Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Selamat Paskah dari Vatikan

Dari kecil dulu saya suka banget menantikan acara-acara keagamaan di TV. Dan itu masih kerap saya lakukan sekarang. Ga jelas asal mulanya kesukaan itu timbul. Senang aja mendengar bahasa-bahasa asing diucapkan, atau melihat beragam bangsa berbaur tanpa sibuk memikirkan bahwa mereka berbeda bangsa, berbeda bahasa, bahkan berbeda ras.

Dan hari ini saya menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Senang mendengar Sri Paus mengucapkan ‘Selamat Paskah’ dengan dialeknya. Menurut saya sih, dialek Bahasa Indonesia Paus Johannes jauh lebih sempurna dibandingkan Paus Bennedict, meski yang diucapkan hanya kata-kata singkat. Bahkan dulu saya ikut sibuk menghitung jumlah bahasa yang digunakan Sri Paus.

Bila bulan Ramadhan tiba, saya senang menyaksikan siaran langsung sholat Tarawih dari kota Mekah sambil menyiapkan sahur. Tingkah polah Muslim yang lagi sholat, membukakan mata hati saya akan keragaman bangsa di atas tanah Sang Pencipta ini. Saya jadi tahu kalau Muslim Turki rada-rada ‘sibuk’ saat sholat. Buat saya sendiri, sholat ga boleh garuk-garuk sana-sini atau sibuk meluruskan jatuhnya mukena. Kalau pun terpaksa garuk-garuk atau melakukan hal lain, ada aturannya. Dan sekali lagi ada tambahan kata ‘terpaksa’ atau mau ga mau harus dilakukan saat itu juga.

Jamannya Bill Clinton masih menjadi presiden Amerika, saya senang beliau mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri dari Gedung Putih. Sebuah bentuk perhatian dan pengakuan dari seorang presiden negara adi daya, yang notabene bukan negara Muslim, terhadap peran kaum Muslim untuk negaranya dan untuk dunia global. Sayang, George Bush Jr. tidak melakukan hal yang sama. Padahal saya sudah susah-susah melototin TV mencari berita singkat tentang ucapan selamat Idul Fitri dari berbagai kepala negara di dunia🙂

Apa sih menariknya mendengarkan orang lain mengucapkan bahasa ibu kita, terutama jika yang lagi bicara adalah seorang tokoh terkenal?

Buat saya, jika para tokoh itu bersedia menyelipkan Bahasa Indonesia di antara sekian ratus ribu atau bahkan sekian juta bahasa lain di dunia ini, maka itu berarti bangsa ini masih ‘dianggap’ punya peran penting bagi masyarakat global. Fakta-fakta ‘kecil’ seputar berita miring negara ini, ternyata tidak menutup mata semua orang bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar.

Saat menyaksikan jutaan orang dari berbagai belahan dunia berbaur di tanah suci Mekah untuk melakukan tujuan yang sama, seperti halnya berbagai bangsa berkumpul di depan Gereja Saint Peter untuk mengikuti ritual keagamaan, rasa syukur saya terbangkitkan. Prosesi-prosesi sejenis membuat saya makin ingin mengenal Sang Maha Perkasa yang menciptakan saya.

Di antara gembar-gembor paham individualis-logis-anti moralis, masih banyak manusia di muka bumi ini yang percaya Tuhan adalah penunjuk jalan keselamatan.

12 April 2009 - Posted by | Opini | ,

10 Comments »

  1. Bahasa kita memang masih terlalu sedikit mbak usernya. Tunggu aja kalo manusia Indonesia sudah banyak berkeliaran merantau ke negeri seberang dan punya anak. Mbah Google sebenarnya sudah bagus tuh bisa nranslate, meski terbatuk-batuk😀 Belum juga adanya aturan bahwa kunjungan tamu dari luar ke negara kita harus berbahasa Indonesia itu salah satu faktor juga. Coba kayak China dan Jepang🙄

    Comment by WANDI thok | 13 April 2009

  2. tapi kita harus bangga ya, ternyata penggunaan bahasa indonesia di wordpress menduduki peringkat 3 setelah bahasa ingris dan spanyol, mudahan ini awal mendunianya bahasa indonesia

    Comment by budi | 18 April 2009

  3. masing2 pasti ada pasarnya sendiri lah, mo individualis kek, logis, anti moralis kek… ato sebaliknya

    biasanya sih klo gi langka, justru malah mahal lo

    Comment by HASTu W | 18 April 2009

  4. Menandakan bangsa kita masih menjadi bangsa yang besar akan perannya di kancah dunia.

    Comment by namakuananda | 18 April 2009

  5. benar sekali. benar sekali, bu.
    bangsa ini masih dianggap. bangsa ini masih diperhitungkan. dan bangsa ini masih bisa mengukir prestasi positifnya di dunia internasional lewat IFO, bu! (eh, apa IMO, ya?)
    lalu, kapan ICOnya, bu?
    ayuh, saya mengandalkan ibu untuk mencetak murid2 yang sanggup berangkat mengukir prestasi di dunia internasional, bu! bangsa kita akan diperhitungkan sepenuhnya, bu!😉

    Comment by Hafid Algristian | 19 April 2009

  6. saya selalu mengucapkan : selama masih ada wajah2 berbinar dan semangat saat akan berangkat ke sekolah, bangsa ini tak akan pernah kehilangan masa depan…

    Comment by mayssari | 5 May 2009

  7. baca tulisan ini sy jadi tau, masih banyak teman ternyata yg melihat Dia lewat keluhuran dan SayangNya yg besar. gak melulu dari sora-neraka blaka hahahaha. makasih ya mbak, udah berkunjung ke http://mysarimatondang.blogspot.com

    Comment by papa amartya | 9 June 2009

  8. @papa amartya: yang tampak di mata dan dapat langsung kita rasakan untuk disyukuri adalah keluhuran dan kasih sayang, pak. sorga, neraka, pahala menyusul di belakangnya.

    dari dulu sih saya selalu menyempatkan diri ‘berkunjung ke kampung halaman’🙂

    Comment by wyd | 9 June 2009

  9. selamat paskah.:paskah berbagi n mencintai

    Comment by anna | 31 March 2010

  10. Iya Mom. Seneng kalo denger orang-orang penting di dunia ini masih bisa berbahasa indonesia walau hanya sedikit. heran deh kenapa orang Indonesia sendiri ternyata masih banyak yang belum fasih berbahasa Indonesia? Padahal orang luar negeri aja menghargai bahasa kita ..

    Comment by Widya Pebryanti Manurung - Kirana 17 | 18 November 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s