Mengapa China Dibaca Tiongkok?

The Great Wall - Beijing

Penyebutan nama beberapa negara disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Misalnya, Switzerland menjadi Swiss, Netherland menjadi Belanda, Germany menjadi Jerman, dan seterusnya.  Tetapi China tentu tidak termasuk kategori ini.

Orang-orang China (dari negara China) menyebut diri mereka China. Secara umum, mereka tidak menyebut negara mereka Tiongkok, kecuali daerah yang berbahasa Hokkian. Trus mengapa kita harus mengubah penyebutan negara China menjadi Tiongkok? Continue reading “Mengapa China Dibaca Tiongkok?”

Saya Bosan Membaca “Copas” tentang 1 Orang Itu

allah-jpg

Indonesia negara yang hebat dan bangsa yang besar dengan budaya yang mengagumkan dunia.
Tapi mengapa tiba-tiba mayoritas bangsa ini seolah hanya memiliki 1 fokus pada 1 orang saja?
Tapi mengapa umat Muslim yang katanya mayoritas penduduk negeri ini seolah amat sangat takut hanya pada 1 orang?

Apakah 1 orang itu sekaya Qorun? SAMA SEKALI TIDAK!
Apakah 1 orang itu setampan Rasulullah atau Nabi Yusuf ‘alaihissalam? SAMA SEKALI TIDAK!
Apakah 1 orang itu sejenius Einstein atau Stephen Hawking? SAMA SEKALI TIDAK!
Apakah 1 orang itu membawa mukjizat sejak lahir seperti Nabi Isa ‘alaihissalam? SAMA SEKALI TIDAK!
Apakah 1 orang itu memiliki kekuasaan sebesar raja-raja Majapahit dan Sriwijaya? SAMA SEKALI TIDAK!
Apakah 1 orang itu berjiwa heroik sehebat Jenderal Sudirman? SAMA SEKALI TIDAK!

Trus mengapa bangsa yang besar dengan budaya yang mengagumkan dunia, seolah chaos hanya karena 1 orang YANG BUKAN APA-APA DAN BUKAN SIAPA-SIAPA? Continue reading “Saya Bosan Membaca “Copas” tentang 1 Orang Itu”

Menaruh Harapan pada Mahasiswa

Saya terkaget-kaget membaca dan mendengar jawaban seorang mahasiswa -yang dinyatakan sebagai ketua panitia- tentang kegiatan mereka di sekitar rumah mantan presiden Susilo bambang Yudhoyono di awal bulan ini. Sama kagetnya saat mendengar jawaban atau tanggapan salah seorang politisi tentang keterlibatannya dalam kegiatan tersebut di salah satu stasiun TV nasional.

Berdasarkan berita dari beberapa situs online, secara garis besar pernyataan sang ketua panitia adalah mereka melakukan kegiatan itu hanya untuk senang-senang. Dan kegiatan yang melibatkan ratusan orang (mahasiswa) tersebut hanya berupa kegiatan membagi-bagikan selebaran.

Pertama: Hanya untuk senang-senang? Mengkritik atau menyatakan sikap yang berhubungan dengan negara ini hanya dijadikan kegiatan bersenang-senang? Mudah-mudahan tidak ada pemimpin negara ini yang mempunyai pikiran semacam itu. Dan mudah-mudahan mereka yang memiliki pikiran semacam itu tidak akan pernah menjadi pemimpin negara ini suatu hari nanti. Continue reading “Menaruh Harapan pada Mahasiswa”

Jenderal (Purn) Itu Dituduh Makar

m-tempo-co

Saya adalah salah satu yang bangga Indonesia memiliki Mayjen (Purn) Kivlan Zein. Saya mengenal beliau sejak peristiwa 1998, saat yang sama saya melihat lebih sering Letjen (Purn) Prabowo Subiyanto dan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin di televisi. Yang saya lihat saat itu dengan mata muda saya adalah ketiga jenderal itu adalah orang-orang besar yang darahnya jelas untuk merah putih.

