Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Mencari Pengantin Buat Sahabat

Setiap kali bertemu atau saling menelpon, saya ga lupa menanyakan apakah sahabat saya sudah mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Dia laki-laki yang baik, ga pernah mau berpikir negatif pada orang lain, sehingga seharusnyalah mendapatkan pendamping yang baik. Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia lebih betah melajang. Mungkin karena pernah memilih jalan hidup yang super bodoh dan terperangkap di dalamnya selama beberapa tahun. friends Setelah akhirnya terbebas pun, dia ga kunjung melamar seorang gadis untuknya. Jadilah saya sibuk mendorong-dorongnya untuk memilih satu.
Saking sebelnya, dia malah bilang: ‘lo-nya ga mau diajak kawin.’
Wah, andai saja saya penganut poliandri…!šŸ™‚ Ga terasa sekian bulan lewat tanpa sebuah telpon atau sms karena kesibukan masing-masing.

Tadi pagi, karena baru isi pulsa, saya telpon dia. Menanyakan kabar dan pekerjaan seperti biasanya. Tiba-tiba dia bilang:
‘Eh Wyd, gue ke Palembang bentar lagi, lo jangan ga datang ya.’
Katanya sambil menyebutkan tanggal.
‘Ada proyek lagi di sini?’
‘Proyek pribadi. I’m gonna get married.’
‘What???????’ jelas banget saya berteriak kencang.
‘Iya.’
Untuk sekian menit lamanya dia ga bisa mendengar suara saya karena saya benar-benar ga mampu bicara apa-apa. Ga tahu apakah saya terlalu senang. Setelah berulang kali dia berhello-hello sendirian, akhirnya saya bisa juga bicara.
‘Wah, jadi juga lo kawin akhirnya.’

Beberapa menit kemudian saya mengakhiri percakapan. Tapi kemudian menelponnya kembali.
‘Gue kok sedih ya lo mau kawin?’
‘Iya nih lo gimana sih, teman bahagia bukannya ikut bahagia. Malah sedih. Lo nangis, ya?’

Meski ga mengaku (maklum sok kuat!) tapi sebenarnya memang ada air mata menitik. Ini bukan yang pertama. Dulu, waktu seorang teman yang saya jodohkan ternyata akhirnya gagal dalam pernikahannya, saya juga menitikkan air mata. Padahal saya bukan tipe orang yang gampang meneteskan air mata, untuk alasan apa pun.

Jujur, saya bahagia, amat bahagia dengan berita pernikahan itu. Tapi air mata saya bukan datang karena saya terlalu bahagia. Saya merasa kehilangan seseorang yang teramat dekat di hati saya. Kami sudah kenal sejak lama dan berhubungan layaknya saudara. Bahkan kalau ada apa-apa, dia lebih mudah bicara pada saya dibandingkan dengan abang dan kakak kandungnya. Mungkin karena saya sering sok ketuaan, meski umur saya lebih muda beberapa tahun darinya. Dia juga salah satu orang yang selalu mengingatkan saya untuk ga lupa makan atau tidur. Bahkan kadang menelpon hanya untuk menyatakan hal-hal sepele itu.

Saya kemudian memahami kenapa saya merasa sedih. Saya hanya manusia biasa yang seringkali ga rela kehilangan sesuatu, meski tahu dengan pasti akan kehilangan hal itu suatu hari nanti. Sama seperti terhadap orang-orang di sekitar saya yang saya cintai. Meski sudah mempersiapkan lahir batin bahwa satu saat bisa saja mereka meninggalkan saya untuk berbagai alasan, entah meneruskan pendidikan, menikah, atau bahkan kematian, saya ga terlalu yakin saya akan ‘baik-baik’ saja saat mereka benar-benar meninggalkan saya. Oke, jika masih satu alam di dunia ini, kami bisa saling telpon atau mengirimkan sms atau mungkin saling berkunjung.

Tapi keberadaan mereka di sisi saya, di mana saya bisa melihat mata mereka yang bersinar benderang bak mentari pagi saat bercerita tentang kebahagiaan yang sedang dialaminya, di mana saya bisa mendengar renyah suara mereka dan tawa riang mereka di telinga saya, ga akan bisa tergantikan. Mungkin saya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tapi saya ga pernah yakin saya akan benar-benar siap sampai saat itu tiba.

Apakah ini terlalu egois?

23 March 2009 - Posted by | Umum | , , ,

5 Comments »

  1. Menurut saya:
    Merasa sedih saat kawan bahagia–manusiawi.
    Menyalahkan diri karena merasa sedih saat kawan bahagia–itu baru egois.

    Ngng, saya juga sedih waktu kawan baik saya menikah. Bahkan, sempet niat gak mau dateng. Takut, kehilangan kawan baik yang selalu bersama…ciehhh..

    Comment by AL | 23 March 2009

  2. hm…. tidak terlalu egois, itu manusiawi sekali kok….
    apa kabar??

    selamat ya, untuk teman yang hendak menikah…

    Comment by mayssari | 24 March 2009

  3. hmm

    g nyangka buk wid bs nangiss

    Comment by Yulfran | 10 May 2009

  4. hmm…. mungkinkah ….

    Comment by jatim | 7 December 2011

  5. ada aku disini selalu untuk mu wyd

    Comment by Riri El Rose | 12 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s