Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

RIP: My Daddy

Sebenarnya saya sudah menuliskan hal ini dalam In Memoriam: My Daddy di Me, Diary, and Views dalam versi berbeda. Mungkin karena kecintaan saya pada beliau atau karena katanya saya putri kesayangannya, maka saya menuliskannya lagi di sini.

Bulan Agustus lalu daddy meninggal dunia tanpa saya sempat menemuinya di hari-hari terakhirnya.
Bulan terakhir kedatangannya, sejak tiba di bandara Sukarno-Hatta, beliau langsung menelpon saya, menanyakan kapan saya sempat menemuinya. Saya sudah berusaha tetapi selalu ada halangan, mengingat saya hanya bisa berangkat ke Jakarta Sabtu sore dan harus kembali Senin pagi karena rutinitas saya. Tapi itu pun ga bisa saya lakukan. Hingga beliau pulang bulan berikutnya.

Memang kami sempat bicara di telpon berjam-jam tapi tentu akan beda jika saat itu saya menemuinya.
Bagi saya, beliau adalah laki-laki paling bijaksana di dunia. Jangankan melukai hati orang lain,
membunuh seekor lalat yang menghinggapi makanannya pun beliau ga tega. Paling makanan itu akan dibuangnya dan habis perkara. Satu hal yang ga bisa saya lakukan tanpa berkomentar sedikit sadis pada si lalat.

Setiap bertemu, beliau selalu menasehati saya untuk lebih sabar. Maklum, saya bukan tipe Hindu penyabar seperti beliau, terutama terhadap beberapa hal yang mengusik hati saya.
Pernah saya memaki orang di bandara yang ga bisa menjaga mulutnya. Waktu itu saya mengantar daddy yang akan kembali ke negaranya. Dia mencium pipi saya, memeluk erat, sambil menasehati saya yang dengan senang hati mendengarkan. Seorang ibu berdandan menor di sebelah kami berkomentar pada temannya dalam bahasa teramat kasar. Mungkin dikiranya saya ga ngerti Bahasa Indonesia. Saya sebenarnya ga keberatan dia memaki saya, asal jangan daddy diikutkan.

‘Tua bangka ga tau diri. Mentang-mentang orang asing merasa banyak duit sendiri. Dia pikir bisa membeli bangsa ini? Mana perempuannya ga tahu malu. Mau-maunya ditidurin pria gaek begituan. Cuih, perempuan beginian yang bikin negara ini kotor. Amit-amit cabang bayi! Dasar ganjen! Perlu cuci otak’

Saya jelaskan pada daddy apa yang dikatakan wanita itu. Beliau tersenyum dan berpaling pada wanita itu.

Sorry, she’s not my girlfriend, but my lovely daughter. If you mind what we’re doing, kissing and hugging, I’m so sorry. I’m a foreigner but I respect your culture. I know I’ll miss her so much and I can’t meet her till next year, then why we’re holding each other. But please so sorry to make you unhappy. Do you get me, madam?’

Wuih… si ibu malah buang muka. Darah saya menjadi merah gelap.

‘Udah deh bu, kalau ibu punya masalah ga pernah dicium atau dipeluk sama suami ibu, tuh… banyak laki-laki nganggur di corner sana yang pasti ga keberatan kalau ibu minta cium. Beliau daddy saya, bukan orang yang abis nidurin saya semaleman. Saya bahkan ga punya pikiran kotor yang ibu simpan di kepala. Yang mesti cuci otak tuh bukan saya, tapi orang kayak ibu! Mulut kayak ibu tuh yang bikin bangsa ini hilang keramahannya.’

Lalu kami berlalu tapi daddy sempat-sempatnya meminta maaf atas kata-kata saya pada wanita itu. Meski ga mengerti sepatah pun tapi dari raut muka dan intonasi suara, beliau tahu saya bicara ga sopan pada wanita itu.

Beliau seorang Hindu yang taat, yang penuh cinta, yang selalu menghormati orang lain, yang percaya manusia baik akan memperoleh kebaikan pula. Dan beliau orang yang baik sepanjang hidupnya.
Sang Pencipta pasti lebih tahu tempat yang layak untuk orang baik seperti beliau.

Rest in Peace, my daddy. I’ll always love you.

5 October 2008 - Posted by | Personal |

3 Comments »

  1. asslkum…wah memg sweet memory y bu….

    Comment by adrian | 5 October 2008

  2. gilaaaa untuk kesekian kalinya. kenapa? kita sama sama lagi, ayahku juga meninggal di bulan agustus. mba, aku masih mau baca postingan mba yg lain, jangan sampe di postingan mba yg berikutnya aku menemukan kesamaan lagi diantara kita. ini gila!!!

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013

  3. oh thx god, untuk yg ini kita beda, mba whd ternyata anak bule, jadi mba juga pasti bule ya, aku asli indonesia, gak tau kenapa aku harus say thx bahwa kita beda hahahahaha, becanda mba wyd

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s