Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Saya Kerja (Bukan) PSK

Hari Senin jam enam pagi lewat sedikit saya berangkat dari rumah. Di salah satu persimpangan antara Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Sosial Palembang, seorang gadis ABG berkulit coklat matang turun dari mobil mengkilap. Saya simpan nomor plat mobil itu di kepala. Saya ingat wajah pengemudinya karena kaca mobilnya ga terlalu gelap. Si Gadis celingukan. Beberapa tukang ojek menghampirinya. Tapi dia sepertinya ga tertarik naik ojek. Atau lebih tepatnya, wajahnya tampak bingung.
Saya kok jadi punya pikiran rada negatif soal si gadis dan pengemudi yang ga pake acara buka kaca mobil, tapi langsung ngacir.

Iseng, saya parkir kendaraan di tempat aman. Saya hampiri gadis itu.
‘Mau ke mana, Dek?’ saya tanya.
Dia ga menjawab.
‘Saya wartawan. Mau nanya-nanya doang. Ga perlu nyebutin nama, deh. Boleh, ya?’ saya tunjukkan press ID saya.
Dia mengangguk pelan.
‘Mau ke mana, sih?’
‘Pulang.’
‘Yang tadi nyetir mobil, siapanya?’
Dia menatap saya lumayan lama sebelum menjawab:’Om’.
Saya ga yakin itu om-nya. Mobilnya terlalu mengkilap untuk menjadi ‘om’ si gadis berwajah ‘sedikit kampungan’ (sorriiii!).
‘Kenal Om-nya kapan?’
‘Sabtu.’
Nah kan, tebakan saya tepat!
‘Nginep di mana dua hari?’
Dia menyebutkan nama sebuah motel yang juga saya lewati tadi.
‘Sori, Dek. Jadi WTS, yah?’
Saya memilih kata ‘WTS’ karena ga yakin si gadis cukup familiar dengan kata ‘PSK’.
‘Tapi saya kerja, Mbak.’
‘Iyalah, saya tahu. Kerjamu jadi WTS, yah?’
‘Iya.’
Ini dia kenapa saya ga pernah setuju kata WTS = Wanita Tuna Susila diganti dengan PSK = ‘Pekerja’ Seks Komersial. Contohnya gadis kecil lawan bicara saya, setengah mati menekankan bahwa dia ‘bekerja’ sebagai WTS, padahal dia pasti (asumsi saya) ga kenal istilah PSK. kalau dia kenal istilah ini, pasti dia akan dengan mudah berkelit. Wong dia pekerja seks, kok, bukan pengangguran atau istilah ga enak lainnya untuk kerjaan jenis ini. Apa salahnya menjadi pekerja seks sementara pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan lain yang cocok, itu alasan yang masuk akal.

‘Mau pulang ke mana, nih?’
Si gadis menyebutkan tempat tinggalnya, yang lumayan jauh dari tempat dia diturunkan. Saya jelaskan angkutan yang harus ditumpanginya. Sampai dia naik angkot, baru saya berlalu. Dalam hati saya menyumpahserapahi si pengguna jasa gadis muda itu. Kenapa ga mau mengantar ke tempat yang agak dekat dari tempat tinggalnya? Gimana kalau si gadis ditipu atau -lebih serem lagi- diperkosa tukang ojek?
Tapi kemudian saya maklum, mungkin si om itu juga sama seperti saya yang harus segera tiba di tempat kerja!

6 October 2008 - Posted by | Umum | , , ,

9 Comments »

  1. pertamaxxx…
    wah beneran nih suka nanya2 di jalan.. kepedulian sosial anda tinggi sekali.. semoga dengan tulisan2 anda bisa menggugah semangat pembaharuan bangsa Indonesia..
    bagi saya… begitu banyak kontroversi mengenai profesi ini sudah terlampau banyak. salah, tapi kembali lagi sebagai cermin moral bangsa… jika suatu pekerjaan ada karena adanya supply dan demand. berarti bangsa ini semakin banyak demand dari turunnya moral bangsa. di sisi lain ada supply berarti ketidakmampuan sebagian bangsa untuk mencari sektor penghidupan lain karena kebodohan, iliterasi dan pengkerdilan. di sinilah terbentuk satu jurang, yang mampu tidak mau merengkuh dan berbagi membiarkan yang kurang mampu melata dalam injakan kaki-kaki mereka.
    salam..

    Comment by reekoheek | 7 October 2008

  2. wew

    reekoheek komennya bagus juga

    gak tw lagi mo komen apa

    Comment by uongpening | 7 October 2008

  3. Eh, Bu Wyd punya Press ID? O_O

    Comment by vandeput | 7 October 2008

  4. yup… international press ID… sisa kerjaan lama hehehehe

    Comment by wyd | 8 October 2008

  5. wah Bu, kira-kira bisa ngobrol sama anak-anak di sini dong, soalnya Naufal dkk (termasuk saya) ikut klub jurnalistik di sini: http://ppi.uum.edu.my/index.php/e-bulletin

    Kalau boleh bagi-bagi tips tentang press ID dong😀

    Comment by vandeput | 10 February 2009

  6. ok deh… tapi satu2 yah baca bulletinnya. maklum, kendala waktu dan koneksi yang kadang lelet banget

    Comment by wyd | 10 February 2009

  7. Payah…. Nampaknya “”WTS” eh salah “PSK” eh salah lagi, tidak tau apa ungkapan yang tepat, bukan hanya di daerah ibu aja sih, ada juga di daerah lain di Indonesia sih, bahkan ce nya lebih berani tawarin co. Tdk pandang suku ras mana n agama apapun, pasti ada deh tipe manusia tsb…. gilllaaa bin aneh….., bahkan ada juga di negara lain….. Kita mau buat apa, Apakah ini yang disebut tanda-tanda dunia akan berakhir….. Semoga besok matahari tetap terbit dari timur ke barat, jangan sampai matahari terbit dari Barat laut ke tenggara….. Oh my god……

    Comment by Gamping | 3 September 2011

  8. wyd…ini bukan lo banget deh, lo kan gak suka ikut campur urusan orang lain, atau orang lain ikut campur urusan lo, kok di cerita ini lo “rese” banget.

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s