Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut

Kamu harus ke psikolog. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar rasa takut yang belum bisa saya atasi sepenuhnya.

pamsclipart.cameo_silhouette_of_a_woman_with_scary_thought_words_in_a_spiral_0515-1101-2618-5354_SMU

Saya tertawa. Ke psikolog? Saya ga gila. Ga sakit. Saya hanya takut. Dan itu pun tak datang setiap saat. Paling hanya sesekali dalam seminggu. Atau sebulan. Kadang malah hanya sesekali dalam beberapa bulan. Ketakutan itu tidak terlalu membebani buat saya. Kalau saya takut dan sedang sendiri, maka saya akan terjaga sepanjang malam dan membiarkan tubuh bersandar pada kursi dengan laptop menyala di depan meja seolah saya sedang bekerja. Saya baru berani merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah azan subuh dan orang-orang mulai beraktivitas. Continue reading “Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut”

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki. Continue reading “Indonesian Men are Dogs!”

Indonesian Scammers

0degYRoqkPekerjaan saya banyak dilakukan melalui internet atau telepon. Internet diperlukan untuk bolak-balik mengirim e-mail atau pencarian berbagai data dan kontak yang diperlukan. Setelah sekian tahun menekuni pekerjaan semacam ini, saya menemukan banyak sekali scammer asal Indonesia di berbagai website bisnis. Saking banyaknya scammer alias penipu yang berpura-pura berada dalam suatu bisnis tapi tak punya kontak apa-apa, seorang client pernah menulis begini di salah satu forum bisnis: ‘Jangan pernah percaya pada eksportir dari Indonesia atau Malaysia karena mereka semua cuma scammer’.

Pengalaman pribadi saya membuktikan hal itu nyaris benar. Satu contoh, setelah wara-wiri di dunia maya untuk mengumpulkan berbagai kontak yang menyediakan alamat e-mail atau nomor telepon, saya menghubungi mereka satu per satu. Dari 44 nomor telepon atau HP yang terpasang di berbagai website bisnis, hanya 5 yang tersambung. Continue reading “Indonesian Scammers”

DICARI: Pria Lokal

(Partner saya geli mendengar argumen saya menuliskan ini.)

OUR FLAG
Saya mencari seorang pria lokal. Artinya, pria berkebangsaan Indonesia, (kalau memungkinkan) keturunan ibu-bapak berkebangsaan Indonesia pula. Kriteria yang diinginkan:
– Bisa menjadi imam agama di rumah, (atau paling ga) mau belajar menjadi imam keluarga.
– Bisa memasak, (atau paling ga) ga komplain jika harus menyiapkan makanan sendiri.
– Bisa menyetrika pakaian dan membersihkan rumah.
– Mengerti perbaikan rumah, jadi ga perlu memanggil tukang cat untuk dinding yang mengelupas.
– Mengerti peralatan listrik, jadi ga perlu memanggil tukang listrik untuk mengganti lampu yang rusak.
– Mengerti mesin kendaraan, jadi ga perlu menelpon Auto 2000 jika mogok di jalan.
– Bisa menyetir, ga keberatan ngebut.
– Bukan politikus atau berminat terhadap politik.
– Bukan penikmat dangdut dan OT, alkohol, drugs apa pun jenisnya, swinger atau semacamnya, serta tidak bertato dan piercing.
– Bukan penggila TV dan internet, terutama jenis messenger dan networking, tapi ga gaptek. Continue reading “DICARI: Pria Lokal”

Membalas Kasih dengan Caci Maki

Sebenarnya masalah awalnya ‘cuma’ karena kami belajar mencintai sesama, menganggap mereka sebagai keluarga, dan membantu tanpa pamrih. Masalah muncul saat orang yang dianggap saudara malah jatuh cinta dan mengharapkan balasan.

Saya masih memberikan toleransi saat seorang wanita yang ditolong oleh sahabat dekat saya, menganggap saya perempuan murahan yang kebetulan mendapat perhatian lebih. Saya menganggap kemarahannya adalah bentuk ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Saya memilih diam dan menulikan telinga. Saya lebih suka mengelak dibandingkan berbenturan, namun kalau terpaksa, saya tak pernah takut menghadapinya.

