Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Guru Mendidik Anak Menjadi Koruptor

Jika anda menghampiri sekumpulan orang dan bertanya di bidang apa Indonesia dikenal dunia, mungkin akan banyak yang menyatakan: korupsi. Berbeda dengan beberapa dekade lalu di mana orang akan cepat menyatakan bulutangkis tiredatau penduduknya yang ramah atau Bali yang eksotis. Tak heran kemudian kita mengenal KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang malah kadang tidak ditempatkan pada porsi sebenarnya. Misalnya, saat Habibie menjadi presiden, banyak suara berkeberatan putra beliau menjabat kepala BPPN karena dianggap nepotisme. Padahal secara struktural maupun skill, putra beliau layak menduduki jabatan itu. Puluhan tahun di era kepemimpinan Soeharto, negara asing menjuluki the first lady Indonesia sebagai Mrs. Ten Percent. Ironis sekali, padahal sang presiden adalah tokoh yang cukup disegani kawan maupun lawan di panggung politik luar negeri. Saat Megawati menjadi presiden, di kota saya beredar rumor bahwa suap-menyuap yang notabene sanak familinya korupsi, tidak lagi dilakukan di balik amplop, tapi si penerima suap akan menentukan jumlah setoran yang diinginkannya. Kasarnya, korupsi adalah tindakan lazim dilakukan anak negeri ini. Pembentukan KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) yang sampai saat ini terus menyeret korban-korban baru, adalah bukti kekuatiran anak bangsa atas mengguritanya lilitan korupsi di negeri ini.

Bukan karena secara garis keturunan tidak memiliki kerabat untuk diajak kolusi, maka saya memilih bersikap anti pati terhadap KKN, terutama korupsi.
Dua minggu lalu saya sempat berbincang ringan dengan seorang teman tentang korupsi. Saya bahkan sampai pada satu pertanyaan: apakah demikian sulitnya menghindari korupsi di negara ini sehingga setiap kepala yang saya lihat menggenggam jabatan tertentu, selalu pernah terlibat KKN atau mengambil uang yang bukan haknya? Kalau pun si pejabat dianggap ‘bersih’, biasanya diembel-embeli dengan ‘tidak serakus si X…’ atau ‘masih mendingan dibandingkan pejabat anu…’ atau ‘yah, mumpung jadi pejabat…’.

Tanpa melibatkan campur tangan agama, tentulah hati nurani setiap individu mampu membedakan apakah sejumlah uang atau barang itu haknya atau bukan. Tapi sayang kita seringkali mengabaikan hati nurani dan mengedepankan nafsu duniawi yang tak berkesudahan. Tanpa harus berdebat, hati nurani selalu sejalan dengan ajaran agama, apa pun agama yang dianut seseorang.

Menciptakan Koruptor

Sebagai pendidik yang terjun langsung menghadapi generasi muda, guru ikut berperan andil dalam menciptakan koruptor. Mungkin banyak yang berpikir pernyataan ini tidak adil, seolah guru adalah koruptor nomor wahid. Tapi jangan salah, ada banyak murid yang lebih ‘mendengar’ kata-kata gurunya dibandingkan kata-kata orang tuanya, terutama bagi anak-anak SD. Meski kadang bisa saja yang diajarkan guru adalah tindakan salah, meski misalnya, secara tak sengaja. Memang tidak 24 jam guru bersama anak didiknya atau akan menjaga mereka sehari penuh, namun guru merupakan salah satu sosok penting yang layak diminta pertanggungjawabannya atas makin banyaknya jumlah koruptor dan makin canggihnya gaya korupsi anak bangsa.

Lihat saja carut-marut ujian nasional. Timbulnya istilah tim sukses UAN, beredarnya kunci jawaban UAN semalam sebelum ujian pelajaran tertentu dari nomor ponsel yang tak terdaftar, hingga pembentukan tim independent dari kalangan universitas dan kepolisian yang membuktikan ketidakpercayaan masyarakat pada guru dan sekolah sebagai penyelenggara UAN, dan seterusnya. Semua itu bukan cuma isu miring dunia pendidikan Indonesia, tapi sungguh fakta-fakta yang terjadi di lapangan selama berlangsungnya UAN, paling tidak satu dekade terakhir. Belum lagi isu turut andilnya dinas terkait soal kebocoran kunci jawaban UAN sehingga bisa dipublikasikan di koran lokal tepat pada hari H, meski total jawaban benar hanya berkisar 50-60 persen, lenyapnya berkas UAN dan tak pernah ada pengusutan tuntas, guru dan kepala sekolah yang berkongsi memberikan jawaban UAN pada anak didiknya yang sedang ujian, atau tim dari Jakarta harus inspeksi ke daerah-daerah untuk memastikan tidak terjadi kecurangan dalam UAN, dan sebagainya. Sungguh ironi memilukan jika disandingkan dengan tugas guru dan sekolah sebagai bagian dari pendidikan.

