Jangan Katakan Ini pada Orang yang Akan Bunuh Diri

http://www.psychicsuniverse.com/articles/home-family/difference-between-helping-and-giving
Bunuh diri bukanlah keputusan sesaat. Buat pelaku, itu jalan terakhir yang bisa dipikirkannya. Jika ada saudara atau teman atau siapa pun mengatakan (meskipun terkesan main-main) bahwa dia akan bunuh diri, jangan sampai Anda mengatakan hal yang mendorongnya melakukan itu lebih cepat. Berikut beberapa hal yang jangan pernah dikatakan kepada orang yang berniat bunuh diri.

1. Itu perbuatan bodoh dan pengecut.

Continue reading “Jangan Katakan Ini pada Orang yang Akan Bunuh Diri”

Advertisements

Salahkah Jika Menyerah?

Darah ada hampir di setiap sudut ruang ke mana pun saya menatap. Sama seperti ketika sekian belas tahun lalu saya melihat darah segar saya mengalir di antara air sisa mandi. Tapi kali ini terlihat lebih kental. Saya melihatnya lebih sering di tangan saya. Kadang menciprati pakaian yang saya kenakan.

Saya dapat mendengar semua kata-kata, makian, dan kemarahan yang dikeluarkannya dengan jelas, meski itu telah sekian belas tahun berlalu. Situasi itu masih bisa membuat saya menangis hingga hari ini. Andaikan saya menangis saat itu, mungkin saya tidak perlu menangis sesudahnya. Andaikan saya berargumentasi untuk membela diri saat itu, mungkin saya tidak perlu mendengar kata-katanya hingga hari ini.

Continue reading “Salahkah Jika Menyerah?”

Berpotensi Bunuh Diri (1)

Ini bukan cerpen atau versi fiksi lainnya.

Bergegas saya bangun dari tempat tidur menuju halaman belakang. Sesosok tubuh tergantung di langit-langit bagian belakang rumah. Wajahnya pucat. Tubuh saya tergantung tak bernyawa. Saya tiba-tiba merasakan kedinginan. Tubuh saya benar-benar tergantung di halaman belakang. Trus, siapa yang sedang mengamati tubuh yang tergantung? Itu saya!

Itu kejadian pertama di mana saya melihat saya menggantung diri saya sendiri. Saya tidak sedang tertidur. Saya sudah bangun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi saat saya mengamati tubuh saya yang sedang berdiri kedinginan, dan kembali mencoba melihat tubuh saya yang tergantung, tubuh itu tidak ada lagi di sana. Hilang dalam hitungan detik. Entah ke mana.

Continue reading “Berpotensi Bunuh Diri (1)”

Menghindari Bunuh Diri

Kasus bunuh diri yang terekspos makin banyak dengan adanya media sosial. Di luar masalah agama, bunuh diri berarti mengakhiri hidup dengan sengaja, apa pun caranya. ‘Menakut-nakuti’ orang yang ingin bunuh diri dengan keberadaan neraka dan hukuman di akhirat seringkali tidak bisa lagi dilakukan. Pikiran jernih tak lagi ada di kepala.

Artikel ini ditujukan untuk orang-orang atau orang di sekitarnya yang memiliki potensi bunuh diri. Bunuh diri tidak pernah terjadi spontan. Karena itu usaha bunuh diri bisa dihentikan. Jika Anda adalah orang yang pernah mengalami trauma, atau sedang berjuang melawan mental disorder, atau Anda mengenal orang dengan pengalaman tersebut, mungkin tulisan ini bisa membantu.
Continue reading “Menghindari Bunuh Diri”

Mengatasi Rambut Rontok Secara Alami dengan Fenugreek

Tulisan ini bukan iklan. Tetapi setelah berhasil mengatasi kerontokan rambut, dan berhasil juga pada orang-orang di sekitar saya, saya ingin membaginya untuk Anda yang sedang mencari solusi mengatasi rambut rontok. Silakan klik di sini atau HERBAL di bagian atas kanan blog ini. 

FenugreekBertahun-tahun saya menyisir rambut menggunakan sisir bergigi jarang, itu pun masih tetap rontok puluhan lembar setiap kali menyisir. Akhirnya saya menjadi takut menyisir meski dengan sisir bergigi jarang. Saya hanya sesekali, sekitar 2-3 kali dalam seminggu, menyisir menggunakan sisir. Selebihnya, saya menggunakan jari-jari tangan untuk merapikan rambut. Bermacam cara sudah saya lakukan untuk mengatasi kerontokan rambut. Mulai dari menggunakan beragam zat kimia (sampai yang harganya ratusan ribu per botol) dan herbal, menggunakan shampoo anti hair fall, melakukan pemijatan kulit kepala secara rutin, dan sebagainya, dan lain-lain. Hasilnya: NOL BESAR. Continue reading “Mengatasi Rambut Rontok Secara Alami dengan Fenugreek”

