Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Indonesian Men are Dogs!

Selama ini saya pikir bodoh sekali para korban pelecehan seksual menyimpan permasalahannya sendiri dan ga berani melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Tapi ketika mengalaminya sendiri, saya sadar, itulah yang akan dilakukan sebagian besar wanita.

Saya terkejut ketika seorang teman mencoba melakukan ‘sesuatu yang tak wajar’ dari arah punggung saya. Lebih terkejut ketika dia berani menarik tangan saya untuk melakukan tindakan di luar kewajaran sebagai teman kantor. Untung saya bukan tipe yang mudah panik. Dengan tenaga, semangat, dan rasa marah dilecehkan, membuat saya bisa melepaskan diri. Sebenarnya itu pelecehan ketiga dari orang yang sama tetapi selama ini dia ga pernah seberani itu. Dulunya saya mencoba berpikir positif bahwa itu hanya keisengan buat lucu-lucuan. Maklum, laki-laki.

Namun malam harinya dan malam-malam selanjutnya hingga detik ini, saya tak pernah bisa melupakan kejadian terakhir. Beberapa kali saya meneteskan air mata karena perasaan tiba-tiba demikian sesak. Saya menjadi lebih pendiam sejak pelecehan pertama. Lebih suka menyendiri sejak itu. Setelah kejadian ketiga, emosi saya sering ga stabil. Saya lebih mudah meneteskan air mata. Saya bahkan menangis di depan teman saat saya curahkan cerita itu. Yang terburuk, saya meneteskan air mata di depan kelas di hadapan anak-anak saat sedang memberikan pelajaran, ketika kejadian itu tiba-tiba melintas di kepala saya!

Ada sesuatu yang salah dalam penampilan saya sehingga ada pria yang berani melakukan perbuatan seperti itu. Ada sikap atau kata-kata saya yang salah sehingga ada pria yang berpikir saya akan suka diperlakukan seperti itu. Padahal saya telah berusaha mati-matian menampilkan imej ‘cowboy’ agar tak menarik pria mana pun, untuk menjaga kesetiaan pada seorang laki-laki. Padahal saya hanya memoles wajah dengan bedak bayi dan ga mengenakan lipstik agar tak terkesan cantik di mata pria lain, kecuali untuk seseorang yang telah saya pilih. Padahal saya lebih banyak menunduk saat berjalan dan tak menegur lebih dulu, kecuali pada office boy dan satpam. Padahal saya selalu mengenakan celana panjang atau jins untuk mengelabui sifat kewanitaan saya. Padahal saya tak pernah melibatkan diri atau memberikan senyum untuk sebuah joke ‘nakal’.

Saya sampai pada satu pertanyaan besar: Apakah saya masih terlihat genit dan ‘mengundang’ pria dengan segala ‘kelaki-lakian’ saya?

(PS. Judul adalah rangkaian kata yang saya ingat pertama kali saat di tempat parkir siap untuk pulang di hari itu. Seseorang selalu menguatkan saya dengan kalimat itu jika saya marah pada perlakuan tak adil yang saya terima hanya karena saya seorang wanita.)

 

15 December 2013 - Posted by | Personal | , ,

7 Comments »

  1. pada orang yang sama harus diberi ketegasan sikap

    Comment by Budisastro | 22 December 2013

  2. Wah.. Judulnya…
    Berarti kalo ayah anda, kakek anda orang indonesia…
    Itu berarti mereka salah satu dari yg anda sebut?

    Comment by ÝaÝayaya | 5 January 2014

  3. @Yayayaya: sebelum memberi komentar, apalagi komentar negatif, sebaiknya anda membaca dulu artikelnya sampai habis, sehingga komentar anda terkesan cerdas. namun, terima kasih atas kunjungannya.

    Comment by wyd | 5 January 2014

  4. Harus selalu waspada setiap saat

    Comment by bisakimia | 2 February 2014

  5. itu link tentang pakaian bu Wyd🙂 … ntar klo masih digangguin juga… keluarkan jurus karate bu Wyd… 🙂

    Comment by R.H. | 24 February 2014

  6. Apa kabar Bu, Wyd, lama gak baca2 blognya… Semoga masih ingat saya.. Dani…

    Comment by Catatan Kecil Hidupku | 27 March 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s