Di mata saya, si Tengku hanya mempertontonkan kedunguannya dalam Islam. Continue reading “Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku”

Ramalan? Let’s See!

Film 2012 dan berbagai tayangan ramalan di televisi mengembalikan ingatan masa remaja saya. Ibunda seorang teman baik saya di SMP adalah peramal hebat dan ahli pengobatan. Kami menyebutnya dukun. Peramal lainnya, seorang teman berkebangsaan India. Keduanya meramalkan saya tanpa pernah saya minta, di tempat dan waktu berbeda. Teman India meramalkan kehidupan saya setelah usia 30. Ramalannya mengagetkan saya karena mirip ramalan sang ibunda.

Suatu hari semasa saya masih SMP, sang bunda meramalkan saya akan menikah di usia relatif muda. Tentu semua yang mendengarkan ramalan itu hanya bisa tersenyum. Reaksi saya? Ketawa ngakak!
Saat itu semua teman tahu saya bercita-cita menjadi nun dan ga pernah berniat menikah sama sekali. Continue reading “Ramalan? Let’s See!”

MOM, I’M A GAY!

imagesMulut saya terkunci sekian detik mendengar pengakuan itu. Meski sebelumnya dia telah mewanti-wanti bahwa saya mungkin akan shock. Saya mempersiapkan diri pada pengakuan terburuk, namun itu masih saja membuat saya terdiam 2-3 menit.
‘Yes, Mom, I’m a gay.’
Dia – salah satu putra saya – mengulangi lagi pernyataannya.

Saya kira semua ibu ingin melihat anak-anaknya tumbuh ‘normal’. Menjadi gay bukanlah sesuatu yang ‘cukup normal’ buat saya. Continue reading “MOM, I’M A GAY!”

Lulus!!!

grad-ceremonySetelah 22 bulan berkutat dengan buku-buku tebal berhuruf times new roman 10 serta ratusan jurnal ilmiah, akhirnya saya bisa bernafas lega. Saya lulus magister teknik, bidang kajian teknologi petrokimia. Kayaknya ga sia-sia deh presiden memberikan beasiswanya. Sesuai kesepakatan awal, nama beliau diletakkan nomer satu dalam untaian terima kasih.

Orang-orang pertama yang saya kabari tentu saja putra-putra saya, ibu di Bandung, partner serta saudara-saudara saya. Dan juga teman-teman terdekat yang sudah saya anggap layaknya saudara sendiri. Mereka membantu saya dengan doa tulus dan support penuh kasih. Continue reading “Lulus!!!”

Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?

page2_1Tulisan ini mungkin isi kepala sebagian Muslim di dunia yang membuat beberapa video Condell dilarang beredar online. Ini angan-angan bodoh sebenarnya. Datangnya dari pikiran badut saya saat menyaksikan betapa naif pria itu, meski dia lumayan populer di negaranya. Saya pemerhati video-videonya, entah dengan alasan apa, tanpa pernah tertarik mengomentari langsung. Pertemuan saya dengan video pertamanya saat saya sedang berburu video tentang Islam untuk seorang teman di tahun 2007. Continue reading “Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?”

Let Him On His Peace Way

Masih soal Michael Jackson, sang raja pop, sebagaimana dia menasbihkan dirinya. Bukan cuma karena sebel membaca banyak argumen negatif setelah kepergiannya atau tulisan dengan ulasan dadakan ga berhati soal M.J., tapi lebih karena ada ‘sesuatu’ di dalam hati saya. Jarang-jarang sih saya ‘bicara’ pake hati tapi mungkin karena saya kurang sreg dengan berbagai tulisan soal M.J. yang mungkin maksudnya mau membela tapi kok terkesan malah membuka luka lama di mata saya.

