Indonesian Scammers

0degYRoqkPekerjaan saya banyak dilakukan melalui internet atau telepon. Internet diperlukan untuk bolak-balik mengirim e-mail atau pencarian berbagai data dan kontak yang diperlukan. Setelah sekian tahun menekuni pekerjaan semacam ini, saya menemukan banyak sekali scammer asal Indonesia di berbagai website bisnis. Saking banyaknya scammer alias penipu yang berpura-pura berada dalam suatu bisnis tapi tak punya kontak apa-apa, seorang client pernah menulis begini di salah satu forum bisnis: ‘Jangan pernah percaya pada eksportir dari Indonesia atau Malaysia karena mereka semua cuma scammer’.

Pengalaman pribadi saya membuktikan hal itu nyaris benar. Satu contoh, setelah wara-wiri di dunia maya untuk mengumpulkan berbagai kontak yang menyediakan alamat e-mail atau nomor telepon, saya menghubungi mereka satu per satu. Dari 44 nomor telepon atau HP yang terpasang di berbagai website bisnis, hanya 5 yang tersambung. Continue reading “Indonesian Scammers”

Youtube Bebas dari Blokiran

Oh thanks God, ternyata pemerintah Indonesia nggak se-idiot yang saya kira. Youtube udah bisa diakses kembali. Wuihhh, berarti saya nggak jadi kehilangan video-video yang yang belum saya bikin duplikatnya selain yang di Youtube.

Nggak ada kata-kata yang bisa diungkapkan karena kepala terasa ringan banget setelah lepas salah satu beban.

BTW… pemerintah yang udah lumayan pinter atau karena tekanan berbagai pihak yang terlalu keras?

Untuk Pemerintah Yang IDIOT dan AROGAN

Saya tidak tertarik politik yang katanya menghalalkan segala macam cara. Dan bukan karena pandangan saya telah berubah makanya tulisan kali ini ditujukan buat yang terhormat Pemerintah Republik Indonesia yang dalam hal ini berwenang memblokir situs atau domain yang dianggap porno atau menyebarkan SARA.


Tulisan ini dibuat karena kesedihan yang kelewat dalam atas ditutupnya akses ke Youtube dan rencana pemerintah yang terhormat untuk menutup beberapa situs atau domain lagi yang bagi saya merupakan sebuah perbuatan idiot yang lahir dari pemikiran super idiot.

Continue reading “Untuk Pemerintah Yang IDIOT dan AROGAN”

Internet Connection Cuts Off… Gila!

Untungnya judul kalimat itu bukan menggambarkan isi kepala saya tapi hanya kata-kata yang saya lontarkan berkali-kali setiap mengecek apakah koneksi internet di tempat saya tinggal sudah tersambung kembali. Karena tersambar petir dua kali selama dua hari berturut-turut, hotspot di lingkungan tempat tinggal saya putus sejak hampir seminggu yang lalu.

Selain karena saya ditodong oleh anak-anak…, ‘kapan? kapan? kapan?’ menanyakan hal yang sama dengan yang ingin saya ketahui, membuat saya berpikir lagi tentang ketergantungan hidup saya dengan internet. Memang sih koneksi di luaran masih tetap jalan seperti biasa. Tapi saya hanya punya waktu di atas jam sebelas malam untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan internet dan kesenangan dunia maya karena hanya waktu-waktu itulah saya terbebas dari pekerjaan rutin dunia nyata saya di negeri ini. Padahal tengah malam bukanlah waktu yang sehat buat keluyuran ke warnet. Siang ini saya paksakan pergi ke perpustakaan untuk mendapatkan koneksi internet sekitar satu jam. Saya sempatkan mampir ke blog ini.

Saya telah menghitung-hitung kerugian yang telah dan bakal saya bayar jika koneksi internet tak juga tersambungkan hingga minggu depan. Continue reading “Internet Connection Cuts Off… Gila!”

Perangkap Hak Asasi dalam UU ITE

Satu hari tanpa internet serasa ketinggalan berita setahun atau bagai tidak makan seminggu (terlalu hiperbolis?!). Kata-kata di atas hanya untuk menggambarkan bahwa internet sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. Internet sudah jadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian bagi sebagian orang. Termasuk saya. Internet bagi saya adalah tempat saya mendapatkan berita, terutama berita dunia luar sana, yang tidak bisa diakses dari berbagai stasiun TV dalam negeri. Karena di saat saya punya waktu untuk menonton TV, acara yang disiarkan di TV nasional -meski jumlah stasiun TV sudah melewati jumlah kedua jari tangan- nyaris tidak memberikan informasi pengetahuan yang saya butuhkan. Sinetron berlatar belakang kehidupan masyarakat kota besar dengan standar ekonomi high class (pelaku berwajah amat remaja sudah jadi direktur perusahaan besar!), lomba menyanyi modal dengkul (penyanyi dan komentator sama-sama tidak berpengalaman di bidang tarik suara), siaran langsung sidang ini-itu yang tak saya minati, film Hollywood lama yang saya bahkan hafal beberapa kalimat plus intonasinya (karena terlalu sering ditonton), dan seterusnya dan seterusnya yang hanya akan membuat saya trauma pada TV jika saya paksakan tetap menonton. Continue reading “Perangkap Hak Asasi dalam UU ITE”