Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Kerusuhan Mei 1998 dalam Ingatan

Kerusuhan Mei 1998 adalah salah satu bagian dalam catatan kehidupan saya. Saat itu kami tinggal di lingkungan orang-orang keturunan Tionghoa. Salah satu alasan mengapa kami memilih tinggal di situ adalah karena kesamaan latar belakang. Saat itu saya juga masih disibukkan mengantar putra bungsu saya yang masih TK nol kecil.
airplane_vortex - wikipedia
Satu hari setelah penjarahan toko-toko di pusat bisnis di kota Palembang, tetangga-tetangga kami menjadikan rumah-rumah mereka sebagai gudang penampungan barang-barang dari toko-toko mereka di pusat bisnis. Barang-barang itu diangkut ke rumah-rumah menggunakan truk-truk dan pickup setelah maghrib usai. Tetangga depan rumah saya yang putrinya menjadi salah satu karyawan swasta, merelakan bosnya menggunakan rumah mereka sebagai gudang.
Saya sempat bertanya padanya apakah dia merasa lingkungan kami akan aman karena justru isu ras keturunan Tionghoa yang berhembus saat itu. Entah mendapat ide darimana, tetapi semua tetangga kami meyakinkan saya bahwa lingkungan kami aman, karena berada di lorong temaram dengan satu pintu keluar. Rumah-rumah kami berada tepat di tengah-tengah rumah-rumah penduduk lokal.

Masih pada satu hari setelah kerusuhan, saya dan putra saya makan bakmi di warung depan yang mengarah ke jalan raya. Tempat usaha kami berada di depan warung kecil itu, sedangkan lorong menuju rumah kami berada di sebelah kiri warung (di depan tempat usaha kami). Saat itu hanya ada tiga orang pengunjung ditambah dua orang penjual dan pelayan. Sedang enak-enaknya menikmati makanan, seseorang datang terburu-buru dan berbicara kepada pemilik warung dengan serius. Lalu pemilik warung bicara pada kami bahwa dia akan menutup warungnya segera. Pembeli pria yang telah menyelesaikan makannya, segera membayar dan berlalu. Karena putra saya terlihat sangat menikmati makanannya, pemilik warung yang sudah kami kenal dengan baik membiarkan dia menghabiskan bakminya.

Beberapa meter dari warung, ketika saya dan putra saya berjalan menuju lorong yang berpenerangan minim, saya mendengar suara mobil truk berhenti di depan tempat usaha kami, atau tepat di belakang kami. Beberapa belas atau mungkin dua puluhan pria turun dari truk dan segera berpencar, termasuk memasuki tempat usaha kami yang memang tidak berpagar. Saat itu rata-rata tempat usaha di daerah itu memang tidak dipagari.

Karena mereka diterangi cahaya lampu jalan, sedangkan kami berada di tempat yang jauh lebih gelap, maka saya bisa melihat mereka dengan jelas. Bahwa tidak seorang pun di antara mereka berambut gondrong, memang benar. Bahwa mereka terlihat mengenal daerah sekitarnya, sepertinya iya. Bahwa mereka tidak berseragam, iya. Saya tidak ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan, kecuali segera tiba di rumah dan mengunci pintu serta jendela rapat-rapat.

Isu yang terdengar keesokan paginya adalah akan adanya perusakan milik orang-orang keturunan Tionghoa di daerah kami. Hingga sore saya masih membahas isu itu dengan tetangga depan yang rumahnya jadi gudang barang bos putrinya. Hari-hari itu kami lebih banyak berkumpul sesama tetangga, saling meredakan rasa tak aman yang entah mengapa terasa mencengkeram, meski tak ada yang terjadi di depan mata kami.

Menjelang maghrib, saya berpapasan dengan seorang anggota ABRI (mengenakan kaus loreng dan sepatu lars, bertubuh tegap dan rambut cepak, serta handy talky di tangannya). Pria itu terlihat ramah karena sempat menyapa putra saya dan berbincang sambil lalu dengan saya sekedar menanyakan di mana rumah saya. Saya sempat menanyakan apakah dia sedang mencari rumah seseorang. Jawabannya: ‘Hanya jaga-jaga, Bu. Maklum suasana lagi begini.’ Saya juga sempat bertanya apakah dia polisi (Saya ga bisa membedakan loreng polisi dan tentara). Jawabannya: ‘Saya tentara, Bu.’

Malamnya saya mendengar beberapa pria dengan HT di tangan dan suara-suara HT yang berisik mondar-mandir di sekitar rumah, termasuk di halaman rumah kami. Saya menduga mereka adalah pria tadi sore dan beberapa lainnya. Saat saya terbangun tengah malam, berisik suara HT sudah jauh berkurang meski sesekali masih terdengar orang bicara melalui HT.

Keesokan paginya kami mendengar bahwa terjadi kerusuhan disertai pembakaran di pusat bisnis. Pagi itu juga kami mengikuti langkah beberapa pemilik usaha di sekitar kami yang mengecat dinding tempat usahanya dengan tulisan teramat besar: MILIK MUSLIM. Kami juga mengikuti apa yang dilakukan tetangga-tetangga pemilik tempat usaha lainnya, yaitu menutup tempat usaha kami hingga seminggu ke depan.