Apa sesungguhnya yang ditakutkan para pendidik itu? Ketakutan anak-anak mereka tidak lulus ujian? Takut terbukti bahwa guru hanya bisa menuntut kesejahteraan tapi tidak bisa mendidik seperti yang sering dituding banyak pihak? Rasa sayang berlebihan terhadap anak didik sehingga tidak tega mereka gagal dalam ujian meski mereka tidak cukup layak lulus saat itu? Atau karena tekanan dari pihak tertentu dari level lebih tinggi untuk mensukseskan UAN agar daerah mereka mengungguli daerah lain, meski hanya di atas kertas?

Guru hanyalah sosok manusia, maka bisa benar, tapi mungkin saja berbuat salah. Manusiawi sekali. Namun melakukan kecurangan dalam UAN atas dan demi alasan apa pun sama artinya melemparkan kotoran ke wajah sendiri. Sama artinya menanamkan kecurangan di hati anak-anak didiknya. Tak beda jika guru tersebut mengatakan: Nak, jika kau besar nanti, silakan menjadi koruptor yang tahu bagaimana caranya mengkorupsi uang rakyat tanpa meninggalkan jejak. Dan jangan lupa ajak teman, saudara, kakek, nenek, ibu, bapak, kakak, adik, om, tante dan sebarkan ke semua orang.’

11 January 2009 - Posted by | Pendidikan | , ,

25 Comments »

  1. Mo guru kek, mo bloger kek, mo siapa aja kek … Mulai dari hal2 kecil, Mulai dr diri sendiri, Mulai dr sekarang….. jangan pernah sekalipun kena rayuan korupsi, even just pungli polisi jalanan — with or without reason

    Comment by Jiwa Musik | 11 January 2009

  2. Ujian Nasional???
    O alah, Bu Wyd, Bu Wyd, pemerintah kok dilawan
    Tapi
    Siapa atasanya dari atasan atasan guru yang bisa lebih dulu menghabisi Ujian Nasinal dialah Presidennya Guru-guru Anti Ujian Nasional, termasuk saya.
    Penyelewengannya maksudnya, seperti tulisan Bu Wyd

    Comment by MASEDLOLUR | 11 January 2009

  3. @ Jiwa Musik: with or without any reason! setuju banget!

    @MASEDLOLUR: saya ga anti ujian nasional tapi anti memanipulasi hasil ujian nasional. untungnya saya ga termasuk yang pernah atau pernah diajak melakukannya. mungkin krn orang tahu saya kadang sok keras ga mau kongkalikong soal ini

    Comment by wyd | 11 January 2009

  4. oalah, saya kira kecurangan hanya ada di tempat saya. pokoknya gak pake ditutup-tutupi, lugas, vulgar bahkan seronok. gimana gak cabul? jawaban ditulis dikertas kecil-kecil lalu dibagi ke siswa yg sedang melaksanakan uan.
    Bukan hanya pelaksanaan uan saja yang mesti dibenahi di dunia pendidikan. saya sependapat bahwa maraknya korupsi bahkan ada yang berpendapat budaya korupsi di negeri ini tidak lepas dari perilaku guru-dosen selama proses pendidikan. Terdapat hubungan yang positif antara budaya korupsi dengan suasana pendidikan.
    salut untuk ibu yang anti korupsi

    Comment by budisan68 | 11 January 2009

  5. .: Salut Sama bu Wyd yang tegas dan keras untuk menolak Manipulasi :.

    Comment by roysemut | 12 January 2009

  6. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://pendidikan.infogue.com/guru_mendidik_anak_menjadi_koruptor

    Comment by senopatiarthur | 12 January 2009

  7. Ini sesuatu yang memilkukan
    Yuk mulai perubahan
    Semangat!

    Comment by achoey | 12 January 2009

  8. waw.., judul yang membuat penasaran…

    tapi bagus banget deh tulisannya

    kan guru itu bisa dibilang sebagai pembentuk pribadi murid sekarang, dimana gak tiap anak mendapatkan perhatian yang cukup dari orangtuanya…

    kalo gurunya aja ngajak buat KKN.. gimana mental anak muridnya….

    Comment by uongpening | 12 January 2009

  9. Bagus bu, lawan terus KKN. Bagaimana pun caranya. Apapun caranya. Termasuk dengan blog ibu ini. Semakin banyak yang menulis mungkin semakin banyak juga yang baca dan jadi kena efek “takut” ketahuan. Insyaallah. Semoga malu masih ada ya😛

    Eh aku pernah KKN juga ga ya?

