Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Sentuhan Kematian

Empat orang yang sangat saya cintai di masa hidup mereka, seringkali mengunjungi saya belakangan ini.

Yang pertama pergi adalah suster kepala. Kami biasa memanggilnya Suster Bernadeth. Meski tak pernah memuji di depan hidung saya, beliau selalu menceritakan cinta dan kasihnya terhadap saya di depan anak-anak lain. Tujuh tahun dalam hidup saya, saya lalui bersama beliau hingga wafatnya dan selama itu pula saya belajar mengisi hati dengan cinta kasih.

Ayah pergi sesudahnya. Ayah adalah pria yang selalu saya banggakan nomor satu jika bicara soal kejujuran dan keteguhan pada kebenaran. Dari ayah pula saya berkaca bahwa meski kita berpegang teguh pada kejujuran, tak berarti harta dan jabatan tak bisa diraih. Tak ada makhluk dan upaya yang mampu menghalangi jika Tuhan menghendaki demikian. Ayah adalah satu-satunya orang yang pernah saya lihat dalam dunia nyata yang telah mempersiapkan kematiannya dengan sempurna.

Abang sekaligus sahabat terbaik saya menyusul di usia 29 tahun. Dia orang pertama yang melihat saya menangis. Dan orang pertama pula yang berhasil meyakinkan saya bahwa mengabdi sebagai nun bukanlah jalan hidup saya. Caranya pergi membuat saya selalu membawa inhaler ke mana pun saya melangkah. Ada ketakutan dalam diri saya direnggut penyakit yang sama dalam kesendirian.

Daddy pergi 2 tahun lalu. Beliau meninggalkan begitu banyak kenangan indah dan mengajarkan saya bagaimana menjadi manusia dewasa yang bijak. Meski banyak orang menuding kasih sayangnya terhadap saya disertai pamrih, tapi saya dapat merasakan ketulusannya. Kepergiannya membawa serta sebagian rasa cinta saya pada dunia.

Sayangnya, tak satu pun yang saya genggam tangannya saat menghembuskan nafas terakhir. Mungkin alasan inilah kenapa mereka menyentuh saya akhir-akhir ini. Menyesalkah saya? Sama sekali tidak. Namun kalau bisa membalikkan waktu, saya ingin berada di sisi mereka seperti yang mereka inginkan sebelum pergi.

Saya hanya ingin bertemu, sekali lagi. Saya hanya ingin memeluk, sekali lagi. Saya ingin meletakkan kepala saya di pundak mereka seperti yang saya lakukan di saat bersama mereka. Saya ingin mereka melihat bahwa saat ini saya masih punya air mata.

25 February 2010 - Posted by | Opini |

11 Comments »

  1. Pada akhirnya, kita memang akan ditinggalkan orang-orang yang kita cintai…orang-orang yang mengasihi kita..tetapi bersamaan dengan itu, ada banyak orang yang juga mencintai kita dan mengasihi kita.
    tentu saja, cinta orang-orang yang telah meninggalkan kita tidak dapat diperbandingakan dengan cinta orang-orang yang masih bersama kita.
    tetapi tujuan sama, yaitu membahagiakan diri kita.

    Comment by BaNi MusTajaB | 27 February 2010

  2. yang terbaik akan nampak ketika mereka tiada..

    tapi kita masih bisa selalu membuat mereka ada ada
    dalm kenangan dan doa doa kita…

    Comment by mayssari | 27 February 2010

  3. Mam …
    kami terharu baca tulisan ini…
    Tulisan ini jadi inspirasi untuk diri kami Mam :))

    Comment by kelas X.E | 3 March 2010

  4. nggak maksud nakut-nakutin, kadang kita menjadi lebih menghargai hidup ketika kita melihat akhirnya …
    ps: Saling menghargai perbedaan adalah jiwa blogger sejati , ditunggu tulisan-tulisan inspiratif lainnya …..

    Comment by adhiwirawan | 8 March 2010

  5. oh, ibu saya ingin bertanya mengapa gambar pict nya kok pistol ya…

    Comment by budak bandung | 29 October 2010

  6. @budak bandung: cuz i do love GnR… that’s the first reason🙂

    Comment by wyd | 30 October 2010

  7. Mom artikelnya menyetuh hai banget. Bikin kita inget sama orang-orang yang berada di sekitar kita yg sayang banget sama kita. Artikel Mom bikin aku ngga mau ngulangi nyakiti orang-orang yang aku sayang. Aku pingin ngebahagiain mereka. Karena mungkin aku ngga pernah tahu kapan mereka akan pergi meninggalkan aku, dan aku tak pernah lagi dapat untuk membalas kasih sayang mereka. Makasih Mom buat refrensinya🙂

    Comment by Widya Pebryanti Manurung - Kirana 17 | 18 November 2010

  8. Menurut saya maam, cara mengekspresikan kasih sayang kepada orang tersayang tak harus dilakukan dengan bentuk fisik. tetapi, bisa dengan cara yang lain. yaitu mengamalkan pelajaran yang didapat dari mendiang orang tersayang. karena suatu saat pelajaran yang kita dapatkan dan kita amalkan akan berharga dan bermanfaat bagi orang banyak.

    Comment by Amelia Noviasari-KIRANA 17 | 18 November 2010

  9. Assamualaikum wr wb.
    menurut saya, ceritanya sungguh menginspiratif dan sangat menyentuh hati bagi yang membacanya.
    namun, klimaks dari artikel ini kurang begitu jelas sehingga pembaca bingung untuk menentukan klimaks dari artikel ini.
    wassalamualaikum wr wb

    Comment by Kemas Bobby A.P.- KIRANA | 18 November 2010

  10. assalamualaikum wr wb.
    sebuah tulisan yang sangat menyentuh hati. namun semua itu memang sudah ketetapan dari Yang Maha Kuasa. segala yang Dia ciptakan akan kembali kepadanya. tinggal bagaimana ketabahan kita dalam menghadapi kenyataan tersebut. walaupun mereka telah kembali kepada-Nya, namun kita dapat selalu mendoakan mereka.

    wassalamualaikum wr wb.

    Comment by Fathony Rizky Andriansyah-Kirana 17 | 18 November 2010

  11. Jalan hidup tak selalu, tanpa kabut yang pekat, namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat, mungkn langit tak berbintang oleh awan yang pekat, diatasnya tlah membumbung Plangi kasih Tuhanku,
    Habis hujan tampak plangi bagai janji yang teguh, dibalik duka menanti, plangi kasih Tuhanku….. Itulah kenangan bersama orang yang kita cintai. mantap bu wid, mengingatkan saya pd orang2 yang saya cintai yang telah pergi.

    Comment by Li - Malang | 30 August 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s