Melangkah (Dyer)

Putra saya, Dyer namanya, menyukai seni sebagaimana orang tua dan generasi di atasnya menyenangi seni. Neneknya sejak kecil sudah menjadi penyanyi profesional di daerahnya. Kakeknya pintar memainkan beragam alat musik. Saya sendiri sejak muda sudah berjalan dari satu panggung ke panggung yang lain untuk berkolaborasi dalam beragam bentuk teater bebas. Ayah -dan kemudian saya- menulis puisi dan fiksi untuk majalah atau koran secara berkala. Buat saya waktu itu, uang menjadi salah satu tujuan.


Putra saya lebih suka musik. Maka menyanyi dan menulis lagu adalah salah satu caranya menyibukkan diri atau melarikan pikiran. Satu hal kesamaan antara saya dan putra saya, bahwa meski kami menuliskan tentang kerinduan, keterpurukan, atau -mungkin- patah hati, nada tegar masih tergambar jelas dalam setiap kata-kata yang mewakili perasaan kami. Mungkin ini yang disebut pepatah: buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Salah satu lagu ciptaannya, judulnya ‘Melangkah’ mencerminkan hal itu.
Continue reading “Melangkah (Dyer)”

Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut

Kamu harus ke psikolog. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar rasa takut yang belum bisa saya atasi sepenuhnya.

pamsclipart.cameo_silhouette_of_a_woman_with_scary_thought_words_in_a_spiral_0515-1101-2618-5354_SMU

Saya tertawa. Ke psikolog? Saya ga gila. Ga sakit. Saya hanya takut. Dan itu pun tak datang setiap saat. Paling hanya sesekali dalam seminggu. Atau sebulan. Kadang malah hanya sesekali dalam beberapa bulan. Ketakutan itu tidak terlalu membebani buat saya. Kalau saya takut dan sedang sendiri, maka saya akan terjaga sepanjang malam dan membiarkan tubuh bersandar pada kursi dengan laptop menyala di depan meja seolah saya sedang bekerja. Saya baru berani merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah azan subuh dan orang-orang mulai beraktivitas. Continue reading “Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut”

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki. Continue reading “Indonesian Men are Dogs!”

DICARI: Pria Lokal

(Partner saya geli mendengar argumen saya menuliskan ini.)

OUR FLAG
Saya mencari seorang pria lokal. Artinya, pria berkebangsaan Indonesia, (kalau memungkinkan) keturunan ibu-bapak berkebangsaan Indonesia pula. Kriteria yang diinginkan:
– Bisa menjadi imam agama di rumah, (atau paling ga) mau belajar menjadi imam keluarga.
– Bisa memasak, (atau paling ga) ga komplain jika harus menyiapkan makanan sendiri.
– Bisa menyetrika pakaian dan membersihkan rumah.
– Mengerti perbaikan rumah, jadi ga perlu memanggil tukang cat untuk dinding yang mengelupas.
– Mengerti peralatan listrik, jadi ga perlu memanggil tukang listrik untuk mengganti lampu yang rusak.
– Mengerti mesin kendaraan, jadi ga perlu menelpon Auto 2000 jika mogok di jalan.
– Bisa menyetir, ga keberatan ngebut.
– Bukan politikus atau berminat terhadap politik.
– Bukan penikmat dangdut dan OT, alkohol, drugs apa pun jenisnya, swinger atau semacamnya, serta tidak bertato dan piercing.
– Bukan penggila TV dan internet, terutama jenis messenger dan networking, tapi ga gaptek. Continue reading “DICARI: Pria Lokal”

Membalas Kasih dengan Caci Maki

Sebenarnya masalah awalnya ‘cuma’ karena kami belajar mencintai sesama, menganggap mereka sebagai keluarga, dan membantu tanpa pamrih. Masalah muncul saat orang yang dianggap saudara malah jatuh cinta dan mengharapkan balasan.

Saya masih memberikan toleransi saat seorang wanita yang ditolong oleh sahabat dekat saya, menganggap saya perempuan murahan yang kebetulan mendapat perhatian lebih. Saya menganggap kemarahannya adalah bentuk ketakutan akan kehilangan kasih sayang. Saya memilih diam dan menulikan telinga. Saya lebih suka mengelak dibandingkan berbenturan, namun kalau terpaksa, saya tak pernah takut menghadapinya.

Saat sahabat saya memutuskan untuk menjelaskan dengan caranya, dengan membeberkan perlakuan baik saya padanya, keputusan itu tak saya bantah. Ketika sahabat saya menjelaskan bahwa perhatiannya pada wanita itu adalah kepedulian manusiawi tanpa dalih cinta pria-wanita di dalamnya, itu tak saya amini. Pun ketika sabahat saya mengatakan pada wanita itu bahwa dia mencintai perempuan lain, itu bukan urusan saya.

