Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Tendang Aja Kalau Saya Menyimpang!

Pada beberapa teman baik yang saya yakin dan percaya ga sudi melihat saya berubah buruk atau kepleset ke jurang kesalahan, saya selalu wanti-wanti untuk mengkritik saya kapan pun saya melakukan kesalahan atau menyimpang. Dan kalau saya masih keras hati alias tetap lebih suka menyimpang, mereka boleh menjewer kuping saya, atau kalau perlu mendaratkan tendangan keras. Saya takut menyimpang dari jalan kebenaran apalagi jika melakukan itu dengan kesadaran dan perasaan bangga.

Puluhan tahun saya hidup dalam dunia yang ga banyak orang pernah melaluinya. Belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun saya lalui ga ubahnya kedelai-keledai yang meletakkan jiwanya di telapak kaki. (Saya sulit membedakan keduanya. Dan lagi malas nyari di google. Jadi saya tulis keduanya)
Bayangkan, keledai-kedelai sudah cukup mewakili binatang terbodoh di jagat ini, dan jiwa yang seharusnya mengendalikan semua anggota tubuhnya diletakkan di tempat terendah yang terinjak-injak setiap saat (kecuali keledai-kedelai yang senang bersepatu!) bahkan ga bisa memilih mana tempat yang layak diinjak dan mana yang seharusnya dilangkahi. Saya ga lebih baik dari itu!

Kadang saya bertanya apa Tuhan semesta alam ini ga bosan dengan perbuatan orang-orang seperti saya. Mungkin memang Dia Maha Tak Bosan (aduh, nyari istilah tepatnya kok ga ketemu juga!). Pepatah bilang (entah apakah ini kata-kata Rasullulah juga) dosa manusia itu laksana buih di lautan bagi Sang Maha Pencipta.
Tapi kok saya jadi mikir, masa’ sih? Manusia kan sudah hidup berabad-abad dan perbuatan manusia kok ga kelihatan bertambah baik dari abad ke abad? Berapa banyak sih, para ulama dan orang ‘baik’ di dunia ini setiap abadnya dibandingkan dengan jumlah pendosa? Jangan-jangan pepatah tersebut keliru?
Jangan-jangan maksudnya dosa manusia itu laksana lautan dan buihnya? Artinya, berubah di tiap era tapi tetap saja namanya dosa.

Belasan tahun saya sibuk mencari siapa tuhan saya, di mana dia, apa dia cukup peduli pada saya, apa dia bisa mengerti apa yang saya rasakan, kenapa dia memberikan jalan buruk buat saya lewati, atau kenapa dia ‘memaksa’ saya memainkan un-fair games yang disebut hidup.
Bahkan satu hari saya tiba pada pernyataan: betapa bodohnya tuhan saya sehingga membiarkan saya tetap eksis di jagat ini!

Saya membaca berbagai daftar dosa besar dan kecil dalam banyak website, terutama website Muslim. Kalau dipersentase, boleh jadi saya ‘menguasai’ 90 persennya! Sayangnya, keahlian itu ga layak diberi keplokan tangan! Saya bahkan berpura-pura buta bahwa saya telah melakukan sekian persen dalam sekian tahun perjalanan hidup. Mungkin -dengan alasan alpa atau khilaf- saya masih akan melakukan sekian persen lagi di waktu-waktu mendatang. Herannya, saya masih menginginkan Tuhan saya menyayangi saya dan berharap Dia ga tahu kesalahan dan dosa-dosa saya!

Limpahan Kasih Tak Pernah Cukup

Saya merasakan kasih sayang melimpah dari orang-orang terdekat sepanjang hidup saya meski saya pastilah bukan figur yang mereka impikan.

