Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Haram atau Halal Saya Hantam!

Jangan tanya berapa banyak makanan ‘haram’ masuk ke tubuh saya sejak kecil.
Di tempat saya dilahirkan di mana 50-50 muslim dan non muslim (umumnya keturunan Cina), di mana perkawinan ras ga pernah jadi masalah, dan karena banyak saudara kami non muslim, kami ga pernah menganggap makanan mereka sebagai barang haram.
Karena itu kemudian istilah halal-haram dihantam dengan versi amat kabur.

Dulu, kalau ikutan makan makanan siang bawaan teman non muslim dan ada babinya, misalnya mie goreng plus udang dan babi, maka saya akan menyisihkan babi ke pinggir dan menikmati mie plus udang doang. Babinya haram tapi udang dan mie, ga!

Kalau beli mie rebus, saya dan pembeli muslim lainnya akan bilang: ‘ga pake ba’ ya. Saya muslim.’
Ba’ artinya babi. Lalu penjual (umumnya keturunan Cina) akan menyediakan mie kuah daging sapi untuk kami. Dengan sendok yang sama dia akan menyediakan kuah babi buat non muslim!

Penjual kue akan membuat bakpao isi babi dan bakpao isi kacang ijo dengan wajan yang sama. Bedanya, bakpao babi akan diberi sedikit tanda merah dan bakpao kacang ijo diberi warna hijau di atasnya. Bakpao buatannya amat sangat enak! (hehehehehe!)

Saya suka banget otak-otak. Cukanya selalu dicampur arak Cina (alkohol) dengan alasan biar lebih enak dan aromanya khas.

Untuk mengetahui berakhirnya Bulan Ramadhan, berarti besok lebaran, ga perlu nonton TV melihat menteri agama mengucapkan Selamat Idul Fitri (jaman dulu baru ada 1 stasiun TV, yaitu TVRI). Cukup dengan melihat apa udah banyak orang mabuk di jalanan. Para pemuda menandai berakhirnya puasa Ramadhan dengan minum alkohol sampai mabuk di berbagai tempat, termasuk di pinggir jalan. Mungkin akhir Ramadhan bagi mereka sama artinya mulai bebas minum minuman keras lagi🙂

Lebaran di rumah-rumah biasa disediakan bir kaleng. Di rumah kami memang ga pernah ada minuman alkohol. Tapi kami sering mendapat parcel minuman alkohol kemasan luar negeri. Biasanya ibu akan meminta si pengantar membawa kembali ke pengirim dengan alasan kami ga minum alkohol. Saya pernah bertanya kenapa ga diambil saja karena minuman-minuman itu mahal harganya. Kalau pun ga ada yang meminumnya di rumah, kan bisa dijual (waktu kecil ternyata saya mata duitan!). Ibu bilang, bir atau champagne ga boleh dikonsumsi. Kata ‘ga boleh’ ini tentu beda dengan ‘haram’. Maka saat bertamu ke rumah teman dan disuguhi alkohol (bir kaleng), saya hanya bisa memandang teman-teman minum. Saya memilih air putih.

Tapi saya biasa mengkonsumsi minuman kaleng berkadar alkohol rendah (biasanya 1%). Kami menyebutnya soft drink. Bahkan waktu kemping di pantai akhir tahun, saya dan teman-teman membawa berkaleng-kaleng soft drink jenis ini untuk menghangatkan tubuh, ga satu pun guru yang keberatan. Bisa jadi mereka mempunyai persepsi yang sama tentang soft drink.

