Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

My Chemistry Teacher is A Real B*tch!

Dengan mengganti tanda bintang dengan huruf i, judul tersebut asli sebuah ungkapan kemarahan seorang anak muda pada guru kimianya, hasil oleh-oleh sembarang klik di Google. Untung saya bukan guru kimia yang dimaksud. Kalau pun iya dan terpaksa harus mengambil hikmah -seperti kata orang bijak- maka tentu anak asuh yang bisa saya biayai dengan uang itu akan bertambah jumlahnya. Tapi eh, boleh ga ya?

Just because I was curious so much, saya baca berbagai tulisan di blog pria muda itu. Ngakunya sih level XI senior high school. Sebenarnya tampilan muka blognya cukup menarik dan cerah. Tulisan-tulisannya lebih banyak berisi kegiatan hariannya dan perasaannya. Yah, kira-kira kayak blog saya di blogspot lah๐Ÿ™‚

Beberapa artikel berisi tentang pengalamannya di sekolah. Dan ampun… kata-kata yang digunakannya dalam tulisan-tulisan itu bikin dada saya sesak. Bahwa guru adalah makhluk menjijikkan, guru adalah makhluk yang ga pantas hidup di muka bumi ini, dan kata-kata sejenis itu. Padahal setelah saya baca, kadang alasannya amat sepele. Misalnya pada kasus guru kimia. Si guru mengomentari ejaan di paper-nya dan bukan fokus pada isi paper. Dan beberapa komentar tertulis si guru menyarankannya untuk menggunakan logikanya lebih banyak saat berargumen dibandingkan dengan hanya memberikan ilustrasi panjang bak karya sastra.

Mungkin karena saya berasal dari korps guru, jadi ikut merasa senasib sepenanggungan, sehingga ga bisa membenarkan reaksi siswa tersebut. Bahkan lebih kuatir seandainya saya ternyata lebih nista dalam pandangan anak-anak saya. Maklum, saya tipe guru yang super judes. Meski ga marah, tampang saya kelihatan lebih parah dari banteng ngamuk. Ditambah jarang mengumbar senyum plus suara menggelegar meski ga sedang berteriak, saya jadi makhluk paling mengerikan buat anak-anak yang belum pernah belajar kimia dengan saya. Saya juga selalu mengajarkan anak-anak saya untuk berani berkata sejujurnya dan ga memanipulasi laporan meski hasil pengamatan mereka dalam eksperimen ga sesuai teori. Jadi kalau ada kesalahan dalam praktikum, mereka harus berusaha menjelaskan penyebabnya dan bukan menuliskan pengamatan kebohongan. Jika ada seorang siswa yang mencoba mencurangi saya, maka saya ga segan mengomentari paper-nya dengan kalimat-kalimat ketus.
‘Ilmu kimia bisa kalian dapatkan di banyak tempat. Bisa dengan membaca buku atau dari orang lain. Tapi soal sikap baik dan budi pekerti luhur, ga di semua tempat bisa kalian peroleh. Tugas ibu sebagai ibu kalian di sini untuk mendidik kalian menjadi orang berbudi pekerti yang baik. Kalau sama ibu sendiri, orang yang seharusnya paling dekat dengan kalian, kalian berani berbuat curang, mendingan ke laut aja deh…!’

Belum lagi saya seringkali kebablasan menggunakan kata-kata ‘ga layak’ saat bicara di depan kelas.
Kata-kata seperti: Oh my God… are you deaf then huh? (setelah saya menjelaskan dengan suara halilintar saya tentang sesuatu hal tapi ada siswa yang memotong kata-kata saya untuk menanyakan hal yang sedang saya jelaskan) atau Oh God, you just f*ck me off cuz I dont know what to do (setelah penjelasan berulang tapi ada seorang siswa masih ga ngerti, sementara teman-temannya sudah merasa bosan dengan penjelasan yang itu-itu saja atau malah ada yang udah terkantuk-kantuk di mejanya).
Istilah-istilah dan gaya preman pasar kerap tanpa sadar saya bawa ke kelas, padahal berulang kali saya tanamkan pada diri saya sendiri bahwa saya lagi di depan siswa dan harus mencontohkan kelemahlembutan seorang ibu. Tapi kok ya, susyyyaaahhh banget, kalau ga boleh dibilang ga bisa.

