Muslim Melecehkan Muslim

clipartbest

Anda bisa membaca beberapa tulisan saya sebelum ini mengenai latar belakang agama saya hingga saya tiba di pilihan ini. Saya tidak bermaksud mendeskritkan Muslim di Indonesia tetapi tulisan ini berdasarkan pengalaman saya. Kalau ada yang berbeda, kalau menurut Anda sikap-sikap yang saya temui hanyalah oknum, sayangnya saya bertemu terlalu banyak ‘oknum’, sehingga seperti inilah tulisan ini dibuat.

Belum semua anggota keluarga saya menjadi Muslim. Saya tentu tak bisa memaksakan keyakinan saya kepada mereka, terutama untuk yang sudah dewasa. Kecaman pedas sering saya dengar, salah satunya: ‘Ibu macam apa kamu, membiarkan anakmu tetap non-Muslim?’ Continue reading “Muslim Melecehkan Muslim”

Advertisements

Menjelajahi Ramadhan

Di bulan Ramadhan sekian tahun lalu, seseorang tak dikenal datang ke dalam tidur saya. Setiap malam. Sejak itu, saya berubah dalam memandang Ramadhan.

Tak ingat persis waktunya, namun kedatangannya sekitar 10 kali. Wajahnya tak pernah terlihat jelas karena dia selalu berdiri dalam cahaya amat terang. Yang saya yakini adalah dia seorang pria (karena berjanggut putih-kecoklatan) bertubuh tinggi langsing. Dan dia selalu mengenakan jubah putih. Saat disambangi pertama kali, saya mengira saya baru berjumpa the Christ. Continue reading “Menjelajahi Ramadhan”

Menjadi Free Thinker

                                 

Sekian tahun dalam hidup saya, saya jalani sebagai free thinker. Itu terjadi karena saya sok telah tahu hal yang sebenarnya saya masih buta banget. Saat itu saya hanya percaya bahwa ada ‘sesuatu’ yang menguasai alam semesta ini. Sisi positifnya, saya menggunakan logika dalam menjalani kehidupan, memandang sesuatu berdasarkan fakta, ga takut mengatakan yang salah dan benar sesuai porsinya.
Sisi negatifnya? Na’uzubillahi min zhaliq…. Bejibun! Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Continue reading “Menjadi Free Thinker”

Muslim Rakitan

Terlahir sebagai Muslim campuran dengan latar belakang keluarga berdarah campuran Cina-Melayu-Arab, plus perayaan Sin Chia hingga remaja, mendapatkan pendidikan dini di lingkungan Katolik fanatik beserta ritual natalan hingga usia dua puluhan, dibesarkan dalam kultur campuran Cina-Melayu yang kuat, saya menjadi orang yang menaruh simpati pada keanekaragaman agama dan kepercayaan.

Hingga SMA saya masih menyalakan hio di altar sembahyang Kong Fu Cu. Saya sering ikut menyaksikan ritual pemanggilan roh nenek moyang meski disertai rasa takut dan cemas akan dirasuki. Namun saya juga sering mencuri buah-buahan persembahan saat Pek Cun tiba.

Waktu kecil dulu saya terbiasa menunggu jemputan hingga sore hari di dalam kepastoran dan menjadikan kediaman pastor sebagai rumah kedua. Saya masih mengunjungi kepastoran dan masih ikut mempersiapkan misa saat awal-awal SMP. Hal yang saya suka waktu mempersiapkan misa adalah saya boleh ‘mencicipi’ anggur lebih dari satu sloki 😀 Continue reading “Muslim Rakitan”

Bertameng Agama

Seorang teman bertanya dengan terjemahan bebas berikut ini:
“Dulu saat pertama bertemu dan saya bertanya siapa kamu, kenapa kamu menjawab ‘I’m Wyd and I’m a Muslim’. Dan saat kita bertemu dengan orang yang baru dan dia menanyakan hal yang sama, kamu juga menjawab dengan jawaban yang sama. Kenapa kamu selalu menyebutkan agamamu dalam perkenalan pertama?”

