Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Buta Ruang

Seringkali teman-teman bertanya hanya untuk lucu-lucuan.
‘Di mana kamu tinggal sebelum pindah?’
Saya akan menyebutkan lokasinya.
Mereka lantas pura-pura bertanya: Di mana sih itu?
Jika saya menunjuk suatu arah, mereka akan ketawa kencang. Selalu saja arah yang saya tunjuk dinyatakan salah, bukan cuma keliru.
Paling saya hanya pasrah dan bilang sambil senyum-senyum: Saya udah tinggal belasan tahun di sana. Ga mungkin kalian lebih tahu dibandingkan saya di mana letak rumah saya….

Bagi orang lain spatial weakness atau buta ruang mungkin akan terlihat lucu .

Sampai detik ini saya ga ngerti kenapa putra-putri dan teman-teman sejawat saya selalu menunjuk ke arah yang berbeda dengan yang saya tunjuk jika kami ingin menyatakan letak suatu tempat. Padahal lokasi yang ditunjuk ga berpindah tempat!

Satu hari seseorang meminta saya membuatkan peta jalan menuju suatu tempat. Awalnya saya hanya bersedia menjelaskan secara verbal karena saya tahu kelemahan saya terhadap ruang. Tapi si teman yang baru datang ke Palembang, benar-benar hanya tahu beberapa ruas jalan utama. Meski amat sangat terpaksa, saya gambarkan juga peta jalan yang harus dilaluinya. Berbekal peta itu, dia menuju alamat yang dicari. Sorenya dia menelpon saya dan bertanya apa saya benar-benar senang dia tersesat. Ternyata peta yang saya bikin ga sedikit pun sesuai keadaan jalan sebenarnya meski setiap hari saya melewati jalan-jalan itu. Kok bisa ya?!

Teman dekat saya tinggal ga terlalu jauh. Dan saya sudah belasan kali ke sana. Satu hari saya nekat -meski tahu konsekuensinya- datang lewat jalan pintas. Jalan ini belasan kali saya lewati saat pulang dari rumahnya tapi baru beberapa kali saya lewati menuju rumahnya. Benar saja, saya mesti bolak-balik empat kali dan akhirnya memutuskan kembali ke jalan asal, baru saya bisa tiba di rumahnya!

Kejadian mirip waktu saya dan putra saya pulang ke rumah sendiri. Saat itu kami baru menempati rumah baru itu sekitar sebulan setengah. Saya terbiasa ke mana-mana lewat jalan kanan pintu depan. Tapi kalau pulang saya tahu ada dua jalan, lewat kiri atau kanan.
Satu hari putra saya meminta saya yang menyetir dan lewat jalan kiri. Biasanya dia yang menyetir kalau lewat jalan kiri. Karena merasa kami sudah puluhan kali melewati jalan itu, putra saya ga berkomentar. Saya setengah mati berpikir agar ga salah jalan.
Sampai… saya heran jalan di depan kami mirip banget jalan di depan rumah. Bahkan ada rumah di kanan jalan yang mirip banget rumah kami. Saya mau mengatakan perasaan itu pada putra saya tapi dia keburu bertanya:
‘Mau ke mana, Ma?’
‘Ya, pulang. Emang kita mau beli apa lagi?’
‘Kok ga stop?’
‘Emang rumah kita mana?’ tanya saya.
Putra saya ketawa duluan baru menjawab: yah, Mama… udah lewat…!’
Ah, ternyata rumah yang saya pikir mirip rumah kami, memang rumah kami!

Menurut para pakar, buta ruang dapat diakali. Yaitu dengan meminta si penderita beradaptasi dengan ruang tersebut dari berbagai sisi.
Misalnya hari ini si penderita diminta masuk dari pintu depan dan menuju sudut kiri. Besok masuk dari pintu belakang dan berada di sudut sebaliknya.
Lusa kembali dari pintu depan tapi menuju arah kanan, dan seterusnya hingga si penderita familiar dengan setiap sudut ruangan tersebut.

Masalahnya kemudian menjadi ga terlalu mudah kalau menyangkut ruang besar yang memiliki banyak kemungkinan tempat masuk, kota misalnya.
Berarti si penderita harus mencoba dari berbagai jalan. Dan itu ga mudah sama sekali.

Saya berulang kali mencoba mengurangi buta ruang yang sering bikin saya harus keluar bensin lebih banyak. Hasilnya:
Saya pernah berhenti di tengah-tengah lampu merah karena bingung arah yang seharusnya saya ambil. Untung saat itu ga ada polantas, meski
klakson kendaraan lain tat-tit-tuuuutt memberikan peringatan.
Ketika akhirnya saya memutuskan mengambil salah satu arah, ternyata itu arah yang salah. Saya harus berputar-putar enam kali, dan berhenti dua kali
untuk menyambung ruas-ruas jalan di pikiran saya secara benar, baru akhirnya saya bisa tiba d rumah.

12 October 2008 - Posted by | Umum | ,

6 Comments »

  1. hehe. saya juga bu.
    kampus saya kan seneng banget dengan arsitektur-segienam yang terdiri dari segitiga2 dan koridor2. saya ga apal2 gitu dan sering nyasar.. sampe diketawain karena saya milih jalan yang jauuh tapi saya inget daripada jalan pintas tapi saya harus nyasar lebih dari sekali dulu. trial-and-error parah bahkan di tempat2 familiar. udah setaun kuliah di sana masih juga nyasar2 =(

    Comment by ushmrkstv | 14 October 2008

  2. ya makanya jangan pakai narkoba too

    Comment by margareta | 12 November 2008

  3. @ushmrkstv: untung sekolah tempat ibu mengajar ga luas2 amat. jadi ga terlalu lama buat kenal lapangan🙂

    @margareta: maksudnya???? namanya juga spatial weakness jadi ga perlu narkoba deh buat ga ngenalin ruang… kayaknya kamu belum baca tulisan di atas sampe abis, deh🙂

    Comment by wyd | 12 November 2008

  4. wah saya baru tahu ada istilah buta ruang.
    apa pengaruhnya terhadap tempat yg baru didatangin dengan tempat yang udah sering didatangin beda bu?

    Comment by putrijump | 23 November 2008

  5. @putrijump: kalau baru datang beberapa kali dan masuk dari pintu yang sama, pasti ga bisa ngenalin tempat itu sebagai tempat yang pernah didatangi, kalau satu kali diajak masuk dari pintu yang lain🙂

    Comment by wyd | 23 November 2008

  6. wyd seriusan? itu penyakit? emang ada ya, thx god yg ini kita beda banget, gw kalau jalan ke tempat baru, meski baru sekali, pasti besok2nya gw masih inget jalan ketempat itu

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s