    Comment by Wim Permana | 12 January 2009

  10. bu saya rasa peran ortu tetap pegang kendali untuk mengarahkan jalan mana yang akan dipilih oleh anak2nya. dalam hal ini seandainya anak melihat ada kecurangan atau ketidakadilan di dalam sistem pendidikannya, saya rasa adalah tanggungjawab ortu untuk menekankan dan selalu mengingatkan pada anak bahwa apa yang dia lihat bukan contoh yang boleh ditiru. memang pada akhirnya sebagai ortu kita harus mau selalu dekat dengan anak sehingga anak berani bercerita apapun kepada kita dan kita bisa mengingatkan sekaligus mengajarkan nilai2 moral yang baik. sekolah adalah tempat dimana anak mengenal yang baik dan yang tidak baik, karena ternyata sekolah jaman sekarang menyuguhkan tidak hanya hal2 yang baik tetapi juga hal2 yang tidak baik. Bekal dari dalam rumah yang menuntun mereka untuk menjalani kehidupan di jalan yang benar. mohon maaf apabila ada kesalahan kata. salam

    Comment by ami | 12 January 2009

  11. Saya sangat senang dengan tulisan ini. Saya ingin juga menyambung tulisan ini dengan pengalaman. Semoga saling melengkapi. Insya Allah

    Comment by abuthoriq | 13 January 2009

  12. eh katanya di sekola mao ada peajaran korupsi atao anti korupsi gitu.. jadi nggak.ya?

    Comment by adi wirawan | 14 January 2009

  13. Korupsi tercipta karena adanya keinginan manusia untuk mempunyai sesuatu yang berlebihan alaias adanya ketamakan dan nafsu…yang bikin saya miris adalah adanya kebanggan melakukan hal tersebut..hal ini saya dapet pada saat berbincang dengan seorang tetangga yang kebetulan kerja di instansi daerah….

    Comment by omiyan | 14 January 2009

  14. bu.. mana viedo tube-nya? ujar mau posting suasana ibu mengajar….

    Comment by budisan68 | 14 January 2009

  15. Hmmm… kalo anak SD memang sangat riskan untuk menerima pendidikan yang bersifat satu arah. hal ini dikarenakan orientasi anak-anak SD masih bersifat bermain sambil belajar. artinya mereka tidak mungkin mencari sumber lain selain dari guru mereka. ditambah lagi biasanya guru -secara Khusus guru SD- dapat dengan mudah menjadi seseorang yang diidolakan baik dilihat dari banyaknya ilmu yang ia miliki maupun sosok yang nampak bijaksana.
    kasus yang berbeda jika kita berbicara pada siswa tingkat SMA. seorang anak SMA seharusnya sudah mampu membedakan mana yang salah dan benar. murid SMA sudah harus berpikir kritis dan membuka mata selebar-lebarnya terhadap semua informasi. sehingga akan menjadi filter dia terhadap guru yang berpotensi menanamkan benih-benih koruptor pada siswanya.

    Bravo Koruptor..!! eh, Anti koruptor.. hehehhe..

    Comment by Abdul Hafiz | 14 January 2009

  16. inilah postingan yg sangat kuat berwawasan
    blue suka
    salam persahabatan serta salam hangat selalu

    Comment by bluethunderheart | 14 January 2009

  17. waduh
    ternyata begitu ya

    lha trus generasi penerusnya mau gmana ya Bu?

    Comment by Blog Instan | 15 January 2009

  18. ukh.. dasar guru bejat! ga adil!

    *benci guru n ga mw skolah lg,

    Comment by 3mnnm8 | 17 January 2009

  19. wyd, nulis dong tentang sekolah loe utk hal2 yg beginian.. (maksud gw bukan cuman kepala sekolahnya.. hehehe…)

    Comment by edgar | 18 January 2009

  20. @3mnnm9: wahhhh kalau ga ada guru, lo ga bisa jadi murid lohh… hati2 kalau bicara, nak… berkah orang tua dan guru akan sangat membantumu dalam meniti jalan kehidupan. semoga sang maha pencipta memberkati langkahmu…

    @edgar: yah… lo bacanya nyampe tuntas ga? di sekolah gw ga dilakukan hal semacam itu, insya allah. tapi semua itu gw dapet dari teman yang katanya demi dan dengan beribu alasan, terpaksa melakukannya

    Comment by wyd | 19 January 2009

  21. Tampaknya si murid harus belajar lebih giat..
    Maka guru pun akan yakin dengan kemampuan anak muridnya..
    maka tim sukses pun tidak akan dibentuk..
    sehingga tidak akan tertanam jiwa koruptor seperti itu..

    Comment by italina89 | 24 January 2009

  22. korupsi itu kayaknya muncul dari desakan-desakan di sekitar pelakunya bu..

    misalnya, seorang pejabat korupsi, mungkin istrinya menuntut untuk di belikan mobil baru, ketika munculnya tawaran korupsi ya dia terima bu…

    Comment by Muhammad Naufal Shahensah | 12 February 2009

  23. gimana ya?????????
    kalow g’ gitu emang bagus….
    tapi kalw g’ pasti banyak yang g’lulus kayaknyax soalnya banyak yang malas belajar… tapi kalow ujian bisa murni kita mersa bangga kan soalnya kan tau kemampuan kita sebenarnya…

    singgah diblog ku juga ya::::
    branksecs.blogspot.com

    email:::: gray.maniak@gmail.com

    Comment by alemsaadi | 12 March 2009

  24. http://branksecs.blogspot.com

    Comment by alemsaadi | 12 March 2009

  25. Bu, judulnya serem banget

    Comment by Sulis | 20 December 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s