Ketika malam ini saya menonton televisi (sesuatu yang amat jarang saya lakukan), saya terkejut amat sangat. Dan sedih. Jenderal Kivlan Zein ditangkap dengan tuduhan makar. Tanpa mencari tahu di Google, dengan pengetahuan saya yang sangat sempit, saya perkirakan makar menuju penjatuhan presiden. Dan sepengetahuan saya (tanpa bantuan Google juga), pelaku makar -jika terbukti- akan dijatuhi hukuman mati.
Continue reading “Jenderal (Purn) Itu Dituduh Makar”

Ahok, Muslim, dan Indonesia

(Aksi Damai 212: Ini Muslim Indonesia, Man!)

news.okezone.com

Tanpa bisa menolak, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok terlahir sebagai keturunan Tionghoa seperti kebanyakan masyarakat Bangka Belitung lainnya. Seperti Aa Gym bilang (saya tiba-tiba amat terkesan dengan beliau saat konferensi pers sebelum aksi 4/11) bahwa menjadi keturunan Tionghoa bukanlah salahnya Pak Ahok dan tak seorang pun yang berhak menggugat. Itu hak preogratifnya Sang Maha Pencipta.

Bahwa kemudian Pak Ahok juga terlahir di negara Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, juga bukan kesalahan beliau. Tak pernah ada seorang makhluk pun yang tahu di mana dia akan dilahirkan, sama seperti ketidaktahuannya di mana kelak akan meninggal atau dimakamkan. Hal-hal itu adalah rahasia Sang Maha Pencipta. Continue reading “Ahok, Muslim, dan Indonesia”

Yuk, Nikah Mut’ah

Ada tawaran menarik dari seorang sahabat. Bayangkan, tiap bulan dikasih puluhan juta, dibelikan rumah gedong, plus plesiran dan belanja-belanja kapan mau. Wuiiiihhh… hampir saya mengiyakan.
Tapi syaratnya: menikah dengan dia dalam hitungan bulan, maksimum dua tahun. Kalau saya hamil, maka anak yang dilahirkan harus di bawah pengasuhannya. Wah, syaratnya ini yang sulit buat saya untuk mengiyakan menerima berbagai fasilitas yang akan diberikan. Kawin kontrak atau nikah mut’ah untuk beberapa bulan atau beberapa tahun: yes… no… yes… no… yes… no way. Continue reading “Yuk, Nikah Mut’ah”

Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan

Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu bagian dalam catatan kehidupan saya. Saat itu kami tinggal di lingkungan orang-orang keturunan Tionghoa. Salah satu alasan mengapa kami memilih tinggal di situ adalah karena kesamaan latar belakang. Saat itu saya juga masih disibukkan mengantar putra bungsu saya yang masih TK nol kecil.
airplane_vortex - wikipedia
Satu hari setelah penjarahan toko-toko di pusat bisnis di kota Palembang, tetangga-tetangga kami menjadikan rumah-rumah mereka sebagai gudang penampungan barang-barang dari toko-toko mereka di pusat bisnis. Barang-barang itu diangkut ke rumah-rumah menggunakan truk-truk dan pickup setelah maghrib usai. Tetangga depan rumah saya yang putrinya menjadi salah satu karyawan swasta, merelakan bosnya menggunakan rumah mereka sebagai gudang.
Saya sempat bertanya padanya apakah dia merasa lingkungan kami akan aman karena justru isu ras keturunan Tionghoa yang berhembus saat itu. Entah mendapat ide darimana, tetapi semua tetangga kami meyakinkan saya bahwa lingkungan kami aman, karena berada di lorong temaram dengan satu pintu keluar. Rumah-rumah kami berada tepat di tengah-tengah rumah-rumah penduduk lokal.

Masih pada satu hari setelah kerusuhan, saya dan putra saya makan bakmi di warung depan yang mengarah ke jalan raya. Tempat usaha kami berada di depan warung kecil itu, sedangkan lorong menuju rumah kami berada di sebelah kiri warung (di depan tempat usaha kami). Saat itu hanya ada tiga orang pengunjung ditambah dua orang penjual dan pelayan. Sedang enak-enaknya menikmati makanan, seseorang datang terburu-buru dan berbicara kepada pemilik warung dengan serius. Lalu pemilik warung bicara pada kami bahwa dia akan menutup warungnya segera. Pembeli pria yang telah menyelesaikan makannya, segera membayar dan berlalu. Karena putra saya terlihat sangat menikmati makanannya, pemilik warung yang sudah kami kenal dengan baik membiarkan dia menghabiskan bakminya.
Continue reading “Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan”

