Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Pemuja Iblis

Di kamar tidur, di bagian depan pintu lemari pakaian, tertempel sebuah karton putih dengan tulisan ukuran besar berhuruf kapital dari spidol hitam:

Iblis tak mau menyembah Tuhan selain Allah.
Mengapa kita tak belajar dari iblis?

Itu yang tertulis di pintu lemari pakaian di kamar tidur saya saat SMP-SMA.

Ayah bertanya heran: Apa yang bisa kita pelajari dari Iblis?

Saya menjawab sok yakin: Jangan menyembah sesuatu apa pun selain Allah.
Ayah dengan tenang berkata: Benar sekali. Jika Allah meminta kita melakukan sesuatu, apakah kita harus melaksanakannya?
Saya menjawab sangat yakin: Tentu! Karena Dia Maha Tinggi. Dia Sang Pencipta. Dia Sang Penguasa Kehidupan dan Kematian.
Ayah menjerat dengan pertanyaan: Jika Allah meminta bersujud pada sesuatu, apakah kita harus bersujud pada sesuatu itu?
Saya mulai masuk perangkap: Tentu! Allah Maha Tahu. Dia Maha Tak Terbantahkan.
Ayah menutup perangkap: Sayang, iblis tak mau bersujud pada Adam meski Allah memintanya.

Saya benar-benar telah terperangkap tapi tetap berkeras tak mau mengubah kalimat di atas karton putih yang tertempel di lemari pakaian. Ayah pun tak pernah meminta saya melepaskan karton tersebut.
Beliau malah berkata: Pelajarilah apa yang benar dari siapa pun. Tinggalkan apa yang keliru, meski kami orang tuamu yang mengajarkan.
Saya lega tak harus memendam rasa heroik yang tertanam di hati.

Masihkah anda ingat ke-heroik-an macam apa yang pernah anda rasakan di usia muda?

17 December 2010 - Posted by | Agama | ,

10 Comments »

  1. Ah, mungkin kengototan saya untuk belajar segala sesuatu dari komik-komik yang saya baca karena orang tua saya sering berkata “Apalah gunanya komik”…

    Comment by vandeput | 17 December 2010

  2. beruntung memiliki orangtua yang bijaksana.. Bu tempat ibu apa jauh dari lokasi bumi perkemahan terbesar di palembang… katanya 2011 jambore nasional dilaksanakan di Palembang

    Comment by budies | 17 December 2010

  3. ayah saya juga pernah mengatakan hal yang ama ma’am😀

    Comment by ara | 18 December 2010

  4. Ayah yang bijak🙂
    miss my daddy, mam ;D

    Comment by Anonymous | 27 December 2010

  5. Membaca tulisan di atas mengingatkan saya pada kisah Iblis dan kisah Fir’aun.
    Iblis sombong dan angkuh, tetapi mengakui dan menyembah hanya kepada Tuhannya.
    Iblis adalah contoh guru Tauhid murni, demikian kata Al Hallaj, seorang tokoh tasawuf.
    Sebaliknya, Fir’aun sombong dan angkuh, tetapi justru mengaku dirinya Tuhan.
    Maka Tuhan langsung menghukumnya di Sungai Nil…meski sebelum mati dia bertaubat.
    Ternyata manusia bisa lebih angkuh dan sombong melebihi Iblis.


    Bu Guru Wyd,
    mohon maaf baru sempat berkunjung.
    terkait cerita Marlon Brando, saya belum sempat menulisnya.maklum produktifitas menulis saya menurun drastis.

    Semoga Tuhan memberi berkah tak terbatas kepada Bu Wyd dan keluarga
    amin.

    Comment by BaNi MusTajaB | 29 December 2010

  6. dialog ayah dan aanaknya mirip2 saya..
    tp apa tepat tuh judul memuja?
    memuja sepertinya mkna penghambaan lho

    Comment by Goda-Gado | 5 January 2011

  7. sebuah dialog yang cukup bagus🙂

    Comment by nadia | 27 January 2011

  8. jadi kangen segala macam cerita dan wejangan yang pernah mam wid kasih pas lagi rehat belajar kimia,,😉

    Comment by balqis | 4 February 2011

  9. bagus artikelnya. salam kenal dari http://budiharso.wordpress.com

    Comment by kukuh budiharso | 18 June 2011

  10. benar-benar ayah yang bijak…

    Comment by anung umar | 14 July 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s