Palembang Today: Smog

Jpeg

Jangan mencari perumahan dengan lingkungan berupa tetumbuhan hijau menjulang di Palembang karena Anda tak akan menemukannya. Pembangunan telah melenyapkan pepohonan di pinggir jalan atau di perumahan. Kalau pun masih ada di beberapa ruas, jumlahnya bisa dihitung jari tangan, atau berupa tanaman hias yang tak seberapa tinggi. Maka saat smog (asap kabut) kiriman kota lain menyerang Palembang, masyarakat tak bisa berbuat banyak. Mengalihkan aktivitas outdoor menjadi indoor tak selalu bisa dilakukan. Tak mungkin juga hanya berdiam diri di rumah dan meliburkan semua aktivitas. Akibatnya, tak peduli bayi, anak-anak, dewasa, maupun orang-orang lanjut usia terpaksa berusaha bersahabat dengan asap yang menyesakkan dada dan merusak paru-paru.

Penderita asma seperti saya tak punya pilihan selain berusaha menghindari keluar ruangan. Saya harus merasakan nyeri di tenggorokan jika terpaksa bernafas melalui mulut, karena hidung tak cukup kuat mengambil oksigen di antara asap tebal. Continue reading “Palembang Today: Smog”

Advertisements

Tips Melupakan Patah Hati. Hasilnya Nyata!

Saya belum pernah patah hati. Karena saya ga pernah siap mempertaruhkan segalanya buat seseorang yang bukan sanak keluarga saya. Tapi atas permintaan beberapa komentator di tulisan Are U in Love? saya menuliskannya di sini.
Berikut ini tips yang pernah saya berikan pada beberapa teman yang menanyakan bagaimana caranya melupakan patah hati:
Berteman dengan internet. Jadi perokok berat. Konsumsi alkohol banyak-banyak. Petantang-petenteng di sekitar preman.
Hasil nyatanya bisa dilihat di akhir tulisan. Continue reading “Tips Melupakan Patah Hati. Hasilnya Nyata!”

Kangen Ibu

(Tulisan ini ditulis dengan cinta. Sebentuk cinta yang saya persembahkan untuk ibu saya dan ibu-ibu lain di dunia ini yang merupakan salah satu orang terhebat yang pernah ada di hati putra-putrinya)

Saya kangen ibu.

Ibu sekarang tinggal di Bandung. Beliau terbiasa ‘wara-wiri’ menetap di Jakarta atau Bandung, di tempat saudara-saudara saya. Tergantung mood, kayaknya 🙂
Saya akan menelpon beliau tiap kali memerlukan doa pendukung. Herannya, hingga detik ini saya selalu merasa, kok doa ibu saya lebih mujarab dibandingkan jika saya berdoa sendiri meski untuk keperluan saya pribadi 🙂

Terakhir bertemu ibu lebih dari dua tahun lalu. Ibu tinggal dengan kami tiga bulanan. Itu kali pertama dan terakhir ibu tinggal di rumah kami. Selebihnya bersama empat saudara saya lainnya. Putra saya sempat berkomentar: kok nenek ga fair sih, ga pernah tinggal lama di sini? Kan nenek milik kita sama-sama? Continue reading “Kangen Ibu”

Bunuh Diri. Tertarik?

(Semoga Sang Empunya Kehidupan mengampuni dosa-dosa kita semua. Semoga Dia memilihkan tempat indah buat saudara saya setelah Dia memberikan ‘rumah gelap gulita’ di dunia ini padanya.
Mohon maaf kepada semua pihak jika merasa saya mengungkit ‘cerita lama’.)

Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi. Pilihan tempatnya pun mewah, misalnya hotel atau mall.

Seorang sahabat baik, yang sudah saya anggap saudara, juga meninggal karena bunuh diri. Setelah dua kali gagal, akhirnya dia benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dengan cara ketiga. Tulisan ini tidak untuk mengungkit atau menyalahkan pihak mana pun. Kami berdua telah melalui kehidupan yang amat berat. Saya mencoba keluar dari belenggu itu dengan mengikis satu-persatu rantai perangkap. Sedangkan dia memilih menyerah karena tak sanggup lagi melawan. Continue reading “Bunuh Diri. Tertarik?”

Dok, Tolong Dong!

