Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Menumpahkan Amarah

Amarah temannya setan. Saat marah artinya setan sedang bersemanyam di raga kita. Menumpahkan amarah sama saja memberikan kesempatan setan untuk tertawa. Makin besar kemarahan seimbang dengan makin besarnya ketawa setan.

Inti sari itu yang saya peroleh dari beberapa buku keagamaan yang saya telusuri untuk menumpahkan kemarahan saya pada seseorang. Bukankah itu artinya saya ga boleh punya marah? Tapi saya lagi marah! Atau kalau marah ga boleh dilakukan, saya bisa katakan itu bukan kemarahan tapi suatu perasaan yang ingin saya tumpahkan. Kalau saat itu si oknum ada di depan saya dan saya punya belati, dan hukum ga mempermasalahkan, maka saya ga pikir dua kali menghujamkan benda itu ke dadanya. Tapi tentu hukum ga diam, terutama kalau menyangkut harga nyawa manusia.

Wudhu dan sholat mungkin jalan mendinginkan hati, saya pikir. Oke, saya wudhu dan sholat. Saya panjatkan doa agar Sang Pencipta Perasaan menghilangkan sahabat setan itu dari tubuh saya. Saya lega. Hati saya dingin. Tapi sekian menit dan sekian jam setelahnya, perasaan marah itu kembali bersemayam di hati saya.

Beberapa cara yang telah saya lakukan:

1. Sholat sunnah di sela sholat wajib
2. Memelototi screen komputer lebih dari dua belas jam, termasuk buat main freecell online
3. Melukis impian-impian di atas kanvas atau kertas
4. Membaca berbagai buku, koran, tabloid
5. Nonton TV sambil berkomentar, terutama untuk acara-acara yang membodohi pemirsanya
6. Ngemil, ngemil dan ngemil
7. Menghabiskan bensin di jalan dengan kecepatan 80-120 km/jam di tengah kepadatan lalu lintas
8. Jadi rocker dadakan
9. Ngobrol berjam-jam lewat telpon
10. Bikin cerpen dengan tokoh si oknum pembangkit marah mati terbunuh dan membusuk ga ketahuan

Saya ga boleh marah. Marah temannya setan. Berulang-ulang saya tekankan itu. Eh, saya masih punya marah! Sulit sekali menghilangkan kemarahan.

Beritahu saya cara terbaik yang anda lakukan untuk menghilangkan kemarahan agar kemarahan ini menguap dari hati saya.

8 November 2008 - Posted by | Personal | , ,

10 Comments »

  1. Marah itu juga bikin capek, iya kan, Bu?

    Comment by enggar | 9 November 2008

  2. Duu waktu ayah saya meninggal, saya selalu marah. Selama 2 tahun saya tdak berhenti marah. Saya merokok dan kebut-kebutan di jalan (waktu itu saya kelas 1 SMA). Emang ngebut di jalan itu asik untuk melupakan bahwa kita sedang marah. Tapi bener kata bu Enggar, marah bikin capek ya…

    Bu Wyd bisa melototin layar 12 jam? Hebat bener!!!

    Comment by AL | 9 November 2008

  3. Tinju bu….
    Di rumah dulu saya punya sansak tinju. Setiap dimarahi bos, pulang kerja selalu saya lampiaskan ke sansak tersebut. Lah mosok dimarahi setiap hari. Puncaknya pernah nyaris gak kuat dia saya tunjuk tunjuk sambil maki maki. Untung dia ngerti dan gak jadi dipecat. Gara garanya Istri saya sakit kanker, harta benda dijual semua, rumah, mobil buat biaya operasi, miskin total pokoknya… eh dia nuduh saya maling, korupsi. gila banget…! Tangan kiri saya nyaris melayang. Jadi sansak ini yang jadi korban. Tapi itu dulu. Setelah tua begini saya lebih mudah kontrol emosi. Perkara marah lagi setelah tinju ya gpp. Yang penting kan tekanan darah nggak mentok terus.

    Comment by Datyo | 9 November 2008

  4. ketika ada niat untuk tidak marah, itu sudah sebuah catatan positif. barangkali usia juga mempengaruhi tingkat emosional seseorang. pada saatnya nanti pasti bisa. ketika saya belum beristri dulu saya selalu dibilangi seperti itu, lantas saya balik bertanya :” kapan?”. sekarangpun saya mudah emosi, tapi lebih bisa mengendalikan marah dibanding dahulu.
    jangan marah lho kalau sampean tak bilang masih muda

    Comment by budi | 9 November 2008

  5. bu saya ikut prihatin sama kejadian, yang saya dengar !!
    emank perubahan itu bisa bikin keadaan berubah !

    ada rasanya di lubuk hati kami untuk melakukan DEMO !!

    haruskah dia pergi cuma untuk CUCI TANGAN BU ?!!

