Axl Rose

Untuk penyanyi berusia 54 tahun, he looks like, still, a wild animal on microphone.

Saya penikmat musik era 80, rock, rock klasik, atau apa pun labelnya. Namun Guns N’ Roses adalah band yang tak pernah saya tinggalkan sejak pertama kali saya mendengar lagu-lagu mereka. Welcome to the Jungle, Patience, Estranged, Garden of Eden, Coma, Civil War, November Rain, It’s So Easy, Dead Horse, Dust N’ Bones, My Michelle, Sweet Child O’ Mine, Out Ta Get Me, Oh My God, So Fine, Street of Dreams, Used to Love Her, dan seterusnya. Saya kok ga menemukan satu pun lagu Gn’R, bahkan yang daur ulang semacam Knockin’ on Heaven’s Door, yang bakal avoided kuping saya, ya?

4
Continue reading “Axl Rose”

Advertisements

Melangkah (Dyer)

Putra saya, Dyer namanya, menyukai seni sebagaimana orang tua dan generasi di atasnya menyenangi seni. Neneknya sejak kecil sudah menjadi penyanyi profesional di daerahnya. Kakeknya pintar memainkan beragam alat musik. Saya sendiri sejak muda sudah berjalan dari satu panggung ke panggung yang lain untuk berkolaborasi dalam beragam bentuk teater bebas. Ayah -dan kemudian saya- menulis puisi dan fiksi untuk majalah atau koran secara berkala. Buat saya waktu itu, uang menjadi salah satu tujuan.


Putra saya lebih suka musik. Maka menyanyi dan menulis lagu adalah salah satu caranya menyibukkan diri atau melarikan pikiran. Satu hal kesamaan antara saya dan putra saya, bahwa meski kami menuliskan tentang kerinduan, keterpurukan, atau -mungkin- patah hati, nada tegar masih tergambar jelas dalam setiap kata-kata yang mewakili perasaan kami. Mungkin ini yang disebut pepatah: buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Salah satu lagu ciptaannya, judulnya ‘Melangkah’ mencerminkan hal itu.
Continue reading “Melangkah (Dyer)”

My Partner

(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for a special one.)

Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: β€˜I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap. Continue reading “My Partner”

Kangen Ibu

(Tulisan ini ditulis dengan cinta. Sebentuk cinta yang saya persembahkan untuk ibu saya dan ibu-ibu lain di dunia ini yang merupakan salah satu orang terhebat yang pernah ada di hati putra-putrinya)

Saya kangen ibu.

Ibu sekarang tinggal di Bandung. Beliau terbiasa ‘wara-wiri’ menetap di Jakarta atau Bandung, di tempat saudara-saudara saya. Tergantung mood, kayaknya πŸ™‚
Saya akan menelpon beliau tiap kali memerlukan doa pendukung. Herannya, hingga detik ini saya selalu merasa, kok doa ibu saya lebih mujarab dibandingkan jika saya berdoa sendiri meski untuk keperluan saya pribadi πŸ™‚

Terakhir bertemu ibu lebih dari dua tahun lalu. Ibu tinggal dengan kami tiga bulanan. Itu kali pertama dan terakhir ibu tinggal di rumah kami. Selebihnya bersama empat saudara saya lainnya. Putra saya sempat berkomentar: kok nenek ga fair sih, ga pernah tinggal lama di sini? Kan nenek milik kita sama-sama? Continue reading “Kangen Ibu”

Ramalan? Let’s See!

Film 2012 dan berbagai tayangan ramalan di televisi mengembalikan ingatan masa remaja saya. Ibunda seorang teman baik saya di SMP adalah peramal hebat dan ahli pengobatan. Kami menyebutnya dukun. Peramal lainnya, seorang teman berkebangsaan India. Keduanya meramalkan saya tanpa pernah saya minta, di tempat dan waktu berbeda. Teman India meramalkan kehidupan saya setelah usia 30. Ramalannya mengagetkan saya karena mirip ramalan sang ibunda.

Suatu hari semasa saya masih SMP, sang bunda meramalkan saya akan menikah di usia relatif muda. Tentu semua yang mendengarkan ramalan itu hanya bisa tersenyum. Reaksi saya? Ketawa ngakak!
Saat itu semua teman tahu saya bercita-cita menjadi nun dan ga pernah berniat menikah sama sekali. Continue reading “Ramalan? Let’s See!”

Lulus!!!

grad-ceremonySetelah 22 bulan berkutat dengan buku-buku tebal berhuruf times new roman 10 serta ratusan jurnal ilmiah, akhirnya saya bisa bernafas lega. Saya lulus magister teknik, bidang kajian teknologi petrokimia. Kayaknya ga sia-sia deh presiden memberikan beasiswanya. Sesuai kesepakatan awal, nama beliau diletakkan nomer satu dalam untaian terima kasih.

