Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Jokowi atau Prabowo atau…???

forumkeadilan.com-jokowi dan prabowo

Saya menulis ini sebelum Pemilu Legislatif (Pileg) karena pilihan saya (satu suara) akan mempengaruhi calon presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres). Itu karena adanya ketentuan minimal 20 persen suara untuk mengajukan calon presiden di Pilpres. Pilpres lebih menarik minat saya dibandingkan Pileg. Saya kok ga bisa lagi percaya janji-janji manis para legislator, tapi masih berharap ada seorang pemimpin hebat yang bisa membawa negara ini lebih besar.

Dalam tulisan ini hanya dibahas dua orang kandidat karena hanya dua orang ini pilihan alternatif yang mungkin buat saya (Di antara capres yang sudah diumumkan. Ga termasuk yang masih akan konvensi). Saya bukan fans Jokowi maupun Prabowo. Saya ga pernah tertarik menjadi simpatisan PDIP maupun Gerindra. Saya ga pernah berpikir untuk menghadiri kampanye PDIP, Gerindra, atau partai mana pun. Saya bahkan ga hafal nomor PDIP, Gerindra, atau partai lain dalam surat suara yang akan dicoblos. Tapi bukankah saya harus memilih?

Jokowi yang digaung-gaungkan cocok sebagai the next president akhirnya terbukti menjadi calon yang diusung partai banteng berhidung putih itu. Kedua kandidat itu, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subiyanto,  saya ulas di sini sesuai alfabet nama mereka.

maslondo.blogdetik.com-jokowi

Jokowi for President

Buat saya, Jokowi terlalu ‘dini’ dicalonkan sebagai orang nomor satu di republik ini. Kinerjanya sebagai gubernur DKI Jakarta belum selesai, belum terlihat pembuktian yang bisa bikin lawan-lawan politiknya mengkeret. Kasus terakhir malah kurang enak didengar: salah seorang tim suksesnya di Pilgub DKI justru terindikasi korupsi. Padahal korupsi adalah salah satu masalah besar yang dulu dicita-citakannya untuk dibumihanguskan dari Jakarta.

Namun figurnya yang ‘bersih’ (setidaknya itu yang digambarkan oleh media-media online) merupakan magnet kuat penarik suara untuk partai pengusungnya. Saya pribadi memberikan apresiasi sangat tinggi pada pemimpin atau calon pemimpin yang bersih.

Dilihat dari usinya, Jokowi masih punya waktu untuk menjadi kandidat lima tahun lagi, jika sepak terjangnya tak berubah. Saya lebih suka beliau membuktikan kinerjanya sebagai gubernur DKI Jakarta dengan ‘memperbaiki’ Jakarta terlebih dahulu. Jokowi belum memiliki pengalaman di tingkat nasional. Paling tidak itu yang saya telusuri dari berbagai informasi yang tersedia. Selain, Ahok-Basuki Tjahaya Purnama yang keras tentu lebih cocok disandingkan dengan orang berpenampilan lembut dan murah senyum seperti Jokowi. Karena tak semua orang bisa dan terbiasa bekerja dengan gaya ‘koboi’ Ahok plus kata-katanya yang ‘garang’.

Secara kelembagaan, saya kurang sreg membaca berita-berita tentang kepatuhan Jokowi kepada pemimpin PDIP Megawati Soekarnoputri. Saya tak mempermasalahkan Bu Mega-nya, tetapi sikap itu bisa menjadi bumerang jika Jokowi terpilih sebagai presiden. Karena seorang presiden harus melepaskan diri dari keterikatan dengan partainya dalam menjalankan tugas, kebijakan partai, dan apa pun yang berhubungan dengan partai dalam konteks statusnya sebagai presiden. Sampai saat saya menuliskan tulisan ini, saya melihat sikap kepatuhan beliau masih terlalu mencolok sebagai calon orang nomor satu negeri ini.