Saat sahabat saya memutuskan untuk menjelaskan dengan caranya, dengan membeberkan perlakuan baik saya padanya, keputusan itu tak saya bantah. Ketika sahabat saya menjelaskan bahwa perhatiannya pada wanita itu adalah kepedulian manusiawi tanpa dalih cinta pria-wanita di dalamnya, itu tak saya amini. Pun ketika sabahat saya mengatakan pada wanita itu bahwa dia mencintai perempuan lain, itu bukan urusan saya.

Menjadi urusan saya kemudian bahwa sahabat saya terluka karena kebaikan dan cinta kasihnya sebagai manusia dihancurkan. Katanya: I’ll never talk to her and her family in my life. They’re not my family. No more.
Continue reading “Membalas Kasih dengan Caci Maki”

Menjelajahi Ramadhan

Di bulan Ramadhan sekian tahun lalu, seseorang tak dikenal datang ke dalam tidur saya. Setiap malam. Sejak itu, saya berubah dalam memandang Ramadhan.

Tak ingat persis waktunya, namun kedatangannya sekitar 10 kali. Wajahnya tak pernah terlihat jelas karena dia selalu berdiri dalam cahaya amat terang. Yang saya yakini adalah dia seorang pria (karena berjanggut putih-kecoklatan) bertubuh tinggi langsing. Dan dia selalu mengenakan jubah putih. Saat disambangi pertama kali, saya mengira saya baru berjumpa the Christ. Continue reading “Menjelajahi Ramadhan”

Menjadi Free Thinker

                                 

Sekian tahun dalam hidup saya, saya jalani sebagai free thinker. Itu terjadi karena saya sok telah tahu hal yang sebenarnya saya masih buta banget. Saat itu saya hanya percaya bahwa ada ‘sesuatu’ yang menguasai alam semesta ini. Sisi positifnya, saya menggunakan logika dalam menjalani kehidupan, memandang sesuatu berdasarkan fakta, ga takut mengatakan yang salah dan benar sesuai porsinya.
Sisi negatifnya? Na’uzubillahi min zhaliq…. Bejibun! Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Continue reading “Menjadi Free Thinker”

Kangen…?!?

Menjadi ibu yang baik adalah impian setiap ibu, termasuk saya. Seorang ibu yang dicintai anak-anaknya tanpa pamrih seperti dia mencintai anak-anaknya. Seorang ibu yang selalu dikangeni putra-putrinya.

Beberapa waktu lalu, dalam pembicaraan via telepon dengan putra saya, saya bilang: Mama kok kangen banget ya sama Adek.
Jawabnya: Kami juga Ma, makanya kami tulis lagu buat mama. Karena kami kangen. Continue reading “Kangen…?!?”

Berita Terkini SMA Plus Negeri 17 Palembang

Ada dua berita. Yang pertama tentang pergantian pimpinan sekolah. Yang kedua tentang website sekolah yang aktif kembali.

1) Hari ini Rabu tanggal 4 Februari 2009 komando SMA Plus Negeri 17 Palembang berpindah tangan dari Bapak Merki Bakri, S.Pd., M.Si. ke Bapak Drs. H. Syaiful Bahri sebagai pejabat sementara hingga waktunya ditentukan kepala sekolah yang baru. Serah terima dilakukan jam dua siang di auditorium Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

Kamis pagi dilaksanakan pisah sambut di halaman upacara sekolah yang diikuti oleh semua warga sekolah dan dihadiri pula tiga orang pengurus komite sekolah. Kemudian acara tertutup antara guru, pegawai, kepala sekolah lama dan baru. Saya sempat mengucapkan mohon maaf lahir dan batin pada Bapak Merki Bakri karena saya dengan kejudesan saya pastilah pernah menyinggung perasaan beliau, sekecil apa pun. Mudah-mudahan beliau mengerti bahwa apa yang saya lakukan sebagai bagian dalam tim beliau, semata-mata bertujuan untuk fokus pada berbagai program yang telah direncanakan dan dipromosikan.

Dengan adanya pemimpin baru di lingkungan SMA Plus Negeri 17 Palembang diharapkan dapat memberikan pencerahan dan melanjutkan berbagai program yang telah dirancang sebelumnya. Mudah-mudahan semua warga 17 dapat meneladani hal-hal baik yang telah dicontohkan oleh Bapak Merki Bakri selama bertugas dan menarik pelajaran berharga jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Dan mudah-mudahan segala keteladanan yang pernah beliau berikan akan menjadi motivator semua warga untuk tetap menapakkan kaki di jalan yang diridhoi Sang Maha Perkasa.

