Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Kejadian Memalukan

Pernah mengalami kejadian memalukan dalam hidup anda?

Salah satu keponakan saya yang cantik menjadi inspirasi penulisan ini. Katanya jika orang lain diminta menceritakan kejadian memalukan atau tindakan bodoh yang pernah dilakukannya, seseorang akan berpikir lama untuk mengingat apa mereka pernah melakukan atau mengalaminya, tetapi saya (tantenya) akan berpikir lama karena terlalu banyak mengalami kejadian memalukan atau tindakan bodoh. Bodohnya lagi, saya sama sekali ga tersinggung dengan kata-kata ponakan saya🙂

Kejadian memalukan atau hal bodoh yang saya alami biasanya terjadi karena saya jarang sekali membaca koran lokal atau menonton TV lokal. Sehingga beberapa berita regional yang lagi membumi terlewatkan begitu saja. Bahkan sejak setahun lalu saya hampir ga sempat baca koran padahal sebelumnya saya ga pernah melewati hari tanpa koran. Maka jadilah saya orang ‘kuper’ berita nasional maupun regional. Tapi sambil mengetik, saya rajin browsing atau men-download berita internasional.

Faktor lain karena rutinitas harian saya mengharuskan saya mobile setiap hari. Kalau pagi di kampus, siang di tempat mengajar, bisa jadi sore di kampus lagi, dan malam hingga lewat tengah malam menyelesaikan proyek di luar kegiatan mengajar dan kampus. Pekerjaan terakhir biasanya saya lakukan di luar rumah atau bisa jadi di rumah sendirian hanya berteman laptop, Guns n Roses, dan internet.

Kesibukan-kesibukan itu membuat saya relatif jarang ngumpul dengan teman-teman untuk sekadar bertukar gosip, misalnya. Tapi untungnya saat saya punya kesempatan ngumpul, sambil makan siang misalnya, teman-teman berbaik hati menanyakan apa saya udah tahu berita ini atau berita itu dan mereka dengan senang hati menceritakannya secara detil. Beruntungnya lagi, saya mengajar siswa-siswi yang juga dapat memaklumi hal ini. Dan mau berbagi berita dan gosip dengan rela tanpa saya tanya.

Ini beberapa kejadian, yang kalau saya ingat, saya sendiri ga paham kenapa saya yang jadi ‘tokoh’ memalukan itu.

Tahun 2002 (kalau saya ga salah ingat), saya dan saudara-saudara memboyong keluarga masing-masing merayakan lebaran di rumah kakak tertua. Maksudnya, biar kelihatan kayak orang-orang lain ada tradisi mudik meski itu bukan tanah kelahiran seseorang dari kami lima saudara🙂 Karena ini pertama kalinya kami ngumpul, belum lagi harus mengawasi anak-anak yang rata-rata masih balita atau di bawah 10 tahun, maka keperluan pribadi di kamar mandi maupun berdandan ga bisa dilakukan dengan santai. Semua serba terburu-buru.

Kami melaksanakan sholat Ied di tanah lapang dalam cuaca panas. Maklum saat itu lebaran jatuh di musim kemarau. Setiap orang kegerahan, kecuali saya. Kakak tertua ga henti-hentinya bertanya apa saya ga kepanasan. Saya juga heran. Kepala saya dapat merasakannya tapi badan saya kok adem ayem saja. Bahkan saya hampir ga berkeringat!

Setibanya di rumah saat mengganti pakaian sholat, saya terkejut. Teriakan ‘Loh?’ saya membuat ponakan-ponakan dan saudara-saudara perempuan saya yang semuanya juga sedang mengganti pakaian di kamar yang sama, menoleh. Semua seperti dikomandoi menertawai saya. Tahunya, saya lupa melepaskan handuk setengah basah yang membungkus tubuh saya. Handuk itu ikut serta dalam sholat Ied. Pantas saja saya tenang-tenang saja saat semua orang kegerahan!

Berikut ini terjadi dalam rapat SMA Plus Negeri 17 Palembang. Kepala sekolah mengatakan bahwa Paltivi ingin membuat profil sekolah kami dalam beberapa hari ke depan. Saya langsung berbisik pada teman di sebelah.

