Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Mimpi Rakyat dan Mimpi Pemimpin

Punya impian muluk bukan cara saya memandang hidup. Meski orang bilang seorang pemimpi besar akan menjadi sukses, saya tetap tak bergeming. Impian-impian saya tidak seindah impian orang kebanyakan. Saya tidak pernah bermimpi memiliki rumah mewah saat uang di tabungan hanya beberapa perak, sekedar agar tabungan tidak ditutup bank. Saya tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan presiden negeri ini, saat saya belum menyumbangkan sesuatu yang cukup berarti untuk bangsa ini. Sebuah pemikiran yang kelewat sederhana, mungkin. Namun lewat cara sederhana ini saya bisa menjadi seseorang yang bangga pada kehidupan saya – meski tidak selalu bagus untuk diungkapkan -, bisa bebas berkata apa yang mau saya bicarakan, dan bisa menjejakkan kaki ke mana pun ingin melangkah tanpa ketakutan tak beralasan.

Jangan Memberi Mimpi Terlalu Indah!

Apa yang bisa kita lakukan sekarang hendaknya tidak hanya menjadi bunga tidur, atau sekadar bumbu segar debat berkepanjangan. Setiap insan dianugrahi kepekaan terhadap lingkungan. Masalahnya, tidak setiap orang mau mengasahnya. Kalau pun akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah bagian dari sebuah lingkungan -entah itu RT, RW, hingga lingkungan besar bangsa ini- banyak yang tidak mau menaruh kepedulian. Yang dipikirkan adalah bagaimana memperbaiki nasib diri dan golongannya. Jika ada yang berpikir untuk memperbaiki nasib bangsa ini, banyak yang menertawakan, karena dianggap bukan jamannya lagi melakukan hal itu. Di jaman kampanye untuk legislatif mau pun pemilihan presiden sekarang ini, kita masih dipertontonkan berbagai dagelan yang dilakukan para calon pemimpin bangsa. Bukankah para calon anggota legislatif dan calon presiden secara otomatis adalah calon pemimpin bangsa? Tapi lihat bagaimana mereka saling mengkritik satu sama lain atau amat sibuk menentukan siapa akan mendampingi siapa dalam pilpres. Calon A mengatakan calon B tidak kompeten karena bla bla bla, namun jangan berharap calon A akan memberikan saran yang harus dilaksanakan untuk menjalankan roda pemerintahan negeri ini. Saling salah dan saling tuduh adalah jiwa besar yang mereka sebut pemimpin.

Tentu ini bukan pembelajaran positif bagi anak bangsa di negeri ini. Tidak perlu bermimpi atau mengiming-imingi mimpi bahwa orang lain akan berpakaian sutera berbalut intan berlian, jika mereka tidak mampu memberikan karung goni untuk menutupi tubuh rakyatnya. Tidak perlu menyodorkan mimpi bahwa bangsa ini akan terbebas dari kebiasaan buruk kongkalikong, jika mereka memainkan unfair game untuk mencapai jabatan kepemimpinannya. Mimpi calon pemimpin seperti itu hendaknya hanyalah menjadi mimpi mereka sendiri dan tidak layak dipercayai apalagi diberi dukungan.

Sulitnya mencari pemimpin ternyata tidak hanya untuk memimpin negeri ini. Mencari pemimpin lembaga pun ternyata sama sulitnya. Menyedihkan bahwa bangsa yang besar ini -dilihat dari jumlah penduduknya- disibukkan dengan berbagai hal sepele di saat negara sedang kepepet membutuhkan pemikiran-pemikiran brilyan untuk mengatasi berbagai hal lebih penting. Tengok bagaimana MUI memicu polemik berkepanjangan tentang haramnya sepuntung rokok atau mengucapkan selamat hari raya terhadap umat beragama lain. Apakah hal ini demikian pentingnya diluncurkan, saat saudara-saudara mereka sesama Muslim di tanah Palestina sedang berjuang antara hidup dan mati?