4docLupa di mana istilah di atas pernah saya baca, tapi istilah itu cocok dengan kondisi saya. Saya bukan tipe orang yang mudah mengeluh sakit tapi semua orang bisa melihat saya menahan sakit nyaris tiap hari. Untungnya saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan saya tepat waktu meski dengan tubuh lemah atau kepala sakit.

Berikut beberapa penyakit yang pernah atau masih bersemayam di tubuh saya:

Darah saya punya masalah. Saya harus minum vitamin C dua kali dari orang normal karena darah saya hanya mampu menyerap vitamin C setengah dari orang normal. Karena terlalu banyak minum vitamin C, saya kena maag. Kadang kambuh tanpa tanda-tanda. Beberapa kali saya dibawa ke UGD karena maag kambuh dengan sakit ga tertahankan. Dokter pernah meminta saya opname tapi saya menolak. Waktu di jalan ketemu orang, ada yang mengira saya lari dari rumah sakit habis operasi karena muka saya pucat pasi. Maag bikin saya muntah. Tapi sejak setahun belakangan saya jarang muntah. Dulu saya muntah tiap hari. Bisa pagi, siang atau malam. Continue reading “Dok, Tolong Dong!”

Percakapan-Percakapan

Kadang kita melakukan percakapan ga jelas ujung atau akhirnya. Berikut ini penggalan percakapan saya dengan orang-orang di beragam kesempatan.
Huruf O menunjukkan lawan bicara saya, sedangkan huruf W adalah inisial saya.
Bisa menebak dengan siapa saya sedang bicara atau gimana situasi saat itu?

Satu
O: Wuih, bagus banget, Wyd.
W: Gue kok ga bisa lihat yah?
O: Kan di dalem. Harus pake perasaan, Wyd.
W: Wuih, kita beda yah. Gue kalau lihat mesti pake mata.
O: Ihhh! Continue reading “Percakapan-Percakapan”

Mencari Pengantin Buat Sahabat

Setiap kali bertemu atau saling menelpon, saya ga lupa menanyakan apakah sahabat saya sudah mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Dia laki-laki yang baik, ga pernah mau berpikir negatif pada orang lain, sehingga seharusnyalah mendapatkan pendamping yang baik. Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia lebih betah melajang. Mungkin karena pernah memilih jalan hidup yang super bodoh dan terperangkap di dalamnya selama beberapa tahun. friends Setelah akhirnya terbebas pun, dia ga kunjung melamar seorang gadis untuknya. Jadilah saya sibuk mendorong-dorongnya untuk memilih satu.
Saking sebelnya, dia malah bilang: ‘lo-nya ga mau diajak kawin.’
Wah, andai saja saya penganut poliandri…! 🙂 Ga terasa sekian bulan lewat tanpa sebuah telpon atau sms karena kesibukan masing-masing. Continue reading “Mencari Pengantin Buat Sahabat”

Sisi Negatif Google Translate

Anda sudah mempergunakan Google translate untuk blog anda, entah dengan tujuan dan alasan apa pun? Mungkin penjelasan saya dalam tulisan ini akan membuat anda berpikir lagi apakah akan terus menggunakannya atau malah akan membuangnya segera.

Minggu lalu saya masih menggunakan Google translate di blog berbahasa Inggris saya yang umumnya bertutur

Google translate beta

tentang cerita keseharian saya, pandangan-pandangan saya sebagai muslim, menunjukkan jati diri sebagai anak bangsa, dan banyak bercerita tentang lika-liku pekerjaan saya sebagai guru kelas internasional di sebuah sekolah negeri di tanah air ini.

Satu malam seorang teman yang tinggal di Bahrain meminta alamat link blog saya karena udah lama ga mampir ke sana. Sewaktu hendak memberikan komentar, dia terkejut mendapati verifikasi huruf Arab. Continue reading “Sisi Negatif Google Translate”

Buta Ruang

Seringkali teman-teman bertanya hanya untuk lucu-lucuan.
‘Di mana kamu tinggal sebelum pindah?’
Saya akan menyebutkan lokasinya.
Mereka lantas pura-pura bertanya: Di mana sih itu?
Jika saya menunjuk suatu arah, mereka akan ketawa kencang. Selalu saja arah yang saya tunjuk dinyatakan salah, bukan cuma keliru.
Paling saya hanya pasrah dan bilang sambil senyum-senyum: Saya udah tinggal belasan tahun di sana. Ga mungkin kalian lebih tahu dibandingkan saya di mana letak rumah saya….

