Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Yuk, Nikah Mut’ah

Ada tawaran menarik dari seorang sahabat. Bayangkan, tiap bulan dikasih puluhan juta, dibelikan rumah gedong, plus plesiran dan belanja-belanja kapan mau. Wuiiiihhh… hampir saya mengiyakan.
Tapi syaratnya: menikah dengan dia dalam hitungan bulan, maksimum dua tahun. Kalau saya hamil, maka anak yang dilahirkan harus di bawah pengasuhannya. Wah, syaratnya ini yang sulit buat saya untuk mengiyakan menerima berbagai fasilitas yang akan diberikan. Kawin kontrak atau nikah mut’ah untuk beberapa bulan atau beberapa tahun: yes… no… yes… no… yes… no way.

Secara fisik, sahabat saya tergolong pria ganteng. Kulitnya putih bersih, perawakan sedang, rambut tebal sedikit berombak. Meski bahasa Indonesianya amburadul, tapi Bahasa Inggrisnya bagus, berpendidikan, kaya, pintar mengaji, mengerti banyak hukum agama Islam yang saya masih buta banget. Tapi ya itu tadi, dia berani merencanakan untuk melakukan kawin kontrak, sedangkan saya langsung mencari berbagai sumber untuk menguatkan penolakan, meski sudah tahu hukumnya haram.

Dari hasil obrolan dengannya, saya tahu bahwa banyak temannya yang melakukan nikah mut’ah dengan perempuan Indonesia, bahkan dalam hitungan waktu yang cukup ekstrim buat saya: seminggu. Saya bayangkan perempuan-perempuan yang melakukan nikah mut’ah dalam hitungan minggu, berarti bisa memiliki ‘suami’ beberapa orang dalam satu bulan. Bisa jadi belasan atau puluhan ‘suami’ dalam satu tahun! Lah, apa bedanya dengan pelacur?

Mengapa sahabat saya atau pria-pria temannya tidak memilih menikah secara legal? Ada beberapa alasan. Pertama, ada yang memiliki istri di negaranya sana. Kedua, mereka memerlukan ‘penyaluran hasrat seksual’ selama di negara ini saat istrinya jauh di negara asalnya. Ketiga, mereka memiliki uang, tapi menginginkan pelayanan seksual, hanya ‘rada’ takut dengan hukum Tuhan. Jadi, hukum Tuhan diakali agar terlihat ‘legal’. Keempat, ini khusus untuk kasus sahabat saya, penolakan saya membuatnya menawari ‘kerjasama’ menguntungkan. Semacam simbiosis mutualisme, katanya.

Dia sahabat paling gila yang pernah saya kenal. Heran, kok bisa-bisanya saya bersahabat dengan dia selama sekian tahun?!?!

6 December 2014 - Posted by | Opini | , , ,

5 Comments »

  1. Mirip Aliran tertentu, bu?

    Comment by Hafid Algristian, dr. | 29 January 2015

  2. hmmm,,, temennya itu orn WN mana klo boleh tahu mba?
    Dan wanita2 yg jd istri kontraknya?

    Comment by Goda-Gado | 26 March 2015

  3. @Goda-Gado: Teman saya WN Saudi. Teman2nya mengawini wanita2 dari beberapa daerah di Jawa Barat. Mungkin sebaiknya saya tidak menyebutkan nama2 daerahnya di sini, ntar kayak iklan buat ‘memasarkan’ wanita2 yg mau diajak kawin kontrak.

    Comment by wyd | 26 March 2015

  4. ikutin aja mbak…. mumpung di bayar

    Comment by Anonymous | 7 June 2015

  5. Aku bisa ngga melamar untuk semalam….?
    Pasti puas…. Karena isteri gwe lagi ke Singapura….

    Comment by Anonymous | 24 June 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s