Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Syariat Islam di Indonesia

Membaca di banyak website asing yang mengkopi artikel tentang sekian provinsi dari keseluruhan provinsi di Indonesia telah menjalankan syariat Islam, menimbulkan banyak pertanyaan bagi diri saya sendiri. Dua di antaranya saya tuangkan di sini.

Pertama, apakah benar hal itu sedang terjadi di negara ini?red-and-blue1
Bukan karena saya tidak cinta Islam padahal saya seorang Muslim, maka saya menolak syariat Islam dijalankan di negara ini. Maksud saya, jika dijalankan dengan sepenuhnya seperti tuntunan Alquran dan Hadist sebagai landasan negara. Kenapa saya tidak setuju? Karena negara ini terlalu plural dengan kultur bangsa sangat heterogen.

Dengan latar belakang yang memiliki keluarga dengan kebudayaan dan agama heterogen, saya cenderung menjadi sangat hormat pada agama dan kepercayaan orang lain. Menurut pendapat saya, kalau memang ingin dijalankan syariat Islam di negara ini, sepatutnyalah hanya dijalankan pada para pemeluknya. Mulailah dari para pemeluknya, dan jangan setengah-setengah, apa pun resikonya. Karena bisa jadi dengan adanya penerapan syariat Islam yang terbatas hanya pada pemeluknya, jumlah kaum Muslim di negara ini akan mungkin mengkerucut dengan sangat cepat.

Kita tidak bisa menutup mata adanya Muslim KTP atau apa pun istilahnya. Mereka bisa jadi adalah kita sendiri, secara sadar atau tidak. Jika anda menonton tayangan Ramadhan tahun lalu di berbagai stasiun TV mungkin akan melihat banyak tempat di beberapa daerah mengadakan ‘I’tikab’ versi mereka yang tidak ada dalam tuntunan Alquran dan Hadist. Atau beberapa kasus bulan Ramadhan seperti yang saya tulis dalam Apa Ramadhan Istimewa? No Way sungguh tidak bisa dikatakan ‘sedang menjalankan syariat Islam’. Bukankah tidak mustahil golongan orang-orang seperti ini (yang bisa jadi kita berada di antaranya. Nauzubillahi minzhaliq) rela menukar agama dan keyakinannya karena tidak ingin diberlakukan syariat Islam pada dirinya?

Namun bukankah Muslim seharusnya bersikap fair terhadap kaum lain yang mempunyai kepercayaan berbeda? Kenapa mereka yang tidak meyakini Islam sebagai jalan hidup, juga harus menerima landasan hukum yang sama? Secara simpel, bukankah jelas ada lembaga pernikahan untuk Muslim dan non Muslim, yang artinya memang tertera perbedaan hukum antara kedua golongan itu?

Pertanyaan kedua dalam pikiran saya adalah: hendak dibawa ke mana negara ini?
Jika hukum Islam diterapkan (dalam hal ini saya tidak berargumen bahwa penerapannya hanyalah faktor suka-suka atau yang mana cocok diambil, yang mana tidak cocok akan dibuang), maka negara ini akan menjadi negara berbasis agama Islam. Seperti yang diajarkan catatan sejarah pada kita, latar belakang bangsa ini adalah Hindu dan Budha. Perjalanan bangsa membawa Islam menjadi negara berpenganut terbesar. Namun tata cara hidup dan kultur Hindu-Budha (terutama Hindu) masih kuat berakar di banyak tempat hingga saat ini. Kasus Ponari dan batu ajaibnya adalah contoh kecil menyatakan hal itu. Ketidakmampuan pemerintah memberikan kehidupan memadai pada rakyatnya dengan alasan apa pun, akhirnya menyeret sebagian bangsa ini kembali mengais sisa-sisa kultur dan kepercayaan nenek moyang. Salahkah mereka?

Jika benar negara ini hendak dijadikan negara berbasis agama Islam, maka hendaknya kita tidak setengah-setengah seperti Malaysia. Lihat saja betapa bangga Malaysia mempertontonkan pakaian jubah bagi kaum wanitanya tetapi dengan bangga juga menyatakan mereka memiliki fasilitas judi terbesar di Asia Tenggara. Jika dijalankan setengah-setengah, maka sama saja menjelek-jelekkan syariat Islam karena kita hanya akan mempertontonkan syariat Islam sebagai sesuatu yang menggelikan.

