Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Penyebar Kebencian


Secara personal, saya belum pernah terkagum-kagum setengah mati pada seorang tokoh di bidang apa pun, kecuali Axl Rose dan Michael Jackson untuk puluhan lirik yang menyentuh dan membantu mengatasi berbagai permasalahan di usia muda saya. Namun beberapa tokoh saya kagumi atas berbagai pemikiran atau pilihan hidupnya. Salah satunya Ahmed Dheedat, seorang ulama besar dari Benua Afrika.

Dari dalam negeri, kekaguman saya sering berbuah kekecewaan. Dan itu terjadi lagi dua minggu lalu. Saat itu saya menghadiri dialog dua arah di Jawa Timur dengan nara sumber seorang budayawan religius. Sang budayawan terkenal dengan kelompok seninya dan sepertinya memang diciptakan untuk berada dalam lingkungan seniman. Setidaknya, beliau menikahi seorang wanita yang pernah berprofesi sebagai penyanyi cantik bersuara merdu, dan memiliki putra yang juga penyanyi sebuah group band populer. Saya tak perlu menyebutkan nama sang budayawan, karena hal itu tak ada kaitannya dengan tulisan ini. Pemikirannya yang dikeluarkan dalam dialog tersebut yang patut dipertanyakan.

Sang budayawan antara lain menyebutkan bahwa bangsa Amerika atau bangsa-bangsa lain di dunia ini tak ada apa-apanya dibandingkan bangsa Indonesia. Bangsa ini berada pada level lebih tinggi. Pernyataan-pernyataannya disambut tepuk tangan riuh para hadirin. Menurut pikiran dewasa saya, sang budayawan sedang mencoba membangkitkan nasionalisme anak-anak SMP-SMA yang merupakan peserta mayoritas dalam dialog tersebut.

Beliau juga menyatakan bahwa Amerika takut pada bangsa Indonesia, antara lain dengan disiarkannya berbagai tawuran yang dilakukan generasi muda Indonesia melalui berbagai media, terutama TV. Apalagi Indonesia memiliki bonek, arek-arek Surabaya. Beliau berulangkali mengatakan hal-hal buruk tentang Amerika. Kata-katanya selalu diberi keplokan oleh pendengar sebagai penghargaan.

Sisi Negatif

Sebagai seorang pendidik di SMA, saya merasa apa yang disampaikan sang budayawan tak ubahnya menyebarkan kebencian pada suatu bangsa dan membangkitkan chauvanisme (kebanggaan berlebihan terhadap diri atau bangsa).

Isi dialog hari itu bertentangan dengan berbagai sikap dan pola pikir yang ditanamkan para guru umumnya pada anak-anak didik mereka tentang kesetaraan dalam kehidupan. Tentang kesamaan kedudukan antarbangsa di dunia ini. Tentang bahaya chauvanisme bagi suatu bangsa. Tentang penerapan cinta kasih dalam kehidupan untuk seluruh umat manusia. Tentang membuang kebencian dari hati, kecuali terhadap hal-hal yang dilarang agama. Tentang menghormati orang lain dan bangsa lain dalam hubungan internasional. Tentang kebrutalan tawuran dan kerusuhan sebagai sebuah cara tak beradab menyelesaikan masalah. Atau tentang marahnya Sang Pencipta terhadap kaum munafik.

Bukankah sudah terlalu banyak permasalahan negara ini muncul akibat kebencian sebagian masyarakatnya pada bangsa tertentu, sebutlah Amerika? Meski seluruh rakyat tahu bahwa kita masih terus mengemis pinjaman dari Amerika. Bahkan anak-anak muda Indonesia berebut greencard dan beasiswa mendapatkan pendidikan gratis di negara tersebut. Tidakkah sang budayawan mau mengerti bagaimana perasaan peserta yang kebetulan memiliki keluarga asli Amerika atau mengais hidup di negara itu?

Hari itu kekaguman saya pada sang budayawan luntur tak berbekas.

14 July 2011 - Posted by | Opini | , , ,

15 Comments »

  1. kelihatannya membalas api dengan api, banyak yang berpikir bahwa itu bagus😦

    Comment by Irvan Putra | 15 July 2011

  2. wah, nyesal sya memberi inspirasi …. Tapi tidak apa. ini opini,opini, opini yang kebenarannya mungkin 5 %. Marilah kita belajar menghormati bangsa lain, Kobarkan semangat anak muda, bahwa kita negara sedang berkembang, yang kaya akan SDA tapi “minim SDM” makanya kita generasi muda belajar dengan giat sehingga kita tidak kalah. Bangsa kita juga mempunyai beberapa SDM yang diakui dunia, “Bapak Habibie yang luar biasa, tapi sayang negaranya sendiri tidak memberi kesempatan menjadi Presiden 5 tahun”, dan generasi muda ” George Saa Putra asli Papua ” penerima Olimpiade Fisika Internasl jebolan “Prof Surya Inst” . ” Hasil kerja Prof Surya sungguh nyata dan luar biasa, ” sudah kurang lebih 350 siswa Merauke dan 50 guru sekarang dilatih di Tangerang untuk kembali melatih anak-anak Merauke supaya lebih maju. PemKab Merauke luar biasa, sudah memp 3 jenis pesawat Boing dan beberpa kapal, Hanya tinggal tunggu waktunya untuk anak merauke maju ( Insya Allah )” ( sumber “Surat kabar terkini “….. ) Lebih baik kita merendah dan orang ( Negara ) lain memuji, dari pada kita kita puji diri sendiri, tapi tidak ada apa2nya. Dalam cerita silat Asmaraman Kho ping Hoe “Ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit”. Karena tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan sang Pencipta. Motto ” Jangan kau tanya apa yang sudah saya kerjakan, tapi lihatlah karyaku “

