Muslim Melecehkan Muslim

clipartbest

Anda bisa membaca beberapa tulisan saya sebelum ini mengenai latar belakang agama saya hingga saya tiba di pilihan ini. Saya tidak bermaksud mendeskritkan Muslim di Indonesia tetapi tulisan ini berdasarkan pengalaman saya. Kalau ada yang berbeda, kalau menurut Anda sikap-sikap yang saya temui hanyalah oknum, sayangnya saya bertemu terlalu banyak ‘oknum’, sehingga seperti inilah tulisan ini dibuat.

Belum semua anggota keluarga saya menjadi Muslim. Saya tentu tak bisa memaksakan keyakinan saya kepada mereka, terutama untuk yang sudah dewasa. Kecaman pedas sering saya dengar, salah satunya: ‘Ibu macam apa kamu, membiarkan anakmu tetap non-Muslim?’ Continue reading “Muslim Melecehkan Muslim”

Advertisements

Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan

Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu bagian dalam catatan kehidupan saya. Saat itu kami tinggal di lingkungan orang-orang keturunan Tionghoa. Salah satu alasan mengapa kami memilih tinggal di situ adalah karena kesamaan latar belakang. Saat itu saya juga masih disibukkan mengantar putra bungsu saya yang masih TK nol kecil.
airplane_vortex - wikipedia
Satu hari setelah penjarahan toko-toko di pusat bisnis di kota Palembang, tetangga-tetangga kami menjadikan rumah-rumah mereka sebagai gudang penampungan barang-barang dari toko-toko mereka di pusat bisnis. Barang-barang itu diangkut ke rumah-rumah menggunakan truk-truk dan pickup setelah maghrib usai. Tetangga depan rumah saya yang putrinya menjadi salah satu karyawan swasta, merelakan bosnya menggunakan rumah mereka sebagai gudang.
Saya sempat bertanya padanya apakah dia merasa lingkungan kami akan aman karena justru isu ras keturunan Tionghoa yang berhembus saat itu. Entah mendapat ide darimana, tetapi semua tetangga kami meyakinkan saya bahwa lingkungan kami aman, karena berada di lorong temaram dengan satu pintu keluar. Rumah-rumah kami berada tepat di tengah-tengah rumah-rumah penduduk lokal.

Masih pada satu hari setelah kerusuhan, saya dan putra saya makan bakmi di warung depan yang mengarah ke jalan raya. Tempat usaha kami berada di depan warung kecil itu, sedangkan lorong menuju rumah kami berada di sebelah kiri warung (di depan tempat usaha kami). Saat itu hanya ada tiga orang pengunjung ditambah dua orang penjual dan pelayan. Sedang enak-enaknya menikmati makanan, seseorang datang terburu-buru dan berbicara kepada pemilik warung dengan serius. Lalu pemilik warung bicara pada kami bahwa dia akan menutup warungnya segera. Pembeli pria yang telah menyelesaikan makannya, segera membayar dan berlalu. Karena putra saya terlihat sangat menikmati makanannya, pemilik warung yang sudah kami kenal dengan baik membiarkan dia menghabiskan bakminya.
Continue reading “Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan”

Melangkah (Dyer)

Putra saya, Dyer namanya, menyukai seni sebagaimana orang tua dan generasi di atasnya menyenangi seni. Neneknya sejak kecil sudah menjadi penyanyi profesional di daerahnya. Kakeknya pintar memainkan beragam alat musik. Saya sendiri sejak muda sudah berjalan dari satu panggung ke panggung yang lain untuk berkolaborasi dalam beragam bentuk teater bebas. Ayah -dan kemudian saya- menulis puisi dan fiksi untuk majalah atau koran secara berkala. Buat saya waktu itu, uang menjadi salah satu tujuan.


Putra saya lebih suka musik. Maka menyanyi dan menulis lagu adalah salah satu caranya menyibukkan diri atau melarikan pikiran. Satu hal kesamaan antara saya dan putra saya, bahwa meski kami menuliskan tentang kerinduan, keterpurukan, atau -mungkin- patah hati, nada tegar masih tergambar jelas dalam setiap kata-kata yang mewakili perasaan kami. Mungkin ini yang disebut pepatah: buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Salah satu lagu ciptaannya, judulnya ‘Melangkah’ mencerminkan hal itu.
Continue reading “Melangkah (Dyer)”

Berita Terkini SMA Plus Negeri 17 Palembang (Bag. 2)

Tulisan ini akan terus di-update sesuai dengan keperluan. INFORMASI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPBD) (PENERIMAAN SISWA BARU / PSB) SMA PLUS NEGERI 17 PALEMBANG TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Silakan klik di sini https://wydpress.wordpress.com/sma-17-palembang/

P E R H A T I A N

TES MASUK PPDB TAHUN PELAJARAN 2015/2016 YANG DIJADWALKAN TANGGAL 20 JUNI 2015, DIUNDUR MENJADI TANGGAL 22 JUNI 2015 BERDASARKAN EDARAN DINAS DIKPORA KOTA PALEMBANG.

