Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Suamiku Tersayang, Setengah Milyar untuk Layananku

Bukan bermaksud menjadi oven pemanggang ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia, atau sok membela gadis cantik yang katanya sempat ‘bagaikan hidup di sangkar emas’, maka tulisan ini hadir.

Masih dalam rangka liburan, saya jadi aktif menonton TV setelah jadi ‘ibu rumah tangga yang baik’. Dua hari berturut-turut melototin berita infotainment yang sama, tentang suami Manohara Odelia Pinot yang berbangga hati telah memenangkan kasus melawan istrinya sendiri di pengadilan negeri jiran itu. Meski tak beraliansi pada Manohara atau ibunya yang tampak terlalu ‘wah’ di mata saya, tak urung saya terhenyak dengan berita itu. Ini semua karena si Tengku dari Kelantan (silakan cari di Google namanya, saya lagi malas) sambil senyam-senyum plus bahasa yang ga banget buat telinga saya, dengan bangga menyatakan kemenangannya dan betapa adilnya pengadilan di negaranya mewajibkan istrinya membayar hutang-hutang sebagai seorang istri.

Di mata saya, si Tengku hanya mempertontonkan kedunguannya dalam Islam. Masa sih belanjaan seorang istri dianggap sebagai hutang? Dan jika Manohara membayar akomodasi berikut cinderamata ibunda menjenguknya di Malaysia juga dianggap sebagai hutang? Tentu saja, pengecualiaan jika mereka telah menetapkan semua itu sebagai hutang-piutang sebelum pernikahan berantakan. Rasanya agak kecil kemungkinan Manohara maupun ibunya melakukan hal tersebut.

Lebih menggelikan, pengadilan negara itu justru memutuskan hal yang teramat gila dalam hubungan ikatan perkawinan, dengan menetapkan sekian juta ringgit Malaysia atau sekitar 3 milyar Rupiah sebagai hukuman bagi gadis blasteran tersebut. Bagaimana ceritanya orang-orang yang dengan bangga memaklumatkan diri sebagai negara berbasis Islam, tapi justru mengangkangi hukum Islam dengan kesadaran penuh? Apa seorang istri dianggap tak lebih dari sekedar barang yang dihargai setara nominal mata uang? Atau jangan-jangan mereka mendapatkan sumber Siti Khadijah yang kaya meminta Rasulullah hitung-hitungan setelah menikahinya?

Bukankah seorang muslim seharusnya meniatkan pernikahan untuk mengais ridho Sang Maha Bijak, selain menjalankan sunnah Rasulullah, plus bonus memiliki ladang amal kebaikan baru yang disebut rumah tangga? Jika pernikahan memang didasari ketulusan dan keikhlasan, mengorbankan jiwa pun kita rela, jika itu yang dibutuhkan pasangan. Pria macam apa yang berani meminta kembali materi yang pernah dikeluarkannya untuk sang istri?!

Kalau saya jadi Manohara, saya akan bilang begini pada sang suami: Suamiku tersayang, 3 milyar bukan jumlah menakutkan buatku. Tapi hitung dulu berapa yang kamu harus bayar padaku sebagai ganti rugi kehilangan keperawananku. Dan setiap kali kamu menikmati layananku sebagai istrimu, aku minta dibayari setengah milyar rupiah. Soalnya kalau ga menikah sama kamu, aku kan bisa saja minta bayaran segitu sama pria-pria di luaran sana.

Malaysia sedang berinisiatif mengubah dasar negaranya seperti standar negara barat sehingga rada malu mengakui hukum Islam sebagai acuan hukum mereka. Dan yang lebih ‘menakjubkan’ adalah pengakuan dukungan negara terhadap hal tersebut!

6 January 2010 - Posted by | Opini | ,

Sorry, the comment form is closed at this time.