Melangkah (Dyer)

Putra saya, Dyer namanya, menyukai seni sebagaimana orang tua dan generasi di atasnya menyenangi seni. Neneknya sejak kecil sudah menjadi penyanyi profesional di daerahnya. Kakeknya pintar memainkan beragam alat musik. Saya sendiri sejak muda sudah berjalan dari satu panggung ke panggung yang lain untuk berkolaborasi dalam beragam bentuk teater bebas. Ayah -dan kemudian saya- menulis puisi dan fiksi untuk majalah atau koran secara berkala. Buat saya waktu itu, uang menjadi salah satu tujuan.


Putra saya lebih suka musik. Maka menyanyi dan menulis lagu adalah salah satu caranya menyibukkan diri atau melarikan pikiran. Satu hal kesamaan antara saya dan putra saya, bahwa meski kami menuliskan tentang kerinduan, keterpurukan, atau -mungkin- patah hati, nada tegar masih tergambar jelas dalam setiap kata-kata yang mewakili perasaan kami. Mungkin ini yang disebut pepatah: buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Salah satu lagu ciptaannya, judulnya ‘Melangkah’ mencerminkan hal itu.
Continue reading “Melangkah (Dyer)”

Kangen…?!?

Menjadi ibu yang baik adalah impian setiap ibu, termasuk saya. Seorang ibu yang dicintai anak-anaknya tanpa pamrih seperti dia mencintai anak-anaknya. Seorang ibu yang selalu dikangeni putra-putrinya.

Beberapa waktu lalu, dalam pembicaraan via telepon dengan putra saya, saya bilang: Mama kok kangen banget ya sama Adek.
Jawabnya: Kami juga Ma, makanya kami tulis lagu buat mama. Karena kami kangen. Continue reading “Kangen…?!?”

Mama Kok….

Putra saya saban hari menilai saya. Tapi (menurut saya) kadang penilaiannya tak cukup fair. Dia kerap berlagak lebih tahu dari saya. Padahal saya kan ibunya!


‘Mama kok penakut banget….’

Saya takut percikan minyak saat menggoreng, kecuali minyak diganti dengan mentega. Herannya dia selalu menyempatkan diri mengomentari hal ini. Dia bahkan cekikikan melihat saya berlindung di balik lemari atau handuk yang membungkus wajah saya.

Saya juga takut menyalakan kompor. Walau disertai gerutuan, biasanya dia selalu mau membantu menyalakan kompor saat diperlukan, meski di pagi buta. Continue reading “Mama Kok….”

MOM, I’M A GAY!

imagesMulut saya terkunci sekian detik mendengar pengakuan itu. Meski sebelumnya dia telah mewanti-wanti bahwa saya mungkin akan shock. Saya mempersiapkan diri pada pengakuan terburuk, namun itu masih saja membuat saya terdiam 2-3 menit.
‘Yes, Mom, I’m a gay.’
Dia – salah satu putra saya – mengulangi lagi pernyataannya.

Saya kira semua ibu ingin melihat anak-anaknya tumbuh ‘normal’. Menjadi gay bukanlah sesuatu yang ‘cukup normal’ buat saya. Continue reading “MOM, I’M A GAY!”

Lulus!!!

grad-ceremonySetelah 22 bulan berkutat dengan buku-buku tebal berhuruf times new roman 10 serta ratusan jurnal ilmiah, akhirnya saya bisa bernafas lega. Saya lulus magister teknik, bidang kajian teknologi petrokimia. Kayaknya ga sia-sia deh presiden memberikan beasiswanya. Sesuai kesepakatan awal, nama beliau diletakkan nomer satu dalam untaian terima kasih.

Orang-orang pertama yang saya kabari tentu saja putra-putra saya, ibu di Bandung, partner serta saudara-saudara saya. Dan juga teman-teman terdekat yang sudah saya anggap layaknya saudara sendiri. Mereka membantu saya dengan doa tulus dan support penuh kasih. Continue reading “Lulus!!!”

Mama Penakut!

Itu kata-kata yang kerap diucapkan anak saya. Bagi orang lain, ini mungkin menggelikan.
Awalnya banyak yang ga percaya. Waktu saya harus mengikuti course dua hari di Jakarta bersama dua teman kantor dan keduanya pria, banyak yang mengira saya pasti akan nekat tidur sendiri. Tapi kedua teman ga bisa berbuat apa-apa, saat saya tanpa rasa bersalah tidur di atas ranjang yang sama padahal salah satu teman sudah tertidur di sana. Setelah saya benar-benar tertidur, teman yang mau tidur membangunkan saya dan dengan baik hati membukakan pintu kamar dan mengantarkan saya. Dia terkejut ketika mengetuk pintu kamar saya di Shubuh pagi, ternyata pintu itu ga dikunci plus TV menyala sepanjang malam seperti saat dia meninggalkan kamar saya. Keesokan harinya kejadian yang sama kembali terulang.

Kejadian lain saat penerbangan yang saya naiki dari Surabaya ke Jakarta di-delay 2 kali 3 jam. Akhirnya kami diinapkan di hotel bintang lima di Jakarta menunggu pesawat keesokan harinya. Apesnya, di antara sebelas penumpang transit malam itu semuanya pria dewasa, kecuali saya dan seorang anak laki-laki yang bepergian hanya dengan ayahnya.
Saya harus memelas di depan resepsionis agar membolehkan pegawai wanita mereka menemani saya tidur. Eh, saya dikira lesbian lagi cari mangsa. Continue reading “Mama Penakut!”

Jadilah Pembohong Buat Mama, Nak!

Saat anak saya TK nol kecil, gurunya memanggil saya. Ceritanya, si kecil selalu makan dengan tangan kiri. Gurunya harus berulang kali mengingatkan agar menggunakan ‘tangan manis’. Hingga suatu hari, si guru mendekatinya saat makan siang.
‘Pakai tangan manis, sayang.’
‘Tangan kanan, ya, Bu?’
‘Tangan manismu mana?’
‘Ga ada. Yang ada tangan kiri sama tangan kanan.’ (Salah saya ga pernah memperkenalkan istilah ‘tangan manis’ padanya!)
Ibu guru mengeluh. Continue reading “Jadilah Pembohong Buat Mama, Nak!”

Gila Ponsel

 

Ponakan-ponakan saya yang beranjak remaja mungkin beberapa di antara sekian banyak orang yang gila ponsel. Contoh paling akurat tentu saja putra saya. Bangun tidur -jam berapa pun dia terbangun- pasti ponsel menjadi barang pertama yang dicarinya. Jangan tanya kalau mau tidur, ponsel pasti ada di atas tempat tidur yang sama. Saya harus bolak-balik mematikan suara ring tone-nya karena SMS masuk berkali-kali, bahkan setelah lewat tengah malam. Suara musik hard metal itu tak mengusik tidurnya sama sekali tetapi tentu amat sangat mengganggu konsentrasi saya mengetik. Saya heran, apa teman-temannya tergolong remaja yang ga butuh tidur? Continue reading “Gila Ponsel”