MJ

Tahun 2004-2005 pertama kali saya mendengar lagu berjudul Give Thanks to Allah dari sebuah website berbasis di tanah Arab. Tahun 2007 lagu itu memborbardir dunia Islam, terutama di berbagai website yang di-support Muslim. Lagu itu diklaim dinyanyikan oleh M.J. yang konon katanya beralih kepercayaan ke dalam Islam, mengikuti jejak sahabat-sahabat dan abang kandungnya. Mengikuti kematiannya di tahun 2009, lagu itu kembali ramai dibicarakan.

Tapi jujur, di kuping saya, lagu itu amat berbeda, baik dalam isi apalagi vokal. Desahannya beda banget. Beda. Amat beda. . Continue reading “Let Him On His Peace Way”

Pingsan!

ist2_1650217-figurine-faintPingsan atau ga sadarkan diri bisa disebabkan banyak hal. Mungkin karena terlalu capek, sakit organ tertentu, kekurangan oksigen, terkejut atau shock, dan sebagainya. Agak aneh buat saya bahwa ada orang yang ga pernah pingsan sepanjang hidupnya. Kok bisa ya?

Sebagai orang yang pernah puluhan kali pingsan, saya ga bisa dengan tepat menentukan penyebab saya pingsan. Tapi biasanya didahului oleh hal yang sama: seperti ada bintang-bintang berwarna-warni dan gemerlapan di sekeliling saya, tubuh saya mendadak mati rasa dan ga bisa digerakkan, serta wajah, terutama bibir saya berubah pucat kehijauan.

Pingsan pertama kali saya rasakan kelas 3-4 SD setelah ‘ulu hati’ saya dihantam dua pukulan oleh seorang laki-laki karateka muda. Di SMA saya pingsan belasan kali saat upacara bendera. Akhirnya wali kelas saya mengijinkan saya ikut upacara dari dalam kelas. Satu kali saat mau pulang dari jalan-jalan di supermarket, saya pingsan di depan kulkas yang sedang dipajang. Continue reading “Pingsan!”

Oh, Sakit LAGI?

(Tulisan ini dipublikasikan karena tadi pagi saya sempat miris mendengar kata-kata seorang kolega kerja yang meragukan saya sedang sakit, saat saya bahkan hanya bisa membuka satu kelopak mata dan memaksakan diri menerima telpon. Telpon ada di sebelah tempat tidur dan bisa dijangkau tanpa perlu menggerakkan tubuh, kecuali tangan. Saya sebenarnya sedang berharap saat itu ada yang menelpon sehingga bisa meminta pertolongan. Meski kemudian beliau menelpon, saya ga berharap akan datang sebuah bantuan.)

Banyak orang yang ga bisa atau ga mau mengerti bahwa saya ga sedang sakit karena sekian menit lalu mereka masih melihat saya ‘segar bugar’. Meski bisa saja saat saya bertemu mereka sebenarnya saya sedang menahan sakit tapi saya pura-pura masih kelihatan senang-senang aja di luarannya. Saya ga mau mengeluh sakit. Yang saya keluhkan adalah ketakmampuan saya bangun sehingga harus meninggalkan aktivitas saya. Buat sebagian orang, hal itu semacam alasan yang dicari-cari. Saya ga enak hati setiap kali menerima telpon mengkonfirmasikan kehadiran saya. Apalagi jika di penelpon dengan nada tinggi berujar: ‘Oh, sakit lagi? Bukannya kemaren kamu sehat-sehat aja?’

Belakangan ini saya benar-benar terpaksa meninggalkan beberapa pekerjaan atau pertemuan yang menjadi kewajiban saya, cuma karena satu alasan yang klise banget: saya lagi sakit!

Kalau hanya pusing atau masih bisa berdiri tegak, saya akan jalani pekerjaan-pekerjaan saya. Tapi akhir-akhir ini saya bahkan hanya tergolek di atas tempat tidur dalam kamar remang-remang, sambil berselimut tebal menahan mual atau dengan nafas tersengal-sengal, meski waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Mata saya juga makin ga tahan sinar. Saya merasa nyaman dalam ruang bercahaya remang-remang. Hal inilah yang membuat saya berulangkali harus beradu mulut dengan putra saya yang lebih menyukai suasana terang.