Saya membayangkan apa yang terjadi di Aceh akan terjadi di Indonesia secara umum jika benar akan diberlakukan syariat Islam di negara ini. Wanita-wanita non Muslim ‘dipaksa’ mengenakan jilbab, sementara kita masih bisa ‘menonton’ pasangan muda-mudi bukan muhrim duduk berpelukan di tepi pantai atau di taman kota. Negara seperti itukah yang ingin kita pertontonkan pada dunia untuk menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki populasi Muslim dunia terbesar?

23 March 2009 - Posted by | Opini | , , ,

29 Comments »

  1. Hmm, isu sensitf.nih, saya jarang baca-baca berita bahasa asing sih, kecuali isu teknologi.
    Terus terang surprise juga isu ini jadi perhatian asing.
    Imho, Indonesia ngga akan mengarah ke negara Islam. dan sebagai muslim-pun saya nggak keberatan kalau jadinya seperti itu, perkembangan politik di level elit muslim lebih mengarah ke Islam secara substatif, bukan label, cover atau apalah.
    Kalau ada beberapa daerah seperti Aceh yang menerapkan syariat Islam itu bagian dari konsekuansi sistem terdesentralisasi.
    Seperti di Amerika juga kan tiap negera bagian hukumya tidak selalu sama, seperti mengenai hukuman mati, aborsi dll.
    Menurut saya, pihak asing tidak perlu membesar-besarkan isu ini, justru dengan terakomodasinya setiap aspirasi yang eksis dari kemajemukan bangsa kita, kelompok radikal semakin tidak memperoleh momentum serta ruang untuk hidup dan berkembang. jadi penyesaian dengan pertumpahan darah bisa dihindari.
    Dalam prosesnya nanti, pemerintah daerah yang mendapat apresiasi rakyatnya dan daerah lain adalah pemerintah yang berhasil mengangkat harkat martabat rakyatnya, membawa masyarat keluar dari keterpurukan menjadi lebih sejahtera. Bukan yang menerapkan asas A, B atau C.

    Comment by adhiwirawan | 24 March 2009

  2. saya sejalan sama sampeyan…
    kultur dan budaya bangsa ini terlalu plural..
    dan ketika hal tersebut diberlakukan, selain malah menjadikan tontonan yang tidak lucu, akan menghilangkan identitas budaya yang selama ini digembar gemborkan sebagai kekayaan bangsa ini.

    Comment by mayssari | 24 March 2009

  3. Iya, yang penting pondasi dasarnya nggak dirubah. Artinya kepala daerang tetep dipilih melalui proses pemilu, sumberdaya daerah dikelola bersama, kalau lebih di bagi ke yang lain, kalau kurang ditambahin, Kalau sistem pemerintahan , pelaksanaan dan hasil nya bagus ya kasih kesempatan daerah lain belajar, kalau kurang yang boleh belajar ke yang lebih berhasil.
    Trus kalau kalau ada beda pendapat dibicarakan diforum secara elegan, damai dan bermartabat. Jangan mau dikomporin pihak lain yang ingin melihat kita saling bertikai.
    Kalau bisa nggak perlu ada lagi keinginan memisahkan diri, tapi pusat juga jangan sebentar-sebentar “tumpas”.
    Bangsa ini terlalu lama ditindas oleh bangsanya sendiri, dan diacak-acak pihak luar yang mengail di air keruh, sekarang saatnya setiap individu, kelompok juga daerah-daerah mencari serta membangun identitas dirinya sendiri dalam kerangka besar NKRI.
    Jadi kalau ada komentar-komentar miring mengenai perkembangan yang terjadi di negeri ini kok kayaknya mereka berlebihan yah, over reacted gituh.
    Mereka yang membawa dan mengajarkan demokrasi, tapi begitu demokratisasi mulai berjalan ke arah yang lebih positif malah ketakutan, jadi maunya apa?.

    Comment by adhiwirawan | 24 March 2009

  4. ibu..
    kepercayaan pertama yang ada di indonesia adalah animisme dan dinamisme.
    kemudian, islam.
    bukan hindu atau buddha.
    oya bu, di makassar (ibu makassar bukan? saya rada lupa, hehe) ada majalah eramuslim digest kah? edisi untold history of indonesia-nya, bagus sekali. saya merinding bacanya. dan bersyukur menyadari bahwa saya sangat cinta agama saya.
    semoga ibu baca, ya.

    syariat islam itu, setau saya ga pernah memaksa orang2 yang berada dalam wilayahnya untuk memeluk islam bu.. piagam madinah isinya indaah. menurut saya loh. dan manfaatnya banyak banget, terutama memudahkan orang islam menyadari kebaikan2 aturan agamanya sendiri..

