Penerbangan ke LN dengan Transit

Jpeg

Jalan-jalan ke luar negeri sendirian bisa sangat membingungkan, terutama yang sebelumnya jarang jalan-jalan di dalam negeri. Berikut beberapa hal yang mungkin bisa menjadi masukan. Kali ini hanya tentang jalan-jalan yang menggunakan penerbangan. Semua yang saya tulis adalah pengalaman pribadi menggunakan beberapa maskapai dengan tujuan beberapa negara di Eropa. Sebagai modal, selain bahasa ibu, saya hanya mengerti bahasa Inggris aktif dan bahasa Itali patah-patah.

1) Negara Transit
Jika penerbangan harus transit, berarti kita akan berhenti di suatu negara tetapi bukan negara yang kita tuju. Misalnya, saya mau bepergian ke Kanada tetapi transit di Dubai. Jika waktu transit cukup pendek, misalnya 3 jam atau kurang, maka sebaiknya tidak perlu ke luar dari bandara. Beberapa maskapai mengeluarkan pengumuman boarding tidak terlalu lama dari waktu take off. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat karena asyik jalan-jalan atau belanja (terutama kaum wanita nih).
Tetapi jika waktu transit lumayan lama, kadang bisa 8 jam atau lebih, kita bisa jalan-jalan melihat-lihat kota. Artinya kita akan ke luar bandara. Untuk itu, harus menyiapkan visa untuk negara transit. Perhatikan jenis visa untuk negara transit, apakah harus membuat aplikasi langsung ke kedutaan, Visa on Arrival (VoA), atau e-visa. Misalnya dalam kasus saya di atas, saya menyiapkan visa Dubai.
Jika memang berniat jalan-jalan atau ke luar bandara negara transit, sebaiknya sudah tahu jenis moda darat yang akan digunakan. Sebaiknya hal ini dilakukan sebelum meninggalkan Indonesia. Kalau sudah di bandara negara asing baru mau mencari informasi, bisa-bisa terlambat tiba di bandara untuk penerbangan selanjutnya.

2) Pengumuman di Pesawat
Untuk maskapai penerbangan internasional, bahasa Inggris adalah bahasa utama yang digunakan. Jadi jangan kuatir tentang bahasa, kecuali bahasa Inggris kita nol besar. Jadi meski bahasa Inggris kita pas-pasan, kita masih bisa mengerti instruksi yang dimaksud. Jika kurang mengerti, tanyakan langsung ke pramugara atau pramugari yang bertugas. Umumnya pramugari dan pramugara penerbangan internasional sangat mengerti kendala bahasa, sehingga mereka bersedia menjelaskan dengan lambat dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Beberapa maskapai yang sering melayani orang Indonesia bahkan memiliki pramugari atau pramugara yang bisa mengerti bahasa Indonesia meskipun tidak terlalu fasih. Kalau pun ada yang fasih, biasanya karena pengalaman pribadi, misalnya pernah tinggal di Indonesia atau menikah dengan orang Indonesia.
Pengumuman tentang penerbangan transit, gate transit, atau hal lain berhubungan dengan penerbangan biasanya dilakukan 20-30 menit sebelum landing.
Di beberapa maskapai, mereka menawarkan makanan dengan cara menanyakan terlebih dulu apakah kita mau atau tidak. Sedikit berbeda dengan maskapai lokal yang umumnya langsung meletakkan makanan di atas meja lipat jika kita sedang tidur. Karena perjalanan yang jauh, jangan segan untuk meminta makanan atau minuman jika kita sedang tidur saat makanan atau minumam dibagikan.

3) Melihat Gate
Jika harus transit, maka kita harus menuju gate atau pintu masuk ke penerbangan berikutnya. Sebelum meninggalkan bandara, jika berniat jalan-jalan di negara transit, sebaiknya perhatikan gate penerbangan selanjutnya.
Gate penerbangan dicantumkan di papan tayang (billboard) seperti halnya papan tayang kedatangan dan keberangkatan pesawat di bandara-bandara kita. Biasanya menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa lokal (jika bahasa utama negara tersebut bukan bahasa Inggris). Sama seperti papan tayang di bandara-bandara kita yang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Biasanya yang ditayangkan adalah waktu boarding, kode penerbangan, negara tujuan, dan gate. Setelah tahu di mana gate yang harus dituju, barulah kita bisa meninggalkan bandara.

4) Pemeriksaan Passport
Passport control atau pemeriksaan passport terutama dilakukan jika kita akan meninggalkan bandara. Tetapi beberapa bandara di mana kita hanya transit juga memberlakukan hal ini. Jadi, selalu siapkan passport, boardingpass, dan visa. Saya selalu menyimpan ketiga berkas tersebut di sebuah dompet khusus yang hanya muat untuk itu, baru dimasukkan ke dalam handbag yang saya tenteng ke mana-mana.
Perhatikan pintu masuk pemeriksaan passport, apakah untuk penduduk lokal atau orang asing. Sama seperti pemeriksaan passport di bandara Indonesia, bandara-bandara luar negeri juga memberlakukan garis batas di mana penumpang berikutnya berdiri. Biasanya garis batas ini berwarna kuning, hitam, atau merah. Jangan sampai malu-maluin dianggap orang Indonesia ga ngerti antri.

5) Barang-barang yang Bisa Melewati Detektor
Setiap negara memberlakukan aturan yang berbeda, namun aturan umum di penerbangan biasanya berlaku untuk semua negara. Ada negara yang hanya membolehkan membawa barang-barang tertentu dalam jumlah sangat terbatas atau tidak boleh sama sekali. Orang Indonesia (terutama bapak-bapak nih) banyak yang terkendala dengan rokok.
Beberapa negara tidak membolehkan rokok dimasukkan ke dalam tas jinjing mau pun bagasi. Kalau pun boleh, jumlahnya terbatas dan kita harus mengisi kartu clearance. Jadi, sebaiknya membeli barang tersebut setelah melalui detektor. Biasanya di bandara-bandara internasional dijual rokok berbagai merk internasional.
Beberapa detektor tidak membolehkan air minum sama sekali, meskipun sebagian telah diminum, jika di kemasan tertera lebih dari 100 mL. Namun beberapa negara tidak mempermasalahkan hal ini. Namun secara umum, jika membawa peralatan mandi atau liquid lebih dari 100 mL dalam koper yang akan melalui detektor, sebaiknya diletakkan di bagian atas, sehingga mudah jika harus dikeluarkan. Hal sama berlaku untuk logam.
Pengalaman saya, oleh-oleh dari luar negeri berbahan logam yang lolos-lolos saja di bandara luar negeri, malah terdeteksi di bandara Soekarno-Hatta, sehingga saya harus membongkar bagasi saya.
Saya lebih suka memasukkan barang-barang ke dalam bagasi dan hanya menenteng satu tas tangan selama bepergian, Jadi bagasi hanya akan melewati detektor di bandara Indonesia dan mengambilnya di bandara negara tujuan saat tiba. Isi tas jinjing saya hanya sedikit alat make-up, sedikit camilan termasuk permen, HP dan headset, dompet berisi dokumen perjalanan.

Tentu saja jika lebih suka bepergian ke luar negeri sendirian seperti saya, maka mencari informasi sebanyak-banyaknya harus dilakukan sebelum berangkat, agar acara jalan-jalan tidak menjadi kacau, terutama jika itu untuk pertama kalinya.

Tulisan ini juga dapat Anda baca di http://www.kompasiana.com/wyddyer/penerbangan-ke-ln-dengan-transit_592afa4cd57a61415c600889

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s