Orang-orang pertama yang saya kabari tentu saja putra-putra saya, ibu di Bandung, partner serta saudara-saudara saya. Dan juga teman-teman terdekat yang sudah saya anggap layaknya saudara sendiri. Mereka membantu saya dengan doa tulus dan support penuh kasih. Continue reading “Lulus!!!”

Mencari Pengantin Buat Sahabat

Setiap kali bertemu atau saling menelpon, saya ga lupa menanyakan apakah sahabat saya sudah mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Dia laki-laki yang baik, ga pernah mau berpikir negatif pada orang lain, sehingga seharusnyalah mendapatkan pendamping yang baik. Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia lebih betah melajang. Mungkin karena pernah memilih jalan hidup yang super bodoh dan terperangkap di dalamnya selama beberapa tahun. friends Setelah akhirnya terbebas pun, dia ga kunjung melamar seorang gadis untuknya. Jadilah saya sibuk mendorong-dorongnya untuk memilih satu.
Saking sebelnya, dia malah bilang: ‘lo-nya ga mau diajak kawin.’
Wah, andai saja saya penganut poliandri…! πŸ™‚ Ga terasa sekian bulan lewat tanpa sebuah telpon atau sms karena kesibukan masing-masing. Continue reading “Mencari Pengantin Buat Sahabat”

Resolusi Tahun Baru

sunnyTiap akhir tahun saya bikin resolusi. Seringkali ditulis berupa file di komputer. Biasanya selalu spesifik. Misalnya saya pernah menuliskan ‘saya harus beli rumah sebelum September’ dan hal-hal semacam itu. Umumnya resolusi saya terpenuhi. Entah karena Tuhan kasihan atau memang kerja keras saya diberkati-Nya.
Tapi tahun ini, seiring dengan pertambahan usia, resolusi saya mirip impian-impian yang saya sendiri ga terlalu peduli akan terjadi atau ga, di bulan berapa atau kapan, atau bahkan jika impian-impian itu tetap akan menjadi impian selamanya. Seperti yang banyak orang katakan, saya bukan pemimpi yang baik karena ga pernah punya mimpi tentang dunia nyata. Mimpi saya hanya hidup di alam mimpi saat saya tidur. Dan sayaΒ  ga pernah membawanya ke luar dunia mimpi agar menjadi impian di alam nyata.

Tahun ini saya ga menuliskan resolusi berbentuk file, tapi saya simpan di kepala dan menuliskannya di sini. Siapa tahu ada orang lain di luaran sana yang saya kenal maupun ga, memiliki resolusi yang mirip, atau syukur-syukur kalau resolusi saya bisa menjadi inspirator seseorang πŸ™‚ Continue reading “Resolusi Tahun Baru”

Surat Komentar untuk Puisi Cinta

Biasanya saya mendapat e-mail dari seseorang yang tulisan dalam blognya saya komentari. Isinya pun biasanya terima kasih atas kritik judes saya πŸ™‚ Beberapa di antaranya sengaja mengirimkan e-mail setelah membaca satu atau lebih tulisan saya di sini atau di Me, Views and Diary karena ga mau berkomentar di blog. Sebagian lainnya -umumnya remaja- menjadikan saya teman curhat. Saya senang mendapat kenalan baru, wanita maupun pria, remaja maupun dewasa.

Herannya meski mereka ga pernah melihat wajah saya, lewat foto atau web cam, mereka tetap mau menjalin persahabatan dengan saya. Dan mereka sungguh percaya bahwa saya seorang wanita. Padahal biasanya setiap orang selesai membaca satu tulisan saya, pastilah mengira saya seorang pria πŸ™‚
Kalau pun tulisan saya tentang wanita, beberapa orang mengira saya hanya menuangkan opini saya sebagai pria dalam pandangan wanita. Seorang pria malah mengirim e-mail dan mengira saya homo frustasi setelah membaca ‘Pria Indonesia Payah!’ Saya jamin pria ini hanya membaca satu tulisan itu karena seseorang di luar sana -sayang tidak mencantumkan kontak yang bisa dihubungi- mengirimkan tulisan tersebut ke sebuah web berita.

Tapi e-mail terakhir yang berkomentar tentang Puisi Cinta sungguh bikin saya malu hati. Saya copy-paste e-mail tersebut: Continue reading “Surat Komentar untuk Puisi Cinta”

Puisi Cinta

Saya ga pernah berniat bikin blog untuk mempublikasikan puisi karena puisi adalah kerjaan saya di masa muda. Kalau akhirnya puisi saya dipublikasikan di sini hanya karena memenuhi permintaan beberapa orang. Puisi ini saya bacakan di acara Teacher Award, 25 November lalu.