    Comment by ushmrkstv | 25 March 2009

  5. @ushmrkstv: wah mungkin ibu udah terlalu lama ninggalin pelajaran sejarah. tapi seingat ibu, kerajaan majapahit dan sriwijaya lebih dulu ada. baru kemudian para pedagang dari gujarat datang ke tanah sumatera, tepatnya di pesisir sumatera.

    itu dia yang ibu maksud, apakah bangsa ini akan bisa mentransfer keindahan islam seperti yang seharusnya ke dalam kehidupan bermasayrakat kita? ibu kok ragu yah.

    yang lebih mengkuatirkan ibu, jangan karena kesalahan sebagian kecil anak bangsa yang salah dalam menerapkan hukum2 islam atau bahkan setengah memaksa, membuat non muslim menjadi anti pati pada islam. contohnya? udah terlalu banyak untuk disebut satu2.

    Comment by wyd | 25 March 2009

  6. jadi seperti forum di myquran.org nih…, saya jadi ngga enak sama tuan rumah. Maaf bu Wyd ya kalau ada komen saya di atas yang nggak berkenan, meski sebenarnya ini berarti juga wacana yg ibu angkat memang menarik.
    Menurut saya kalau kita punya media untuk berdialog tentang isu-isu sensitif seperti ini misalnya, Isya Allah akan muncul saling pengertian.
    Yang berbahaya adalah prasangka yang berkembang tanpa ada ruang mengekspresikan dan mendengar pendapat lain bisa jadi kebencian yg bisa aja meledak, some where, some how.

    Comment by adi wirawan | 25 March 2009

  7. @adi wirawan: wah kalau saya justru jarang banget datang ke forum2, mas, karena banyak orang yang ga jelas, asal bikin ID.

    banyak dari kita merasa siap berdialog soal agama, tapi begitu kita dihadapkan pada dialog sesungguhnya, kita kok merasa ‘sakit hati’ dan bahkan mencari2 alasan bahwa lawan kita berdialog belum bisa menghargai orang lain.

    sehingga kita sok pasang air muka manis di hadapan mereka, tapi ketaksetujuan kita pada sikap mereka bisa2 menjadi kebencian yang satu saat siap meledak seperti yang anda sampaikan.

    anyhow… saya juga wara-wiri di blog anda, mas…🙂

    Comment by wyd | 26 March 2009

  8. Klo saya aktif di forum diskusiweb.com, seru soalnya anggotanya kocak-kocak. and dapet banyak ilmu. ternyata ITers punya sense of humor yg tinggi.
    Mengenai syariat Islam saya bukan ngga percaya sama Syariat Islamnya tapi emang saya agak ragu sama mereka yang mengusungnya.
    bukan under estimate, in real, mereka bukan orang yang istimewa, sama seperti manusia di Indonesia umumnya, yang tidak tahan terhadap godaan dan bisa dengan mudah berbuat munkar atau zalim.
    Tapi biarlah daerah-daerah bereksperimen sesuai batas otoritas yang diberikan.
    Saat ini saya lihat daerah-daerah yang berfikir dan berwawasan kedepan mencari cara dan berupaya keras mensejahterakan rakyatnya yang mulai meraih keberhasilan demi keberhasilan dan mendapat kepercayaan.
    Setiap ide / teori tenteng sistem yang dianggap ideal akan diuji dilapangan, nanti (dah berjalan ding), proses seleksi yang alamiah bergulir dengan sendirinya.
    Sekarang sih terlalu prematur untuk mengagungkan atau menghujat sistem yang diterapkan.

    Comment by adhiwirawan | 28 March 2009

  9. wah udah dibalas rupanya.
    iya bu, di majalah eramuslim digest itu dijelasin bukti2nya kalau ternyata islam udah masuk ke indonesia saat Rasulullah masih hidup, sembilan tahun setelah perintah dakwah terang2an turun. jadi itu abad ke7 masehi, bukan ke11 atau ke13 seperti bukti nisan fatimah binti maimun.. dan lebih dulu daripada kerajaan hindu ataupun budha.
    dan islam emang dibawa pedagang (salah, mereka menyebarkan islam sambil berdagang ^^), tapi pedagang2 dari arab itu mampir dulu ke gujarat, baru deh ke indonesia. makanya dibilangnya pedagang dari gujarat.

    ibu harus baca deh.. majalahnya isinya bagus bu. banyak hal2 keren tentang islam yang sebelumnya saya gak tau =)
    bisa diliat singkatnya di digest.eramuslim.com

    IMHO, kita sebagai muslim ya terus2an memperbaiki diri lah agar ketika syariat islam sudah siap diberlakukan, kitanya juga siap..

