Berpotensi Bunuh Diri (1)

Ini bukan cerpen atau versi fiksi lainnya.

Bergegas saya bangun dari tempat tidur menuju halaman belakang. Sesosok tubuh tergantung di langit-langit bagian belakang rumah. Wajahnya pucat. Tubuh saya tergantung tak bernyawa. Saya tiba-tiba merasakan kedinginan. Tubuh saya benar-benar tergantung di halaman belakang. Trus, siapa yang sedang mengamati tubuh yang tergantung? Itu saya!

Itu kejadian pertama di mana saya melihat saya menggantung diri saya sendiri. Saya tidak sedang tertidur. Saya sudah bangun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi saat saya mengamati tubuh saya yang sedang berdiri kedinginan, dan kembali mencoba melihat tubuh saya yang tergantung, tubuh itu tidak ada lagi di sana. Hilang dalam hitungan detik. Entah ke mana.

Kejadian kedua saat saya hendak mengambil pakaian di halaman belakang pada suatu sore. Saya melihat lengan saya berdarah. Darah segar mengalir. Saya mencoba menemukan asal luka. Saya tidak melihat ada irisan luka sedikit pun. Tetapi pergelangan tangan kanan saya telah berdarah. Saya melihat ke pergelangan tangan kiri. Tak ada luka dan tak ada darah setetes pun. Saat kembali melihat pergelangan tangan kanan yang tadinya berdarah, darah itu tak berbekas. Kedua lengan saya bersih. Juga tak setetes pun darah di pakaian yang saya kenakan.
Saya beristighfar.

Dua kejadian tersebut mengiringi beberapa perubahan yang terjadi. Entah apa yang membuat saya akhir-akhir ini sangat tertarik pada orang yang sedang berdiri di gedung yang tinggi. Seolah saya dapat merasakan deru angin di atas gedung tersebut. Tidak ada sedikit pun perasaan takut akan ketinggian, padahal sejak usia makin menua saya punya perasaan takut pada beberapa hal, termasuk ketinggian.

Belakangan ini saya juga menyukai foto-foto yang memperlihatkan tetesan darah. Padahal dalam dunia nyata, saya mual jika melihat darah. Saya pernah pingsan setelah melihat darah. Tetapi semua itu terlihat berbeda akhir-akhir ini. Foto penuh darah, terutama pisau atau pistol, terlihat begitu cantik. Saya mengganti screen HP dan desktop laptop dengan foto-foto serupa. Saya bisa berlama-lama mengamati foto-foto itu. Makin lama terlihat makin indah.

Semua kejadian ini terjadi hanya dalam hitungan bulan. Tidak hanya mata saya yang berubah cara pandang, tetapi juga tanpa sadar melakukan hal drastis dalam kehidupan nyata. Saya menjadi lebih pendiam. Saya makin jarang bercakap-cakap dengan teman-teman kantor. Saya makin menarik diri dari lingkungan sosial. Jangan tanya mengapa saya lakukan ini. Saya mungkin bisa menjelaskannya, tetapi tidak yakin itu adalah alasan yang sebenarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s