Jokowi atau Prabowo atau…???

forumkeadilan.com-jokowi dan prabowo

Saya menulis ini sebelum Pemilu Legislatif (Pileg) karena pilihan saya (satu suara) akan mempengaruhi calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres). Itu karena adanya ketentuan minimal 20 persen suara untuk mengajukan calon presiden di Pilpres. Pilpres lebih menarik minat saya dibandingkan Pileg. Saya kok ga bisa lagi percaya janji-janji manis para legislator, tapi masih berharap ada seorang pemimpin hebat yang bisa membawa negara ini lebih besar.

Dalam tulisan ini hanya dibahas dua orang kandidat karena hanya dua orang ini pilihan alternatif yang mungkin buat saya (Di antara capres yang sudah diumumkan. Ga termasuk yang masih akan konvensi). Saya bukan fans Jokowi maupun Prabowo. Saya ga pernah tertarik menjadi simpatisan PDIP maupun Gerindra. Saya ga pernah berpikir untuk menghadiri kampanye PDIP, Gerindra, atau partai mana pun. Saya bahkan ga hafal nomor PDIP, Gerindra, atau partai lain dalam surat suara yang akan dicoblos. Tapi bukankah saya harus memilih?

Jokowi yang digaung-gaungkan cocok sebagai the next president akhirnya terbukti menjadi calon yang diusung partai banteng berhidung putih itu. Kedua kandidat itu, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subiyanto,  saya ulas di sini sesuai alfabet nama mereka. Continue reading “Jokowi atau Prabowo atau…???”

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.
Continue reading “Penyebar Kebencian”

Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….

Seringkali seorang suami atau istri memperkenalkan pasangannya (suami atau istri) kepada orang lain dengan mengatakan: ini mantan pacar saya.

Waduh, buat saya itu ga banget!

Kebayang kan bagaimana kita mengejar pasangan kita sebelum dia menjadi istri atau suami? Kebayang kan bagaimana kita mempersiapkan diri, mungkin dengan sedikit mematut diri di depan cermin, untuk memberikan kesan menarik di mata si dia? Plus segudang aktivitas lain yang tak biasa kita lakukan untuk orang lain, kecuali dengan alasan si dia ‘spesial’ dan pantas menerimanya.

Jika kemudian dia telah menjadi istri atau suami, sesuatu yang dulu kita impikan dan sekarang menjadi kenyataan, adalah sesuatu yang seharusnya patut disyukuri. Namun seringkali kebiasaan manis yang dulu dilakukan, mendadak hilang saat si dia telah menjadi suami atau istri. Ucapan indah yang dulu kerap dilontarkan mendadak menguap entah ke mana. Continue reading “Perkenalkan, Mantan Pacar Saya….”

Alhamdullilah untuk Duka Indonesia

Banjir menerjang kehidupan sekian ratus orang. Erupsi gunung berapi menelan puluhan korban jiwa. Gempa dan tsunami menyapu ratusan nyawa.

Terpana menyaksikan berita di TV, akun Twitter saya menjadi lebih aktif memantau berbagai komentar dunia. Semua memperbincangkan hal yang sama: negara ini dilanda musibah sambung-menyambung. Indonesia menangis.

Apa yang diperbuat anak bangsa pada saudaranya sebangsa yang tertimpa musibah? Saya mengatakan ini pada boss saya yang bertanya soal tsunami di Sumatera: Alhamdullilah tempat saya rada aman.

Boss saya marah besar, seperti marahnya daddy saya waktu beliau mendengar jawaban saya tentang gempa Jogja: Alhamdullilah keluarga kita di Jakarta dan Bandung. Ada satu di Jogja tapi lumayan aman.

Dengan nada tinggi beliau berucap: ‘What are you talking about, my girl? Keep your words or be silent are much better than you thank for the terrible earthquake isn’t around your place!’
Continue reading “Alhamdullilah untuk Duka Indonesia”

Saya Hanya Ingin Istirahat

Dengan alasan kesehatan dan semilyar alasan lainnya, saya memutuskan berhenti menulis di blog ini. Untuk semua teman dan pembaca yang telah meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya di sini, saya mengucapkan terima kasih yang tak terbalaskan.

Saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata atau tulisan saya yang kurang berkenan di hati pembaca atau pihak mana pun. Apa yang saya tulis hanyalah pengalaman-pengalaman dan opini pribadi, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun.

Saya tidak tahu kapan saya akan kembali atau apakah saya akan kembali. Saya hanya ingin menutup pintu perjuangan yang telah saya mulai sejak bertahun-tahun lalu namun tak kunjung tampak ujungnya. Daddy saya bilang saya adalah wanita yang penuh kasih dan layak dicintai. Saya tidak yakin jika saya masih seperti itu.

Saya hanya ingin beristirahat. Entah sampai kapan.

Sentuhan Kematian

Empat orang yang sangat saya cintai di masa hidup mereka, seringkali mengunjungi saya belakangan ini.

Yang pertama pergi adalah suster kepala. Kami biasa memanggilnya Suster Bernadeth. Meski tak pernah memuji di depan hidung saya, beliau selalu menceritakan cinta dan kasihnya terhadap saya di depan anak-anak lain. Tujuh tahun dalam hidup saya, saya lalui bersama beliau hingga wafatnya dan selama itu pula saya belajar mengisi hati dengan cinta kasih.

Ayah pergi sesudahnya. Ayah adalah pria yang selalu saya banggakan nomor satu jika bicara soal kejujuran dan keteguhan pada kebenaran. Continue reading “Sentuhan Kematian”

Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku

Bukan bermaksud menjadi oven pemanggang ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia, atau sok membela gadis cantik yang katanya sempat ‘bagaikan hidup di sangkar emas’, maka tulisan ini hadir.

Masih dalam rangka liburan, saya jadi aktif menonton TV setelah jadi ‘ibu rumah tangga yang baik’. Dua hari berturut-turut melototin berita infotainment yang sama, tentang suami Manohara Odelia Pinot yang berbangga hati telah memenangkan kasus melawan istrinya sendiri di pengadilan negeri jiran itu. Meski tak beraliansi pada Manohara atau ibunya yang tampak terlalu ‘wah’ di mata saya, tak urung saya terhenyak dengan berita itu. Ini semua karena si Tengku dari Kelantan (silakan cari di Google namanya, saya lagi malas) sambil senyam-senyum plus bahasa yang ga banget buat telinga saya, dengan bangga menyatakan kemenangannya dan betapa adilnya pengadilan di negaranya mewajibkan istrinya membayar hutang-hutang sebagai seorang istri.

Di mata saya, si Tengku hanya mempertontonkan kedunguannya dalam Islam. Continue reading “Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku”

MOM, I’M A GAY!

imagesMulut saya terkunci sekian detik mendengar pengakuan itu. Meski sebelumnya dia telah mewanti-wanti bahwa saya mungkin akan shock. Saya mempersiapkan diri pada pengakuan terburuk, namun itu masih saja membuat saya terdiam 2-3 menit.
‘Yes, Mom, I’m a gay.’
Dia – salah satu putra saya – mengulangi lagi pernyataannya.

Saya kira semua ibu ingin melihat anak-anaknya tumbuh ‘normal’. Menjadi gay bukanlah sesuatu yang ‘cukup normal’ buat saya. Continue reading “MOM, I’M A GAY!”

Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?

page2_1Tulisan ini mungkin isi kepala sebagian Muslim di dunia yang membuat beberapa video Condell dilarang beredar online. Ini angan-angan bodoh sebenarnya. Datangnya dari pikiran badut saya saat menyaksikan betapa naif pria itu, meski dia lumayan populer di negaranya. Saya pemerhati video-videonya, entah dengan alasan apa, tanpa pernah tertarik mengomentari langsung. Pertemuan saya dengan video pertamanya saat saya sedang berburu video tentang Islam untuk seorang teman di tahun 2007. Continue reading “Andai Pat Condell Tinggal di Indonesia, Besok Divonis Mati?”

Pilih 1, 2 atau 3???

Ulasan berikut sama sekali ga politis banget. Tapi mungkin apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak orang yang123 akan menggunakan hak pilihnya di Pilpres bulan depan. Jika di Pileg banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya, kayaknya di Pilpres jumlahnya akan sedikit berkurang.