    Comment by ushmrkstv | 3 April 2009

  10. hmm… isu yang menarik. terus terang saya juga termasuk salah satu orang yang kurang lebih sama dengan ibu. saya terlanjur sangat menghormati kepercayaan-kepercayaan yang berbeda dengan kepercayaan saya yang notabene adalah islam. namun jika kita telaah lebih jauh ke belakang, sistem pemerintahan islam ternyata berhasil. kekuasaan islam pada masa khulafaurrasyidin mencapai dataran eropa. mengenai diterima atau tidaknya sistem islam oleh mereka yang tidak melandaskan hidupnya pada islam, saya ingin kita melihat negeri persia yang berhasil ditaklukkan oleh tentara muslim. mereka (persia) pada awalnya mempunyai kepercayaan yang mirip dengan yunani kuno yaitu mempercayai banyak dewa.
    kenyataannya setelah penaklukan yang dilakukan oleh tentara muslimin lambat laun masyarakat persia pun berpindah ke agama islam. lalu bagaimana cara tentara mulsim memperoleh simpati mereka?? jawabannya adalah tentara islam masuk bukan sebagai penjajah melainkan sebagai pembebas. pemerintahan islam menjamin kebebasan dalam beragama. penyebaran yang dilakukan adalah dengan menyebarkan dan memberitahu bahwa islam adalah agama yang benar. perihal mau gabung atau tidak itu tetap ada di tangan yang mendengarkan.
    kalau dengan sistem yang seperti di atas pada masa itu berhasil, lalu kenapa pada masa sekarang tidak? jawabannya ada pada pertanyaan “sudahkah kita paham atau paling tidak mengetahui islam yang sebenar-benarnya islam?”

    “pada hari kiamat kelak akan ada banyak golongan islam tetapi hanya satu gologan yang diakui oleh allah..”

    Comment by ABDUL hafiz | 4 April 2009

  11. hmm…
    bagaimana jika kita introspeksi, bu?
    mari beriman-ilmu-amal, sehingga dalam setiap pikir, ucap, dan tindak akan senantiasa menampilkan keindahan islam…
    dengan demikian keindahan agama kita akan lebih mudah dipahami oleh orang lain. dan bukan tidak mungkin orang akan tertarik masuk ke dalam agama kita juga… ya, kan?
    sebagaimana ibu mendalami dan mengajar kimia, dan saya di bidang saya, kan itu semua ilmuNya, sungguh indah bila makin dalam kita mempelajarinya, makin dekat kita denganNya.
    sederhananya seperti ini:
    “subhanallah, anak-anakku… atom-atom yang menyusun Hidrogen ini, benar-benar menjadi bukti dari ayat ‘kebaikan akan dihitung imbalannya meski seberat dzarrah pun'”😉

    Comment by Hafid Algristian | 9 April 2009

  12. Mengubah konsep dasar dari Nasionalis ke Islam, saya tidak mau ikut-ikutan. Bukannya apa, tapi mengubah konsep itu ujungnya kedua: menang jadi pahlawan Bangsa atau kalah jadi pengkhianat Bangsa (ekstremis minimal), plus ujungnya itu gak ketahuan kapan, apakah pas terjadi penggantian undang-undang? penggantian generasi? penggantian pemimpin? Gak jelas kapan.

    Yang isu non-Muslim “dipaksa” pakai Jilbab itu beneran Bu? Seberapa kuat-kah paksaannya? Perbedaan perlakuan? Wowo_O

    Comment by vandeput | 15 April 2009

  13. @vandeput: kayaknya bukan isu deh. ibu pernah hadir dalam suatu acara sharing nasional dengan masyarakat aceh darussalam. bahkan versinya mereka, pegawai2 wanita salah satu bank swasta nasional yang notabene warga keturunan cina dan non muslim harus mengenakan kerudung yang menutupi rambut terus dililit di leher (masyarakat aceh darussalam menyebutnya jilbab).

    tapi kalau mendengar cerita saksi2 mata tentang ‘kekejaman bangsa sendiri’ kayaknya kita bisa mengerti kenapa mereka memilih menerapkan hukum itu.

