Ahok, Muslim, dan Indonesia

(Aksi Damai 212: Ini Muslim Indonesia, Man!)

news.okezone.com

Tanpa bisa menolak, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok terlahir sebagai keturunan Tionghoa seperti kebanyakan masyarakat Bangka Belitung lainnya. Seperti Aa Gym bilang (saya tiba-tiba amat terkesan dengan beliau saat konferensi pers sebelum aksi 4/11) bahwa menjadi keturunan Tionghoa bukanlah salahnya Pak Ahok dan tak seorang pun yang berhak menggugat. Itu hak preogratifnya Sang Maha Pencipta.

Bahwa kemudian Pak Ahok juga terlahir di negara Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, juga bukan kesalahan beliau. Tak pernah ada seorang makhluk pun yang tahu di mana dia akan dilahirkan, sama seperti ketidaktahuannya di mana kelak akan meninggal atau dimakamkan. Hal-hal itu adalah rahasia Sang Maha Pencipta.

Namun bahwa beliau terlalu sering berkata-kata kasar, itu bukan salah siapa pun, melainkan pilihan dirinya. Biasanya terbentuk tidak dalam waktu singkat. Namanya karakter. Bagi sebagian orang, sah-sah saja beliau bicara kasar karena orang yang beliau maksud dalam pembicaraannya memang layak menerima kata-kata semacam itu. Biasanya karena yang dimaksud adalah orang-orang terdahulu yang bekerja ga sebagaimana mestinya, yang menyalahi aturan, menerima suap, memperkaya diri sendiri, atau semacam itu.

viva-co-id

Sekian bulan setelah Pak Ahok menjadi wagub DKI Jakarta dan populer, termasuk karena emosinya yang sering tak terkendali atau kata-katanya yang membuat gerah kuping sebagian orang, saya pernah dimintai tanggapan oleh seorang teman tentang hal tersebut. Saat itu saya hanya bilang bahwa terlepas dari latar belakang budaya atau kebiasaan yang membentuknya, melontarkan kata-kata kasar bukanlah hal yang dibenarkan oleh agama dan kepercayaan mana pun. Terlebih jika hal itu dilakukan seorang pejabat publik yang mungkin saja menjadi teladan atau ‘hero’  bagi sebagian anak-anak muda. Selain ga mendidik (maklum saya guru), meluapkan amarah dengan kata-kata kasar bisa menjadi salah satu tolok ukur kurangnya penguasaan diri sebagai orang dewasa. Bisa saja dia ‘jatuh’ karena kebiasaan buruk itu, kata saya waktu itu.

Tentu di luar dugaan saya bahwa Pak Ahok justru ‘jatuh’ (bukan dalam hal jabatan) karena sikapnya terhadap suatu agama. Saya ga mau berargumen apakah Pak Ahok melecehkan agama atau ga. Entah dilihat dari bahasa tubuhnya atau niatnya, saya ga peduli. Saya hanya melihat videonya di Youtube (kalau ga salah dari channel Pemrov DKI, saya ga terlalu memperhatikan, tetapi jelas bukan dari Facebook atau link Pak Buni Yani). Saya ga mau pusing dengan argumen orang lain bahwa Pak Ahok begini begitu.

Tapi bagi saya (berdasarkan video yang saya tonton), saya merasa cukup tersinggung dengan isi video tersebut. Mungkin bukan karena kata-katanya, tetapi karena kata-kata itu diucapkan seorang non Muslim yang ga tau apa-apa tentang Alquran yang saya cintai dengan segenap hati dan jiwa raga saya.

Di tanah kelahiran saya, bukan hanya satu dua orang yang bisa membaca Alquran dengan baik meskipun bukan seorang Muslim hingga akhir hayatnya. Kebiasaan dan lingkungan membuat mereka mengenal Alquran meskipun ga mengerti dan ga mengimani isinya. Dan sebagai catatan, sejumlah besar orang yang saya kenal juga memiliki latar belakang agama lebih dari satu jenis dalam keluarga besarnya. Saya termasuk salah satunya. Dengan latar belakang itu, toleransi saya (kami) sangat tinggi terhadap agama lain dan saya (kami) ga mudah tersinggung jika ada gurauan tentang agama. Tetapi Pak Ahok ga terlihat dalam konteks bergurau saat mengatakan pesannya dalam video tersebut.

palingseru.com

Saya – dan mungkin berjuta Muslim lainnya – boleh jadi bukan Muslim yang taat. Namun jika Alquran atau Rasulullah dilecehkan atau dihina atau diragukan kebenarannya, sikap sebagai Muslim menjadi jelas dan terang benderang. Kemarahan sebagai Muslim karena penghinaan tersebut tak bisa diukur dengan seberapa baik atau tidaknya seorang Muslim menjalankan agamanya.

Namun di atas semua itu, yang kemudian membuat saya lebih tersinggung sebagai bagian dari bangsa ini adalah mengapa Muslim sekian juta orang terpaksa harus turun ke jalan untuk meminta (mengemis) keadilan dan penghormatan atas agama Islam yang mereka anut? Bukankah negara ini berpenduduk Muslim terbesar di dunia? Bukankah umat Islam telah membuktikan diri sebagai garda terdepan memerdekakan negara ini? Bukankah para ulama dan tokoh-tokoh Islam adalah orang-orang pertama yang namanya tercatat memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini? Seberapa pentingkah dan hebatkah Pak Ahok sehingga beliau diperlakukan berbeda dengan terduga penistaan agama sebelum-sebelumnya (kasus Arswendo Atmowiloto mungkin paling cocok dengan kasus Pak Ahok)? Ada kepentingan apa atau siapa sehingga umat mayoritas negara ini harus meminta (mengemis) keadilan bagi kitab sucinya kepada para pemimpinnya yang katanya juga adalah Muslim?

Entah kehidupan beragama macam apa yang sedang kita pertontonkan kepada anak cucu kita.

 

Advertisements

One thought on “Ahok, Muslim, dan Indonesia

  1. Kebenaran mungkin bisa ditutup-tutupi di dunia tapi pengadilan akhirat akan menakar semua sesuai ukurannya. Berbuat baik sekecil apa pun adalah tugas kita sebagai umat manusia di dunia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s