HAL-HAL LAIN BERHUBUNGAN DENGAN TES MASUK PPDB TERSEBUT, TIDAK MENGALAMI PERUBAHAN. Continue reading “Berita Terkini SMA Plus Negeri 17 Palembang (Bag. 2)”

Jokowi atau Prabowo atau…???

forumkeadilan.com-jokowi dan prabowo

Saya menulis ini sebelum Pemilu Legislatif (Pileg) karena pilihan saya (satu suara) akan mempengaruhi calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres). Itu karena adanya ketentuan minimal 20 persen suara untuk mengajukan calon presiden di Pilpres. Pilpres lebih menarik minat saya dibandingkan Pileg. Saya kok ga bisa lagi percaya janji-janji manis para legislator, tapi masih berharap ada seorang pemimpin hebat yang bisa membawa negara ini lebih besar.

Dalam tulisan ini hanya dibahas dua orang kandidat karena hanya dua orang ini pilihan alternatif yang mungkin buat saya (Di antara capres yang sudah diumumkan. Ga termasuk yang masih akan konvensi). Saya bukan fans Jokowi maupun Prabowo. Saya ga pernah tertarik menjadi simpatisan PDIP maupun Gerindra. Saya ga pernah berpikir untuk menghadiri kampanye PDIP, Gerindra, atau partai mana pun. Saya bahkan ga hafal nomor PDIP, Gerindra, atau partai lain dalam surat suara yang akan dicoblos. Tapi bukankah saya harus memilih?

Jokowi yang digaung-gaungkan cocok sebagai the next president akhirnya terbukti menjadi calon yang diusung partai banteng berhidung putih itu. Kedua kandidat itu, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subiyanto,  saya ulas di sini sesuai alfabet nama mereka. Continue reading “Jokowi atau Prabowo atau…???”

Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut

Kamu harus ke psikolog. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar rasa takut yang belum bisa saya atasi sepenuhnya.

pamsclipart.cameo_silhouette_of_a_woman_with_scary_thought_words_in_a_spiral_0515-1101-2618-5354_SMU

Saya tertawa. Ke psikolog? Saya ga gila. Ga sakit. Saya hanya takut. Dan itu pun tak datang setiap saat. Paling hanya sesekali dalam seminggu. Atau sebulan. Kadang malah hanya sesekali dalam beberapa bulan. Ketakutan itu tidak terlalu membebani buat saya. Kalau saya takut dan sedang sendiri, maka saya akan terjaga sepanjang malam dan membiarkan tubuh bersandar pada kursi dengan laptop menyala di depan meja seolah saya sedang bekerja. Saya baru berani merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah azan subuh dan orang-orang mulai beraktivitas. Continue reading “Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut”

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki. Continue reading “Indonesian Men are Dogs!”

Indonesian Scammers

0degYRoqkPekerjaan saya banyak dilakukan melalui internet atau telepon. Internet diperlukan untuk bolak-balik mengirim e-mail atau pencarian berbagai data dan kontak yang diperlukan. Setelah sekian tahun menekuni pekerjaan semacam ini, saya menemukan banyak sekali scammer asal Indonesia di berbagai website bisnis. Saking banyaknya scammer alias penipu yang berpura-pura berada dalam suatu bisnis tapi tak punya kontak apa-apa, seorang client pernah menulis begini di salah satu forum bisnis: ‘Jangan pernah percaya pada eksportir dari Indonesia atau Malaysia karena mereka semua cuma scammer’.

Pengalaman pribadi saya membuktikan hal itu nyaris benar. Satu contoh, setelah wara-wiri di dunia maya untuk mengumpulkan berbagai kontak yang menyediakan alamat e-mail atau nomor telepon, saya menghubungi mereka satu per satu. Dari 44 nomor telepon atau HP yang terpasang di berbagai website bisnis, hanya 5 yang tersambung. Continue reading “Indonesian Scammers”

DICARI: Pria Lokal

(Partner saya geli mendengar argumen saya menuliskan ini.)