‘Paltivi bergerak di bidang apa, Mbak?’

Untungnya teman satu ini mengerti kalau saya memang sering telat berita regional. Maka dia berusaha menjelaskan.

“Yah, buat ngisi acara mereka. Sekolah kita diminta bikin profil. Paling-paling tentang lab, KBM, prestasi-prestasi. Namanya Paltivi, Wyd. Baru sebulan ini ada.’

‘Yang Wyd tanya, Paltivi tuh apaan…?’ saya bertanya cukup keras, ga puas dengan penjelasannya.

Justru kepala sekolah yang nyeletuk apa saya belum tahu kalau Paltivi udah beroperasi. Saya sambil tersenyum ga enak hati terpaksa membenarkan.

“Sudah hampir sebulan, Bu. Mereka sendiri kok yang minta ijin membuat profil sekolah kita untuk acara profil sekolah atau semacam itu. Tayangnya sore hari kalau ga salah,’ beliau meneruskan penjelasan.

‘Oh, Paltivi tuh nama stasiun TV ya, Mbak? Kayak RCTI, SCTV gitu?’ saya berkata pada teman di samping saya setelah merasa menemukan jawaban.

Wah, jangan tanya berapa banyak pasang mata memandang saya sambil melemparkan senyum amat lebar. Sayangnya, senyum mereka pastilah bukan senyum penghormatan. Mungkin mereka ga habis pikir betapa kupernya saya ga tahu ada stasiun TV lokal bernama PalTV udah tayang sejak sebulan lalu!

Kejadian berikut berlangsung dalam eforia Pilkada Sumsel bulan ini. Saat itu saya dan beberapa teman di kampus terlibat dalam diskusi ala mahasiswa tentang Pilkada Sumsel. Seorang teman lain yang baru datang, berujar, ‘Wah, spanduk Aldy di mana-mana sepanjang jalan menuju kompleks rumah saya, terkesan kami disuguhi terong tiap hari.’

Saya langsung bertanya, ‘Aldy apaan?’

Semua orang menoleh ke arah saya. Beberapa sambil tersenyum lebar.

“Yah, maam… kok ga tahu sih? Aldy kan calon gubernur. Pilkada… Pilkada…!’

‘Oohhh… gue kira cuma ada dua calon. Alex sama Syahrial. Maklum, kuper berita nih!’ saya menertawai kekuperan saya.

‘Maam…!’ semua berteriak kencang.

Lantas sambil tertawa semua sibuk menjelaskan bahwa Aldy adalah Alex Nurdin-Eddy Yusuf, singkatan nama salah satu calon gubernur dalam Pilkada!

Waduh, seharusnya saya udah membaca gelagat itu, waktu si teman mengatakan ‘disuguhi terong tiap hari’ karena pasangan Alex Nurdin-Eddy Yusuf memilih warna ungu dan relawan ungu adalah sebutan bagi simpatisan mereka🙂

10 September 2008 - Posted by | Personal | ,

5 Comments »

  1. hahahahaha..

    saya juga nih buat..kurang nih berita regional saya..medan..
    dan lagi sekrang saya disurabaya jgnkan berita medan, berita surabaya pun saya ga pernah dapet..
    ga punya tipi, maklum bujangan melajang..hehe..

    Malah waktu di malaysia pas kuliah, berita medan malah habis saya lahap..

    apa pengaruh internet saya yang sangat2 merangkak..??

    Comment by Doli Anggia Harahap | 18 September 2008

  2. ohhh ceritanya jadi anak kos yahh???

    tapi seru yah punya ‘kampung halaman’… jadi pingin ikutan punya🙂

    Comment by wyd | 19 September 2008

  3. kejadian memalukan… sampai saat ini langsung terlupakan😀

    Comment by reekoheek | 22 September 2008

  4. krn cuma satu maka bisa langsung dilupakan??

    wah, saya sampai saat ini masih sering dijadikan bulan2an teman2 sekantor krn ‘memecahkan rekor’ di Unsri… dan ‘rekor’-nya bukan sesuatu yg membanggakan tapi amat amat amat memalukan🙂

    Comment by wyd | 22 September 2008

  5. wyd… bagusan kuper dari pada kepo

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s