Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Tradisi Mudik. Kenapa Harus Ada?!

Memasuki pertengahan puasa, orang mulai sibuk merencanakan mudik ke kampung halaman.
Uh, saya hanya punya senyum getir tiap mendengar kata ‘mudik lebaran’. Wong saya ga punya kampung halaman! Pilihan saya untuk mudik adalah Jakarta, atau Bandung, atau yang paling dekat Prabumulih (kota kecil penghasil minyak Sumsel). Semuanya tempat kakak-kakak saya plus famili-famili. Mereka menetap di kota-kota itu karena berbagai alasan. Mungkin awalnya hanya karena pekerjaan, terus menikah dan telanjur punya anak, jadi keterusan tinggal di kota itu. Tapi ga satu pun dari ketiga kota itu memiliki arti penting dalam hidup saya pribadi.
Pun saya ga ‘tega’ menghabiskan lebaran di Palembang, tempat saya mencari nafkah sekarang ini. Karena saya ga punya kerabat di kota ini. Teman-teman kerja yang sudah saya anggap saudara sendiri, semuanya sibuk dengan rutinitas lebaran. Sibuk menyambut keluarganya yang mudik ke kota ini. Atau mereka malah mudik ke kampung halaman di luar kota. Jadi….

Itu kenapa saya ga tertarik tradisi mudik. Rasanya beraaattt sekali mempersiapkan segala sesuatu untuk ‘mudik’. Kadang saya memberikan jawaban ga pasti kalau ditanya saudara-saudara saya kapan akan menyambangi mereka. Kalau sudah begitu, biasanya kakak saya dan keluarganya akan rela datang menjemput. Yah, ga ada pilihan selain ikut mereka menghabiskan lebaran di antara para tetangganya yang seringkali saya keliru menyebutkan nama. Bayangkan, gimana saya bisa menghafal nama-nama mereka, wong saya mengunjungi mereka setahun sekali!

Kenapa sih harus ada ritual mudik? Kan lebaran hanya 1-2 hari. Kenapa libur lebaran mesti seminggu, malah kadang lebih? Saya sih senang-senang aja bisa liburan tapi kalau boleh memilih… jangan saat lebaran.
Karena kakak-kakak saya akan sibuk bersilahturahmi dengan para tetangganya. Dulu-dulunya saya memilih ikut. Tapi beberapa tahun terakhir saya memilih tinggal di rumah. Soalnya capek mengulang cerita yang sama dari rumah ke rumah, karena setiap bertamu ke rumah para tetangga kakak, mereka selalu minta saya membahas hal yang sama: kerjaan. Padahal sumpah mati, saya lebih suka ga ngomong soal kerjaan saat bertamu lebaran.

Tinggal di rumah seharian, biasanya menjadi tugas saya menggantikan posisi pembantu rumah tangga yang mudik. Selebihnya yang saya lakukan adalah: tidur!
Jadi lebaran buat saya sama artinya pindah tempat tidur. Bedanya ga ada dering alarm yang membangunkan saya di pagi buta. Saya pernah tidur (saat itu lagi ‘koneksi kewanitaan’ jadi ga perlu sholat) dari jam 8 malam hingga jam 2 sore keesokan harinya. Kakak saya bingung kok dokter bisa mendeteksi saya sebagai pengidap insomnia!

Pekerjaan lain saat lebaran paling-paling makan. Dua kegiatan utama saat lebaran ini, tidur plus makan, mencengangkan saudara-saudara kakak ipar saya. Mereka setengah mati heran gimana saya yang makan asal ketemu, tanpa menghitung jumlah kolesterol atau lemak, dan tidur ga pakai limit, kok tetap saja bisa super langsing!

