Axl Rose

Untuk penyanyi berusia 54 tahun, he looks like, still, a wild animal on microphone.

Saya penikmat musik era 80, rock, rock klasik, atau apa pun labelnya. Namun Guns N’ Roses adalah band yang tak pernah saya tinggalkan sejak pertama kali saya mendengar lagu-lagu mereka. Welcome to the Jungle, Patience, Estranged, Garden of Eden, Coma, Civil War, November Rain, It’s So Easy, Dead Horse, Dust N’ Bones, My Michelle, Sweet Child O’ Mine, Out Ta Get Me, Oh My God, So Fine, Street of Dreams, Used to Love Her, dan seterusnya. Saya kok ga menemukan satu pun lagu Gn’R, bahkan yang daur ulang semacam Knockin’ on Heaven’s Door, yang bakal avoided kuping saya, ya?

4
Continue reading “Axl Rose”

Advertisements

‘Original’ Line Up of Gn’R is Back!

Postingan ini mungkin rada terlambat disebabkan kesibukan yang padat, karena beberapa show bertajuk “Not in This Life Time” telah dilakukan sejak beberapa hari lalu.

Guns N' Roses

Sejak awal tahun ini, rumor The Most Dangerous Band on the Planet akan mengadakan reuni memecah keretakan yang pernah terjadi, telah menyebar dengan sangat cepat. Meski penuh harap, saya tidak percaya rumor yang telah bertahun-tahun beredar hingga sangat intens belakangan, sampai konfirmasi Axl Rose di Twitter 4 Januari. Gila, akhirnya semua mimpi terbayar setelah dua puluhan tahun terlewati!!!!! Continue reading “‘Original’ Line Up of Gn’R is Back!”

Let Him On His Peace Way

Masih soal Michael Jackson, sang raja pop, sebagaimana dia menasbihkan dirinya. Bukan cuma karena sebel membaca banyak argumen negatif setelah kepergiannya atau tulisan dengan ulasan dadakan ga berhati soal M.J., tapi lebih karena ada ‘sesuatu’ di dalam hati saya. Jarang-jarang sih saya ‘bicara’ pake hati tapi mungkin karena saya kurang sreg dengan berbagai tulisan soal M.J. yang mungkin maksudnya mau membela tapi kok terkesan malah membuka luka lama di mata saya.

MJ

Tahun 2004-2005 pertama kali saya mendengar lagu berjudul Give Thanks to Allah dari sebuah website berbasis di tanah Arab. Tahun 2007 lagu itu memborbardir dunia Islam, terutama di berbagai website yang di-support Muslim. Lagu itu diklaim dinyanyikan oleh M.J. yang konon katanya beralih kepercayaan ke dalam Islam, mengikuti jejak sahabat-sahabat dan abang kandungnya. Mengikuti kematiannya di tahun 2009, lagu itu kembali ramai dibicarakan.

Tapi jujur, di kuping saya, lagu itu amat berbeda, baik dalam isi apalagi vokal. Desahannya beda banget. Beda. Amat beda. . Continue reading “Let Him On His Peace Way”

You’re (Not) Alone

Tulisan ini dibuat untuk mengenang seseorang yang dikenal dunia sebagai Michael (Joseph) Jackson atau kemudian Mikhaeel Jackson. Bagaimana pun dia pernah atau mungkin akan selalu ada di hati. Thanks buat partner saya yang meng-sms saya soal meninggalnya M.J.)

Saat saya SMP-SMA, saya menyukai musik dengan sangat. Pilihan saya adalah musik yang memiliki beat tapi ga ‘berat’. Maka lagu-lagu country, pop rock atau rock adalah pilihan saya. Pemusik dalam negeri yang saya beli kasetnya (saat itu masih kaset) hanyalah Iwan Fals dan Gang Kebangsaan. Maka sekarang teman-teman sekantor sering heran saya kok ga kenal lagu Sakura (ga tahu nama penyanyinya) atau Richie Ricardo (aduh… seingat saya, saat remaja saya ga yakin dia seorang cowok. Lebih cewek dari saya!).nfl_a_kingpop_275

Selera musik saya cenderung sempit. Ga heran kalau saya kemudian lebih hafal lagunya Duran-Duran, U2, Deep Purple atau Aerosmith dibandingkan Genesis atau Rolling Stones, tanpa membandingkan ketampanan John Taylor dan Simon Le Bon (Duran-Duran) yang beberapa tingkat lebih tinggi dari Mick Jagger di mata remaja saya.

Namun di atas semuanya, saya hanya jatuh cinta pada dua orang. Michael Jackson dan Axl Rose. Continue reading “You’re (Not) Alone”

Saya Suka Rock. So What?

Aneh bagi sebagian orang bagaimana orang seumur saya, wanita pula, suka musik rock. Sulit menjelaskan bahwa romantisme yang disuguhkan musik yang mereka sukai ga pernah menyentuh hati saya. Mungkin karena saya bukan tipe orang romantis atau karena memang saya terlalu terkotak-kotak oleh jenis musik tertentu. Yang pasti saya sudah kebal dengan komentar teman-teman bangsa sendiri, misalnya: ‘you’re not typical Indonesian woman’ atau ‘you’re too wild’ atau ‘you’re strange in my eyes’ atau ‘woow, it’s for teens, not for us’ atau pertanyaan ‘are you crazy?’. Continue reading “Saya Suka Rock. So What?”