Mungkin nurani kita tidak bisa menembus kaca televisi sehingga tidak bisa ikut merasakan kepedihan umat manusia di sana. Tapi apakah hembusan haramnya sepuntung rokok jauh lebih penting daripada berjihad memberi makan anak yatim yang hingga kini masih ga terhitung jumlahnya di tanah Aceh, yang notabene bagian dari negeri ini? Atau membantu tetangga miskin di kiri-kanan yang setiap hari jumlahnya makin bertambah? Entah saya yang salah memperkirakan, tetapi yang saya lihat kemakmuran negeri ini masih berada pada titik nadir meski banyak barang telah diturunkan harganya, seperti yang ditampilkan iklan di televisi.

Saya tidak sedang menghakimi sebuah partai atau sebuah koalisi yang disebut pemerintah, tapi kenyataan itu saya lihat setiap hari. Saya bisa saja memberi makan mereka, namun itu bukanlah sebuah penyelesaian. Karena esok dan lusa dan seterusnya mereka akan tetap perlu makan, hingga mungkin satu hari saya tidak lagi bisa memberikannya pada mereka. Yang harus bergerak adalah bangsa ini, setiap elemen bangsa ini, bukan hanya gerakan individual sebagai bagian sebuah bangsa.

Sekarang adalah Waktunya!

Sekaranglah waktu untuk berbuat, bertindak, bukan saling tunjuk hidung atau cari kambing hitam. Kenapa sekarang? Karena saat ini bangsa ini terimbas krisis global dan ini artinya kita harus bangkit sebagai sebuah bangsa. Kita tentu tidak ingin disebut untuk kedua kalinya sebagai negara yang paling lambat bangkit dari keterpurukan setelah kasus tahun 1998. Selain itu, tahun ini akan dilaksanakan pemilihan pemimpin nomor satu republik ini untuk masa lima tahun ke depan. Kita tentu tidak ingin menyerahkan tampuk kepemimpinan pada orang yang tidak mengerti bagaimana caranya memimpin. Apakah pemimpin mendatang adalah orang yang pernah, sedang atau belum pernah menjadi orang nomor satu negeri ini, bukanlah hal yang penting. Yang terpenting apakah beliau bisa memberikan upaya-upaya logis dan memaparkan cara-cara logis untuk menyelesaikan keterpurukan bangsa.Tindakan nyata berikutnya adalah pekerjaan rumah setiap orang di negeri ini.

Mencari pemimpin dengan jiwa kepemimpinan, seperti pasangan Proklamator atau Panglima Besar Jendral Sudirman sebagai contoh, lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami. Tetapi jika kita tidak pasang mata lebar-lebar dan tidak menggunakan hati nurani, maka kesalahan memilih pemimpin tak pelak akan terjadi. Dan tentu otomatis berdampak signifikan terhadap kehancuran pelahan bangsa ini.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Seperti dinyatakan di bagian atas tulisan ini, seseorang tidak perlu menyimpan sesuatu yang bisa dilakukannya hari ini hanya sebagai mimpi. Siapa pun dapat menjadi bagian dari bangkitnya negeri ini. Siapa pun. Seorang pelajar yang belajar giat dan memberikan prestasi terbaiknya tanpa kecurangan berarti telah menjadi bagian dari kebangkitan anak bangsa. Seorang guru, seorang bartender, seorang akademisi, seorang pengusaha, seorang karyawan, seorang juri, seorang atlit, seorang trainer, bahkan seorang pemulung adalah bagian dari bangsa yang pasti bisa memberikan sumbangsih positif asalkan setiap orang mau menjalankan tanggung jawab dan bebannya dengan profesional.

Jalan mana yang seharusnya kita tempuh dapat kita tanyakan pada nurani masing-masing. Agama boleh berbeda tetapi jalan yang dibentangkan sama lurusnya. Ibaratnya, berhenti di saat lampu merah menyala dan berjalan di saat lampu rambu lalu lintas berwarna hijau.

Memperbaiki bangsa ini adalah tanggung jawab kita. Jika tidak ingin bangsa ini terperosok lebih dalam ke lubang kehancuran, apa pun bentuknya, jangan pernah menggali sebuah lubang sekecil apa pun sebagai pemicu.

