Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Perang Tarif Seluler Berperan Mengubah Kehidupan Sosial Remaja

Secara umum remaja atau ABG (Anak Baru Gede) lehih suka berkumpul dengan komunitasnya baik dalam kehidupan di lingkungan sekolah maupun dalam keseharian. Pencarian identitas, kesamaan pandangan, mendalami pelajaran yang kurang dimengerti di sekolah, hingga pergaulan, adalah alasan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama teman-teman sebayanya. Tetapi satu dekade terakhir, ada satu hal menarik yang berperan dalam komunitas anak gaul itu. Yaitu keikutsertaan ponsel di mana pun para remaja itu berada. Jika sekolah tidak melarang penggunaan ponsel, maka aneka ragam produk ponsel terbaru akan dengan mudah didapati dalam komunitas usia itu. Seolah harga benda tersebut tak lebih mahal daripada sebungkus rokok bagi pria dewasa. Sehingga ganti model ponsel adalah hal biasa di kalangan pelajar.

Menyertakan ponsel dalam aktivitas harian ini didukung oleh perang tarif termurah yang diberikan berbagai provider seluler di negara ini. SMS gratis, menelpon gratis antar sesama pengguna kartu operator yang sama, hingga layanan MMS dan chatting bak menggunakan laptop pribadi. Para remaja dimanjakan dengan berbagai layanan gratis seperti yang memang banyak disukai mayoritas anak negeri ini. Jangan heran kalau keponakan anda akan mengirimkan sebuah pesan singkat ‘Om, ini no sy yg baru’, sekian kali dalam sebulan. Atau menerima SMS tengah malam karena ada layanan SMS gratis meski isinya hanyalah pengiriman ulang dari nomor yang lain. Bahkan kadang anda bisa saja menerima pesan yang sama persis dengan isi yang sama tak pentingnya untuk anda.

Positif Negatif Perang Tarif Terhadap Remaja

Remaja sebagai salah satu komunitas pengguna ponsel terbesar, mau tidak mau terpengaruh dengan adanya perang tarif ini. Membelikan ponsel bagi putra-putri remajanya layaknya sebuah kewajiban untuk para orang tua memberikan les tambahan. Meski banyak orang tua yang terbantukan dengan kehadiran ponsel berikut perang tarif yang diberikan operator seluler, namun banyak yang tidak menyadari bahwa terjadi perubahan kehidupan sosial para remaja itu. Dan perubahan pastilah memberikan dampak positif mau pun negatif, sekecil apa pun.

Tak heran kemudian para remaja lebih banyak berkomunikasi dengan orang tuanya yang sibuk lewat ponsel dibandingkan bertatap muka. Belum lagi jika orang tua kembali ke rumah di saat jam tidur putra-putrinya. Apalagi adanya anggapan sebagian orang tua bahwa bicara lewat ponsel tidak beda dengan kehadiran
langsung di hadapan para remaja itu. Padahal bicara dengan bertatapan mata tentu jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan hanya membaca tulisan atau mendengarkan suara, meski kata-kata yang dipergunakan sama. Jika hal ini dilakukan secara kesinambungan terhadap usia awal remaja (anak-anak yang masih duduk di bangku SD atau SMP) dapat mengurangi nilai empati anak terhadap orang-orang terdekatnya. Meski belum ada penelitian mengenai hal ini, tetapi berbagai penelitian yang mendukung perlunya kehadiran nyata orang tua di sisi anak-anaknya telah banyak dilakukan.

Hubungan anak sebagai siswa juga berpengaruh besar dengan adanya perang tarif ini. Malam hari di mana seharusnya mereka beristirahat untuk belajar keesokan harinya, mereka malah menghabiskan waktu dengan menekan keypad ponsel dan menghabiskan malam dengan ber-SMS-an. Belum lagi jika dari SMS itu timbul.
Misalnya apa yang ditulis oleh si pengirim pesan ternyata dibaca dengan intonasi dan jeda yang berbeda sehingga menimbulkan kesalahpahaman bagi si penerima pesan. Hingga tak jarang mereka kehilangan konsentrasi saat di kelas.