Wah, saya tidak tahu harus menjawab apa. Itu hanya kebiasaan memperkenalkan diri, terutama pada orang asing, yang umumnya non Muslim menurut perkiraan saya. Kadang saya juga memperkenalkan diri dengan mengatakan: ‘I’m Wyd and I’m blessed being a Muslim.’
Continue reading “Bertameng Agama”

Merry Christmas, Suster!


Merry Christmas, Suster! Merry Christmas, Pastor!
Lalu para suster biara dan pastor akan menciumi kening saya, menyapu telapak tangan di atas kepala saya sambil mendoakan keberkahan dalam hidup saya.
‘Merry Christmas, sayang!’ yang selalu diucapkan dengan senyum tulus.

Itu puluhan tahun lalu. Sekarang sang pastor sudah kembali ke negara asalnya, Belanda. Suster kepala meninggal saat saya SMP. Saya tidak pernah lagi mengunjungi kepastoran sejak itu. Keinginan mengabdi sebagai nun pun telah saya buang jauh-jauh. Namun kenangan itu selalu datang setiap Christmas tiba.

Terlalu banyak kenangan. Tahun lalu saya masih menerima sms ‘Wish you had a merry x-mas!’ dan ‘I’d hand u roses in next christmas. I promise.’ Continue reading “Merry Christmas, Suster!”

Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!

Pada beberapa teman baik yang saya yakin dan percaya ga sudi melihat saya berubah buruk atau kepleset ke jurang kesalahan, saya selalu wanti-wanti untuk mengkritik saya kapan pun saya melakukan kesalahan atau menyimpang. Dan kalau saya masih keras hati alias tetap lebih suka menyimpang, mereka boleh menjewer kuping saya, atau kalau perlu mendaratkan tendangan keras. Saya takut menyimpang dari jalan kebenaran apalagi jika melakukan itu dengan kesadaran dan perasaan bangga.

Puluhan tahun saya hidup dalam dunia yang ga banyak orang pernah melaluinya. Belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun saya lalui ga ubahnya kedelai-keledai yang meletakkan jiwanya di telapak kaki. (Saya sulit membedakan keduanya. Dan lagi malas nyari di google. Jadi saya tulis keduanya)
Bayangkan, keledai-kedelai sudah cukup mewakili binatang terbodoh di jagat ini, dan jiwa yang seharusnya mengendalikan semua anggota tubuhnya diletakkan di tempat terendah yang terinjak-injak setiap saat (kecuali keledai-kedelai yang senang bersepatu!) bahkan ga bisa memilih mana tempat yang layak diinjak dan mana yang seharusnya dilangkahi. Saya ga lebih baik dari itu! Continue reading “Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!”

Kok Ga Bisa Lembut Sih???

Saya terkagum-kagum pada sebuah puisi yang ditulis seorang anak muda tentang Tuhannya. Sayang, menjadi kebiasaan saya hanya mampir, membaca dengan sungguh hati, memberikan komentar, lalu pergi tanpa mengingat siapa penulisnya atau apa nama blognya.

Kok bisa sih mereka menulis selembut itu? Saya kok ga pernah bisa ya?
Bertahun-tahun lalu saya menulis banyak puisi tentang Tuhan dan agama. Tiga di antaranya saya sertakan di sini. Pelarian Terakhir menjadi juara 3 suatu lomba puisi se-propinsi. Sajak Luka menang di tingkat kabupaten. Sajak Buat Tuhan bikin saya mesti berurusan dengan polisi 🙂 Continue reading “Kok Ga Bisa Lembut Sih???”

Muslim tapi Rasis!

Awalnya saya penasaran dengan seseorang yang selalu mengomentari komentar saya di Youtube, kecuali di channel-channel musik Guns n Roses. Meski kadang komentar saya hanya sebaris, ID itu tetap membalasnya.
Saat dia masuk ke Channel Youtube saya, dan berkomentar menyebut saya The Liar, rasa penasaran saya jadi sebal.
Iseng dan sedikit tensi tinggi, saya taruh ID messenger saya selama 12 jam di channel.
Dan benar, orang nekat itu memanggil saya saat saya online. Saya ga bodoh untuk bicara tertulis. Selain karena saya bukan pengobrol di messenger, saya juga ga ingin ditipu. Lewat tulisan, bisa jadi dia tidak sendiri. Bisa saja mereka mengeroyok saya. Continue reading “Muslim tapi Rasis!”

