Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Kangen Ibu

(Tulisan ini ditulis dengan cinta. Sebentuk cinta yang saya persembahkan untuk ibu saya dan ibu-ibu lain di dunia ini yang merupakan salah satu orang terhebat yang pernah ada di hati putra-putrinya)

Saya kangen ibu.

Ibu sekarang tinggal di Bandung. Beliau terbiasa ‘wara-wiri’ menetap di Jakarta atau Bandung, di tempat saudara-saudara saya. Tergantung mood, kayaknya🙂
Saya akan menelpon beliau tiap kali memerlukan doa pendukung. Herannya, hingga detik ini saya selalu merasa, kok doa ibu saya lebih mujarab dibandingkan jika saya berdoa sendiri meski untuk keperluan saya pribadi🙂

Terakhir bertemu ibu lebih dari dua tahun lalu. Ibu tinggal dengan kami tiga bulanan. Itu kali pertama dan terakhir ibu tinggal di rumah kami. Selebihnya bersama empat saudara saya lainnya. Putra saya sempat berkomentar: kok nenek ga fair sih, ga pernah tinggal lama di sini? Kan nenek milik kita sama-sama?

Tentu jadi pilihan terburuk jika ibu tinggal dengan kami lebih lama. Kami biasa meninggalkan ibu di rumah sendirian mulai jam enam pagi hingga maghrib tiba. Mana lagi saat itu kami baru pindah dan belum kenal lingkungan sama sekali. Maka tidak heran kulit Cina ibu akan jadi putih pucat sempurna saat bersama kami. Melulu di rumah! Sedangkan di rumah saudara lainnya, ibu bisa bercanda dengan cucu-cucu yang masih belum bersekolah. Atau ikut pengajian yang rutin diadakan di lingkungan rumah.

Ibu pernah bilang, beliau merasa tidak punya beban jika tinggal bersama kami. Karena saya tidak pernah ikut campur jika ibu ‘menceramahi’ cucunya. Menurut beliau sih, saudara-saudara saya atau suami-istri mereka akan kurang senang jika beliau melakukan hal yang sama pada putra-putri mereka. Apalagi menurut beliau, saya bukan tipe cerewet soal masakan atau tata letak barang di rumah. Mau diletakkan gaya apa saja asalkan rapi dan teratur, tidak masalah. Pigura miring atau vas bunga diisi kembang liar dari jalanan, buat saya bukan masalah.

Saya kangen ibu.

Saya tidak mau mengulangi kejadian lama saat ayah masih hidup. Beliau ingin sekali bertemu saya. Tapi atas permintaan beliau, tak seorang pun mengabarkan hal itu karena kondisi kesehatan saya. Saya sudah memesan tiket pesawat ke Jakarta menjenguk beliau setelah berbicara lewat telpon malam sebelumnya. Namun saya akhirnya hanya sempat menyaksikan ayah siap dibawa ke pemakaman. Saya kangen ayah. Sampai sekarang saya masih merasa ayah tidak pernah meninggalkan kami dan masih menunggu kedatangan saya di rumahnya. Saya benar-benar kangen ayah.

Dan saya juga kangen ibu.

Partner saya bilang: you should see her before everything is being late. Time will pass away and then you will regret everything. (Temui beliau sebelum semuanya terlambat. Waktu berlalu sampai akhirnya kamu hanya bisa menyesalinya).

Saya kangen ibu. Saya kangen ayah. Saya kangen…. Selamat datang kembali di Indonesia hari ini, Bu. Selamat Hari Ibu. Mudah-mudahan doa-doa Ibu didengar Yang Maha Rahmat.

22 December 2009 - Posted by | Umum |

18 Comments »

  1. sama ya… bagi kita yang jauh dari ibu pasti kangen
    selamat hari ibu

    Comment by budies | 22 December 2009

  2. Ya besyukurlah yang ibunya masih ada. Aku sudah di tinggal sejak balita…. Hik… hu…hu…

    Comment by Ade | 22 December 2009

  3. ah saya jadi kangen ibu saya lagi. padahal liburan baru aja berakhir..

    Comment by putrijump | 27 December 2009

  4. Ibunya tinggal dimana sekarang bu Wyd? Libur panjang kemarin dan libur tahun baru ini sudahkah menemui Beliau? Ah, jadi kangen Ibu saya juga.