11 February 2009 - Posted by | Opini | ,

12 Comments »

  1. jadi semangat memberikan yang terbaik meski saya “cuma” seorang pencari kerja.

    doakan saya dapet kerja atau bisa membuka lapangan kerja secepatnya bu

    Comment by Andy | 11 February 2009

  2. Menurut pendapat saya bu,

    Sepertinya para pemimpin di Indonesia terlalu sibuk dalam urusan politik saja. Tidak ada pemimpin yang muncul dengan gagasan-gagasan untuk melepaskan bangsa ini dari keterpurukan yang dialaminya. Mereka terlalu sibuk memikirkan bagaimana golongan, kelompok, atau yang paling menyedihkan ketika mereka memikirkan perut mereka sendiri. Mereka terkadang lupa dengan rakyat yang telah menitipkan amanah kepada mereka.

    Semoga Indonesia lebih maju kedepan ya bu..

    Comment by Muhammad Naufal Shahensah | 12 February 2009

  3. @Andy: alhamdulillah….

    @Muhmamad Naufal Shahensah: amiiin…. dan semoga kalau kita yang menjadi pemimpin, kita bisa menjaga amanah….

    Comment by wyd | 12 February 2009

  4. betul juga sih…

    apalagi dengan sat-saat seperti ini para calom pemimpin bangsa ini malah sibuk berkampanye dengan cara saling menjatuhkan satu sama lain, bukannya saling membantu untuk kehidupan indonesia yang lebih baik..

    menurut ganda sih nyari pemimpin yang paling penting sekarang bukan kemampuan dan program yang akan mereka obral di kampanye mereka, tapi moral dan mental mereka dalam menjalankan tugas mereka, secara, makin hebat jabatan mereka, makin berat tanggung jawab yang akan mereka pikul, jadi pening…

    hidup indonesia!!!(uwooh!!)

    Comment by uongpening | 13 February 2009

  5. @uongpening: bener… melihat gimana2nya pemimpin nanti saat udah jadi pemimpin, bisa dilihat antara lain dari sikapnya hari ini sebelum kepilih jadi pemimpin.

    Comment by wyd | 13 February 2009

  6. Setiap elemen yaw..

    Wah saya jadi tercerahkan..

    Selama ini saya hanya menganggap hanya dari setiap individu saja yang patut berubah..

    Salam perubahan dari Bocahbancar…

    Comment by bocahbancar | 13 February 2009

  7. setuju banget.
    semua orang berperan besar, bahkan dalam bentuk ikut nyoblos.
    menjadi golput adalah sebuah kejahatan!

    Comment by putrijump | 14 February 2009

  8. @bocahbancar: itu kan opini saya dengan argumentasi saya yang logis…

    @putrijump: golput kejahatan??? eh, bukannya harus dilihat dulu alasan golputnya?
    kalau lagi diopname karena sakit atau yang sejenis itu, termasuk kejahatan juga ga🙂

    Comment by wyd | 14 February 2009

  9. ya jadi pemimpin jangan banyak memberi mimpi, agar negeri ini tidak selalu mimpi dalam kemakmuran padahal kemiskinan.

    Comment by riwayat | 14 February 2009

  10. sebarkan energi positif… setidaknya hari ini saya sudah menyiapkan materi untuk anak2 didik saya…

    salam hangat dari solo
    🙂

    Comment by paragraphdalamhujan | 16 February 2009

  11. salam “kimia romantik” dari kalimantan …

    Comment by ilham | 16 February 2009

  12. Saya orang yang punya banyak mimpi Bu, malah sering berubah-ubah, mengubah kebiasaan dari “bermimpi” ke “bertindak” itulah yang susah Bu >_<

    Mungkin bisa dibilang “untung” juga ya pergantian presiden datang pas ada “krisis dunia”, sehingga presiden yang dipilih benar-benar diuji… walau kita tidak bisa bergantung sama presiden saja ^__^

    Comment by vandeput | 15 April 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s