Sekian bulan lalu, saat ditanya tentang kemungkinan menjadi capres, Jokowi selalu berkata bahwa tugasnya adalah mengurusi Jakarta, mau fokus membangun Jakarta, dan seterusnya. Berdasarkan kata-katanya, beliau ingin menyelesaikan amanah yang dibebankan di pundaknya sebagai gubernur DKI Jakarta. Entah karena alasan tingginya elektabilitas Jokowi sebagai presiden, mendongkrak suara partai, atau hal lain, saya ga bisa memandang kagum pada orang yang menjilat ludahnya sendiri. Namun sifatnya yang merakyat dan berani turun langsung menemui warganya, patut diacungi jempol. Saya ga melihat ada gubernur daerah lain yang melakukan hal yang sama secara konsisten, setidaknya berdasarkan berita-berita yang saya baca/dengar.

indonesiatrending.blogspot.com-prabowo

Prabowo for President

Stigma Prabowo Subianto sebagai dalang kerusuhan Mei 1998 seperti yang dilansir banyak media di masa-masa itu, tak membuat saya lantas percaya bahwa dia paling bersalah dalam kasus itu. Dia dipecat dari Danjen Kopassus oleh mertuanya sendiri, Presiden Soeharto, dengan berbagai alasan yang beragam dari sumber beragam. Akhir dramatis tragedi 1998 yang diikuti pemecatan dirinya sebagai jenderal aktif oleh Presiden Habibie yang menggantikan Soeharto, bukanlah bukti bahwa beliau adalah orang paling bertanggungjawab dalam tragedi tersebut. Saya bisa melihat loyalitasnya kepada pimpinan, atau kepada bangsa dan negara. Saya selalu mengagumi orang-orang yang memiliki jiwa patriotik yang membara, kebanggaan nasionalis yang tinggi, dan idealisme yang kokoh. Namun sebagai bagian dari saksi hidup yang ikut merasakan ‘ketakutan’ 1998, saya tentu ingin mendengar langsung penjelasan beliau. Bukan untuk menghakimi, tetapi lebih untuk melegakan hati. Paling tidak, saya perlu ‘a clear closing case’ untuk kerusuhan yang nyata-nyata menelan korban namun ga pernah ada pengadilan terhadap pelaku. Jangankan mengadili pelaku, hingga hari ini ga pernah ada nama tersangka, meski satu orang.

Jika Prabowo memilih menjadi orang yang dianggap paling bersalah dalam tragedi itu, untuk menjaga keutuhan institusinya, sebagai tameng anak buahnya, alasan stabilitas, atau alasan lainnya, saya seharusnya memberikan apresiasi tinggi. Ga mudah memberikan kepala untuk dipenggal demi menanggung kesalahan orang lain. Meski efeknya tentu sangat tak mengenakkan, antara lain beliau menjadi bulan-bulanan para komentator di berbagai media online. Sebagian pihak menyebut beliau sebagai penjagal, bertanggung jawab atas kematian sekian nyawa, kejam, ambisius, anti Tionghoa, jenderal pembunuh, dan sebagainya. Namun apresiasi atas tindakannya menjadi tumbal atau apa pun itu (andaikan benar), tak ada artinya dibandingkan menyatakan kebenaran (setidaknya dari sisi beliau). Buat saya, kebenaran seharusnya diungkapkan, sepahit apa pun resikonya, sebesar apa pun beban yang kemudian harus ditanggung, namun akan dicatat dengan benar dalam sejarah bangsa dan kehidupan.

Mengenai ‘pelariannya’ ke luar negeri, terutama Yordania, lebih dari setahun setelah drama 1998 berakhir, saya tak menilainya sebagai hal negatif. Saya akan mengambil keputusan yang sama jika saya berada pada posisi beliau. Bayangkan, Prabowo selalu bangga dan dibanggakan oleh Kopassus, sangat bersinar di ABRI, eh malah ternyata ‘dihabiskan’ nama baiknya oleh lembaga yang sama. Keluarga tempatnya bernaung justru mempertontonkan kepada dunia luar bahwa dia dianggap ‘berkhianat’ kepada keluarga. Jangankan mengharapkan perlindungan, tidak dibantai lebih buruk pun sudah syukur.

Soal beliau tidak memiliki pendamping, menurut saya bukanlah suatu masalah besar. Etisnya memang sebaiknya seorang kepala negara memiliki ibu negara. Bukan soal darma wanita atau apa pun namanya, karena untuk itu sudah ada bagian yang mengurusnya. Buktinya, waktu Megawati menjadi presiden, tak lantas suaminya Taufik Kiemas menjadi pimpinan darma wanita kepresidenan, kan? Saya lebih memilih seorang presiden yang bisa menjadi pemimpin yang baik meski tanpa pendamping, dibandingkan seorang presiden yang ribet plus ibu negara yang sok sosialita. Atau kasarnya, saat membahas suatu kasus, saya pernah bilang begini pada partner saya: saya lebih menghormati pria impoten yang percaya diri dan lurus hidupnya, daripada laki-laki sehat dengan penis hebat tetapi menyelingkuhi rumah tangganya.