    Comment by wahyu | 9 November 2008

  6. kalo marah memang gak bisa dihindari
    tapi mungkin bisa ditahan

    caranya………….

    ya yg mam bilang tadi

    hehehehe

    Comment by uongpening | 10 November 2008

  7. Wah, gimana ya Bu..

    Emang ga bisa tuh kayaknya..
    Kalau saya mendapat hal yang sama seperti itu pastinya saya juga akan melakukan hal yang sama seperti ibu.

    Gini aja deh Bu, berdoa aja semoga tuh orang cepet dikasih petunjuk sama Yang Kuasa, semoga dia insyaf suatu hari nanti. Kalaupun ngga insyaf di dunia biarin aja dia insyaf di akhirat kelak.

    Comment by Poirot | 10 November 2008

  8. Marah adalah bagian dari kehidupan. Yang terpenting bagaimana kita bisa mengelola marah menjadi hal yang positif. Setuju Bos..?, Salam, masyarakat Marginal Sumatera Utara.

    Comment by ksemar | 4 December 2008

  9. Assalamualaikum Wr.Wb.

    Amarah sering datang tanpa kontrol ke dalam diri kita. Tak peduli siapa orangnya, baik orang kaya maupun orang biasa pun pasti pernah merasakan amarah lalu menumpahkannya. Saya pun sering juga diliputi rasa marah. Terkadang perasaan itu tak bisa saya tahan seperti meledak-ledak dan susah dikontrol. Jika sudah begini wajah bisa jadi kusut karena cemberut, memerah kayak udang rebus, terkadang tidak bisa tidur dengan nyenyak.

    Karena kemarahan tersebut sering sekali muncul, terkadang kita tak bisa memprediksikan kapan kapan munculnya, maka saya belajar darimana kemarahan tersebut berasal. Misalnya saja ketika saya diganggu, disindir, dihina, maka amarah bisa saja timbul. Bahkan hal yang kecil sekali pun seperti lupa menaruh buku pelajaran, lupa password email, sampai tidak berkonsentrasi belajar pun dapat menimbulkan emosi sendiri pada diri.

    Terkadang ketika saya lagi terbebas dari masalah, pikiran saya masih jernih, dan emosi masih stabil, saya berpikir buat apa kita marah. Toh, marah hanya akan membuat persepsi yang buruk dari orang lain terhadap kita. Tetapi, ketika saya dihadapkan dengan masalah yang bisa memengaruhi emosi saya, saya pun bisa marah dan emosi sukar untuk dikendalikan. Uh….. Saya terus berpikir bagaimana cara mengendalikan amarah ini agar tidak terus-terusan melekat di hati saya.

    Beberapa tips untuk menghilangkan kemarahan sudah saya terapkan. Memang hasilnya tidak seratus persen berhasil membuang kemarahan kita. Tetapi paling tidak ini bisa mengurangi rasa amarah di hati yang terus berapi-api.

    Namun, cara yang saya ingat ketika saya sedang marah yaitu bersegeralah untuk mencuci muka atau berwudhu (bagi yang muslim). Benar seperti apa yang Maam katakan bahwa amarah itu adalah sahabat setan. Setan akan mencoba menggoda kita dengan memercikkan api kemarahan. Oleh sebab itu berwudhu bisa dijadikan solusi untuk memadamkannya. Kemudian yang sering saya lakukan jika saya marah dengan mengalihkan pikiran dan perhatian saya terhadap hal-hal yang lucu, terkadang jika saya sudah terlalu lelah untuk marah saya tertidur pulas di kamar. Hehehehe….

    Cara lain yang sering saya lakukan yaitu membuka akun blog, facebook, atau twitter yang dapat meminimalisir rasa marah saya karena pikiran saya terfokus kepada hal yang sedang saya kerjakan tersebut. Saya juga terkadang mencurahkan isi hati saya ketika sedang marah kepada orang terdekat saya. Cara ini saya lakukan agar bisa membuang sebagian rasa marah yang ada dalam perasaan saya.

    Terkadang jika emosi kita sedang labil, maka kita bisa saja melakukan apa yang ingin kita lakukan. Tapi kembali lagi sebagai manusia kita harus bisa mengontrol emosi kita dan terus berpikir positif dan selalu mendekatkan diri dengan Yang Kuasa.

    Terima kasih. Wassalamualaikum Wr.Wb.

    Comment by Dela Ulfiarakhma - KIRANA | 18 November 2010

  10. ternyata emang preman… Rozy ( italia ) bisa kalah balapan ni….

    Comment by Papua | 4 August 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s