Karena isu rasial itu, kami menaruh sajadah di dashboard belakang mobil, sesuai saran beberapa orang. Dengan alasan wajah, warna kulit, dan tak mengenakan jilbab, saya diminta tetap berada di dalam mobil jika harus bepergian di pusat-pusat keramaian. Saya dikabari bahwa banyak anggota keluarga teman-teman saya yang keturunan Tionghoa meninggalkan Jakarta dan kembali ke tempat asal kami (saya pendatang di Palembang). Mereka datang mengenakan pakaian Muslimah dan berjilbab.

Di tempat asal kami, tak pernah terjadi benturan kebudayaan, karena rata-rata penduduk memiliki darah Tionghoa. Tak seorang pun dari kami memikirkan tentang darah keturunan. Tak seorang pun tersinggung jika ada yang berbahasa Hokkian di antara kami. Tak seorang pun yang merasa bukan Bangsa Indonesia. Bahkan kami (termasuk teman-teman saya yang hanya berdarah Tionghoa murni) dengan enteng mengatakan “Dasar Cina’ pada Liem Sui Liong, pengusaha Cina yang sukses menggerogoti Indonesia. ‘Orang tua angkat’ saya (seperti itulah saya mengenalnya karena kemiripan wajah kami) di kota asal saya adalah seorang pria Tionghoa penjual ikan yang sangat tak fasih berbahasa Indonesia. Beberapa anggota keluarga dekat saya saat kerusuhan itu terjadi, ada yang masih menetap di Tiongkok dan Taiwan.

Setelah kerusuhan disertai pembakaran di pusat bisnis, saya dan tetangga-tetangga sepertinya mengandalkan para anggota ABRI menjaga lingkungan kami. Meski ketakutan dan suasana tak menentu terasa masih menyebar, pria-pria ber-HT tetap melakukan kegiatan yang sama di lingkungan kami sampai sekitar seminggu lamanya.

Saya tak pernah berkomentar saat rekan-rekan guru di tempat saya mengajar mengatakan anggota-anggota ABRI-lah yang yang membakar dan merusak pusat bisnis. Saya tak pernah menjadi saksi langsung kejadian itu. Saya hanya mendengar cerita-cerita heboh-sadis orang-orang yang mendengar dari orang-orang lainnya, bahkan dari sumber yang tak lagi jelas atau dari media, tentang kejadian itu. Saya bahkan tak mendengar ada di antara ribuan teman-teman Tionghoa dari tempat asal saya (yang mayoritas menetap di Jakarta), menjadi korban.

Bahwa adanya kepulangan besar-besaran oleh keluarga warga Tionghoa ke tempat asal kami di hari-hari mencekam tahun 1998, memang benar begitu. Bahwa ada pengrusakan dan aksi pembakaran di pusat-pusat bisnis dan keramaian, tak dapat dipungkiri. Bahwa sejumlah korban, mungkin ribuan jumlahnya, telah kehilangan nyawa saat kerusuhan disertai kebakaran atau pembakaran, itu jelas terlihat. Bahwa ada aktivis (mahasiswa maupun lembaga) yang tewas atau hilang bahkan tak diketahui keberadaanya hingga hari ini, tak ada yang bisa menyangkal. Bahwa kasus ini tidak pernah tuntas hingga detik ini, itulah faktanya. Namun asumsi, opini, prasangka atau tuduhan-tuduhan bukanlah sebuah pembenaran untuk menyelesaikan rahasia besar di balik chaos 1998. Saya ga tertarik membaca publikasi apa pun yang dimuat di media mana pun jauh setelah kejadian itu terjadi.

Maka saya hanya tersenyum miris ketika membaca komentar seorang pria muda yang mengaku mahasiswa di media online, yang menghujat seorang tokoh politik dengan kata-kata teramat kasar (si tokoh berusia 60an) dan menuntut pertanggungjawaban beliau atas hilangnya ‘teman-teman’ mahasiswanya. Pikir saya, jika sekarang pemuda itu ‘masih’ berstatus mahasiswa, maka pada tahun 1998 kemungkinan besar dia masih duduk di bangku TK atau SD (seusia putra bungsu saya yang sekarang telah tiga tahun menjadi mahasiswa). Tentu deretan orang-orang yang bercerita kepadanya dari sumber orang-orang lain yang bercerita kepada orang-orang itu, jauh lebih panjang dan jauh lebih kabur dari orang-orang yang bercerita langsung kepada saya. Karena itu saya tak habis pikir bagaimana generasi muda yang tak tahu apa-apa bahkan masih ingusan di saat kejadian itu terjadi, bisa menyimpan dendam dalam hatinya.

Namun kalimat-kalimat yang dipilihnya untuk menghujat sang tokoh yang (mungkin) seusia kakeknya, membuat saya lebih prihatin akan nasib bangsa ini. Generasi seperti inikah yang akan memimpin bangsa ini kelak?