Jokowi Vs Prabowo

Berikut ini daftar panjang perbandingan yang saya buat untuk Jokowi dan Prabowo sebelum saya menentukan pilihan akhir di Pileg.

1. Jokowi terlalu patuh pada ketua umum PDIP sehingga bisa menjadi bumerang jika kelak menjadi presiden. Bahkan di iklan TV, PDIP menampilkan Megawati dan putrinya Puan Maharani, bukannya Jokowi. Prabowo menang untuk hal ini.

2. Prabowo terlibat kasus 1998 yang tak pernah diungkap ujungnya. Sedangkan Jokowi pernah mendapat gelar Walikota Terbaik meski lewat versi lembaga yang kurang jelas, serta sepak terjangnya selalu ‘bersih’ di berbagai pemberitaan. Untuk hal ini, Jokowi pemenangnya.

3. Keterlibatan dalam skala nasional, Jokowi belum memiliki rekam jejak satu pun. Level tertinggi beliau adalah skala gubernur, itu pun belum tuntas. Di partainya, nama Jokowi tak pernah terdengar sebelum beliau menjadi kandidat Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan Prabowo telah terbukti mengabdikan diri menjadi pemimpin sebuah ‘organisasi’ besar, telah berhasil menaklukkan ‘even’ berskala internasional (operasi Mapenduma, pembebasan sandera dari pembajakan pesawat Woyla, dan lain-lain), beliau adalah ketua pembina (pemimpin tertinggi) sebuah partai, menjadi ketua ini itu untuk skala nasional, ‘blusukan’-nya sudah ke berbagai daerah dan pelosok di Indonesia, koleganya dari berbaga negara, dan sudah terbiasa menghadapi publik dan media dalam skala nasional dan internasional. Untuk hal ini, Prabowo jauh lebih menjanjikan.

4. Melakukan affair dengan wanita di luar rumah tangganya, sepertinya jauh dari pikiran Jokowi. Sepertinya beliau tipe pria yang mengagungkan perkawinan dan menghormati pasangan. Sedangkan perceraian Prabowo meski bisa dimaklumi dengan sangat, ketiadaan pendamping menjadi poin lemah. Berdasarkan informasi di berbagai media sesuai pengakuan Prabowo, beliau harus rela melepaskan istilah ‘jagoan ranjang’ sebagai buah dedikasinya sebagai prajurit. Artinya, baik Jokowi maupun Prabowo tidak menunjukkan indikasi akan terlibat affair dengan wanita di luar perkawinan.

5. Kemungkinan korupsi? Jokowi memang masih terbilang ‘miskin’ tetapi gaya hidup sederhana yang diperlihatkannya mudah-mudahan tak menggiringnya ke arah sana. Sedangkan Prabowo sudah kaya raya, putranya hanya satu (sepertinya tak tertarik jabatan penting di negara ini), mudah-mudahan bisa tetap fokus pada impian-impian besarnya menjadikan negara ini macan asia. Menjadi macan asia tentu tak mungkin dilakukan dengan korupsi. Dalam hal ini, baik Jokowi maupun Prabowo memegang kartu sama kuat.

 

Tadi siang, seorang rekan guru di tempat saya mengajar bilang: ‘Orang-orang se-Indonesia udah pasti milih Jokowi, kok kamu masih bingung? Masa’ mau milih Prabowo?’

Saya hanya tertawa.

5 April 2014 - Posted by | Capres, Opini | ,

19 Comments »

  1. Saya akan memilih Anies Baswedan. Dari semua calon presiden, dia membawa gagasan yang lebih bagus. Ini video dia terbaru: http://www.youtube.com/watch?v=Kg3mrMcR_tY

    Saya tidak suka gagasan Prabowo karena dia terlalu keras (tegas tidak perlu keras), sedangkan Jokowi terlalu lunak. Lagipula untuk Jokowi, saya berharap dia hanya mengambil cuti selama pilpres, jadi nanti kalau tidak terpilih akan kembali jadi gubernur Jakarta.