    Comment by enggar | 29 December 2009

  5. @enggar: sekarang ibu di bandung. paling januari ke jakarta. yah gitu deh bolak-balik. entah kapan deh saya bisa sempat nemuin beliau. kemaren lebaran saya ga nyambangin. bosen rutinitas mudik serba crowded, antrian panjang melelahkan😦

    Comment by wyd | 29 December 2009

  6. hehe, naik kereta Bu biar nggak macet. Tapi beli tiketnya antri juga ya?😦

    Comment by enggar | 30 December 2009

  7. meet her mam ^^

    Comment by bloop | 3 January 2010

  8. Saya kangen ibu. meski dia telah pergi sejak 33 tahun lalu.

    “Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo…”
    “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

    Comment by BaNi MusTajaB | 4 January 2010

  9. saya juga kangen ibu, bu guru kimia ini. makanya saya datang ke sini.😉

    Comment by Hafid Algristian | 10 January 2010

  10. AMIN…

    Comment by mayssari | 24 February 2010

  11. bersyukur kalau mama masih diberikesempatan melihat kita bertumbuh dan berkembang, saatnya kita membahagiakan beliau.

    Comment by smadav | 16 March 2010

  12. Sabar ya mam wyd, kalau sudah ada waktunya pasti mam akan bertemu dengan ibu mam. saya juga sering merasa kangen dengan ibu saya, walaupun cuman seminggu nggak ketemu. soalnya biasanya kalau saya mau minta bantuan atau cerita-cerita pasti bilangnya ke ibu, tapi sekarang sudah susah, hp nggak boleh dibawa. paling cuman setiap hari minggu saja.

    saya doakan semoga mam bisa segera bertemu dengan ibu mam dan dia selalu diberikan kesehatan (AMIN). untuk ayah mam, pasti dia bisa tahu kalau mam sangat merindukannya, begitu pun sebaliknya dengan dia. karena Ayah mam akan selalu berada dihati mam dan keluarga.🙂

    Comment by Lilik Laras_KIRANA 17 | 18 November 2010

  13. Assalamualaikum wr.wb
    saya tertarik dengan artikel “kangen ibu” ini karena sejujurnya saya juga sangat kangen dengan mama saya sekarang yang dimana sekarang mama dan papa saya sedang pergi naik haji, maaf sebelumnya saya mengganti dengan sebutan mama dan papa. Artikel ini sangat menarik karena isi nya sangat mencakup keinginan penulis untuk bertemu ibunya agar tidak terulang kesalahannya yang kedua kalinya dan juga isi dari artikel ini dapat membuat orang yang membacanya menjadi selalu ingat akan orang tuanya dan kesalahannya terhadap orangtuanya,terima kasih.
    Wassalamualaikum wr.wb

    Comment by alia zaharani utami-KIRANA | 18 November 2010

  14. Saya sangat terharu setelah membaca artikel ini,artikel ini sangat menyentuh dan membuat saya teringat dan kangen dengan ibu saya,padahal kemarin saya baru merayakan Idul Adha bersama keluarga termasuk dengan ibu saya. Apalagi dengan tinggal di asrama, itu membuat saya semakin sulit bertemu dengan ibu saya,melihat wajahnya saja jarang sekali hanya 1 kali seminggu apalagi untuk pergi jalan-jalan dengannya.Tapi menurut saya, kita tidak hanya merasakan kasih sayang ibu dengan selalu berada disampingnya, kita bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lewat doa yang beliau beri untuk kita dan saya yakin doa tulus darinya selalu bisa membimbing saya menjadi anak yang baik, soleha dan bisa berguna untuk bangsa dan negara.
    Maka dari itu saya juga yakin walaupun Maam jarang bertemu dengan ibu Maam, tapi ibu Maam selalu mendoakan yang terbaik untuk Maam dan dengan doa itu Maan bisa merasakan kasih sayang tulus dari Ibu Maam tanpa harus bertemu dengannya, karena ibu Maam akan selalu ada di hati Maam😀