Agama? Akhhh!!!

Menulis soal Islam? Akhhh!!!

What the hell are you thinking about my faith? I’m still learning more and more. Not because I don’t wanna share it to others but because I do dont know about Islam. Okay?’

Ini alasan saya sewaktu seorang sahabat meminta saya menulis soal Islam atau sesuatu yang bersentuhan dengan itu di blog Bahasa Inggris saya.
Teman ini sedang tertarik dengan Islam. Setiap dia menanyakan sesuatu berkaitan dengan aturan dan hukum Islam, saya lebih suka merekomendasi website yang bisa membantunya. Soalnya apa yang ditanyakannya seringkali juga menjadi pertanyaan saya dan belum saya temukan jawabannya. Tapi katanya, website-website itu ga memberikan jawaban berarti.

‘Bukankah kamu telah bertahun-tahun menjadi Muslim?’ tanyanya satu kali.
Alamak… dia tetap ga mau mengerti bahwa saya ‘hanya Muslim Indonesia’ berlatar belakang agama heterogen campur aduk ga jelas! Continue reading “Agama? Akhhh!!!”

Apa Ramadhan Istimewa? No way!

Tiap mendengar ceramah saya selalu dicecoki kalau Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan paling istimewa, bulan yang amat dinantikan kaum muslim dari orok sampe jompo. Benarkah?

Sekian tahun lalu saya masih bisa mengerti. Saya berharap saya bisa seperti banyak orang di luaran sana yang amat menantikan Ramadhan. Tapi tidak saat ini. Saya sangat berharap tidak ada bulan yang disebut Ramadhan. Bukan karena saya tidak suka harus berpuasa, meski saya tidak pernah benar-benar full puasa sebulan penuh setelah akil baliq. Bukan juga karena saya harus mengeluarkan sebagian harta sebagai ritual kelanjutan Ramadhan.

Tapi Ramadhan… benarkah harus beda? Continue reading “Apa Ramadhan Istimewa? No way!”

Proyek Besar Untuk Rasullulah

Seorang teman yang membangun website non komersial tentang agama Islam, meminta saya membantu menerjemahkan beberapa tulisan dalam Bahasa indonesia. Sebenarnya ide itu tidak murni datang darinya. Waktu saya membuka websitenya, saya iseng bertanya kenapa tidak ada Bahasa Indonesia-nya padahal penduduk Muslim di dunia terbesar adanya di Indonesia. Selama ini saya tidak mempermasalahkan hal itu karena Bahasa Inggris yang digunakan di websitenya lumayan familiar dengan mata saya. Tetapi melihat adanya bahasa asing lain yang terus bertambah jumlahnya, membuat saya mempertanyakan diskriminasi yang diterapkannya terhadap bahasa orok saya. Continue reading “Proyek Besar Untuk Rasullulah”

Aku Islam Sekuler

Apa sih Islam sekuler? Ini menjadi tanda tanya besar di kepalaku ketika seorang kolega mengatakan sifatku sangat jelas sebagai Islam sekuler. Ceritanya bermula saat sambil lalu aku menonton acara infotainmen yang sedang diputar di televisi di ruang rapat. Soal artis wanita belum bersuami yang tidak mau menjawab pertanyaan seputar kehamilannya. Sambil iseng kukomentari soal tayangan itu, ‘Kok pada sibuk ngurusin sama siapa dia hamil. Berapa bulan? Udah kawin apa belum sebenarnya? Itu kan urusan dia. Mau punya suami apa nggak, kenapa pada sibuk? Lagian kalau belum punya suami, nggak boleh hamil?’ Inilah yang menjadi sumber temanku mengatakan aku Islam sekuler. Tanpa perlu mengecek kamus, aku tahu sekuler berarti bersifat keduniawian atau hanya peduli soal materi di dunia. Kasarnya, sekuler berarti orang yang mengatasnamakan materi dan bukan agama sebagai pegangan hidup. Ah, gila. Faktanya, aku Muslim meski bukan penganut yang alim. Tahu dirilah…. Continue reading “Aku Islam Sekuler”