OUR FLAG
Saya mencari seorang pria lokal. Artinya, pria berkebangsaan Indonesia, (kalau memungkinkan) keturunan ibu-bapak berkebangsaan Indonesia pula. Kriteria yang diinginkan:
– Bisa menjadi imam agama di rumah, (atau paling ga) mau belajar menjadi imam keluarga.
– Bisa memasak, (atau paling ga) ga komplain jika harus menyiapkan makanan sendiri.
– Bisa menyetrika pakaian dan membersihkan rumah.
– Mengerti perbaikan rumah, jadi ga perlu memanggil tukang cat untuk dinding yang mengelupas.
– Mengerti peralatan listrik, jadi ga perlu memanggil tukang listrik untuk mengganti lampu yang rusak.
– Mengerti mesin kendaraan, jadi ga perlu menelpon Auto 2000 jika mogok di jalan.
– Bisa menyetir, ga keberatan ngebut.
– Bukan politikus atau berminat terhadap politik.
– Bukan penikmat dangdut dan OT, alkohol, drugs apa pun jenisnya, swinger atau semacamnya, serta tidak bertato dan piercing.
– Bukan penggila TV dan internet, terutama jenis messenger dan networking, tapi ga gaptek. Continue reading “DICARI: Pria Lokal”

Membalas Kasih dengan Caci Maki

Sebenarnya masalah awalnya ‘cuma’ karena kami belajar mencintai sesama, menganggap mereka sebagai keluarga, dan membantu tanpa pamrih. Masalah muncul saat orang yang dianggap saudara malah jatuh cinta dan mengharapkan balasan.

Saya masih memberikan toleransi saat seorang wanita yang ditolong oleh sahabat dekat saya, menganggap saya perempuan murahan yang kebetulan mendapat perhatian lebih. Saya menganggap kemarahannya adalah bentuk ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Saya memilih diam dan menulikan telinga. Saya lebih suka mengelak dibandingkan berbenturan, namun kalau terpaksa, saya tak pernah takut menghadapinya.

Saat sahabat saya memutuskan untuk menjelaskan dengan caranya, dengan membeberkan perlakuan baik saya padanya, keputusan itu tak saya bantah. Ketika sahabat saya menjelaskan bahwa perhatiannya pada wanita itu adalah kepedulian manusiawi tanpa dalih cinta pria-wanita di dalamnya, itu tak saya amini. Pun ketika sabahat saya mengatakan pada wanita itu bahwa dia mencintai perempuan lain, itu bukan urusan saya.

Menjadi urusan saya kemudian bahwa sahabat saya terluka karena kebaikan dan cinta kasihnya sebagai manusia dihancurkan. Katanya: I’ll never talk to her and her family in my life. They’re not my family. No more.
Continue reading “Membalas Kasih dengan Caci Maki”

Menjelajahi Ramadhan

Di bulan Ramadhan sekian tahun lalu, seseorang tak dikenal datang ke dalam tidur saya. Setiap malam. Sejak itu, saya berubah dalam memandang Ramadhan.

Tak ingat persis waktunya, namun kedatangannya sekitar 10 kali. Wajahnya tak pernah terlihat jelas karena dia selalu berdiri dalam cahaya amat terang. Yang saya yakini adalah dia seorang pria (karena berjanggut putih-kecoklatan) bertubuh tinggi langsing. Dan dia selalu mengenakan jubah putih. Saat disambangi pertama kali, saya mengira saya baru berjumpa the Christ. Continue reading “Menjelajahi Ramadhan”

Menjadi Free Thinker

                                 

Sekian tahun dalam hidup saya, saya jalani sebagai free thinker. Itu terjadi karena saya sok telah tahu hal yang sebenarnya saya masih buta banget. Saat itu saya hanya percaya bahwa ada ‘sesuatu’ yang menguasai alam semesta ini. Sisi positifnya, saya menggunakan logika dalam menjalani kehidupan, memandang sesuatu berdasarkan fakta, ga takut mengatakan yang salah dan benar sesuai porsinya.
Sisi negatifnya? Na’uzubillahi min zhaliq…. Bejibun! Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Continue reading “Menjadi Free Thinker”

Kangen…?!?

Menjadi ibu yang baik adalah impian setiap ibu, termasuk saya. Seorang ibu yang dicintai anak-anaknya tanpa pamrih seperti dia mencintai anak-anaknya. Seorang ibu yang selalu dikangeni putra-putrinya.

Beberapa waktu lalu, dalam pembicaraan via telepon dengan putra saya, saya bilang: Mama kok kangen banget ya sama Adek.
Jawabnya: Kami juga Ma, makanya kami tulis lagu buat mama. Karena kami kangen. Continue reading “Kangen…?!?”

Berita Terkini SMA Plus Negeri 17 Palembang

Ada dua berita. Yang pertama tentang pergantian pimpinan sekolah. Yang kedua tentang website sekolah yang aktif kembali.