2) Berdasarkan informasi yang saya terima dari seorang pengirim komentar berinisial ‘info’ dari alamat email server sekolah yang menyatakan bahwa website SMA Plus negeri 17 Palembang telah kembali bangkit dari tidur panjangnya. Seingat saya sih, website tersebut selalu akan aktif di bulan-bulan menjelang penerimaan siswa baru. Semoga kali ini akan terus aktif.

Bagi yang berkepentingan silakan langsung klik (PS: alamat link dihapus mulai tanggal 12 Februari 2009, karena dalam perbaikan).
Alamat website resmi SMA Plus Negeri 17 Palembang, silakan klik di sini (PS. Update 15 Februari 2014).

 

Update 21 April 2014: Informasi Penerimaan Siswa Baru (PSB) atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dimuat terpisah dari tulisan ini.

My Partner

(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for a special one.)

Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: ‘I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap. Continue reading “My Partner”

Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya

Beberapa hari lalu saya mendapat musibah di jalan raya. Kecelakaan motor. Alhamdulillah ‘cuma’ luka-luka dan memar. Artinya, saya masih sadar saat kecelakaan terjadi, sehingga otak saya masih paten sablengnya 😀 Tapi justru kejadian lucu dan bikin miris hati yang paling saya ingat.

Kalimat pertama yang saya teriakkan sesaat setelah membuka kaca helm, saat sadar saya mengalami kecelakaan adalah: ‘Sorry, you didn’t put on the lighting! I didn’t see your lighting on!’ Si pria yang mengalami kecelakaan bersama saya terheran-heran. Saya baru ‘ngeh’ bahwa saya menggunakan bahasa Inggris! Continue reading “Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya”

Muslim Rakitan

Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.

Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.

Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki 😀 Continue reading “Muslim Rakitan”

Sialan, Cewek!


Kalau saya tanya putra-putra saya, mereka bilang saya ibu paling lembut sedunia. Menurut partner saya, saya sama seksinya dengan gadis-gadis kalender! Aha, saya harus sering-sering ngaca, nih! 🙂 Anehnya, selain keluarga dekat, saya sering dikira (separuh) pria. Sekali-sekali dikira pria, tidak masalah buat saya. Tapi keseringan? Wow, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri saya!

Puluhan bahkan mungkin ratusan orang awalnya menganggap saya seorang pria, cuma karena membaca tulisan atau komentar saya di media, baik online maupun offline. Karena itu saya menuliskan ini. Serius, sumpah (mati), saya seorang wanita. Tulen. Maksudnya, bukan trans-seksual.

Beberapa pengalaman ‘menjadi pria’ saya tuliskan di sini.

‘Mau beli apa, Pak?’ pertanyaan sang penjual kaki lima sebelum mendongakkan kepala menatap saya.

‘Terima kasih, Mas,”’ kata seorang pria muda setelah saya turunkan di depan gang rumahnya. Saya membuka helm, tersenyum. Pria muda itu meminta maaf berkali-kali karena mengira orang yang barusan memberinya tumpangan adalah seorang pria.

Seorang ibu menghentikan laju motor saya. Sang ibu minta diantarkan ke rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit, beliau mengangsurkan lembaran dua puluh ribu. Wuih, saya dikira tukang ojek! Continue reading “Sialan, Cewek!”

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Continue reading “Penyebar Kebencian”

Mama Kok….

Putra saya saban hari menilai saya. Tapi (menurut saya) kadang penilaiannya tak cukup fair. Dia kerap berlagak lebih tahu dari saya. Padahal saya kan ibunya!


‘Mama kok penakut banget….’

Saya takut percikan minyak saat menggoreng, kecuali minyak diganti dengan mentega. Herannya dia selalu menyempatkan diri mengomentari hal ini. Dia bahkan cekikikan melihat saya berlindung di balik lemari atau handuk yang membungkus wajah saya.

Saya juga takut menyalakan kompor. Walau disertai gerutuan, biasanya dia selalu mau membantu menyalakan kompor saat diperlukan, meski di pagi buta. Continue reading “Mama Kok….”

Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….

Seringkali seorang suami atau istri memperkenalkan pasangannya (suami atau istri) kepada orang lain dengan mengatakan: ini mantan pacar saya.