    Comment by Kar... | 16 July 2011

  3. hehehehehe….. asssstttttaaaaagggggggaaaaaaaaaaaa ….. ckckckckckckck

    Comment by li | 16 July 2011

  4. aaaaasssssttttttaaaaaggggggaaaaaaa…… hehehehehehehe

    Comment by li | 16 July 2011

  5. @Kar…: dari komentar anda tampaknya anda dari papua, tepatnya merauke🙂
    opini saya udah terbentuk seperti itu saat sang budayawan rame2 dikeploki orang. hal pertama tentu saja: kok ga mikir ya si bapak ini kalau2 ada di antara peserta yang memiliki keluarga orang amrik?

    anyway thx for comment. hidup papua!!

    Comment by wyd | 16 July 2011

  6. Saya sering berfikir betapa mudahnya kita menjadi sumber atau katalis kebencian, padahal sekali kebencian itu tertanam dihati seseorang, bukan hal mudah untuk menhapusnya karena kebencian itu biasanya mudah tumbuh dan cepat sekali berakar. Saya ingat potungan film “When a man love a woman” nya Andi Garcia dan Meg Ryan, ada kutipan ketika si anak bilang ke ibunya “Mom, if want me to hate dad, then I will…”.
    Saya sering merenung, seberapa besar dosa yang kita buat ketika kita berusaha menularkan kebencian ke orang lain, terutama pada jiwa-jiwa yang masih murni. Saya selalu bilang ke diri sendiri, pada saatnya mereka pasti akan terkontaminasi itu. tapi mudah-mudahan itu tidak berasal dari hati dan mulut kita yang terlanjur kotor.

    Comment by adhiwirawan | 16 July 2011

  7. Dari Opini Wyd…. Kita harus belajar bahwa jika kita ingin membicarakan sesuatu ke orang banyak ” berpikirlah yang jernih ” jangan sampai menyinggung dan menghina perasaan orang. Ada pepatah kuno, Jika anda tidak mau di hina/merendahkan oleh orang lain, maka anda tidak boleh menghina/merendahkan orang lain….. Marilah kita sama-sama membangun hidup kita yang rukun, tenggang rasa, aman dan damai, karena semua itu sangat berkenan di hati Tuhan yang telah menciptakan kita. Amin…. Baca-bacalah Pedoman hidup kita PANCASILA khususnya sila 4,karena Ciri orang bijak adalah ” orang yang bisa mengerti perasaan orang lain “.

    Comment by Karly | 16 July 2011

  8. mngkin maksud di budayawan agar pendengar makin cinta tanah air. sayangnya dia salah pilih kata-kata atau audiencenya kurang tepat. si budayawan yg dimaksud yang punya kyai kanjeng ya mbak?

    Comment by jutekisi | 6 August 2011

  9. ah, mau di katakan apa lagi bangsa kita ini?… tutup mata, namun jangan tutup hati dan tangan kita..

    Comment by Baju Wanita | 9 August 2011

  10. Seringkali saya berpikir; Bukankah sebenarnya di Indonesia ini ada banyak orang yang cerdas dan hebat, seharusnya saat ini Indonesia sudah bisa menjadi negara adidaya/adikuasa, tetapi mengapa itu belum terjadi? Menurut hemat saya, itu semua karena banyak orang yang cerdas dan hebat hanya untuk dirinya sendiri, coba para orang hebat itu bersatu dan duduk bersama memikirkan upaya-upaya untuk memajukan bangsa ini -bukan memikirkan kepentingan, golongan, untung-rugi bagi diri, dsb-, saya yakin, Indonesia akan menjadi negara yang benar-benar besar bahkan dapat menjadi negara adidaya/adikuasa seperti Amerika Serikat.

    Comment by R_H_ | 10 August 2011

  11. Wallahua’lam

    Comment by R_H_ | 10 August 2011

  12. menurutku, para budayawan bukan mengajarkan chauvinisme, tp tepatnya mereka(yang udah lalu) ingin terus dihargai, supaya sejarah terbentuknya negeri ini tidak pudar begitu saja:mrgreen:

    Comment by Rivanlee | 14 August 2011

  13. gambarnya sekilas seperti baca SBY, sang presiden….
    heheheheh😆

    salam kenal dari Garam Manis

    Comment by Gusti 'ajo' Ramli | 19 August 2011

  14. Tambah Cinta Kurangi Benci🙂

    Comment by Rumah | 29 September 2011

  15. Abu Nabil , Selasa, 23 Oktober 2012 Dalam hal ini mestinya panitia juga tahu diri kalo temanya tentang aliran2 dalam Islam dan Syi’ah seharusnya yang di undang orang yang paham tentang tema tersebut. paling tidak dari MUI atau Ormas Islam bukan dari kalangan budayawan sehingga ngomongnya tidak ngelantur seperti cak Emha. dari jawabannya saja sudah sangat jelas kalau beliau gak paham tentang apa dan siapa itu Syi’ah. mudah2an cak Nun mau belajar dari pengalaman ini sehingga jawabannya tidak membingungkan Ummat.

    Comment by silver account | 7 November 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s