Sebelum nama-nama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden diumumkan, saya rada ga susah memutuskan siapa yang akan saya pilih. Karena waktu itu, sosok SBY cukup oke di mata saya untuk meneruskan apa yang sedang dibangun bangsa ini. Tapi setelah nama-nama pasangan pemimpin itu diumumkan, dan terutama setelah kampanye mulai berjalan, saya malah bimbang.

Saya bukan tipe orang yang suka melihat pemimpin menyindir orang lain tanpa berani menyebutkan nama. Dan sayangnya itu dilakukan SBY akhir-akhir ini. Kalau Megawati yang melakukannya, saya agak-agak maklum, biasa… perempuan! Kelambatan dan keraguan SBY sebagai presiden dalam menangani beberapa kasus yang dihadapi bangsa ini, juga antara lain alasan saya menengok kandidat lainnya. Continue reading “Pilih 1, 2 atau 3???”

Inilah Indonesia, Manohara!

Entah bagaimana latar belakang hidup gadis cantik bernama Manohara Odelia Pinot itu. Yang pasti, dada saya ikut sesak karena sedih bercampur geli.
Sedih melihat gadis muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari putra saya, harus mengalami nasib mengenaskan. Lebih sedih karena nasib jelek itu malah diperolehnya karena kemolekannya.
Namun saya geli mendengar komentar-komentar polosnya yang diucapkan dengan bibir yang hanya terbuka kecil. Suaranya yang lembut masih terlalu polos untuk menyuarakan nasib bangsa ini di mata bangsa lain, terutama tetangga bebuyutan, Malaysia.

Cerita pilu Manohara di mata saya tak lebih buruk dari cerita para TKW, yang katanya penyumbang devisa bagi negara ini. Tentu bukan tentang cerita kesuksesan TKW di negeri orang hingga bisa membangun rumah megah. Walau bisa jadi rumah yang dibangun di kampung halaman dan sejumlah uang yang dikirimkan malah digunakan sang suami untuk memikat wnaita lain di kampung halamannya, sementara si TKW harus beradu fisik dengan majikannya di negeri orang. Continue reading “Inilah Indonesia, Manohara!”

ANTV Mempropagandakan Black Magic!

Tulisan ini mennumbergenai tayangan berjudul Luar Biasa pada Malam Minggu, 18 April 2009. Setelah tayangan ‘Supernatural ‘ yang saya ikuti sambil seringkali memejamkan mata atau menyembunyikan wajah di balik bantal, saya lanjutkan menonton ‘Luar Biasa’. Karena jadwal saya menonton tidak rutin, saya tidak tahu apakah acara tersebut hanya acara selingan malam itu atau memang acara rutin dalam periode tertentu.

Tanpa mempermasalahkan hal tersebut, saya tertarik saat sang host Dona Agnesia menyatakan bahwa Ustad Sutrisno (mudah-mudahan saya tidak salah menuliskan nama beliau) telah menemukan pil ajaib yang dapat menyembuhkan aneka penyakit. Awalnya saya tidak berprasangka buruk, saya pikir hanya mencampurkan berbagai jenis tumbuhan. Secara kimia, beberapa substansi kimiawi dapat bercampur tanpa saling menetralkan atau meracuni satu sama lain. Continue reading “ANTV Mempropagandakan Black Magic!”

Selamat Paskah dari Vatikan

Dari kecil dulu saya suka banget menantikan acara-acara keagamaan di TV. Dan itu masih kerap saya lakukan sekarang. Ga jelas asal mulanya kesukaan itu timbul. Senang aja mendengar bahasa-bahasa asing diucapkan, atau melihat beragam bangsa berbaur tanpa sibuk memikirkan bahwa mereka berbeda bangsa, berbeda bahasa, bahkan berbeda ras.

Dan hari ini saya menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Senang mendengar Sri Paus mengucapkan ‘Selamat Paskah’ dengan dialeknya. Menurut saya sih, dialek Bahasa Indonesia Paus Johannes jauh lebih sempurna dibandingkan Paus Bennedict, meski yang diucapkan hanya kata-kata singkat. Bahkan dulu saya ikut sibuk menghitung jumlah bahasa yang digunakan Sri Paus. Continue reading “Selamat Paskah dari Vatikan”