Bagi orang tua yang biasa mengajak anak-anaknya berliburan ke luar kota dan menggunakan transportasi umum, mungkin akan dapat merasakan juga besarnya pengaruh perang tarif terhadap anak-anaknya. Saya pribadi merasakan hal itu. Jika dulu saya harus menyediakan satu ransel kecil untuk buku-buku cerita atau komik yang dapat dibaca di perjalanan atau saat menunggu waktu keberangkatan di bandara, sekarang saya hanya perlu mengeluarkan sedikit uang untuk membeli pulsa bagi putra saya. Sedikit yang dimaksud di sini benar-benar jumlahnya sangat kecil karena putra saya dan sepupu-sepupunya yang ikut serta, pasti telah mengganti nomor seluler mereka ke operator yang menyediakan SMS gratis, atau syukur-syukur panggilan gratis. Selama sekian jam di bandara, terutama dengan delay pesawat yang seringkali terjadi, para remaja itu tidak merasakan kebosanan karena masing-masing sibuk dengan ponselnya. Mereka ternyata tidak sendiri. Orang-orang di sekitar mereka terlihat melakukan aktivitas yang sama. Bahkan saya, yang intensitas penggunaan ponselnya amat sangat kecil dibandingkan mereka, terlihat seperti kutu buku di antara para calon penumpang.

Namun perang tarif yang memanjakan konsumen telpon seluler juga memberikan efek positif dalam pergaulan remaja. Remaja yang tadinya kurang percaya diri dalam berbicara menjadi lebih percaya diri karena tidak perlu memperlihatkan roman muka saat bercakap-cakap dengan lawan bicaranya. Peningkatan kepercayaan diri ini menunjukkan signifikan positif di kehidupan nyatanya. Kelak para pemalu ini akan berani bicara di depan orang lain seperti halnya saat dia mengumbar kata-kata lewat media ponsel.

Selain itu dengan murahnya tarif seluler, remaja sebagai siswa terbantukan dalam mengerjakan aktivitas sekolah yang dilakukan dari tempat berbeda. Misalnya siswa-siswi yang sedang melakukan penelitian dan pencarian data di tempat berbeda, dengan mudah dapat memberikan informasi yang telah diperoleh masing-masing. Sehingga kemungkinan kurangnya data dalam satu kali pencarian data akan kecil.

Menelpon nenek atau sanak keluarga lebih tua yang biasanya enggan dilakukan para remaja, menjadi ringan bagi mereka karena hanya perlu mengetikkan beberapa kalimat. Meski tidak sama artinya dengan kunjungan langsung, tetapi berarti sebuah bentuk perhatian bagi para orang tua itu.

Orang tua yang tadinya tidak bisa berkomunikasi dengan anak-anaknya karena harus bekerja untuk jangka waktu tertentu di tempat yang sukar dijangkau, dengan mudah menghubungi putra-putrinya. Namun sekali lagi, intensitas ini harus diimbangi dengan komunikasi nyata saat para orang tua mempunyai kesempatan bersama putra-putri tercintanya.

30 December 2008 - Posted by | Opini |

7 Comments »

  1. Sulit juga apakah perang tarif ini mengutungkan atau justru merugikan…
    Smakin banyak orang yang gonta-ganti nomor ponselnya untuk mendapatkan komunikasi sebanyak-banyaknya dengan biaya yang sangat sedikit. Mereka tidak sadar bahwa apabila komunikasi itu 2 arah. Contoh, saat orang lain ingin menghubunginya untuk urusan penting, dan disaat itu pula komunikasi mulai terputus karena tidak tahu kalo teman/rekannya sudah mengganti nomor ponselnya.
    Tapi kita tidak bisa menyalahkan bahwa komunikasi itu sangat penting disaat krisis seperti ini sehingga perlu dan sangat terbantu dengan adanya perang tarif dan promo gratis. Apalagi untuk pelajar dan mahasiswa yang hanya mengandalkan uang saku yang pas-pasan..
    Tidak heran kalo banyak yang memakai 2 HP dengan tipe yang berbeda, 1 hanya untuk menerima dan 1 lagi untuk yang tarifnya murah. Kasihan provider yang merasa dirugikan karena hanya untuk menerima saja..