2-3 tahun lalu terakhir saya mengunjungi tanah kelahiran saya karena suatu urusan, saya masih melihat togel (judi) dijual secara terbuka, meski pun ga seramai waktu saya kecil (padahal katanya togel ilegal di Indonesia!). Dulu, saya senang ikutan ‘nyontang’ bareng teman-teman. ‘Nyontang’ adalah memperkirakan nomor togel yang akan keluar berdasarkan petunjuk buku khusus plus mimpi atau tanda apa aja yang bisa dipakai. Lalu teman-teman akan membeli nomor yang udah di’contang’. Kalau menang, saya pasti ikut dibagi. Saya sempat heran kenapa orang tua kami ga pernah membelikan buku begituan, padahal bisa jadi kaya mendadak🙂

Waktu saya SMA, ada pesan dari MUI bahwa muslim ga boleh mengucapkan Selamat Hari Natal pada non muslim. Guru agama Islam di sekolah kami kebetulan orang pendatang dari Sumatera. Waktu beliau menyampaikan itu di upacara hari Senin, semua anak menertawainya. Gimana ga, kebanyakan dari kami merupakan keturunan Cina. Biasanya kerabat terbagi dua, menjadi muslim atau menjadi Kristen, meski banyak juga yang tetap bertahan Kong Hu Cu (maksudnya Kong Fu Chu). Tapi yang bertahan Kong Hu Cu biasanya akan menuliskan Kristen sebagai agama KTP-nya. Sekali-dua mereka ke gereja juga, biar bisa dapet identitas Kristen di KTP. Jadi kalau natalan mereka juga bikin kue-kue. Tapi perayaan paling meriah tentu saja Imlek. Gimana mungkin kami ga datang ke tempat saudara sendiri dan ga mengucapkan Selamat Hari Natal atau Gong Si Fat Choi? (ini ejaan yang kami gunakan, saya ga tahu tulisan benernya). Kami tentu saja ga mau kehilangan 3 kali hari raya dalam setahun!

Kalau ada yang meninggal, kakek-kakek akan melewatkan malam dengan main judi. Saya sering diminta jadi tukang kocok kartu. Libur puasa kami lewatkan dengan main kartu, kadang-kadang duit ikut main di situ. Kata orang-orang tua, kami ga boleh main judi tapi kalau cuma pakai duit kecil-kecilan, boleh! (hehehehehe!!!!)

Jaman saya sekolah, libur puasa dan lebaran lamanya sekitar 40 hari. Libur Imlek 3 hari. meski jaman itu belum ada pengakuan Imlek sebagai hari besar nasional. Memang sih ga ada pengumuman bahwa libur 3 hari tapi ga ada warga sekolah yang datang sebelum hari ke-empat Imlek. Kami sibuk menyambangi teman-teman sekelas yang merayakannya. Bahkan ada satu kelas di SMA kami, dari 48 siswa hanya 1 siswa muslim. Kalau pun siswa muslim nekat sekolah, ga ada guru yang mau mengajar 1 siswa!

Waktu ABG, saya dan teman-teman biasa sharing jenis magic apa yang digunakannya. Hingga umur dua puluhan, saya belum tahu bahwa kekuatan yang diberikan pada saya sejak kecil dan selalu saya gunakan hingga dewasa adalah black magic yang jelas-jelas sirik. Saya hanya tahu bahwa mayoritas -mungkin seluruh- orang yang saya kenal menggunakan hal yang sama, mungkin untuk menjaga rumah, menjaga kebun atau tanah pertanian, atau sebagai pelindung diri. Yah, kira-kira seperti yang dipraktekkan Ki Gendeng Pamungkas🙂

Gilanya, banyak teman (saya pernah termasuk di antaranya!) yang minum alkohol, kemudian sholat, lalu melanjutkan minum. Yang penting ga mabuk. Kalau mabuk, haram. Wah, jangan tanya dari mana kami atau penduduk kota itu mendapatkan ajaran ini!

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengajak seorang gadis 15 tahun dari tanah kelahiran saya buat membantu menjaga si kecil. Saat nonton TV tentang razia VCD porno di Jakarta, dia heran kenapa mesti dirazia. Saya bilang: tontonan itu dilarang sama pemerintah. Katanya dia biasa-biasa aja menonton film ‘model begitu’ sama papa, mama, dan teman-teman papanya. Bahkan nontonnya rame-rame. Subhanallah!

