Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Palembang Today: Smog

Jpeg

Jangan mencari perumahan dengan lingkungan berupa tetumbuhan hijau menjulang di Palembang karena Anda tak akan menemukannya. Pembangunan telah melenyapkan pepohonan di pinggir jalan atau di perumahan. Kalau pun masih ada di beberapa ruas, jumlahnya bisa dihitung jari tangan, atau berupa tanaman hias yang tak seberapa tinggi. Maka saat smog (asap kabut) kiriman kota lain menyerang Palembang, masyarakat tak bisa berbuat banyak. Mengalihkan aktivitas outdoor menjadi indoor tak selalu bisa dilakukan. Tak mungkin juga hanya berdiam diri di rumah dan meliburkan semua aktivitas. Akibatnya, tak peduli bayi, anak-anak, dewasa, maupun orang-orang lanjut usia terpaksa berusaha bersahabat dengan asap yang menyesakkan dada dan merusak paru-paru.

Penderita asma seperti saya tak punya pilihan selain berusaha menghindari keluar ruangan. Saya harus merasakan nyeri di tenggorokan jika terpaksa bernafas melalui mulut, karena hidung tak cukup kuat mengambil oksigen di antara asap tebal.

Serangan sesak luar biasa hingga rasanya nafas akan terhenti, saya rasakan lebih dari sekali sejak 2 minggu terakhir. Pemakaian masker tak bisa saya lakukan kecuali dengan mulut terbuka. Tentu bernafas melalui mulut dalam smog lebih beresiko dan bikin terengah-engah. Inhaler dan oksigen tambahan terpaksa saya pakai melebihi dosis yang disarankan.

Jadi jangan heran beberapa kali saya mengeluh soal perhatian pemerintah daerah maupun pusat pada rakyatnya. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang mengeluarkan ‘warning’ AQI atau level kualitas udara saat terjadi kabut asap, pemerintah negara ini seolah tak peduli. Padahal efek smog tak hanya buruk bagi kesehatan fisik, tetapi juga menurunkan kecerdasan manusia.

Jangan heran juga saya beberapa kali menyatakan betapa primitifnya sebagian masyarakat Indonesia yang masih melakukan pembakaran sebagai upaya pembukaan lahan pertanian. Kalau soal kebakaran hutan karena gesekan kayu, batu, atau daun-daun kering, saya bisa mengerti. Tapi pembakaran hutan dengan sengaja??? Entah di mana para pelakunya menaruh otak mereka. Sungguh mereka tak punya perasaan telah menyakiti – dalam arti sebenarnya – orang-orang lain dan masyarakat global.

PS. Foto diambil pada hari Senin, 13 Oktober 2014 jam 7.45 pagi. Jarak pandang kurang dari 50 meter. Foto diambil sebelum persimpangan lampu merah tapi Anda tak akan melihat warna lampu hijau sebelum mendekati jarak 10 meter.

13 October 2014 - Posted by | Umum

1 Comment »

  1. Wahh.. bahaya banget ini sih.

    Saya heran kenapa sih gak ada yang bisa menangkap pelakunya

    Comment by krisnadwi | 25 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s