Saya hampir ga pernah bercerita bahwa saya sedang sakit, kecuali pada orang yang berkepentingan. Biasanya saya akan memberitahukan bahwa saya sakit begini-begitu setelah saya sembuh. Alasan saya sebenarnya cuma: saya ga mau dikasihani seolah saya ga berdaya. Tapi sungguh menyakitkan ketika mendengar orang meragukan saya sakit saat saya sedang berjuang menahan sakit dan ga mampu bangkit minta pertolongan. Continue reading “Oh, Sakit LAGI?”

Pilih 1, 2 atau 3???

Ulasan berikut sama sekali ga politis banget. Tapi mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak orang yang123 akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres bulan depan. Jika di Pileg banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya, kayaknya di Pilpres jumlahnya akan sedikit berkurang.

Sebelum nama-nama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diumumkan, saya rada ga susah memutuskan siapa yang akan saya pilih. Karena waktu itu, sosok SBY cukup oke di mata saya untuk meneruskan apa yang sedang dibangun bangsa ini. Tapi setelah nama-nama pasangan pemimpin itu diumumkan, dan terutama setelah kampanye mulai berjalan, saya malah bimbang.

Saya bukan tipe orang yang suka melihat pemimpin menyindir orang lain tanpa berani menyebutkan nama. Dan sayangnya itu dilakukan SBY akhir-akhir ini. Kalau Megawati yang melakukannya, saya agak-agak maklum, biasa… perempuan! Kelambatan dan keraguan SBY sebagai presiden dalam menangani beberapa kasus yang dihadapi bangsa ini, juga antara lain alasan saya menengok kandidat lainnya. Continue reading “Pilih 1, 2 atau 3???”

Dok, Tolong Dong!

4docLupa di mana istilah di atas pernah saya baca, tapi istilah itu cocok dengan kondisi saya. Saya bukan tipe orang yang mudah mengeluh sakit tapi semua orang bisa melihat saya menahan sakit nyaris tiap hari. Untungnya saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan saya tepat waktu meski dengan tubuh lemah atau kepala sakit.

Berikut beberapa penyakit yang pernah atau masih bersemayam di tubuh saya:

Darah saya punya masalah. Saya harus minum vitamin C dua kali dari orang normal karena darah saya hanya mampu menyerap vitamin C setengah dari orang normal. Karena terlalu banyak minum vitamin C, saya kena maag. Kadang kambuh tanpa tanda-tanda. Beberapa kali saya dibawa ke UGD karena maag kambuh dengan sakit ga tertahankan. Dokter pernah meminta saya opname tapi saya menolak. Waktu di jalan ketemu orang, ada yang mengira saya lari dari rumah sakit habis operasi karena muka saya pucat pasi. Maag bikin saya muntah. Tapi sejak setahun belakangan saya jarang muntah. Dulu saya muntah tiap hari. Bisa pagi, siang atau malam. Continue reading “Dok, Tolong Dong!”

Inilah Indonesia, Manohara!

Entah bagaimana latar belakang hidup gadis cantik bernama Manohara Odelia Pinot itu. Yang pasti, dada saya ikut sesak karena sedih bercampur geli.
Sedih melihat gadis muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari putra saya, harus mengalami nasib mengenaskan. Lebih sedih karena nasib jelek itu malah diperolehnya karena kemolekannya.
Namun saya geli mendengar komentar-komentar polosnya yang diucapkan dengan bibir yang hanya terbuka kecil. Suaranya yang lembut masih terlalu polos untuk menyuarakan nasib bangsa ini di mata bangsa lain, terutama tetangga bebuyutan, Malaysia.