    Sudah pernah dengar Anies Baswedan Bu? Gimana pendapat Ibu tentang dia?

    Comment by Irvan Putra | 5 April 2014

  2. @Irvan Putra: Anies Baswedan yang bossnya Paramadina? Ibu lebih suka dia jadi mendiknas. Pendidikan Indonesia pasti akan maju pesat dengan visi2 pendidikannya yang brilyan. Buat ibu pribadi, beliau tergolong ‘orang di belakang meja’, sedangkan negara ini sekarang sedang ‘kolaps’ secara riil. Namun harus diakui bahwa beliau punya visi yang hebat. Link http://aniesbaswedan.com/ bisa jadi referensimu.

    Comment by wyd | 5 April 2014

  3. Tahun ini nampaknya saya hanya akan menjadi penonton saja. Gak tahu mau milih siapa, dan kehilangan semangat untuk nyari tahu juga. Saya tetap datang nanti Rabu, tapi yah mungkin antara 2 pilihan yang akan saya lakukan: 1) Ngintip bilik tetangga alias nyontek sebelah gua ajalah, hehehe… atau 2) Tusuk semuanya :))

    Mungkin 5 tahun yang akan datang🙂

    Comment by AL | 7 April 2014

  4. Saya tidak sependapat soal pendidikan hanya urusan menteri, Bu Wyd. Iya, saya juga banyak membaca visinya di situsnya itu dan salah satu yang menarik adalah dia ingin pendidikan adalah urusan Presiden, jadi salah satu fokus utama. Selain korupsi dan penegakan hukum.

    /hm, pakai Google+ tidak dapat notifikasi komentar. Ini nyoba pakai Facebook, mungkin dapat kali ya:/

    Comment by Irvan Putra | 25 April 2014

  5. sama kmi juga netral dgn kehati hatian skrang kmi milih prabowo dgn pertimbangan dn pemikiran yg hati hati juga dan sebelumy kmi jokowi tpi kli ini tidak….salm santun

    Comment by Anonymous | 17 May 2014

  6. Kalau kita melihat riwayat karirnya justru jabatan Jokowi udh lebih menyentuh kemasyarakat, Walikota Solo-Gubernur DKI dr pd prabowo jd dia tau keluhan masyarakat, blum prnah melihat Gubernur seperti dia sebelumx karena hax dia orangx dsaat jakarta banjir turun langsung menyelamatkan barang2 korban bencana, berenang dan mau kotor2 tanpa pengawal. Jokowi pemimpin yg diidamkan ke depan..