– Ibu bilang, ayah pernah mengatakan (sebelum beliau meninggal) bahwa beliau ingin tinggal dengan saya jika ibu meninggal duluan. Beliau menginginkan saya menemaninya di akhir hidupnya. Tapi saya satu-satunya anak yang ga hadir saat beliau sakit keras! Bahkan saya datang saat jenazah beliau hampir saja diberangkatkan ke peristirahatannya!
Abang dan saudara-saudara perempuan saya sempat punya perasaan diabaikan saat beliau hanya menginginkan saya dan ibu menemaninya di saat sakitnya padahal saya ga pernah nongol sekali pun!

– Saya anak kesayangan pastor dan para nun di salah satu gereja dan hanya saya yang boleh ikut (selain para nun) menyediakan roti dan anggur buat misa Minggu. Kedekatan itu pernah membuat saya memutuskan mengabdi sebagai nun di akhir sisa hidup saya. Saya ingin mengabdi dan dekat dengan Tuhan saya setiap saat dan saya melihat itu satu-satunya jalan.

– Saya anak kesayangan daddy saya, seorang Hindu yang taat. Kedekatan ini mempengaruhi hidup saya bahkan hingga detik ini. Tapi hei, saya Muslim!

– Guru-guru sains (fisika, matematika, dan kimia) di SMA, masing-masing pernah bilang ke kelas lain bahwa saya anak kesayangan mereka. Padahal saya sering ga bikin PR! Padahal saya hobi minggat buat tidur! Padahal saya ‘si tukang nyeletuk’! Padahal saya pernah pernah bilang ‘kau’ sambil menunjuk hidung kepala sekolah dari atas panggung dengan alasan akting baca puisi! Padahal saya seringkali mengomentari gaya berbusana guru kimia! Padahal saya yang ketawanya paling kencang kalau guru fisika salah bicara! Padahal saya nyaris berantem sama guru matematika buat gagah-gagahan ilmu karate saya! Padahal saya ga pernah menyambangi rumah mereka sekali pun semasa sekolah! Malah waktu tahu saya datang ke tanah kelahiran saya, guru fisika saya rela datang ke tempat saya menginap padahal dia pasti ingat saya super bandel!

– Beberapa guru di SMP saya bilang bahwa mereka akan bangga jika anak-anak lain seperti saya. Apanya yang bikin bangga? Saya kan pernah menjebol pagar sekolah agar bisa minggat! Saya kan ‘si trouble maker’! Saya kan yang pernah menyembunyikan prisma sehingga guru fisika kebingungan saat praktik! Saya kan pernah menukar rokok guru dengan kapur tulis! Saya kan pernah bertengkar hebat sama guru matematika gara-gara saya ga terima jawaban saya dibilang salah! Saya kan… ih… malu mengingat perbuatan-perbuatan saya!

– Putra saya bilang saya ibu terbaik di dunia. Padahal dia beberapa kali harus telat sekolah gara-gara saya ketiduran! Padahal masakan saya cuma better than poison! Padahal saya rada pelit memberikannya uang jajan! Padahal saya sering cemberut kalau temannya menelpon saat saya tidur!
Padahal saya pernah ngambek cuma karena dia lupa mencium saya sebelum berangkat sekolah!

Tapi sungguh, kasih sayang yang melimpah itu kok terasa belum cukup. Saya masih terus sibuk mencari cara merebut kasih sayang Tuhan.

Disayang oleh Tuhan saya adalah impian terbesar saya.

13 October 2008 - Posted by | Agama | , ,

11 Comments »

  1. Eh.. serius nih mbak? tidak tahu bedanya keledai dan kedelai? about donkey and soy-bean?

    tentang tulisannya.. yah.. mbak wyd bersyukur saja.. Allah pasti memiliki perhitungan kebaikan sendiri terhadap tiap makhluk yang diciptakannya.

    Sesuatu yang fitrah jika manusia selalu melihat dirinya kurang dan iri dengan manusia yang lain. Oleh karena itu Allah meminta manusia untuk bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki manusia tersebut.