    Comment by wyd | 15 April 2009

  14. Main di politikana.com bu, bahasan seputar khilafah vs demokrasi sempat memanas disana

    Comment by Muh Faruq | 15 April 2009

  15. politikana.com memang sempat memanas, karena ada yang ngotot memakai logika dan kepercayaan secara bersamaan, padahal dua-duanya adalah hal yang beda: logika kita pikir benar, kepercayaan kita yakini benar >__<

    Bu Wyd, kekejaman bangsan sendiri sepertinya saya masih setengah nyambung deh, apa yang dimaksud? ^__^

    Comment by vandeput | 17 April 2009

  16. Kalau yang bank nasional itu sepertinya karena orang lebih mudah menerima yang pakai Jilbab ya…

    Kebalikannya juga patut dipertanyakan:
    Seperti misalnya pergi ke sekolah di Iran, saya dengar harus melepas Jilbab ya, apa karena Iran itu sekuler? Tolong koreksi saya kalau salah ^__^

    Simbol suatu agama itu memang membawa banyak perdebatan. Ada yang risih kalau ada, ada yang risih kalau gak ada. Entahlah >_<

    Maaf double posting, baru terpikir sekarang😀

    Comment by vandeput | 17 April 2009

  17. maaf triple posting, tadi barusan diskusi sama Eko, baru ingat bukan Iran, tapi Turki yang sekuler dan harus melepas Jilbab kalau sekolah >_<

    Anyway, kayaknya komentar saya banyak yang ngelantur, tolong dibenerin kalau ada yang salah Bu ^__^

    Comment by vandeput | 17 April 2009

  18. @vandeput: ibu agak2 setengah hati main ke forum. tapi beberapa kali join di forum asing yang membahas agama atau keragaman indonesia. ibu lebih suka diskusi terbuka lewat internet kalau ada yang mengundang dan topiknya menarik.

    rakyat aceh darussalam banyak yang anti ‘tentara jawa’ karena pengalaman masa lalu, di mana tentara jawa yang notabene bangsa sendiri melakukan hal2 di luar kemanusiaan pada sebagian besar rakyat aceh darussalam meski mereka rakyat biasa yang ga ngerti politik dan ga pernah berniat mencampuri politik. akhirnya mereka oke2 aja kalau tentaranya ‘orang luar jawa’🙂

    berita terkini, jilbab udah boleh masuk dunia pendidikan turki.

    iran pun sekarang mengalami ‘modernisasi’ versi barat. karena wanita2 muda banyak yang melepas burkah (jilbab yang menutup muka dan telapak tangan) dan menggantinya dengan jilbab ala asia tenggara (jilbab yang biasa kita lihat dikenakan saudara2 muslimah di indonesia).

    Comment by wyd | 17 April 2009

  19. Bu Wyd,

    Ada teman saya yang gak diterima ngajar di sekolah-sekolah dasar Turki (kerja sosial sambilan selama liburan ini), karena dia pakai Jilbab. Apa masih belum terlalu diterima sekali ya Bu? Sayang berita “jilbab udah boleh masuk” ini baru diterima sekarang oleh saya >_<

    Jilbab versi modern ya, terkadang saya sendiri (maaf) terasa lucu kalau melihat orang di kampus saya (yang negaranya sudah resmi pakai Islam), memakai Jilbab versi modern. Terkadang jilbab Indonesia malah masih mendingan Bu ^__^

    Comment by vandeput | 19 April 2009

  20. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.”
    (Surah Al-Baqarah : 170)

    Comment by abu shidqi | 21 April 2009

  21. Kalau teori saya begini: dalam suatu komunitas (negara, daerah, organisasi, bahkan keluarga) umumnya ada kelompok radikal, moderat, oportunis.
    Berapa banyak porsi masing-masing, tergantung keterbukaan sistem dalam mengakomondasi setiap keberagaman yang eksis.
    Jika saluran dialog ditutup atau sangat dibatasi, kelompok radikal yang merasa aspirasi tidak tersalurkan akan menjadi semakin medapat dukungan dan semakin ekstrim. Dan ini lahan subur bagi kaum oportunis untuk mengail di air keruh.
    Itu yang terjadi pada bangsa ini dimasa lalu.
    Kuncinya adalah dialog yang intens dan itikad baik semua pihak demi kemaslahatan bersama, artinya kita harus membuka diri dan hati untuk mendengar serta melihat permasalahan dari berbagai sisi dan sudut pandang.
    Kalau iklim ini terbentuk Insya Allah semakin sedikit pihak yang terzalimi, hati yang membeku bisa melunak sikap yang keras bisa mencair, proses itu yang saya lihat mulai berjalan di negara kita.
    Perbedaan itu bisa jadi indah, bisa juga jadi petaka, Jadi semua ya kembali ke kita.