    Comment by Anonymous | 22 May 2014

  7. Kenapa anda menjelek-jelekan jokowi ? memang prabowo pujaan anda itu tidak cacat ? lempar dulu batu itu ke diri anda baru lempar ke musuh anda. Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan seluruh karir militernya jadi atasan prabowo katakan tau hitamnya kelakuan prabowo semasa jadi prajurit. Juga Jenderal (Purn) lainnya. Sudah 16 tahun sejak prabowo dipecat dari dinas kemiliterannya dipecat dari jenderal bintang tiga, tapi gayanya seolah-olah masih perwira jenderal, saran saya terimalah kenyataan sudah jadi rakyat sipil, jangan menggunakan lambang-lambang jenderal lagi. Anda mengetahui siapa anak satu-satunya prabowo, jadi desainer prancis, lihat foto-fotonya di facebook, wajar apa tidak punya moral apa tidak. juga lihat latar belakang keluarga prabowo, bapaknya islam tapi ibunya kristen sehingga prabowo islam tapi adiknya kristen. Di Indonesia di sahkan 1 keluarga seagama, tapi di kehidupan prabowo ada dua agama yang berjuang untuk menang, akhirnya prabowo memilih islam. Kasus mei 1998 apakah sudah ada keputusan hukum atas prabowo, ingat prabowo saat itu kepala Kostrad, presiden BJ. Habibie katakan sebelum matahari terbenam Prabowo harus diganti dari jabatan Kepala Kostrad, itulah perintah kepada Panglima ABRI Jenderal Wiranto. Ambisi itulah yang terlihat, Letnan Jenderal (Purn) Prabowo ingin mengikuti jejak Mantan Mertuanya Jenderal Besar (Purn) Soeharto, ketika itu semua Jenderal dibunuh tinggallah Soeharto, apakah tidak jadi tanda tanya, kenapa soeharto juga tidak dibunuh. minimal rencana dibunuh. akhirnya Soeharto yang merebut tahta presiden Soekarno. Prabowo ingin mengulang sejarah tapi sayangnya Jenderal Wiranto & Presiden BJ. Habibie mengubur mimpinya. Kita ulas pendukung Prabowo-Hatta. Golkar-PPP-PKS-PBB-PAN. Golkar tidak seutuhnya mendukung Prabowo ingat ada Jusuf Kalla dalam lingkaran Jokowi, ingat ketua umum golkar pemilik perusahaan yang diduga menenggelamkan sidoarjo (LAPINDO) saya pernah baca perusahaan ini berusaha agar meminta pemerintah menanggung peta terdampak lumpur lapindo, jika Prabowo menang mungkin sebagai upeti saya curiga LAPINDO bisa cuci tangan & memberikan semua kesalahan kepada Pemerintah biaya pemerintah. ARB dengan TVone-nya yang selalu menjelek-jelekkan Jokowi, katanya pers Netral tapi siapa dulu CEO Vivanews.com putra Abu Rizal Bakrie. Jadi bukan rahasia umum lagi jika seluruh bahan berita TVone memojokkan Jokowi, dimana DEWAN PERS. Golkar (ARB) Menguasai TVone-Vivanews.com-ANTV. juga raja Media Harie Tanoe-RCTI-MNCTV-Sindo,dll. Begitu kuatnya serangan kepada Jokowi, Apakah Pers Netral. Kita bahas PPP, Ketua Umum SDA resmi ditetapkan jadi tersangka kasus HAJI, padahal pengusung pertama calon presiden Prabowo ini berlatar belakang partai islam tapi malah KPK tetapkan sebagai tersangka kasus Pengelapan uang HAJI ke mekkah, begitu sadisnya hubungan ke Tuhan pun harus di korupsi. berikutnya PKS ingat PKS ingat daging sapi, ingat ketua umum PKS juga masuk KPK kasus import daging sapi, padahal sebagai salah satu partai islam harusnya PKS memberi contoh yang baik celakanya para pimpinan PKS yang ditangkap diduga melakukan gratifikasi seks, sungguh dimana hati nurani mereka. Berikutnya PBB kita mengetahui MS. Kaban dengan kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT)-nya masih dalam proses penyelidikan KPK diduga terlibat, berikutnya PAN, calon wakil presiden prabowo, Hatta rajasa, memang tidak terlibat kasus, tapi di tahun 2013 kita diingatkan kasus yang menewaskan dua orang oleh Rasyid Rajasa hanya divonis 6 bulan percobaan, artinya selama 6 bulan tidak boleh melakukan kejahatan, artinya bebas bersyarat. padahal supir FPI tabrak orang sampai mati dipenjara 2 tahun, Apriyani susanti dipenjara 15 tahun, jawabannya hukum tidak adil karena besan dengan presiden semua aman, menabrak orangpun hukuman ringan. Siapa yang berani. inilah kenyataan, maka-nya jangan jelek-jelekkan jokowi-JK, lihat dulu apa Prabowo yang anda agung-agungkan itu punya masa lalu bersih begitu juga partai pendukungnya apakah bersih dari korupsi, mari kita katakan TIDAK untuk KORUPSI. Saya pastikan JOKOWI-JK PASTI Menang ^^

    Comment by Dan | 23 May 2014

  8. @Dan: cukup menggelikan buat saya jika anda ‘menuduh’ saya menjelek-jelekkan jokowi, sementara ada banyak orang berpikir saya ‘sengaja’ menjatuhkan prabowo melalui tulisan di atas. artinya, tulisan saya ‘cukup netral’ sehingga fans jokowi mengira saya memihak prabowo, sedangkan fans prabowo mengira saya memihak jokowi. apa pun, thanks buat komentarnya. tapi kalau anda pria, sebaiknya tidak memberikan link palsu, agar terlihat gentleman. peace…!