1) Hari ini Rabu tanggal 4 Februari 2009 komando SMA Plus Negeri 17 Palembang berpindah tangan dari Bapak Merki Bakri, S.Pd., M.Si. ke Bapak Drs. H. Syaiful Bahri sebagai pejabat sementara hingga waktunya ditentukan kepala sekolah yang baru. Serah terima dilakukan jam dua siang di auditorium Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

Kamis pagi dilaksanakan pisah sambut di halaman upacara sekolah yang diikuti oleh semua warga sekolah dan dihadiri pula tiga orang pengurus komite sekolah. Kemudian acara tertutup antara guru, pegawai, kepala sekolah lama dan baru. Saya sempat mengucapkan mohon maaf lahir dan batin pada Bapak Merki Bakri karena saya dengan kejudesan saya pastilah pernah menyinggung perasaan beliau, sekecil apa pun. Mudah-mudahan beliau mengerti bahwa apa yang saya lakukan sebagai bagian dalam tim beliau, semata-mata bertujuan untuk fokus pada berbagai program yang telah direncanakan dan dipromosikan.

Dengan adanya pemimpin baru di lingkungan SMA Plus Negeri 17 Palembang diharapkan dapat memberikan pencerahan dan melanjutkan berbagai program yang telah dirancang sebelumnya. Mudah-mudahan semua warga 17 dapat meneladani hal-hal baik yang telah dicontohkan oleh Bapak Merki Bakri selama bertugas dan menarik pelajaran berharga jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Dan mudah-mudahan segala keteladanan yang pernah beliau berikan akan menjadi motivator semua warga untuk tetap menapakkan kaki di jalan yang diridhoi Sang Maha Perkasa.

2) Berdasarkan informasi yang saya terima dari seorang pengirim komentar berinisial ‘info’ dari alamat email server sekolah yang menyatakan bahwa website SMA Plus negeri 17 Palembang telah kembali bangkit dari tidur panjangnya. Seingat saya sih, website tersebut selalu akan aktif di bulan-bulan menjelang penerimaan siswa baru. Semoga kali ini akan terus aktif.

Bagi yang berkepentingan silakan langsung klik (PS: alamat link dihapus mulai tanggal 12 Februari 2009, karena dalam perbaikan).
Alamat website resmi SMA Plus Negeri 17 Palembang, silakan klik di sini (PS. Update 15 Februari 2014).

 

Update 21 April 2014: Informasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dimuat terpisah dari tulisan ini.

My Partner

(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for a special one.)

Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: ‘I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap. Continue reading “My Partner”

Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya

Beberapa hari lalu saya mendapat musibah di jalan raya. Kecelakaan motor. Alhamdulillah ‘cuma’ luka-luka dan memar. Artinya, saya masih sadar saat kecelakaan terjadi, sehingga otak saya masih paten sablengnya 😀 Tapi justru kejadian lucu dan bikin miris hati yang paling saya ingat.

Kalimat pertama yang saya teriakkan sesaat setelah membuka kaca helm, saat sadar saya mengalami kecelakaan adalah: ‘Sorry, you didn’t put on the lighting! I didn’t see your lighting on!’ Si pria yang mengalami kecelakaan bersama saya terheran-heran. Saya baru ‘ngeh’ bahwa saya menggunakan bahasa Inggris! Continue reading “Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya”

Muslim Rakitan

Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.

Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.

Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki 😀 Continue reading “Muslim Rakitan”

Sialan, Cewek!


Kalau saya tanya putra-putra saya, mereka bilang saya ibu paling lembut sedunia. Menurut partner saya, saya sama seksinya dengan gadis-gadis kalender! Aha, saya harus sering-sering ngaca, nih! 🙂 Anehnya, selain keluarga dekat, saya sering dikira (separuh) pria. Sekali-sekali dikira pria, tidak masalah buat saya. Tapi keseringan? Wow, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri saya!

Puluhan bahkan mungkin ratusan orang awalnya menganggap saya seorang pria, cuma karena membaca tulisan atau komentar saya di media, baik online maupun offline. Karena itu saya menuliskan ini. Serius, sumpah (mati), saya seorang wanita. Tulen. Maksudnya, bukan trans-seksual.

Beberapa pengalaman ‘menjadi pria’ saya tuliskan di sini.

‘Mau beli apa, Pak?’ pertanyaan sang penjual kaki lima sebelum mendongakkan kepala menatap saya.

‘Terima kasih, Mas,”’ kata seorang pria muda setelah saya turunkan di depan gang rumahnya. Saya membuka helm, tersenyum. Pria muda itu meminta maaf berkali-kali karena mengira orang yang barusan memberinya tumpangan adalah seorang pria.

Seorang ibu menghentikan laju motor saya. Sang ibu minta diantarkan ke rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit, beliau mengangsurkan lembaran dua puluh ribu. Wuih, saya dikira tukang ojek! Continue reading “Sialan, Cewek!”

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Continue reading “Penyebar Kebencian”