Kekuatiran saya sebagai ibu yang jauh dari sempurna tentu bukan milik saya sendiri. Dengan alasan kekhilafan, kebiasaan, dan berjuta alasan yang dilogis-logiskan, saya dan ibu-ibu umumnya terus mencari dan belajar bagaimana menjadi seorang ibu yang cukup layak dicontoh putra-putrinya, paling ga dalam tingkah laku sehari-hari saat berinteraksi dengan mereka. Semoga putra-putri kami tumbuh lebih baik dari kami sebagai ibu mereka.

18 February 2009 - Posted by | Pendidikan | ,

34 Comments »

  1. beuh… seremm…

    kirain mam bener2 serius

    tapi itu kan tergantung cara pandang anak muridnya..

    belum tentu mereka begitu cuma gara-gara faktor guru

    mungkin aja karena situasi lingkungannya..

    Comment by uongpening | 18 February 2009

  2. sekalian, minta link dong mam

    hehehe

    Comment by uongpening | 18 February 2009

  3. sekalian, minta di-link blog uongpening dong mam

    hehehe

    Comment by uongpening | 18 February 2009

  4. keberanian Bu Wyd
    mengungkapkan kiprahnya di ruang-ruang kelas
    tak ada duanya
    salut!

    (blog English-nya masih di-blok?)

    Comment by MASEDLOLUR | 18 February 2009

  5. wuih.. baca judulnya, kirain terjadi di SMA kita bu.. fuih… hehehe…
    Mngkn memang terkadang kesel juga bu klo ngeliat guru atw dosen yg bukan ngajar tp cuma baca buku atw slide doang, kadang saya mikir klo cuma dibaca saya juga bisa… ( kondisi ini bukan di 17 kok bu… hehe…๐Ÿ™‚ )
    Tapi memang kemampuan untuk mengajar dan menguasai kondisi kelas sangat diperlukan untuk menjadi guru yang baik, so ga hanya pintar.
    Setuju bu?๐Ÿ˜€

    Comment by haris | 18 February 2009

  6. *waduh salah mampir keblognya Guru kimia*
    Saya juga tidak suka dengan kimia tapi saya tidak benci Guru-Guru kimia saya๐Ÿ˜€
    hanya sering berharap Beliau lupa nama saya ketika ada soal di papan tulis๐Ÿ˜› hehehe

    Comment by Satrion | 19 February 2009

  7. tugas guru memang berat, waktu yang ada sangat sempit dari jam 7 sampai 14, selebihnya anak banyak meyerap “pembelajaran” di luar sekolah, jika anak berperilaku negatif, biasanya guru jadi kambing hitam, tapi jika anak memiliki prestasi, maka orang tuanya yang disebut-sebut, he he he

    Comment by ilham | 19 February 2009

  8. rasanya kata2 “are you deaf then huh?” itu kan pernah mam lontarin di kelas saya deh๐Ÿ™‚

    Comment by oelphamafia | 21 February 2009

  9. Guru = di Gugu lan di tiRU (bhs jawa)

    Comment by narakushutdown | 21 February 2009

  10. ada satu kejadian yang sempat membuat saya sakit hati dengan salah seorang guru saya (nama disamarkan).
    waktu itu saya sedang sakit, jadi posisi duduk saya agak lesu.
    bu guru X: kamu sakit put?
    saya: iya, bu
    bu guru X: (tersenyum sinis sekali) ibu tau kamu ga suka sama pelajaran ini, tapi jangan begitu dong! yaa.. jangan ga 9 aja UN kamu nanti ya, put..
    saya: !@$#!%#@$
    ada BANYAK SEKALI jenis guru itu loh, bu..๐Ÿ˜€

    Comment by putrijump | 21 February 2009

  11. (teacher and student are) watching the same mountain from different angle

    Comment by putrijump | 21 February 2009

  12. btw ibu itu yang Kak Putri Andam kok linknya ke blognya Kak Febri IS angkatan 8?