    Comment by adhiwirawan | 21 April 2009

  22. […] Links WordPress.com WordPress.org PENERAPAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM May 7, 2009, 5:13 am Filed under: Uncategorized Syariat Islam di Indonesia […]

    Pingback by PENERAPAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIA DAN DUNIA MUSLIM « Karanting’s Blog | 7 May 2009

  23. Saya khawatir semula hanya syariat Islam saja yang dituntut tapi setelah itu ada aturan yang aneh2 yg dituntut militan seperti wanita dilarang sekolah/kerja http://t.co/UnEg5asP TV, film, mall, toko, pabrik ditutup dengan alasan paham kapitalis/borjuis Barat. Akibatnya sekarang banyak manusia perahu Islam yang berasal dari Timur Tengah.

    Comment by Anonymous | 11 June 2012

  24. Saya khawatir semula hanya syariat Islam saja yang dituntut tapi setelah itu ada aturan yang aneh2 yg dituntut militan seperti wanita dilarang sekolah/kerja http://t.co/UnEg5asP TV, film, mall, toko, pabrik ditutup dengan alasan paham kapitalis/borjuis Barat. Akibatnya sekarang banyak manusia perahu Islam yang berasal dari Timur Tengah. Ini malah permalukan Islam karena sekarang (tdk hanya Barat) banyak yg menilai Islam identik dengan kemunduran, bencana dan kehancuran bangsa (pecah belah) dan perang saudara.

    Comment by aisyah melanie (@aisyah_pretty) | 11 June 2012

  25. saya pribadi tidak setuju penerapan syariat islam, apalagi didalam penerapannya terlalu banyak sekali kekangan didalamnya dan kekerasan. Saya lebih setuju dengan penerapan undang-undang negara . kalaupun penerapan syariah islam diberlakukan ya silahkan saja , saya siap mundur dari islam

    Comment by asyik | 4 April 2013

  26. @asyik: keliatan banget bodohnya ente. keliatan aslinya bukan islam. maam, komentar beginian dihabisin ajalah. jangan jadikan blog sebagai perantara orang mencaci maki agama orang lain.

    Comment by SmartVisitor | 7 April 2013

  27. bagi bangsa ini meskipun syariat islam jalan, tetapi sangat kental dengan mistik, dan praktek perdukunan sangat kuat, lagi pula ngapain memaksakan syariat islan dalan negara yang prulal, itu sama saja dengan membubarkan nkri, jdi mereka yang memaksakan SI sama dengan pemberontakan terhadap negara, sehingga layak untuk dihukum. bagimana ?

    Comment by kristensen | 26 September 2013

  28. mukan maslaha SI dipaksakan secara hukum untuk diterapkan secra kenegaran dan nasional, tapi yang paling penting-pribadi-pribadi muslim itu sendiri taat untuk menjalankan SI-nya. lagi pula ajaran muslin sangat penuh dengan kebingunan dan penuh dengan pendiktean dari ajaran kristen, dan mengapa itu terjadi ?kr muhamad perna hidup dengan pamnnya yang kristen, serta isalam lahir setelah kurang lebih 600 tahun sesudah kristen. jdi sudah pasti mencoba meniru ajaran kristen dengan cara mengutp tetapi tidak penuh sehingga muncula ajaran yang mirim kristen.

    Comment by kristensen | 26 September 2013

  29. @kristensen: jika analogi Anda seperti itu maka kesimpulan yang Anda ambil antara lain: karena Kristen hadir dari the Crist (Yahudi), jadi agama Kristen ikut-ikutan agama Yahudi? Karena Anda lahir/dibesarkan di antara mayoritas umat Muslim di Indonesia, maka Anda bukan Kristen sejati? Boleh jadi cara Anda dalam beribadah ikut-ikutan cara Islam?

    Analogi Anda seperti dibangun dari pikiran anak-anak di bawah 10 tahun.

    Comment by wyd | 3 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s