(Sejujurnya, kadang saya takut mengingat saya pernah hidup dalam lingkungan seperti itu!)

24 September 2008 - Posted by | Personal | , , , ,

13 Comments »

  1. benar benar masa kecil yang penuh warna….
    semuanya itu menjadi pelajaran kehidupan kan mbak..
    Saya suka blog yang jujur begini…

    Comment by Datyo | 25 September 2008

  2. Wah, Bu Guru, ini blognya Bu Wyd ya? Rada-rada hampir tidak percaya saya, kecuali setelah membaca bahasa-bahasanya. Salam kenal lagi ya Bu, saya link blog ibu dengan blog saya (ibu dpaat link blog saya dari siapa? :D)

    Oh, BTW, saya tidak pulang hari raya Idul FItri ini ^__^

    Comment by vandeput | 29 September 2008

  3. WAKWAW, biasabiasa ajah nonton pilem model begituh.

    didikan dari kaek bgimana ituh yah?

    bukannya ntar ujung2nya bakalan ga tau mana hal benar dan salah? mana yang baik dan buruk?

    tonton deh, Georgia Rules.😉

    Comment by nyurian | 30 September 2008

  4. cool mam/….

    pengaruh adat ya mam??

    Comment by zika | 30 September 2008

  5. asslkum…….bu wyd lama tak kunjungan k blog ne..hehehe..sebelumnya aq mo ngucpin met idul fitri..mohn maaf lahir n batin….slm jga utk gru2 d 17..mohn maaf lhir n batin jga bwt mreka…..bu wyd aq jdi inget wktu sma dlu ibu suka crita tentang kampung halaman ibu dlu d sna…tentang penjual mi itu…..hehehe….memang masa2 kecil yg penuh warna y bu….wss

    Comment by ce_ef | 3 October 2008

  6. maaf lahir batin juga….

    Comment by wyd | 3 October 2008

  7. masa lalu gk bisa diapus kan bu, tapi bisa dijadiin pelajaran.
    justru saya merasa disatu sisi ibu adalah orang yg beruntung, karena ibu sempat melihat banyak hal..

    Comment by putrijump | 4 October 2008

  8. Masa kecil ibu yg sasngat menantang..
    sekarang, udah bisa dong bu kan di tata untuk tidak mengulangi masa kecil ibu?

    begitu bukan?
    Haram ya jelas Haram. Halal ya jelas Halal.
    Jangan mengharamkan ya Halal, jgn pula menghalalkan yg Haram.

    Bener ga?

    Comment by Doli Anggia Harahap | 4 October 2008

  9. putrijump: beruntungnya ibu krn akhirnya ibu tau bahwa hal2 itu salah. krn masih banyak teman2 ibu yang sampai hari ini masih menyimpan pola pikir seperti masa2 kecil kami.

    doli: bener banget!

    Comment by wyd | 5 October 2008

  10. Rasa daging babinya enak nggak????
    khan pasti aromanya di mie nya

    Comment by erw | 7 November 2008

  11. Salam kenal Mbak.
    Aku kaget membacanya, halal-haram dihamtam aja. Mungkin dulu Mbak belum banyak tahu tentang hal ini, tapi sekarang ngak gitu kan? Sayang doong bila mbak terus konsumsi yang haram terus, ntar ngak muat buku catatan di akhirat. Saya sarankan hiduplah dengan yang halal-halal aja.
    Trims n jangan lupa mampir juga ke blog saya ya?

    Comment by BOY | 10 April 2009

  12. aku sangat bangga dengan ma’am wid karena tidak mudah untuk melepaskan diri dari keadaan seperti itu. Dan aku tahu kehidupan di sana itu seperti apa.karena saya pernah tinggal disana.

    Comment by Ardi Muthahir | 14 December 2009

  13. mba sempet tinggal di luar ya? bukan luar rumah, luar negeri maksudnya heheh

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s