    Comment by putrijump | 21 February 2009

  13. @putrijump: guru dan murid juga memandang banyak hal secara berbeda. guru mengira kata2nya akan memotivasi murid karena dia menjadi termotivasi dengan kata2 yang sama, tapi ternyata si murid malah berpikiran si guru sedang melecehkannya.

    wah, ibu termasuk guru yang super judes dan super keras berkata2… namun ga henti2 mendoakan anak2 ibu, baik yang sedang belajar bersama ibu maupun yang sedang bertarung di luar, bahkan yang namanya ibu ga pernah benar mengingat…

    kalau ibu pernah berkata atau melakukan sesuatu yang menyakitkanmu, maafkan ya put… semoga putri dan anak2 ibu lainnya selalu diberkahi Allah dalam menjalani hidup ini. amiinnnn….

    Comment by wyd | 23 February 2009

  14. haha. itu maksud saya bukan ibu loh๐Ÿ˜›
    iya ibu sama2, saya juga minta maaf kalo pernah ada salah..
    semoga hidup ibu juga selalu diberkahi Allah๐Ÿ™‚

    Comment by putrijump | 23 February 2009

  15. sabar bu,
    sekarang mereka bisa benci para guru tapi kalo mereka udah lulus pasti mereka kangen sama guru-guru mereka, bahkan sama yang killer sekalipun…..

    Comment by dion | 23 February 2009

  16. jadi penasaran lihat komen aslinya… tapi biasa saja lah namanya juga orang banyak pasti respon mereka juga dipengaruhi kondisi mereka..saya malah pernah dibawain parang oleh siswa gara-gara tempat duduknya saya pindah

    Comment by budisan68 | 23 February 2009

  17. ceyemmmmm……:D

    peace mam!!

    Comment by sigit | 24 February 2009

  18. sayang sekali kalo ada siswa yang berkomentar seperti itu, bu. tapi, selama ini saya juga pernah ada di posisi baik sebagai murid maupun guru.
    akhirnya saya simpulkan, semuanya hanya masalah tata bahasa, bu. bener ga?
    meski maksud kita baik, yakni untuk mengingatkan si murid, tapi kalo penyampaiannya ga enak ya ga akan nyampe maksudnya.
    sampai sekarang saya selaku guru cukup pakai trik “menggunting” bu. memuji si murid dulu, baru kemudian mengingatkan dia *jika tidak disebut “menjatuhkan” hihi*
    akhirnya tidak perlu kata-kata kasar dan keras, cukup pelan tapi dalem.
    wallahu alam๐Ÿ˜‰

    Comment by Hafid Algristian | 26 February 2009

  19. @ Mas Hafid: Rasanya lebih tepat jika disebut “menjatuhkan”, mas..
    Hihi.. Kamu banget itu..

    Bu, mau ngaku ah..
    Dulu kami sekelas juga takut2 gimana gitu kalo ada pelajaran kimia. Kan waktu kami masih kelas X, yang ngajarnya kimianya Bu Wyd.. Nah, kalo besoknya ada pelajaran kimia, kami pasti udah pasang tampang2 cemas, akhirnya menit2 terakhir KBM malem gak dipake buat belajar, tapi saling curhat tentang pelajarannya Ibu.
    Trus… kalo lagi jam pelajaran kimia, apalagi kalo ibu lagi nanya2in soal, wuih..pasti semua langsung nunduk sedalem2nya, biar gak disuruh maju. Cuma si Aam *ingat kan, Bu? Anak cewek yang badannya agak kecil, selalu duduk paling depan, sebelahnya Ritaherlina, dan puinter banget itu..* yang berani menampakkan wajahnya, hehe..

    Paling ingeeet banget, waktu awal2 pelajaran, Ibu suka bilang “Ini gampang ya? Lewatin aja..”, dan kami langsung bengong trus saling pandang karna gak ngerti sama sekali..
    Hihi..
    Maap, Bu..