    Comment by wyd | 26 May 2014

  9. Thx infonya.. setidaknya saya lebih yakin
    seperti apa capres2 kita tahun ini..

    Comment by mae | 1 June 2014

  10. posting ni tujuannya apa?anda sedang evaluasi atau provokasi?kan tinggal milih trus nunggu hasil pemenang aja,,beres!kalau boleh saran,jgn terlalu sering melakukan hal yang percuma!pada dasarnya kekuasaan tertinggi ada pada rakyatnya, jikalau capres yg terpilih nanti tidak sesuai dengan visi misinya,rakyat indonesia dengan kesadarannya akan bersatu menggulingkan pemerintahan yang tirani dan korup,,so santai aja mbak..peace

    Comment by Anonymous | 1 June 2014

  11. Ini komentar di atas yang justru provokator nuduh orang provokasi, padahal Bu Wyd cuma menyatakan cara dia mengevaluasinya… ada-ada saja ya orang seperti ini. Justru demokrasi yang baik itu yang menerapkan bertukar pendapat begini sebelum pemilihan. Kalau sampai perlu kudeta, itu akan sangat disayangkan. Coba lihat Thailand yang seharusnya sudah bagus industrinya, cuma gara-gara kudeta, jadi berantakan lagi :s

    Semakin hari saya semakin condong ke Jokowi (apalagi semenjak Anies dan Dahlan mendukungnya), tapi agar lebih yakin, saya sedang mengumpulkan berita dan fakta tentang kebijakannya di bidang Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (hal yang menjadi perhatian saya). Jika ada yang punya, mohon dikirim ke irvan.putra@gmail.com boleh? Terima kasih😀

    Comment by Irvan Putra | 2 June 2014

  12. @Anonymous 1 June 2014: Tulisan dibuat sebelum Pileg diselenggarakan.
    Kalau anda menanyakan tujuan posting, mari saya jelaskan sedikit.
    Ada banyak orang, mungkin jutaan jumlahnya, yang punya tingkat masa bodoh yg sama dengan saya dalam politik, yg ga peduli soal politik sepanjang hidupnya, yg ga peduli masuk dalam daftar pemilih atau ga, atau bahkan ga pernah peduli jika kertas suaranya diselewengkan pihak2 tertentu.
    Tiba-tiba sekarang kami ingin sedikit ‘lebih cerdas’ dalam memilih, bukan sekedar ‘tinggal milih, trus nunggu hasil pemenang aja’ seperti yg anda sarankan. yang begitu itu udah kami lakukan sejak dulu2. kalau orang2 seperti saya mau berubah menjadi ‘pemilih cerdas’ kemudian belagak ‘sedikit mikir’ sebelum memilih, bukankah itu lebih baik? maka boleh dong kami mencari, menilai dengan versi kami (yg mungkin terlihat bego di mata fans jokowi atau prabowo), meski boleh jadi keputusan terakhir tetap masih ga jelas apakah akan memilih/tidak memilih karena masih tetap bingung dan makin menjadi bingung setelah mencoba ‘menjadi pemilih cerdas’.

    kalau buat anda bahwa saya (dan jutaan orang lain yg sama nasibnya dengan saya) sedang ‘melakukan hal yang percuma’ (mungkin anda ga tega mau bilang hal bodoh), saya yakin anda ga mengerti bagaimana (kami) orang berpendidikan yg bekerja di lingkungan orang2 berpendidikan pula, kok buta banget soal politik. buat anda itu nonsense. itu knp anda bertanya apakah saya sedang evaluasi atau provokasi.
    mas/pak/bu/mbak, buat orang tipe saya, justru menggelikan kenapa ada orang yg tahan mendelikkan mata berargumentasi soal politik padahal sama2 ga pegang apa2 di dunia politik. ga habis pikir saya kok ada orang yg mau2nya ngumpul rame2, trus teriak2 di jalanan sambil bawa spanduk.

    apa yg buat anda adalah keheroikan, mungkin buat saya adalah ketololan. begitu juga sebaliknya.

    kalau orang tipe saya ini mas/pak/bu/mbak, adalah tipe orang yg menghormati pemimpinnya. jadi kalau ada gerakan yg bilang ‘atas nama rakyat’ atau ‘revolusi rakyat’… wah, tipe saya ini lebih suka tetap bekerja, memberikan yg terbaik buat anak-anak didik saya, lebih suka menjaga ketenangan lingkungan saya daripada menciptakan chaos. apalagi jika gerakan tersebut sampai merusak fasilitas rakyat/negara, wah…ga bakalan saya tanggapi positif, apa pun alasannya.

