Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Bunuh Diri. Tertarik?

(Semoga Sang Empunya Kehidupan mengampuni dosa-dosa kita semua. Semoga Dia memilihkan tempat indah buat saudara saya setelah Dia memberikan ‘rumah gelap gulita’ di dunia ini padanya.
Mohon maaf kepada semua pihak jika merasa saya mengungkit ‘cerita lama’.)

Kasus bunuh diri belakangan ini marak terjadi. Pilihan tempatnya pun mewah, misalnya hotel atau mall.

Seorang sahabat baik, yang sudah saya anggap saudara, juga meninggal karena bunuh diri. Setelah dua kali gagal, akhirnya dia benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dengan cara ketiga. Tulisan ini tidak untuk mengungkit atau menyalahkan pihak mana pun. Kami berdua telah melalui kehidupan yang amat berat. Saya mencoba keluar dari belenggu itu dengan mengikis satu-persatu rantai perangkap. Sedangkan dia memilih menyerah karena tak sanggup lagi melawan.

Yang saya ingat, dia pernah mengatakan agar jangan pernah berangan-angan bunuh diri karena makin lama angan-angan itu akan makin kuat tersimpan. Awalnya dia hanya membayangkan sebuah silet tajam untuk mengakhiri semuanya. Langkah kedua, dia membeli silet di toko depan rumah. Kemudian melakukan apa yang ada dalam angan-angannya. Dia tersadar dua hari kemudian telah terbaring di ICU.
Dengan canda saya katakan padanya, kalau boleh memilih saya akan bunuh diri di laut karena saya cinta pantai. Biar jasad saya bisa berada di tempat yang paling saya cintai. Dan lima tahun kemudian, laut menjadi pilihannya mengakhiri hidup.

Jujur, saya pernah ‘tertarik’ ceritanya. Saya kira, ada benarnya mengakhiri sebuah perjuangan hidup yang kelihatan nihil besar hasilnya, dengan bunuh diri. Bukankah semua kekalutan akan berakhir seiring berhentinya denyut nadi? Bukankah ketakberdayaan tak berujung akan hilang dari pandangan dalam sekejap? Bukankah perlawanan seekor semut pada raksasa akan tersudahi seketika?

Tapi sekali lagi, saya harus mengakui bahwa saya amat pengecut. Selain sifat naif lainnya, yaitu sangat pemalu dan sangat tidak percaya diri, saya juga seorang pengecut. Ketiga sifat ini tidak pernah sudi meninggalkan saya hingga detik ini. Dan kepengecutan itulah yang membuat saya tetap hidup.

NB: Foto hanya perwakilan kasus dugaan bunuh diri terkenal.

18 December 2009 - Posted by | Umum |

14 Comments »

  1. tertarik tidak pernah, karena iman kita menjadikan kita ingin khusnul khotimah bukan?

    Comment by dan | 18 December 2009

  2. memang tidak selalu keberanian jadi andalan yang paling baik. lagi pula saya terlalu takut untuk merasakan guratan silet dan bantingan ombak pada sbuah batu karang yang meremukan kepala saya.

    setelah perjuangan keras menantang beratnya hidup, lalu menyerah dengan bunuh diri?
    untungnya saya terlalu penyecut untuk tindakan sekonyol itu.
    saya harap jangan pernah ada keberanian dari seabreg” pikiran di dalam kepala saya yang menyiratkan bunuh diri.

    Comment by natural selection! | 18 December 2009

  3. jangan, jangan sampai ada pikiran kesana apalagi keinginan kesana. beban , cobaan yang diberikan kepada kita sudah ditakar sesuai kemampuan kita

    Comment by budies | 18 December 2009

  4. Waaah, sereeem bro. Tidak asyik bila kita mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena melanggar perjanjian dengan Sang Pencipta bahwa kita dihidupkan dan dimatikan.
    Kita faceboker juga buat ngisi waktu luang… hehehe

    Comment by BOY | 18 December 2009

  5. mengakhiri hidup karena ga kuat hidup?
    buat yang masih hidup, hrs banyak-banyak liat banyak orang yg harus bertahan untuk kelangsungan hidupnya.
    banyak-banyak bersyukur, berdoa dan ngeblog, errr..ngeblog masuk gituh?

    Comment by amilus | 18 December 2009

  6. Bagi yang mempunyai kepercayaaan, ketika kenyataan bertolak belakang…
    Bagi yang mempunyai ketenangan, ketika pandangan merusak pikiran…
    Bagi yang mempunyai kekuatan, ketika halangan melebihi batasan…

    Bersiaplah untuk bangkit kembali.