Kegiatan yang rada bermanfaat saat lebaran yang bisa saya lakukan adalah menelpon. Soal ini, terpaksa saya harus mengeluarkan dana lebih. Karena ga enak hati menggunakan telpon kakak terus-menerus. Soalnya saya menggunakannya untuk telpon jalur manca negara. Biasanya saya telpon boss saya yang sedang tidur. Meski awalnya ‘ngamuk’ tapi kemudian dia mengerti kalau saya lagi sebel banget sama sesuatu yang namanya lebaran. Dia memiliki permasalahan yang ga jauh beda dengan Christmas dan saat-saat begitu biasanya saya akan jadi sukarelawan yang harus mau menerima telponnya semalam suntuk. Saya ga suka membuang waktu menelpon teman-teman yang sedang merayakan lebaran. Mereka semua pasti super sibuk.
Saya pernah menelpon seorang teman dekat di Ontario pas dia selesai sholat Ied. Eh, setelah setengah jam berlalu, dia bilang: honey, I’m so sorry but I must go working soon. Meski lebaran dia ga berhak dispensasi. Orang-orang seperti saya yang ga lagi bisa menikmati lebaran kecuali saat sholat Ied, mungkin lebih cocok tinggal di tempat-tempat seperti itu, kali yah?!

Tapi jauh di bagian dalam sini (moga bisa melihat arah telunjuk saya, the deepest heart), saya kok ga mau ketinggalan ritual lebaran. Meski beberapa hari yang lalu sudah dikirimi duit buat berkunjung ke tempat teman di suatu negara daripada bete berhari-hari selama lebaran, saya menampiknya. Saya rindu mendengar beduk ditalukan mulai fajar hingga siang hari. Saya rindu mendengar suara anak-anak kecil yang kadang asal bunyi menyuarakan ‘Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… laa ilaa haillahu wallahu akbar… Allahu akbar walillahil hamd…’

23 September 2008 - Posted by | Opini | , ,

4 Comments »

  1. sepertinya sih bukan ritual bu..
    mungkin maksud mudik disini pulang ke rumah..
    kayak saya yg sekarang di surabaya, pulang ke medan untuk berkumpul dengan keluarga..bisa dikatakan mudik..

    atau sewaktu saya kuliah di malaysia, lebaran adalah waktu yg tepat untuk pulang berkumpul dengan keluarga..bisa dikatakan mudik..

    nah, terus kenapa mesti waku lebaran??
    karena waktu lebaran lah liburnya yg panjang..

    coba kalau libur panjang ada di idul adha, kemungkinan mudiknya waktu idul adha..

    ibu mungkin tinggal menunggu waktu aja, pada saat anak ibu sudah dewasa nanti, ada yang kuliah di jakarta, atau ada ynag kerja di singapura, atau mendapat beasiswa di jerman, mereka pasti akan menggunakan lebaran sebagai media mudik untuk pulang kerumah dimana mereka dibesarkan, di mana org tuanya tinggal, agar bisaberkumpul dengan kakak, adik, ibu, dan ayah tercinta..

    begitu bukan???

    Comment by Doli Anggia Harahap | 24 September 2008

  2. kalo emang MAU mudik dan BISA mudik, maka kerjakanlah. tapi, kalo ada sedikit ajah KERAGUAN. mending dipikirkan kembali.

    he..he..he..😉

    Comment by nyurian | 30 September 2008

  3. mudik sebuah ritual jika kita mensakralkan🙂 atau sebuah liburan jika kita menyenanginya. seperti haji… yang kita harapkan sebuah ritual dan liburan yang menyenangkan, layaknya idul fitri dimana umat di Indonesia menganggap hari ini layaknya ritual dan liburan sekaligus🙂

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H, Jafar Shadiq mengucapkan mohon maaf lahir batin

    Comment by reekoheek | 1 October 2008

  4. Indonesia adalah negara yg campur-aduk antara tradisi dan ritual agama. Mudik, dilihat dari sisi ritual-nya adalah silaturahmi: tujuannya saling meminta maaf untuk sempurnanya fitrah. Kok kayaknya mirip yah, saya juga paling males kalo mudik pas hari-H🙂 Malesnya musti berdesakan di angkutan umum, belum kalo bawa keluarga atau oleh2. Yah, cara mensiasati-nya, saya mudik H+7. Jadi pas orang pada balik ke kota saya malah mudik (lha piye toh, kok di wolak-walik🙂 )

    Comment by taufan | 9 October 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s