Menaruh Harapan pada Mahasiswa

Saya terkaget-kaget membaca dan mendengar jawaban seorang mahasiswa -yang dinyatakan sebagai ketua panitia- tentang kegiatan mereka di sekitar rumah mantan presiden Susilo bambang Yudhoyono di awal bulan ini. Sama kagetnya saat mendengar jawaban atau tanggapan salah seorang politisi tentang keterlibatannya dalam kegiatan tersebut di salah satu stasiun TV nasional.

Berdasarkan berita dari beberapa situs online, secara garis besar pernyataan sang ketua panitia adalah mereka melakukan kegiatan itu hanya untuk senang-senang. Dan kegiatan yang melibatkan ratusan orang (mahasiswa) tersebut hanya berupa kegiatan membagi-bagikan selebaran.

Pertama: Hanya untuk senang-senang? Mengkritik atau menyatakan sikap yang berhubungan dengan negara ini hanya dijadikan kegiatan bersenang-senang? Mudah-mudahan tidak ada pemimpin negara ini yang mempunyai pikiran semacam itu. Dan mudah-mudahan mereka yang memiliki pikiran semacam itu tidak akan pernah menjadi pemimpin negara ini suatu hari nanti.

Kedua: Rumah Pak SBY berjarak cukup jauh dari lokasi jambore (kegiatan utama para mahasiswa tersebut). Pilihan macam apa yang ada di pikiran mereka sehingga harus mencari lokasi sejauh itu untuk ‘hanya’ membagi-bagikan selebaran? Saya bayangkan saya membagi-bagikan kertas ulangan para siswa di mall, padahal saya bertemu mereka setiap hari di sekolah. Tak terbayangkan alangkah bodohnya jika itu saya lakukan.

Saya bukan fans Pak SBY. Saya bahkan pernah menuliskan kritik di blog ini tentang beliau saat beliau masih menjabat sebagai presiden. https://wydpress.wordpress.com/2008/10/11/pria-indonesia-payah/

Tapi jika saya menjadi beliau, di depan rumah saya berteriak-teriak ratusan orang, tentu saya juga akan mencari tahu sebisa saya. Tentu untuk menjawab: siapa mereka, mengapa mereka melakukan itu, apa latar belakang mereka melakukan hal tersebut, dan tentu untuk mengetahui siapa orang-orang di belakang mereka (jika ada).

Mudah-mudahan tidak ada alumni sekolah kami yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Karena saya dan guru-guru di sekolah kami tidak pernah mengajarkan anak-anak menjadi orang-orang yang bertindak tanpa tahu apa alasannya.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s