    Padahal setelah dipikir2, emang kaminya yang kelewatan. Masa’ bikin persamaan reaksi kimia aja bingung, padahal kan gak terlalu sulit.. *sekarang aja bisa bilang gitu. Dulu, ngeliat soal ujian aja rasanya pingin kabur.. hehe*

    Namanya juga anak muda ya, Bu.. ^^

    Comment by andam | 27 February 2009

  20. @andam: itu dia sulitnya belajar sama ibu. ibu orang yang ‘cepat’ kadang suka lupa pake ‘rem’. seperti yang ibu bilang selalu, kalau mau masuk pelajaran ibu, harus baca dulu di rumah. bukan mengerti dulu, tapi membaca, meski ga ngerti. jadi waktu ibu memotivasi kalian untuk memberikan pendapat yang jalan konsepnya ibu sedang buka buat kalian, kalian bisa menghubungkannya.
    karena ibu paham banget gimana sebelnya kalau belajar ‘lambat’. ini karena kalian anak2 aksel. ibu kuatir ada anak yang bosen sekolah hanya karena belajarnya kok itu2 mulu, atau kok kimia kayak hafalan? makanya ibu ga suka ngasih hafalan tapi lebih ke membuka wawasan anak dan membawanya berpikir.

    lo ga usah kuatir, ibu juga udah tahu sampe sekarang kalau ibu kadang terlalu cepat. karena tuhan menganugrahkan ibu dengan ‘kecepatan di atas rata2 orang kebanyakan’. ini anugrah tapi kadang ga semua orang bisa ngikutin, meski mereka terjaring aksel๐Ÿ™‚

    eh ibu juga masih inget kok ada yang dapet nol waktu ulangan dan itu biasa banget kalau di kelas 1. karena ga mudah mengubah kebiasaan belajar anak. jaman smp biasanya anak cuma disuruh menghafal dan menghafal sehingga kesannya ipa = pelajaran hafalan.

    take care yah

    Comment by wyd | 27 February 2009

  21. Terima kasih atas komentarnya di blog saya..
    Saya juga senang berkunjung ke sini, bisa belajar banyak juga.

    Salam,
    OmpuNdaru

    Comment by OmpuNdaru | 27 February 2009

  22. ahaha..
    Jadi malu, Bu..
    Hihi..

    Comment by andam | 28 February 2009

  23. Saya juga waktu sekolah nggak respek ke semua guru, tapi semakin dewasa justru apa yang mereka udah berikan semakin terasa nilainya.
    Jadi menurut saya biar aja mereka mengekspresikan perasaanya. Mungkin suatu saat dia akan nyesel atau kalau nggak ya let it be.
    Guru juga kan manusia, bisa salah, jadi kalau dapet kritik atau katakanlah diumpat, mudah-mudahan kita tidak seperti itu atau bisa segera memperbaikinya, dan kalau dipuji mudah mudahan kita bisa se-baik yang dibilang atau melebihinya.
    Kalau yang dibahas perilaku anaknya, saya punya catatan khusus, waktu mantau percakapan mereka di chatroom. Intinya kemampuan ekspresi tekstual (mungkin verbal), mereka sangat minim. Ada ketimpangan dalam kemampuan melihat dan mendescribe kekurangan dan kelebihan pribadi seseorang.
    Nggak ada tuh kalimat, “kamu baik deh, eh ternyata kamu piter juga ya, atau selamat ya dah dapet nilai tertinggi”.
    Yang ada kalimat-kalimat negatif seperti mengumpat, melecehkan, dst. Itu PR kita semua sebagai pendidik.
    Ups.., jadi curhat nih…

    Comment by adhiwirawan | 28 February 2009

  24. Memang selaku orang tua, patut mencontoh segala hal dengan arif dan bijaksana. Berikan pengajaran yang membuat anak kita memeiliki talent, budipekerti yang baik. Kalo bukan kita siapa lagi?? Betul???

    Comment by pakde | 2 March 2009

  25. guru kimia saya mah beda2.
    ada yang kereeen banget.. cara ngajarnya dan ilmunya. meskipun kelas saya diajarin berlipet2 lebih susah dari yang diajarin di kelas lain, jadi bersyukur karena saya jadi udah ngerti pas pelajaran kimia di jurusan.
    ada yang pinter banget dan bisa membuat saya penasaran sampe nyari tau sebelum diajarin. tapi bikin ngantuk, hehe. bapak ini merokok pula. heran bu saya, udah ketergantungan kali ya.
    saya dulu ga suka kimia,
    tapi sekarang semua pelajaran saya kimia dan alhamdulillah saya suka (belajarnya bukan ujiannya).
    semangat bu!!