    Comment by Eriza Dwi Indah Lestari _ KIRANA 17 | 18 November 2010

  15. Semangat semangat untuk mam wyd🙂
    semua orang pasti merasakan yang sama seperti mam,
    semua orang pasti juga kangen ibunya.
    Sama seperti saya, sesungguhnya saya juga kangen ibu😦
    saya hanya bisa bertemu dengan ibu saya satu kali dalam seminggu.
    ibu bagaikan cahaya bagi kita semua, terkadang kita hanya meremehkan kedatangannya dan keberaadaannya, tetapi jika ibu sedang tidak ada ketika kita sedang ingin sekali bertemu dengannya, sungguh kita merindukannya. kita pasti merindukan belaiannya, kasih sayang, dan perkataannya.
    saat itu kita merindukan perkataannya, tetapi saat ibu sedang memarahi anaknya, perasaan kita sungguh berbeda dengan ibu.
    saat kita merindukan ibu, kita selalu teringat akan kesalahan yang pernah kita buat kepada ibu.
    sebelum itu terlambat kita harus mengatakan apa yang kita inginkan dan apa yang sebenarnya yang ingin kita katakan saat merindukan ibu.
    Semangat ya mam wyd,
    teruslah tersenyum untuk ibu yang mam cintai dan semua orang.🙂

    Comment by Emelda Listiana-KIRANA | 18 November 2010

  16. Maam, widia jadi terharu membaca artikel maam. Perlu yang maam ketahui, widia dari Pagaralam loh, jadi orang tua widia ada di pagaralam. Sekarang ini, widia juga kangen kepada orang tua widia. Namun, kita harus tetap semangat maam. Agar pekerjaan kita akan tercapai dengan maksimal. Jangan bersedih maam.🙂
    Widia sekolah di Palembang karena ingin meraih kesuksesan maam dan bisa membanggakan kedua orang tua pada suatu saat nanti.
    Maam, menurut maam bagaimana perlakuan widia ya? karena widia kemarin sakit maag, migran, muntah-muntah. Dan bu santi (pembina asrama) menyuruh widia untuk menelpon mama, tapi widia tidak menelpon mama karena takutnya mama nanti kepikiran dan langsung kepalembang dengan cepat dan ini menyebabkan widia takut jika mama kecelakaan kalo cepat-cepat perginya. Waktu yang harus ditempuh pun kurang lebih selama 7 jam. Widia juga tidak ingin mama widia kelelahan. Maka dari itu, widia gak kasih tau ke mama.

    Maam, widia hanya mau mengucapkan kepada maam bahwa papa widia sama sekali tidak pernah melihat atau merasakan adanya kakek widia. Karena kakek widia meninggal ketika papa berusia 1 tahun. Maka dari itu, maam harus bersyukur karena maam dapat bermain dan melihat ayah maam selama beliau masih hidup.
    Maam, widia tau kalo ditinggalkan orang tua adalah cobaan terberat, namun Allah akan memberikan yang terbaik kepada kita. Keep smile maam😀

    Maam, jangan sedih ya. kalo maam sedih, widia juga bakalan sedih dan kangen dengan orang tua widia. Oke maam😀

    Comment by widia yulindo - kirana 17 | 19 November 2010

  17. memang berpisah dengan orang tua merupakan sesuatu yang sangat berat, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan,membutuhkan proses yang cukup lama, karena orang tua seperti hal nya ibu, beliau merupak sosok yang kita butuhkan,dengan kata lain beliau bisa dikatakan sebagai sahabat kita dimana tempat kita berbagai cerita, baik dalam permasalahan nilai sekolah, pertemanan bahkan masalah percintaan.
    saya juga merasakan seperti mam wid kangen ibu, karena orang tua saya juga berada di luar kota, ingin rasanya bertemu orang tua setiap hari, karena menurut saya orang tua merupakan salah satu seseorang yang bisa menumbuhkan semangat kepada kita, tetapi semua itu tidak mungkin. selama satu tahun ini saya berusaha supaya bisa jauh dari orang tua, karena saya takut mengecewakan mereka untuk kedua kalinya🙂
    semangat ya mam🙂

    Comment by Avega wahyu ningrum-kirana | 20 November 2010

  18. Kangen ibu juga…….

    Comment by J. | 23 December 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s