Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Ini Bukan Penyakit. Hanya Rasa Takut

Kamu harus ke psikolog. Itu kata seorang sahabat setelah mendengar rasa takut yang belum bisa saya atasi sepenuhnya.

pamsclipart.cameo_silhouette_of_a_woman_with_scary_thought_words_in_a_spiral_0515-1101-2618-5354_SMU

Saya tertawa. Ke psikolog? Saya ga gila. Ga sakit. Saya hanya takut. Dan itu pun tak datang setiap saat. Paling hanya sesekali dalam seminggu. Atau sebulan. Kadang malah hanya sesekali dalam beberapa bulan. Ketakutan itu tidak terlalu membebani buat saya. Kalau saya takut dan sedang sendiri, maka saya akan terjaga sepanjang malam dan membiarkan tubuh bersandar pada kursi dengan laptop menyala di depan meja seolah saya sedang bekerja. Saya baru berani merebahkan tubuh dan memejamkan mata setelah azan subuh dan orang-orang mulai beraktivitas.

Saya ga bisa menjelaskan dengan tepat bagian mana dari hidup saya yang membuat saya takut. Saya masih bisa mengingat beberapa hal yang saya benar-benar tak pernah inginkan bahkan dalam mimpi pun tidak, namun terjadi dalam hidup saya. Sayangnya, dalam beberapa kasus terjadi pengulangan. Saya terperangkap dalam situasi yang sama, mengalami kejadian yang sama, dan terpuruk dalam perasaan yang sama. Sayangnya pula, ketika kejadian berikutnya terjadi, saya belum benar-benar bangkit dari kejadian sebelumnya. Dan yang paling membuat saya sulit melepaskan diri adalah rentang waktu yang panjang yang harus saya lalui hingga saya bisa berpikir normal kembali bahwa saya layak menikmati hidup seperti orang lain bebas menikmatinya.

Jadi jangan heran hingga hari ini saya hanya bisa tidur dengan lampu dimatikan, agar saya tak terlihat. Saya ga berani masuk kamar mandi yang ga terlalu terang, kecuali di tempat yang saya sudah kenal dengan sangat baik. Saya lebih suka mandi atau aktivitas lain dengan pintu kamar mandi yang terbuka, saat tak ada orang lain, meski di rumah saya sendiri. Saya masih belum berani tidur sendiri di kamar yang baru buat saya, meski kamar itu berada di hotel bintang lima. Dan beberapa hal lainnya yang mungkin terdengar bodoh atau aneh buat orang lain.

Tapi, sekali lagi, saya tidak sakit sehingga tidak perlu ke psikolog. Saya hanya takut.

4 April 2014 - Posted by | Personal | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s