    Peace….!🙂

    Comment by wyd | 3 June 2014

  13. @Irvan Putra: Ibu juga lagi lihat2 perkembangan Jokowi-JK. Menurut ibu sih, sejak lama JK telah menunjukkan sikap negarawan yg bisa diteladani calon2 pemimpin Indonesia.
    Makin dekat hari pilpres kok makin banyak black campaign, ya, van? kalau ntar berita makin ga jelas, mungkin cara ibu milih mengikuti aturan ini: yg paling banyak nyebarin black campaign, ga bakalan ibu pilih.

    Comment by wyd | 3 June 2014

  14. Oh ya, saya sedang ngumpulin berita dan fakta tentang kebijakan tidak hanya Jokowi-JK, tapi juga Prabowo-Hatta. Entah mengapa lupa disampaikan di atas :s

    Bu Wyd, kalau masalah kampanye hitam, itu memang menyusahkan. Bayangkan Bu, pas zaman kampanye gubernur Jakarta kemarin, saya sering dengar ceramah yang tidak enak soal Jokowi-Ahok. Kebetulan mesjidnya pas di depan kosan saya. Tidak hanya di daerah kampung, ceramah di mesjid tengah kota pun begitu, pas saya Jumatan kantor. Lalu selebaran/tempelan di mana-mana, memuat berita yang dibuat-buat.

    Patokan saya: sumber beritanya terpercaya atau tidak, beritanya berimbang atau tidak, dan apakah membawa kebaikan atau tidak. Biasanya orang di sekitar yang suka menyebarkan itu kelihatan kalau ditanya tahu dari mana. Untuk hal ini, kadang menahan emosi saja. Sebentar lagi juga bulan puasa😀

    Comment by Irvan Putra | 3 June 2014

  15. yaaaaahhhh jadilah pemilih yang cerdas…. meskipun nanti pilihan kita kalah, yang penting kita tidak salah pilih karena memilih dengan hati nurani…. gak ada manusia yang sempurna, semua pasti punya kekurangan baik jokowi-jk atau prabowo – hatta… semua itu kita hanya lihat dari luarnya, hatinya mana kita tau🙂 yang jelas dimana mana politik itu hanya punya kepentingan, yang dulunya menjelek jelekan bisa jadi berubah mendewa-dewakan karena PUNYA KEPENTINGAN… semua partai baik yg pro jokowi maupun prabowo pasti punya kepentingan…kita doakan saja semoga kepentingannya iklas untuk mensejahterakan rakyat, kalo masalah korupsi semua oknum parpol juga ada yg korupsi….(cuma belom ketauan aja) ato korupnya dikit2🙂 nyaleg juga pake duit kaleeeeeee…. maju pilkada juga pake modal kallleeeeeee…. bersih????preeettt ah mana mau ente rugi??? modal minimal mesti balik dong🙂 itu normal bossss….

    Comment by Andri Irawan | 18 June 2014

  16. Sedikit meluruskan, kampanye tidak harus pakai uang pribadi yang banyak dan mesti balik modal.

    Satu, kampanye sekarang bisa murah. Dua, sudah cukup banyak yang mau mendonasikan uang / tenaga / pikiran / kemampuan untuk suatu calon, tanpa mengharapkan imbalan. Tiga, pembatasan pengeluaran biaya kampanye sudah menjadi isu penting. Empat, banyak calon yang tidak masalah mengeluarkan pribadi dan kalah; atau pun ketika menang pun tidak mengejar balas budi / balik modal.

    Saya yakin masih banyak orang baik di Indonesia.

    Comment by vandeput | 18 June 2014

  17. Saya baca komen2 di sini jadi ketawa-tawa sendiri. Pada serius-serius amat, ya.. Sabar, ya, Bu Wyd🙂

    Comment by AL | 22 June 2014

  18. kalo menurut hemat saya, orang-orang yang bermasalah pada kubu prabowo itu murni pribadi masing-masing, toh bukan prabowo yang minta gabung, mereka inisiatif yang ingin gabung, salam santun
    kami keluarga besar persatuan islam mendukung prabowo sebagai presiden, dengan catatan kami akan memantau kinerjanya jika jadi

    Comment by dady | 7 July 2014

  19. Sy senengnya pilih diri mu lah hehehe

    Comment by Bangcakrud | 2 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s