Bagi orang lain spatial weakness atau buta ruang mungkin akan terlihat lucu . Continue reading “Buta Ruang”

Saya Kerja (Bukan) PSK

Hari Senin jam enam pagi lewat sedikit saya berangkat dari rumah. Di salah satu persimpangan antara Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sosial Palembang, seorang gadis ABG berkulit coklat matang turun dari mobil mengkilap. Saya simpan nomor plat mobil itu di kepala. Saya ingat wajah pengemudinya karena kaca mobilnya ga terlalu gelap. Si Gadis celingukan. Beberapa tukang ojek menghampirinya. Tapi dia sepertinya ga tertarik naik ojek. Atau lebih tepatnya, wajahnya tampak bingung.
Saya kok jadi punya pikiran rada negatif soal si gadis dan pengemudi yang ga pake acara buka kaca mobil, tapi langsung ngacir.

Iseng, saya parkir kendaraan di tempat aman. Saya hampiri gadis itu.
‘Mau ke mana, Dek?’ saya tanya.
Dia ga menjawab.
‘Saya wartawan. Mau nanya-nanya doang. Ga perlu nyebutin nama, deh. Boleh, ya?’ saya tunjukkan press ID saya. Continue reading “Saya Kerja (Bukan) PSK”

Bahasa Indonesia di Lidah Bule

Waktu pertama kali boss saya belajar Bahasa Indonesia, saya harus siap dibangunkan di tengah malam buta. Pasalnya, dia belajar Bahasa Indonesia dari CD yang banyak dijual di toko buku di tempatnya sana, tapi kadang dia ga ngerti bahasa yang diucapkan si tutor.

Saat lagi istirahat siang, dia menelpon.
‘Sudah makankah kamu, sayang?’ tanyanya seperti mengeja.
Karuan saya ngakak sebelum menjawab!
What’s wrong?’ tanyanya.
Tahunya, dia ga menemukan kalimat untuk menanyakan apakah teman sudah makan atau belum, maka dia menggunakan bantuan transtool untuk menerjemahkan. Continue reading “Bahasa Indonesia di Lidah Bule”

Insomnia Karena Keinginan

Sesuatu yang aneh dengan judul tulisan di atas? Mungkin ada yang berpendapat ya tapi boleh jadi kamu akan setuju setelah membaca tulisan saya. Sejak SMP kelas 2 saya menderita insomnia (insomnia atau insomia mana yang bener, yah?). Jangan ditanya betapa sebalnya saya setiap melihat kakak perempuan saya yang bisa nyenyak banget tidurnya bahkan tak terganggu dengan suara mesin ketik saya di kamar yang sama (masa itu belum ada komputer seperti sekarang yang nyaris tidak menimbulkan bunyi meski kerja sampai dini hari). Bahkan saya pernah menangis karena sedih melihatnya bisa mendengkur tanpa menghiraukan saya yang tak bisa memicingkan mata sedetik pun. Continue reading “Insomnia Karena Keinginan”

Teman

Siapa sih seorang teman bagi saya? Teman bukanlah sesorang yang akan membuat saya tertawa karena cerita lucu mereka atau membuat saya merasa bangga akan karya-karya saya. Banyak orang di luaran sana dapat melakukan hal yang sama pada saya, menceritakan sesuatu yang lucu untuk membuat saya tertawa atau menertawakan diri sendiri. Banyak yang dapat mengapresiasikan karya saya dengan baik dan tulus dan membuat saya bangga telah menjadi bagian dari dunia ini. Bukan orang-orang seperti itu yang saya sebut teman. Karena tipe seperti itu banyak di luaran sana.

Teman bagi saya adalah orang yang saya tidak malu menceritakan pengalaman bodoh saya karena percaya dia tidak akan mencela saya atas kebodohan itu. Teman bagi saya adalah orang yang bisa memberikan pilihan hidup ketika saya bingung apakah ada pilihan di luaran sana, sehingga paling tidak ada yang dapat saya pertimbangkan. Continue reading “Teman”