Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Muslim Melecehkan Muslim

clipartbest

Anda bisa membaca beberapa tulisan saya sebelum ini mengenai latar belakang agama saya hingga saya tiba di pilihan ini. Saya tidak bermaksud mendeskritkan Muslim di Indonesia tetapi tulisan ini berdasarkan pengalaman saya. Kalau ada yang berbeda, kalau menurut Anda sikap-sikap yang saya temui hanyalah oknum, sayangnya saya bertemu terlalu banyak ‘oknum’, sehingga seperti inilah tulisan ini dibuat.

Belum semua anggota keluarga saya menjadi Muslim. Saya tentu tak bisa memaksakan keyakinan saya kepada mereka, terutama untuk yang sudah dewasa. Kecaman pedas sering saya dengar, salah satunya: ‘Ibu macam apa kamu, membiarkan anakmu tetap non-Muslim?’

Ketika mendengarkan orang-orang membaca bacaan tertentu setelah sholat, saya meminta seorang teman – yang sering kali menjadi penceramah atau imam sholat Jumat – untuk memberitahukan saya di mana saya bisa menemukan bacaan itu. Karena saya ingin membaca seperti yang orang-orang lain baca. Jawabannya: ‘Masa’ bacaan itu aja ga bisa?’

Karena putra saya dibesarkan dalam lingkungan separuh Muslim, saya mati-matian menyekolahkannya di SD Muhammadiyah, agar dia memiliki dasar agama. Seorang teman Muslim bilang: ‘Hari gini kok memilih pendidikan berbau agama? Sekolah internasional lah.’

Saat Ramadhan tiba, saya selalu terlihat sama seperti di waktu-waktu lain. Saya tak pernah mengeluhkan haus meski saya harus mengajar dari jam 7 sampai jam 5. Karena puasa saya kan bukan puasa anak kecil lagi yang hanya menahan haus dan lapar. Ini persepsi saya. Tapi hal ini seringkali dikomentari sedikit negatif (bukan dalam konteks bercanda), misalnya: ‘Dia kan di sini aja puasa. Sampe rumah langsung minum, makanya kuat.’

Ketika membaca surah Yaasin di beberapa kesempatan (di kota saya tinggal sekarang apa-apa dibarengi membaca surah Yaasin), saya bilang bahwa saya ga hafal, maka perlu Alquran sebagai pegangan. Seorang teman bilang: ‘Saya aja yang jarang ngaji, masih hafal Yaasin.’ Seorang lainnya berkomentar: ‘Udah, jangan maksain diri, memang bagianmu cuma di kimia.’

Islam itu indah. Itu yang diperkenalkan kepada saya. Saya belajar dari ‘teman-teman’ sunni maupun sitte (syiah) dari berbagai negara, beragam ras, bermacam aliran. Semua mengajarkan Muslim itu bersaudara. Tetapi kenyataannya, Muslim yang saya temui di lingkungan saya, seolah mengharuskan saya berpikir kembali untuk menyatakan keislaman saya, kecuali jilbab.

Tidak mudah menjadi Muslim di antara lingkungan Muslim yang nenek moyangnya Muslim. Saya sudah terlalu sering dianggap seperti alien yang turun dari belahan bumi yang lain hanya karena keislaman saya berbeda. Di Ramadhan ini, saya berharap saya bisa menjadi Muslimah yang lebih baik, tanpa peduli apa kata orang tentang keislaman saya.

30 June 2014 - Posted by | Agama

3 Comments »

  1. Sabar ya, Bu.
    Biar oknum itu menilai di dunia/kulitnya saja.

    Sementara yang menilai kesungguhan dan ketaqwaan Ibu sebenarnya adalah Allah.

    Comment by catbitesyourtongue | 10 July 2014

  2. setuju. paragraf terakhir.
    manusia kadang suka berlebihan dengan menilai keislaman orang lain, kalau tidak nurut langsung dibilang blablbla

    intinya tetep melakukan yang terbaik dan bermanfaat untuk orang banyak
    ingat kata ustadz semalem, keberkahan allah itu gak ada yang tau datangnya kapan dan saat kita lagi ngapain.

    Comment by Rivanlee | 14 July 2014

  3. kalau nurutin omongan ga bakal ada habisnya, maam. toh pada akhirnya, keislaman kita yang menilai cuma Allah, kan.

    Comment by ara | 29 October 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s