    Comment by faithtear | 14 October 2008

  2. Rupanya “KEAROGANAN” menguasai anda dengan lekat. Sikap menyepelekan orang/ meremehkan orang lain kental sekali. Merasa paling segala, segala paling melingkupi jiwa dan pikiran anda. Menjadikan anda kurang teliti asal apreori. Semoga diberikan petunjuk agar bisa open mind dan juga di bukakan hati…amin

    Comment by Lembah Manah | 14 October 2008

  3. Artikel yang sungguh sangat menarik dan bikin iri….nyaris berantem dengan guru matematika buat nyoba ilmu karate ? keren….ketawanya paling kenceng ketika guru salah bicara…kekekekeke asli memang bandel banget…

    pengalaman hidup yang indah menurut saya bu…

    Karena saya bukan orang ahli agama, bukan ustad, karena prosentase dosa saya mungkin gak beda jauh dengan sampeyan, artinya lebih tinggi. Saya cuma bisa bilang…enjoy your life…

    Toh sampeyan udah tahu letak kesalahannya dan tahu gimana memperbaikinya. Tinggal kapan mau memperbaikinya. Atau mungkin sedang dalam proses…

    Disayang oleh Tuhan ? hehehehehe
    Tahu nggak mbak ketika saya terbanting banting pernah nggak bisa makan, terbanting ketika istri kena kanker, terbanting ketika di PHK, kok saya malah melihat betapa Tuhan ini sangat cinta sama saya…kok ya sempat sempatnya beliau ini memberi cobaan ke saya di tengah kesibukannya.

    Dari atas Beliau melihat : Eh itu si Datyo…lagi ngapain dia ya…coba sih Aku beri cobaan…bisa gak dia ya…
    Kun Fayakun..
    Bayangkan !!! Beliau ini lho sibuk ngurus alam semesta…kok masih melihat saya yang kecoak ini (karena dosanya bejibun)nylempit di pojokan…
    Aduuuhhh saya merasa betapa cintanya Beliau kepada saya.

    Jadi kalo sampeyan diberi kenikmatan hidup (nakal, bandel, dicinta keluarga, dicintai anak), saya pikir cinta Beliau kepada sampeyan sungguh luar biasa…
    Sampeyan saja yang BELUM tahu…

    Ehh gitu gak sih ?…

    Comment by Datyo | 14 October 2008

  4. @faithfear: kalau saya pikir keledai, orang bilang kedelai. dan sebaliknya. abis huruf2nya sama sih susunannya doang yang ketuker🙂 sampe hari ini masih belum bisa bedain keduanya hehehehehe

    Saya tahu iri bukan sifat yang baik. tapi bener, saya ga bisa ga iri sama orang2 di luaran sana yang… kok bisa sedekat itu sama tuhannya. saya dalam pencarian dan masih terus mencari, mas

    @lembah mana: arogan, sombong, sok segalanya, mendalami beberapa agama, sampe ke rada atheis pernah saya jalani. saya bahkan pernah ‘terlalu’ open minded buat ukuran seorang muslim. ga ada satu pun orang yang berani ngajak2 saya ikut dengerin ceramah agama, saking tahunya bahwa akan saya tolak mentah2. sumpah, itu hidup yang buruk banget buat diingat.
    thx buat doanya moga kita semua diberi petunjuk jalan kebenaran… amiinnnn

    @datyo: pencarian terus-menerus selama beberapa tahun terakhir (kurang dari 10 tahun). banyak banget dari kehidupan saya yang berubah. asli, banyak banget. Dia menitipkan cintanya lewat orang2 di lingkungan saya. tapi jujur saya igin lebih dekat, sangat dekat, dengan Pencipta saya. moga kita semua diberi limpahan rahmat dan hidayah kasih-Nya. amiinnnn….

    Comment by wyd | 14 October 2008

  5. mokase mam la di link. yang kemaren idak marah kan?
    kapan2 boleh kan mun aku masukke tulisan mam ke blog aku?
    io sebelumnyo gek ijin dulu ah, byar mam dak kesel. hehe

    Comment by ika_karla | 14 October 2008

  6. iya nih bolang juga kadang bingung minum susu kedelai apa susu keledai?
    wyd said:”Kalau dipersentase, boleh jadi saya ‘menguasai’ 90 persennya”
    bolang:”bok ya bagi – bagi ama orang lain, koq dimonopoli sendiri”
    hehehe

    Comment by si bolang | 16 October 2008

  7. pertanyaannya : mbak wyd ingin disayang seperti apa olehNya?