Cerita pilu Manohara di mata saya tak lebih buruk dari cerita para TKW, yang katanya penyumbang devisa bagi negara ini. Tentu bukan tentang cerita kesuksesan TKW di negeri orang hingga bisa membangun rumah megah. Walau bisa jadi rumah yang dibangun di kampung halaman dan sejumlah uang yang dikirimkan malah digunakan sang suami untuk memikat wnaita lain di kampung halamannya, sementara si TKW harus beradu fisik dengan majikannya di negeri orang. Continue reading “Inilah Indonesia, Manohara!”

ANTV Mempropagandakan Black Magic!

Tulisan ini mennumbergenai tayangan berjudul Luar Biasa pada Malam Minggu, 18 April 2009. Setelah tayangan ‘Supernatural ‘ yang saya ikuti sambil seringkali memejamkan mata atau menyembunyikan wajah di balik bantal, saya lanjutkan menonton ‘Luar Biasa’. Karena jadwal saya menonton tidak rutin, saya tidak tahu apakah acara tersebut hanya acara selingan malam itu atau memang acara rutin dalam periode tertentu.

Tanpa mempermasalahkan hal tersebut, saya tertarik saat sang host Dona Agnesia menyatakan bahwa Ustad Sutrisno (mudah-mudahan saya tidak salah menuliskan nama beliau) telah menemukan pil ajaib yang dapat menyembuhkan aneka penyakit. Awalnya saya tidak berprasangka buruk, saya pikir hanya mencampurkan berbagai jenis tumbuhan. Secara kimia, beberapa substansi kimiawi dapat bercampur tanpa saling menetralkan atau meracuni satu sama lain. Continue reading “ANTV Mempropagandakan Black Magic!”

Syariat Islam di Indonesia

Membaca di banyak website asing yang mengkopi artikel tentang sekian provinsi dari keseluruhan provinsi di Indonesia telah menjalankan syariat Islam, menimbulkan banyak pertanyaan bagi diri saya sendiri. Dua di antaranya saya tuangkan di sini.

Pertama, apakah benar hal itu sedang terjadi di negara ini?red-and-blue1
Bukan karena saya tidak cinta Islam padahal saya seorang Muslim, maka saya menolak syariat Islam dijalankan di negara ini. Maksud saya, jika dijalankan dengan sepenuhnya seperti tuntunan Alquran dan Hadist sebagai landasan negara. Kenapa saya tidak setuju? Karena negara ini terlalu plural dengan kultur bangsa sangat heterogen.

Dengan latar belakang yang memiliki keluarga dengan kebudayaan dan agama heterogen, saya cenderung menjadi sangat hormat pada agama dan kepercayaan orang lain. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin dijalankan syariat Islam di negara ini, sepatutnyalah hanya dijalankan pada para pemeluknya. Mulailah dari para pemeluknya, dan jangan setengah-setengah, apa pun resikonya. Karena bisa jadi dengan adanya penerapan syariat Islam yang terbatas hanya pada pemeluknya, jumlah kaum Muslim di negara ini akan mungkin mengkerucut dengan sangat cepat. Continue reading “Syariat Islam di Indonesia”

Mencari Pengantin Buat Sahabat

Setiap kali bertemu atau saling menelpon, saya ga lupa menanyakan apakah sahabat saya sudah mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Dia laki-laki yang baik, ga pernah mau berpikir negatif pada orang lain, sehingga seharusnyalah mendapatkan pendamping yang baik. Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia lebih betah melajang. Mungkin karena pernah memilih jalan hidup yang super bodoh dan terperangkap di dalamnya selama beberapa tahun. friends Setelah akhirnya terbebas pun, dia ga kunjung melamar seorang gadis untuknya. Jadilah saya sibuk mendorong-dorongnya untuk memilih satu.
Saking sebelnya, dia malah bilang: ‘lo-nya ga mau diajak kawin.’
Wah, andai saja saya penganut poliandri…! 🙂 Ga terasa sekian bulan lewat tanpa sebuah telpon atau sms karena kesibukan masing-masing. Continue reading “Mencari Pengantin Buat Sahabat”