Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Gubernur Sumsel Realisasikan Janji

Lunas sudah janji Gubernur Sumsel Bapak Alex Nurdin dan Wakil Gubernur Sumsel Bapak Eddy Yusuf saat kampanye kandidat calon gubernur. Saat itu beliau berdua menyatakan siap turun meski telah terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur Sumsel, jika program berobat gratis dan sekolah gratis tidak terlaksana dalam tahun pertama pemerintahan mereka.

Dan dua hari kemarin, meski saya tidak ikut menyaksikan, baik secara langsung maupun lewat media televisi, tetapi program sekolah gratis telah di-launching. Kabarnya bahkan dihadiri oleh Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Program ini sekaligus mengikuti program berobat gratis yang telah lebih dulu dilakukan.

Meski saya menangkap banyak nada miring mengenai kedua program tersebut, saya sih lebih suka optimis. Berobat gratis dapat saja menjadi sebuah program dan tentu dapat dijalankan sesuai harapan rakyat jika telah dikalkulasi dengan cermat dan setiap komponen mendukung dengan sepenuh hati. Jika ada isu bahwa yang gratis-gratis tidak dilayani sebagaimana mestinya, tentu yang salah bukan programnya, melainkan individu yang menjalankan.
Dan jika program sekolah gratis nantinya dapat menurunkan kinerja pendidik, tentu juga bukan salah programnya. Semua kembali kepada komponen pendukung apakah mau mendukung dan melaksanakan program-program tersebut dengan sebaik-baiknya atau malah bersikap masa bodoh.

Sebagai warga negara yang baik, program pemerintah yang diperuntukkan bagi kemakmuran bangsa sepantasnya didukung penuh. Ini yang akan saya lakukan, meski tempat saya mengajar tidak termasuk dalam program sekolah gratis, dengan berbagai pertimbangan. Dan meski (kabarnya) program sekolah gratis antara lain terselenggara dengan menyedot uang makan PNS kota Palembang. Yah, satu lobang tertutup, siapa tahu ada lobang lain malah menganga lebih lebar. Positive thinking saja lah🙂

27 March 2009 - Posted by | Opini |

12 Comments »

  1. pendidikan murah, apalagi gratis, takkan terwujud tanpa subsidi pemerintah (pusat/daerah)
    itu antara lain diambilkan dari sebagian dana anggaran pendidikan yang seharusnya 20% dari APBN/APBD
    kalau gubernur telah melangkah, seyogianya yang lainnya mesti ikutan bergairah memberikan dukungan

    selamat Sumsel!

    Comment by masedlolur | 28 March 2009

  2. tukeran gubernur yuk…😦

    Comment by adhiwirawan | 28 March 2009

  3. bener ma’am, optimist-positive thinking aja.
    Yes we can ya maam🙂
    anyway, 17 bakal gratis nggak maam? *ngarep*

    Comment by uci | 28 March 2009

  4. namun kualitas kbm harus terus terjaga, jangan sampai ada subsidi dari pemerintah tp kualitasnya menurun, karena anggarannya tak cukup … btw, masyarakat masih punya tanggung jawab dalam memajukan pendidikan anak-anaknya

    Comment by ilham | 28 March 2009

  5. @ilham: kalau anggaran ga cukup, berarti kalkulasi rencana kurang matang, pak. masyarakat harus ikut, pasti, pak. dan mudah banget kan men-transfernya ke bentuk lain🙂

    Comment by wyd | 28 March 2009

  6. blog walking nih, jarang ol di pc soalnya.
    saya sih nggak setuju pendidikan “gratis”, emangnya ilmu jatoh dari langit trus masuk ke kepala kita.
    Gratis itu kan cuma bahasa politik ama bahasa marketing, seperti iklan operator-operator seluler itu.
    kenyataannya ngga ada orang tua yang nyekolahin anaknya tanpa keluar uang.
    Jadi bahasa yang tepat menurut saya pendidikan bebas (free bukan bererti gratis) dan terbuka.
    bebas artinya setiap institusi dibantu stack holder pendidikan bebas merumuskan kriteria / parameter mutu, biaya, program pendidikan.
    terbuka artinya dengan semua kritaria dan parameter yang dah dirumuskan pendidikan harus bisa diakses oleh semua orang yang menginginkannya.
    nah disitu peran pemerintah, sekolah dan masyarakat dibutuhkan.

    Comment by adhiwirawan | 28 March 2009

  7. Sependapat dengan angka 6.
    Slogan “GRATIS” hanya bahasa politis/marketing. Slogan ini digunakan untuk mendapat dukungan rakyat sebanyak-banyaknya.
    Sebaiknya kita tidak perlu berharap sepenuhnya program ini.
    Masalah pendidikan anak, dimana-manapun adalah tanggung jawab utama dari orang tua. Orang tua yang menginginkan anak-anaknya lebih maju, harus berkorban dana, pikiran dan waktu. Slogan “GRATIS’ janganlah terlalu dibesar-besarkan, karena akan menjadi beban bagi personil-personil yang menjalankan program tersebut, khususnya para guru. Kasian, apakah income mereka sudah cukup memadai.

    Comment by Fanani | 1 April 2009

  8. tes

    Comment by Fanani | 1 April 2009

  9. gratis 100%, bu?
    kalo tingkat SD-SMP sih memang sudah program pemerintah gratisnya. di surabaya, kabarnya juga mau menuju SMA gratis atas prakarsa walikota, namun masih belum 100%. berawal dari sekolah2 tertentu yang muridnya memang golongan menengah ke bawah, dimulai dari peminjaman beberapa buku dulu.
    wah… ayo, smangat sumsel!

    bu, apa kabar simpang polda? masih berantakan, kah?
    aduh… sayang sekali, ya. padahal posisinya di tengah kota. bikin perjalanan ke PIM, BKB, dan Kambang Iwak terhambat, niy…😀 *lupa-lupa inget :P*

    Comment by Hafid Algristian | 11 April 2009

  10. *@ Hafid: Hei Ndut, simpang polda udah gak seberantakan waktu kamu dateng tauk..*

    Hmm..
    Saya bangga lho jadi warga sumsel.. ^^

    Comment by andam | 12 April 2009

  11. @adhiwirawan, fanani: istilah sekolah gratis memang dislogankan oleh sang gubernur kala kampanye kandidat gubernur bahkan juga digunakan saat launching.

    @Hafid Algristian: kayaknya GA MUNGKIN BANGET 100% gratis. Tapi waktu kampanye sih, pak gubernur bilangnya gratis sampe ke pakaian seragam, dst. wait and see lah…🙂

    Simpang Polda udah bagus sekarang. Ga macet lagi karena jalan tol (meski pendek) udah selesai.

    @andam: banyak orang berpendapat sama, bangga jadi warga palembang setelah relasi yang berkunjung rada2 menikmati keindahan dan kebersihan kota.
    tapi tentu suatu kualitas harus terus ditingkatkan.
    eh, kalau lihat dari fotonya, hafid ga gendut sama sekali!

    Comment by wyd | 13 April 2009

  12. Alex Nordin ya… hm..
    Asalkan sistem pengawasannya benar, mau seberapa jelek eksekutifnya ya tinggal ganti. Ataupun sistem pengawasannya jelek, eksekutifnya harus dari diri sendiri harus bagus.

    Yah, janji kampanye kan untuk mudah dicerna oleh rakyat biasa. Minimal mereka sudah menunaikan janji. Rakyat yang berpendidikan seperti kitalah yang harus mengawasi seberapa bagus penunaian janji itu ^__^

    Comment by vandeput | 15 April 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s