    Comment by ushmrkstv | 4 March 2009

  26. duh, tulisannya dr mana bu?
    itu bukan ttg ibu kan, gatau yah kalo ada yang bisa kesel sama ibu
    soalnya, ibu kan jadi idola anak2 angkatan 3
    walo ibu ngajarnya judes
    njelesin teori sering kecepatan, berasa naek jet coaster.. ga da remnya
    trus lagi kalo ngatain murid tanpa tedeng aling-aling
    ups, keceplosan *sering jadi korban soalnyah*
    hehehe
    tapi kami smua sayang kok sama ibu
    ibu yang suka maksa dimirip2in ma j-lo
    prtanyaan besarnya adalah
    mirip bagian mananya bu?
    ;p
    duuuuuuuhhh, kangen sama 17

    Comment by deni ak.a demon | 10 March 2009

  27. deni sih ada beberapa.. tapi demon cuma satu2nya๐Ÿ™‚

    kok masih inget aja soal j-lo itu…. jadi merasa makin pede kalau ternyata emang bener2 mirip hahahahahaha….
    ibu sih ngerasa mirip hampir di semua sisi dipandang dari setiap sudut deh… hahahahahahaha

    Comment by wyd | 10 March 2009

  28. ohoho..

    akhirnya ketemu jg blognya bu wid..

    saya temen satu kelasnya andam bu’

    untuk masalah ‘kecepatan’

    saya pernah merasa saat pernah nyoba-nyoba ngajar privat anak SMA kelas XI

    wuih saya yang malah kelihatan goblok karena ngulang-ngulang ngomong hal yang sama, tapi belum nyambung-nyambung juga..

    makanya saya salut sama guru-guru yang tahan ngadepin hal kayak gitu tiap hari

    saya cuma ngajar 2 minggu aja gak tahan..

    salam..

    Comment by Ardi Fikri | 11 March 2009

  29. Saya dulu juga benci makhluk yg namanya guru sampai meja wakasek kesiswaan saya beri gambar tikus karena saya anggap korup. Itu hanya satu kasus dan masih banyak kasus saya yg lain. Saya emoh jd guru. Seiring kedewasaan dan garis nasib sang renegade / trouble maker jadi guru yang emoh berkelakuan kayak wakasek dan guru lain yg dibencinya. Biarkan anak dengan jiwanya, seiring waktu dia akan menjadi apa yang kita harapkan…..amin.

    Comment by Akhta | 11 March 2009

  30. Karena bapakku seorang guru, makanya aku cinta guru

    Comment by Arip | 15 March 2009

  31. waduh..waduh..
    komentar di atas ada yang curhat tentang jaman SMA dulu..
    nama rita ditulis pula dengan lengkap.. *GeeR..hehe

    Justru ketika seorang murid takut kepada gurunya maka ia akan belajar lebih rajin dan mengerti sehingga nilainya pun akan semakin membaik. Serta karena itu pula ia sadar dan merasa tertarik dengan pelajaran tersebut..
    itu pengalaman sejak SD..๐Ÿ™‚

    Comment by italina89 | 8 April 2009

  32. saya termasuk yang nggak ngerti Pelajaran Kimia sampai sekarang… istilahnya “ngerti hutan itu jenis apa, tapi gak ngerti masing-masing pohon di dalam hutan itu jenis apa”, tambah saya susah ngapal lagi, kalau gak dibilang gak bisa >_<

    Matematika juga sama. Cukup ironis saya yang dulu pas kelas 3 SMA gak ngerti matematika sama sekali, sekarang di Universitas masuk jurusan Matematika dan lumayan ngerti…

    Apa karena pas SMA terlalu fokus ke ujian ya? Entahlah ^__^

    Comment by vandeput | 15 April 2009

  33. terus terang aku suka sekali artikel-artikelnya. Ndak nyangka blog indonesia orang sastra semuanya Ruarrr biaszaaa… kalah lho WS rendranya.

    Comment by tigaw | 4 July 2009

  34. yaaaahhh mba wyd, kan gak semua orang IQ-nya sama tinggi, ada yg dijelasin berkali2 baru ngerti, ada yg cuma sekali udah ngerti, nah itulah tugas guru. kalau bisa menyelesaikan itu, angkat 5 jempol buat mba wyd, 2 jempol tanga, 2 jempol kaki, dan 1 jempol tangan tetangga

    Comment by Riri El Rose | 12 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s