Saya bandingkan kasus pria muda itu dengan kakak perempuan saya yang lahir tahun 1966, enam bulan setelah peristiwa G30S/PKI. Dia tidak pernah menyimpan kebencian pada teman-temannya yang kebetulan orang tua mereka pernah dipenjara karena diindikasikan atau memang terlibat langsung G30S/PKI. Saya dan teman-teman tak berpikir untuk bermusuhan dengan teman-teman yang orang tuanya dicap ‘merah’, bahkan teman yang orang tuanya adalah ‘gembong’ PKI. Kami tidak pernah diajarkan membenci teman-teman kami atau orang-orang tua teman-teman kami. Yang kami pelajari adalah membenci kejahatan yang telah mereka lakukan di masa lalu. Yang kami pelajari adalah memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki diri.

13 May 2014 - Posted by | Opini | ,

4 Comments »

  1. Ini artikel yg bagus untuk pembelajaran pendidikan politik indonesia.

    Itulah bu, saya sendiri menjadi saksi atas kerusuhan Mei 98, bahkan saya ada diatas jembatan penyeberangan diatas kampus trisakti dimana PHH berkerumun diatas jembatan (kantor saya ada di tomang dan saya baru pulang dari Kalideres). Semua orang di atas jembatan disuruh turun oleh PHH tapi saya tidak ditegur, mungkin karena celana saya coklat dan rambut saya cepak. tapi saya langsung jalan kearah tomang dan tidak tahu lagi siapa yg menembak mahasiswa itu.
    malam kerusuhan saya ke tomang dan melihat situasi, kantor saya kena dijarah perusuh. Saya tidak ikut dalam kerusuhan itu karena saya masih berpegang atas ajaran agama Islam yg saya anut. Bahkan ada orang Tionghoa di daerah kami yg dilindungi warga kami. Makanya daerah kami aman dari para perusuh disamping daerah kami diapit oleh lima komplek militer berbagai angkatan.

    Yang kita perlu tanyakan, kenapa Panglima ABRI/TNI dan perwira tinggi ABRI/TNI lainnya berada di Malang Jawa Timur saat kerusuhan tersebut berlangsung (Presiden sedang berada di Mesir), malah panglima Kostrad mendatangkan pasukannya ke Jakarta dengan biaya sendiri menyewa pesawat (Panglima ABRI tidak mau meminjamkan pesawat Hercules) untuk membantu Kodam Jaya mengatasi kerusuhan. Itu hal-hal yg menjadi gelap dalam sejarah Indonesia sebagaimana G30S 1965.

    Kalau kita belajar dari sejarah siapa yg difitnah dan siapa yg memfitnah, maka kita akan tahu siapa pilihan kita pada Pemilu Presiden nanti. Makanya ada Dewan Jendral yg ketakutan jika Jendral yg dipecatnya jadi Panglima Tertinggi TNI, hehehhe😀

    Comment by bejo | 31 May 2014

  2. @bejo: buat saya ga sekisruh itu kok permasalahannya. Semua saksi kan udah di-record. Rekaman kesaksian mereka, termasuk Prabowo dan anak buahnya yang akhirnya pada dipecat, kan lengkap. Harusnya masih lengkap sampai sekarang. Buka aja secara transparan. Bangsa ini kan mau tahu kebenarannya, ending-nya. Soal kesalahan itu harus ditimpakan kepada siapa, Itu kan sejarah bangsa, belasan tahun yang lalu. Jamannya beda saat itu, kita semua tahu itu. Mengapa kita ga berbesar hati belajar dari sejarah.

    Soekarno juga dinyatakan bersalah di jamannya sehingga Bung Hatta memilih mundur dan akhirnya Soekarno ‘digulingkan’. Tapi Soekarno adalah Sang Proklamator. Kita bisa melupakan kesalahan-kesalahannya.

    Kalau orang bilang, itu terlalu mudah karena saya bukan keluarga korban. u know what, andai pun iya, andai pun ada keluarga saya yang menjadi korban, dan itu untuk kebenaran (dalam versi saya), maka kebanggaan saya pada penegakan kebenaran yg dilakukan si korban (keluarga saya), ga akan saya sia-siakan dengan meminta nyawa orang yang kemudian terbukti sebagai dalang. Ini bukan soal pembunuhan untuk merampok, atau perkosaaan karena kelainan seks…. Ini adalah sejarah bangsa. Bukan soal pelakunya siapa, tapi soal apa yang sebenarnya terjadi. Menurut saya, politik bermain terlalu besar dalam kasus ini.

    Sebuah revolusi, sekecil apa pun, pasti ada yang harus menjadi korban. Sang pahlawan saat itu mungkin bukan pahlawan sebenarnya, tapi mengetahui kebenaran suatu ending sejarah, itulah namanya kita bisa besar karena mau belajar dari sejarah bangsa.

    Peace….! I’m proud of being an Indonesian.

    Comment by wyd | 31 May 2014

  3. Blognya Keren dan Salam Kenal

    Blogwalking Web Kimia SMK Asyik
    Di
    http://www.trigpss.com/

    Comment by trigoesema | 17 June 2014

  4. saat 98, saya masih SD. cuma waktu itu heran aja, orang tua saya pulang lebih cepat..

    Comment by Rivanlee | 30 June 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s