Menjadi urusan saya kemudian bahwa sahabat saya terluka karena kebaikan dan cinta kasihnya sebagai manusia dihancurkan. Katanya: I’ll never talk to her and her family in my life. They’re not my family. No more.
Continue reading “Membalas Kasih dengan Caci Maki”

Kangen…?!?

Menjadi ibu yang baik adalah impian setiap ibu, termasuk saya. Seorang ibu yang dicintai anak-anaknya tanpa pamrih seperti dia mencintai anak-anaknya. Seorang ibu yang selalu dikangeni putra-putrinya.

Beberapa waktu lalu, dalam pembicaraan via telepon dengan putra saya, saya bilang: Mama kok kangen banget ya sama Adek.
Jawabnya: Kami juga Ma, makanya kami tulis lagu buat mama. Karena kami kangen. Continue reading “Kangen…?!?”

My Partner

(This post is created cuz of someone who has accompanied me for years in happy and sad times. A special gift for a special one.)

Jangan tanya kapan pertama kali kami bertemu. Baik dia, apalagi saya, ga akan bisa mengingatnya. Namun saya masih ingat dengan jelas bagaimana saya tersentuh saat dia bilang: ‘I just wanna take you on the beach.’ Padahal saat itu dia belum tahu bahwa saya mencintai pantai dengan sangat. Itu pertemuan pertama kami di usia mudanya dengan tubuh langsing, sebaris kumis, dan rambut kriwil yang ditutupi cap. Continue reading “My Partner”

Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya

Beberapa hari lalu saya mendapat musibah di jalan raya. Kecelakaan motor. Alhamdulillah ‘cuma’ luka-luka dan memar. Artinya, saya masih sadar saat kecelakaan terjadi, sehingga otak saya masih paten sablengnya 😀 Tapi justru kejadian lucu dan bikin miris hati yang paling saya ingat.

Kalimat pertama yang saya teriakkan sesaat setelah membuka kaca helm, saat sadar saya mengalami kecelakaan adalah: ‘Sorry, you didn’t put on the lighting! I didn’t see your lighting on!’ Si pria yang mengalami kecelakaan bersama saya terheran-heran. Saya baru ‘ngeh’ bahwa saya menggunakan bahasa Inggris! Continue reading “Kejadian Lucu Kecelakaan Jalan Raya”

Sialan, Cewek!


Kalau saya tanya putra-putra saya, mereka bilang saya ibu paling lembut sedunia. Menurut partner saya, saya sama seksinya dengan gadis-gadis kalender! Aha, saya harus sering-sering ngaca, nih! 🙂 Anehnya, selain keluarga dekat, saya sering dikira (separuh) pria. Sekali-sekali dikira pria, tidak masalah buat saya. Tapi keseringan? Wow, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri saya!

Puluhan bahkan mungkin ratusan orang awalnya menganggap saya seorang pria, cuma karena membaca tulisan atau komentar saya di media, baik online maupun offline. Karena itu saya menuliskan ini. Serius, sumpah (mati), saya seorang wanita. Tulen. Maksudnya, bukan trans-seksual.

Beberapa pengalaman ‘menjadi pria’ saya tuliskan di sini.

‘Mau beli apa, Pak?’ pertanyaan sang penjual kaki lima sebelum mendongakkan kepala menatap saya.

‘Terima kasih, Mas,”’ kata seorang pria muda setelah saya turunkan di depan gang rumahnya. Saya membuka helm, tersenyum. Pria muda itu meminta maaf berkali-kali karena mengira orang yang barusan memberinya tumpangan adalah seorang pria.

Seorang ibu menghentikan laju motor saya. Sang ibu minta diantarkan ke rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit, beliau mengangsurkan lembaran dua puluh ribu. Wuih, saya dikira tukang ojek! Continue reading “Sialan, Cewek!”

Mama Kok….

Putra saya saban hari menilai saya. Tapi (menurut saya) kadang penilaiannya tak cukup fair. Dia kerap berlagak lebih tahu dari saya. Padahal saya kan ibunya!


‘Mama kok penakut banget….’

Saya takut percikan minyak saat menggoreng, kecuali minyak diganti dengan mentega. Herannya dia selalu menyempatkan diri mengomentari hal ini. Dia bahkan cekikikan melihat saya berlindung di balik lemari atau handuk yang membungkus wajah saya.

Saya juga takut menyalakan kompor. Walau disertai gerutuan, biasanya dia selalu mau membantu menyalakan kompor saat diperlukan, meski di pagi buta. Continue reading “Mama Kok….”