    Comment by italina89 | 4 January 2009

  2. hajar anak muda mumpung murah
    sharusna bisa lebih murah lagi…
    hehehe

    Comment by hanif | 6 January 2009

  3. ya sabar aja lah bu, perang tarif ini ga bakal bertahan lama koq. Ini hanya untuk saling bantai perusahaan telekomunikasi, begitu kata teman saya yang salah sastu org penting disalah satu perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia.

    Karena dari perang tarif ini mereka tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, balik modal aja, malah kadang menderita kerugian. Hanya mencari keuntungan dari produk-produk lainnya, seperti produk pascabayarnya.

    Jadi ya sabar saja sampai batas waktunya.

    Comment by Doli Anggia Harahap | 7 January 2009

  4. biar customer banyak bu,
    trus menghancurkan pesaing2nya..

    yang mahal yang kurang pengguna..
    kyaknya sih gitu..

    b’ doli: abang ank 17 juga yah..skr dmn??

    Comment by Muhammad Naufal Shahensah | 13 February 2009

  5. @Muhammad Naufal Shasendah: maklum indonesia biasanya suka gratisan🙂
    doli anggia harahap bukan lulusan 17 tapi pacarnya alumni 17 (kalau ga salah)….hehehehehe (buat doli sorry yah buka kartu)

    Comment by wyd | 13 February 2009

  6. Wah, saya cuma melihat efek perang tarif ini dari sisi ekonomisnya aja, ternyata. Namanya juga pelajar, Bu. Kocek terbatas, bikin jadi perhitungan berat soal tarif SMS dan telepon. Beda berapa rupiah aja dipikirin siang malem, hehehe. Saya sampai punya 2-3 nomor beda, padahal cuma punya HP satu biji-satu bijinya doang. Cuma karena yang satu nomer lama dan sayang buat dibuang, yang satu lagi murah.

    “Tak heran kemudian para remaja lebih banyak berkomunikasi dengan orang tuanya yang sibuk lewat ponsel dibandingkan bertatap muka.”

    Untuk yang ini… saya setuju banget, Bu. =P Saya sendiri merasakan, lebih gampang berkomunikasi lewat media daripada langsung (ini kali ya sebabnya kenapa saya dibilang introvert?) saya lebih suka SMS daripada nelepon. Kenapa ya? Habis… kalo lewat tulisan kata-kata saya lebih lancar mengalir. Kalo ngomong rasanya serba salah…. apalagi berbicara langsung. Bisa-bisa saya cuma diem dan angguk-geleng doang. Saya rasa banyak juga yang merasakan hal yang sama, lebih nyaman berkomunikasi lewat telepon atau SMS daripada bertatap muka langsung. Ini sesuatu yang susah dirubah sepertinya…….

    Comment by Mikan | 12 March 2009

  7. “Karena dari perang tarif ini mereka tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, balik modal aja, malah kadang menderita kerugian. Hanya mencari keuntungan dari produk-produk lainnya, seperti produk pascabayarnya.”

    CMIIW
    cuma telkomsel yang yg memperoleh laba, sedangkan operator lain trus menderita kerugian,,,,,
    tapi kalo saya perhatiin nih ya, yang kata ny murah, kalo ditung2 teteup mahal. bahkan yang ngaku murah lebih mahal dibanding yang ngga ngaku murah..

    maaf ya bu, OOT nih,,,
    di asrama masih dilarang bawa hape ngga????

    Comment by rizafahmyholil | 15 March 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s