KAU DAN AKU

LAUTANMU HANYALAH AIR
SUNGAIKU ADALAH ALIRANNYA
PANTAIMU ADALAH LANDAI
TEMPAT NYIURKU MELAMBAI
NAFASMU ADALAH LAMBANG HIDUP
BAGAI UDARA YANG KUHIRUP

SEBAB MENTARI KITA BERSINAR SAMA
MAKA KITA TIDAK BERBEDA
KARENA DARAH KITA SAMA MERAH
MAKA NURANI KITA TIDAK BERKATA BEDA
KARENA KITA DATANG DARI TUHAN YANG SAMA
MAKA KEMANUSIAAN KITA TIDAKLAH BEDA Continue reading “Puisi Cinta”

Guruku Teladanku

Beberapa hari lalu saya berbicara dengan seorang gadis dari Maryland tentang hari-hari buruknya di sekolah. Saya berharap dia dapat mengatasi masalahnya sesegera mungkin. Boleh jadi hari-hari buruk itu akan menjadi kenangan teramat manis di masa dewasanya. Seperti saya lewati masa-masa sekolah dulu. Meski apa yang telah terjadi ga bakalan bisa diubah. Tapi kalau saya diminta mengalami kejadian itu dengan pikiran saya sekarang, tentu tanggapan saya akan jauh berbeda πŸ™‚

Pak Guru? Keciiillll…!

Guru matematika saya di SMA posturnya imut. Satu hari kami berselisih soal siapa yang harus bertugas menjadi ini dan itu dalam upacara. Pak guru menuliskan nama saya sebagai salah satu petugas padahal saya udah berencana bolos sekolah hari Senin depan. Karena pak guru ngotot, saya juga ga mau kalah.
‘Pak, emang Bapak ga tahu kalau saya karateka? Saya jago berantem loh! Kalau cuma segede-gede Bapak sih… keciiilll…!’ kata saya sambil pasang kuda-kuda. Continue reading “Guruku Teladanku”

Kok Ga Bisa Lembut Sih???

Saya terkagum-kagum pada sebuah puisi yang ditulis seorang anak muda tentang Tuhannya. Sayang, menjadi kebiasaan saya hanya mampir, membaca dengan sungguh hati, memberikan komentar, lalu pergi tanpa mengingat siapa penulisnya atau apa nama blognya.

Kok bisa sih mereka menulis selembut itu? Saya kok ga pernah bisa ya?
Bertahun-tahun lalu saya menulis banyak puisi tentang Tuhan dan agama. Tiga di antaranya saya sertakan di sini. Pelarian Terakhir menjadi juara 3 suatu lomba puisi se-propinsi. Sajak Luka menang di tingkat kabupaten. Sajak Buat Tuhan bikin saya mesti berurusan dengan polisi πŸ™‚ Continue reading “Kok Ga Bisa Lembut Sih???”

RIP: My Daddy

Sebenarnya saya sudah menuliskan hal ini dalam In Memoriam: My Daddy di Me, Diary, and Views dalam versi berbeda. Mungkin karena kecintaan saya pada beliau atau karena katanya saya putri kesayangannya, maka saya menuliskannya lagi di sini.

Bulan Agustus lalu daddy meninggal dunia tanpa saya sempat menemuinya di hari-hari terakhirnya.
Bulan terakhir kedatangannya, sejak tiba di bandara Sukarno-Hatta, beliau langsung menelpon saya, menanyakan kapan saya sempat menemuinya. Saya sudah berusaha tetapi selalu ada halangan, mengingat saya hanya bisa berangkat ke Jakarta Sabtu sore dan harus kembali Senin pagi karena rutinitas saya. Tapi itu pun ga bisa saya lakukan. Hingga beliau pulang bulan berikutnya.

Memang kami sempat bicara di telpon berjam-jam tapi tentu akan beda jika saat itu saya menemuinya.
Bagi saya, beliau adalah laki-laki paling bijaksana di dunia. Jangankan melukai hati orang lain,
membunuh seekor lalat yang menghinggapi makanannya pun beliau ga tega. Paling makanan itu akan dibuangnya dan habis perkara. Satu hal yang ga bisa saya lakukan tanpa berkomentar sedikit sadis pada si lalat.

Setiap bertemu, beliau selalu menasehati saya untuk lebih sabar. Maklum, saya bukan tipe Hindu penyabar seperti beliau, terutama terhadap beberapa hal yang mengusik hati saya. Continue reading “RIP: My Daddy”

Haram atau Halal Saya Hantam!

Jangan tanya berapa banyak makanan ‘haram’ masuk ke tubuh saya sejak kecil.
Di tempat saya dilahirkan di mana 50-50 muslim dan non muslim (umumnya keturunan Cina), di mana perkawinan ras ga pernah jadi masalah, dan karena banyak saudara kami non muslim, kami ga pernah menganggap makanan mereka sebagai barang haram.
Karena itu kemudian istilah halal-haram dihantam dengan versi amat kabur.

Dulu, kalau ikutan makan makanan siang bawaan teman non muslim dan ada babinya, misalnya mie goreng plus udang dan babi, maka saya akan menyisihkan babi ke pinggir dan menikmati mie plus udang doang. Babinya haram tapi udang dan mie, ga! Continue reading “Haram atau Halal Saya Hantam!”