    Comment by Islam Indie | 17 October 2008

  8. saia pertamax kesini ^_^ gak penting ^_^

    pengalaman di skors waktu sekolah, rapor terbakar merah menyala, dan juara kelas rasanya sama saja bagi saya, ya sama banyaknya, ya sama2 nggak ada bangga2nya sama sekali. waktu kuliah pun, rasa2nya ga ada bidang yang saya belom pernah jd ketua, dr bidang agama/masjid, jurusan, unit, dll. mempelajari semua agama? bahkan sampe skr, meski sejak lulus sma saya tak menyentuhnya lagi tapi masih inget betul satu dua ayat2 al kitab, weda, buddha luar kepala. bisa jadi ini komentar paling narsis.

    ok, saia cuman mau bilang, dg latar blk spt itu saia salud dg semangat anda dlm pencarian. ini rahmat yg luar biasa. tak banyak orang bisa merasakan rahmat ini.

    stl saia punya blog, meskipun tak banyak saia suka baca2 blog orang belakangan ini. bosen saya baca ketikan saya penuh dosa, saya lemah, saya hina etc etc.. tapi tak pernah mendiskripsikan apa dosanya, dimana lemahnya, bagaimana hinanya, etc etc.. begitu pula sebaliknya, saia suka blog mensyukuri niqmatullah, but niqmat for what?? Singkat kata, saia suka liat orang teriak2 ban bocor, tp gak pernah nyoba nyari dimana bocornya, bocornya kenapa, gimana nambalnya etc etc.. But you did! At least, anda sudah mencobanya.

    Tuhan itu maha adil, ya ampunannya, ya rahmatnya, ya rejekinya, dll. Umatnya sajalah yg membeda-bedakannya. Ada yg bener2 bego (=tidak tahu caranya merasakannya), ada pula yg mengingkarinya (scr tak sadar). Dg pencarian itulah salah satu ihtiar agar Tuhan mau ngajarin dan nyadarin kita gimana-gimananya merasakan niqmat rahmatnya.

    eh pertamax kesini tp kok jd panjang banget ya? Hapus aja, ga pa pa kok. Yg penting saia pas pengin ngomen dan udah terwujud keinginan saia. tx dah mau baca. (saia mau nonton dulu termehek-mehek di trans tv, lagi mulai)

    Comment by Jiwa Musik | 19 October 2008

  9. tuhan memberikan rahmat-Nya dengan cara yang gak bakal kita tahu

    ya gak?

    Comment by uongpening | 30 October 2008

  10. Segala yang bernafas adalah mahluk ciptaan Tuhan…. Tuhan yang memberi dan Tuhan pula yang akan memanggil kita kepangkuanNya. Tuhan tidak akan membiarkan umatNya menderita….. Tapi yang saya mau bilang pasti Tuhan akan jadikan segala sesuatu menjadi indah tepat pada waktuNya…..

    Comment by Kar.... | 17 July 2011

  11. manusia bagai buih di lautan, artinya lemah, ga ada daya dan upaya melainkan pertolongan allah.apalah artinya buiH? gak berharga kan meskipun banyak? begitupun dosa kita, meski sebanyak buih dilautan, kalau kita minta ampun dan niat gak ngulangin, ya pasti diampunin, makannya allah di katakan maha pengampun, kesuali dosa syirik (menduakan allah). sekalipun bukan muslim, gak akan gitu aja di jeblosin ke neraka, kalau memang gak nyampe ke dia tetang islam. mang siapa yg mau dilahirin sebagai non muslim kalau tau bakal masuk neraka? allah itu maha adil.

    Comment by Riri El Rose | 12 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s