    Comment by vandeput | 18 December 2009

  7. wah… sama bu…
    saya sendiri juga tertarik sama cerita orang2 yang ingin bunuh diri

    sebenernya saya juga pernah ada pemikiran ke arah sana, tapi saya sadar banget klo saya tuh orangnya pengecut :p

    jadi ya ga pernah dijalankan dengan benar…hehehe

    kepengecutan ini terkadang membawa dampak positif ^^

    salam kenal ya bu guru kimia yang blognya seru banget ini

    Comment by bloop | 3 January 2010

  8. sungguh saya bosan melihat jari-jemari, saya jengah melihat hari-hari, dan saya muak melihat kehidupan yang berhenti. jika hidup telah demikian mati, apa bedanya dengan mati yang sebenarnya? jika tak ada bedanya, maka bolehlah saya sekedar memilih mati yang kedua.

    maka sesungguhnya saya ibarat seonggok daging tak bernyawa, mayat hidup yang berjalan, jenazah tanpa cacing yang bisa bicara. saya membusuk di kehidupan.

    seandainya saya bisa merasakan hangatnya sinar mentari, sejuk embun bersahabat dengan kabut, dan, meski temaram, malam telah menjadi penghangat saya ketika lelah. kenapa saya tak bisa merasa?

    bukan tanpa alasan saya memilih mati. saya masih punya otak. buat apa saya bertahan di kehidupan yang mati? mungkin inilah yang disebut orang: “tak punya hati”. tak bisa merasa, tak bisa meraba, tak berani berbuat apa-apa.

    ya, saya tak punya hati.

    saya tak punya hati untuk menghadapi hidup.

    saya tak punya hati untuk bersikap berani.

    mungkin, saya tak punya otak untuk mencari cara menghidupi hidup saya sendiri. mungkin karena otak saya hanya terisi kosa kata kematian.

    kepada siapa saya harus meminta kosa kata tentang kehidupan?

    kepada Sang Pemilik Hidup? bagaimana caranya?

    Comment by Hafid Algristian | 10 January 2010

  9. gag deh, jangan sampai kepikiran kehidupan ini, betapapun pahitnya, terlalu indah untuk diakhiri dengan cara seperti itu…

    Comment by mayssari | 24 February 2010

  10. ga’ dech…, makisih…
    ckckck….

    Comment by haryoshi | 29 October 2010

  11. Hanya orang bodoh yang mau mengakhiri hidupnya…

    Mungkin semua orang pernah merasakan sakit yang amat sakit apabila terus dirasakan. Akan tetapi hidup tak boleh berhenti jika kita mempunyai penyakit yang mungkin kita tak sanggup lagi untuk menahannya.

    Sebagian orang mengatakan bahwa apabila hidup dengan penyakit itu tak ada gunanya. Menurut saya itu adalah salah. Kita bisa hidup karena telah ditakdirkan sang pencipta untuk hidup. Dan sebaliknya, kapan kita mati pun sudah ditentukan-Nya.

    Saya punya sedikit cerita tentang saudara sepupu saya yang berjuang untuk hidupnya.
    Kala itu usianya baru menginjak 3 tahun. Akan tetapi di umur belianya dia telah mengidap leukimia. Orang tuanya berkorban banyak untuk putri bungsunya. Tidak hanya kasih sayang, waktu, tapi mereka juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
    Adik saya tersebut tidak hanya berdiam diri dengan penyakit yang dideritanya. Dia melupakan rasa sakitnya dengan bermain bersama temannya, layaknya orang sehat biasa. Sampai akhirnya Sang Pencipta memanggilnya.

    Itu adalah salah satu contoh betapa kita harus menghargai hidup yang hanya sebentar ini. Kita masih bisa membuat karya yang dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.

    Berbuatlah selagi masih bisa
    Jalani hidup dengan waktu yang tersisa
    Berterima kasihlah kepada-Nya
    Karena hidup hanya sementara

    terima kasih🙂

    Comment by Lia Muslichah - KIRANA 17 | 18 November 2010

  12. Hidup memang tidak semudah yang dibayangkan. Hidup tidak hanya sekedar bersenang-senang dan makan, namun hidup juga selalu diwarnai dengan beragam cobaan. Terkadang, ketika seseorang diberi suatu cobaan, dia tidak menyadari dengan apa yang telah dimilikinya dan menyelesaikan cobaan tersebut dengan mengakhiri hidupnya. Ingat, sesulit apapun cabaan yang diberikan, kita harus menyadari bahwa disamping kita selalu ada Tuhan yang selalu menemani kita kapanpun dan dimanapun. Percaya dan yakin pada-Nya akan membuat kita dapat menjalani hidup dengan lancar🙂
    Keep spirit ya ma’am.

    Comment by Septami Putri - Kirana | 18 November 2010

  13. justru orang yang bunuh diri itulah yang pengecut Bu..karena ia nggak berani menghadapi kesulitan hidup. seandainya ia jantan, harusnya ia berani menghadapi kenyataan hidup bagaimanapun pahitnya..

    Comment by anung umar | 13 July 2011

  14. mba… saya kalau ruwet juga mikir bunuh diri, tapi saya mikir lagi, emang urusan beres kalau udah bunuh diri? hidup yg sebenarnya kan di akhirat, bunuh diri dosa besar, saya jadi mikir lagi, di dunia udah susah eh di akhirat tambah susah, nikmat Allah yg diberikan ke kita besar mba, tapi kadang kita cuma ngeliat yg jelek2nya aja. kalau udah ngerasa paling sedih atau menderita di dunia ini, saya liat lagi pengemis jalanan, atau kakek2 tukang ngambil botol plastik, ternyata hidup saya masih untung, atau ketika ditinggal kekasih, liat aja berapa banyak yg ditinggal anak, suami, istri?? mereka lebih sedih lagi. Hidup ini cuma tempat transit, sepedih2nya hidup toh ada hidup abadi yg lain, jadi gak mau ambil pusing, berapa lama sih hidup di dunia? 60 tahun, 70 tahun??/ nikmati aja.

    Comment by Riri El Rose | 12 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s