Waduh, buat saya itu ga banget!

Kebayang kan bagaimana kita mengejar pasangan kita sebelum dia menjadi istri atau suami? Kebayang kan bagaimana kita mempersiapkan diri, mungkin dengan sedikit mematut diri di depan cermin, untuk memberikan kesan menarik di mata si dia? Plus segudang aktivitas lain yang tak biasa kita lakukan untuk orang lain, kecuali dengan alasan si dia ‘spesial’ dan pantas menerimanya.

Jika kemudian dia telah menjadi istri atau suami, sesuatu yang dulu kita impikan dan sekarang menjadi kenyataan, adalah sesuatu yang seharusnya patut disyukuri. Namun seringkali kebiasaan manis yang dulu dilakukan, mendadak hilang saat si dia telah menjadi suami atau istri. Ucapan indah yang dulu kerap dilontarkan mendadak menguap entah ke mana. Continue reading “Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….”

Bertameng Agama

Seorang teman bertanya dengan terjemahan bebas berikut ini:
“Dulu saat pertama bertemu dan saya bertanya siapa kamu, kenapa kamu menjawab ‘I’m Wyd and I’m a Muslim’. Dan saat kita bertemu dengan orang yang baru dan dia menanyakan hal yang sama, kamu juga menjawab dengan jawaban yang sama. Kenapa kamu selalu menyebutkan agamamu dalam perkenalan pertama?”

Wah, saya tidak tahu harus menjawab apa. Itu hanya kebiasaan memperkenalkan diri, terutama pada orang asing, yang umumnya non Muslim menurut perkiraan saya. Kadang saya juga memperkenalkan diri dengan mengatakan: ‘I’m Wyd and I’m blessed being a Muslim.’
Continue reading “Bertameng Agama”

Saya Racuni Tubuh Demi Hidup

Orang bilang zat kimia adalah racun bagi tubuh, meski dalam bentuk obat. Saya mulai rutin ‘mengkonsumsi’ obat-obatan sejak kelas 3 SD dan melakukan injeksi secara rutin sejak kelas 3 SMP. Berikut daftar zat kimia yang harus saya telan setiap hari agar saya bisa beraktivitas layaknya orang lain:

– Vitamin C minimal 1000 mg untuk menambah daya tahan tubuh. Biasanya saya konsumsi 2000 mg perhari.
– Vitamin E untuk menghindari iritasi kulit karena dehidrasi. Saya harus minum jauh lebih banyak dibandingkan kebutuhan normal. Seorang teman berkomentar saya minum bagai onta kehausan.
– Obat maag untuk mengurangi gejala maag akibat terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C.
– Obat tambah darah untuk menaikkan Hb.
– Obat sakit kepala, kalau lagi sangat sakit hingga mata berair, saya telan 4 biji sekaligus!
– Multivitamin cair 2 sendok makan untuk menaikkan Hb.
– Amphetamine untuk mengurangi nyeri/sakit di sekujur tubuh, terutama kepala (Saya tahu ini berbahaya!).
– Obat anti muntah (obat mual) untuk mengurangi rasa mual tapi obat ini bikin ngantuk.
Continue reading “Saya Racuni Tubuh Demi Hidup”

Alhamdullilah untuk Duka Indonesia

Banjir menerjang kehidupan sekian ratus orang. Erupsi gunung berapi menelan puluhan korban jiwa. Gempa dan tsunami menyapu ratusan nyawa.

Terpana menyaksikan berita di TV, akun Twitter saya menjadi lebih aktif memantau berbagai komentar dunia. Semua memperbincangkan hal yang sama: negara ini dilanda musibah sambung-menyambung. Indonesia menangis.

Apa yang diperbuat anak bangsa pada saudaranya sebangsa yang tertimpa musibah? Saya mengatakan ini pada boss saya yang bertanya soal tsunami di Sumatera: Alhamdullilah tempat saya rada aman.

Boss saya marah besar, seperti marahnya daddy saya waktu beliau mendengar jawaban saya tentang gempa Jogja: Alhamdullilah keluarga kita di Jakarta dan Bandung. Ada satu di Jogja tapi lumayan aman.

Dengan nada tinggi beliau berucap: ‘What are you talking about, my girl? Keep your words or be silent are much better than you thank for the terrible earthquake isn’t around your place!’
Continue reading “Alhamdullilah untuk Duka Indonesia”