Kimia dan Fiksi

Mereaksikan Kimia dengan Imajinasi

Bahasa Indonesia di Lidah Bule

Waktu pertama kali boss saya belajar Bahasa Indonesia, saya harus siap dibangunkan di tengah malam buta. Pasalnya, dia belajar Bahasa Indonesia dari CD yang banyak dijual di toko buku di tempatnya sana, tapi kadang dia ga ngerti bahasa yang diucapkan si tutor.

Saat lagi istirahat siang, dia menelpon.
‘Sudah makankah kamu, sayang?’ tanyanya seperti mengeja.
Karuan saya ngakak sebelum menjawab!
What’s wrong?’ tanyanya.
Tahunya, dia ga menemukan kalimat untuk menanyakan apakah teman sudah makan atau belum, maka dia menggunakan bantuan transtool untuk menerjemahkan.

Waktu pertama kali datang ke Indonesia, dia udah pe-de banget dengan Bahasa Indonesia versi CD-nya. Dialog berikut terjadi dalam minggu pertama kunjungannya.

‘Mau pesan apa, Mbak?’ tanya waitress pada saya.
‘Nasi goreng tapi tanpa banyak panas,’ boss saya yang menjawab. Saya biarkan si penjual celingukan bingung.
‘Maksudnya digoreng sebentar aja?’ penjual balik bertanya.
No, but tanpa panas, ok?’
‘Maksudnya tanpa cabe, Bang,’ saya membetulkan. Kasihan melihat di penjual kebingungan.

Aslinya sih dia ga buka kamus waktu bertanya apa Bahasa Indonesia untuk ‘brand’. Tanpa pikir itu akan digunakan suatu hari nanti, saya iseng bilang ‘perek’. Suatu hari kami ke mall buat belanja pakaian.
‘Perek mana yang kamu suka?’ tanya boss.
Saya senyum-senyum geli. Si pramuniaga melotot padanya.
‘Saya tahu ada perek bagus and cocok buat kamu,’ katanya lagi.
Kali ini lebih keras karena saya agak jauh. Seorang pramuniaga lain mendekat.
‘Anda mau beli pakaian atau cari perek?’ tanya si pramuniaga pertama gusar.
‘Yah, saya pernah lihat perek punya potongan bagus di sini.’
‘Wah, maaf tapi kami hanya jualan pakaian di sini, ga nyambi jadi perek,’ kali ini malah pramuniaga kedua yang naik darah.
Sebelum bertambah parah, saya jelaskan maksud boss saya.

Sampai hari ini dia masih sering heran kenapa wanita-wanita Indonesia pergi ke mall kayak mau pergi kondangan. Maksudnya, mengenakan hak tinggi, plus dandanan rapi. Soalnya di negaranya sana wanita-wanita pergi ke mall kayak kita mau ke pasar tradisional, seringkali hanya mengenakan sepatu kets. Saya jelaskan bahwa mall bagi kebanyakan orang Indonesia ga ubahnya tempat wisata formal, jadi mesti keren. Kalau dia balik bertanya kenapa saya hanya mengenakan sandal bertumit rendah, saya bilang karena saya menghormatinya sebagai bule. Padahal aslinya, saya takut cepat capek dan ga bisa mengejar langkahnya yang lebar.

Humor di mata bule sering berbeda dengan humor yang kita rasakan. Kadang saya sebal bikin cerita lucu tapi si bule ga ketawa sama sekali. Kalau saya memintanya ketawa sedikit saja buat pelepas kesal, dia malah balik bertanya bagian mana yang harus bikin dia ketawa.
‘Capek, deh,’ paling itu komentar saya, kehilangan harapan.
‘Apa artinya?’
Lalu saya akan menjelaskan bahwa ‘capek deh’ artinya kira-kira kultur yang beda bikin tawa kami beda. Sekali ini dia kena saya akal-akalin.

Marah kadang bisa jadi lucu sama si bule. Satu hari karena kerjaan belum kelar padahal deadline udah mepet, kami sama-sama high tense.
‘Kamu tau kenapa ini ga balance?’ tanyanya.
‘Tau,’ jawab saya, lalu menyelesaikan poin yang dimaksud.
Tapi setelah setengah jam kemudian saya masih belum selesai, dia mulai ga sabaran.
Do you know we have a limited time, don’t you?’
‘Tauuuukk!’ jawab saya panjang.
That’s good. So I don’t need to tell you!’ katanya.
Karuan saya cekikikan karena ‘tauuukk!’ yang saya maksud tentu aja ga tau.

Satu hari di bandara Sukarno-Hatta, dia mengantar saya yang akan kembali ke Palembang. Seperti biasa saya ga pernah keluar duit kalau lagi jalan sama dia. Dia yang bayarin semua makan dan minum plus menyeret koper besar bawaan saya, yang isinya melulu oleh-oleh buat anak di rumah. Saat duduk di kafetaria, beberapa wanita di sekitar kami ga henti-hentinya memandangi kami sambil sesekali berbisik. Mungkin mereka pikir bodoh banget si bule tertarik wanita Indonesia macam saya dengan wajah cuma dipoles bedak bayi. Atau mungkin mereka pikir saya wanita bayaran karena si bule terlalu tua buat saya.
Iseng saya lewati wanita-wanita itu, pura-pura membeli camilan.
‘Itu enaknya punya suami bule, perhatian sama istri,’ komentar yang sempat terdengar.
Saya senyum-senyum ga henti begitu duduk kembali sampai si bule mengira saya tiba-tiba kena kanker otak.

Saya terbiasa bilang ‘Hah?’ kalau ada omongannya yang ga jelas. Dalam bahasa tulisan jika kami ngobrol lewat messenger, akan saya tulis, ‘Huh?’
Anehnya kalau dia yang bilang ‘hah?’ dengan logatnya, rasanya fals aja di telinga saya. Kalau berkali-kali dia bilang begitu (mungkin maksudnya untuk menghormati saya) maka saya akan ngomel sendiri, ‘hah heh hah heh.’ Dia tanpa rasa bersalah kembali mengulang ‘hah’ nya karena dalam bahasanya ga kenal istilah hah heh kalau lagi mangkel. Dan istilah itu juga ga ditemukannya di kamus!

Meski saya ga terlalu suka mpek-mpek, saya perkenalkan makanan itu padanya. Satu hari saya minta dia sendiri yang pesan.
‘Pekpek kapal selam dua, ya,’ katanya yakin, padahal yang baru diucapkannya adalah bahasa Palembang untuk alat kelamin perempuan.
Si penjual melotot menahan marah.
‘Mpek-mpek,’ si penjual membetulkan kalimatnya.
‘Iya. Pekpek dua,’ ulangnya.
Meski sebal banget, si penjual melayaninya. Tapi waktu mengantarkan ke meja, dia menegur saya.
‘Mbak, ajarkan tuh bule biar ga ngomong kotor!’

Saya mengirimkan seorang teman bule sebuah paket berisi beberapa macam camilan tradisional. Salah satunya keripik ubi super pedas dari Padang, pemberian seorang teman yang baru mudik. Warna keripik yang merah menyala mirip warna manisan. Iseng saya tempeli kertas di bungkusnya bertuliskan: watch out, too sweet!!!!
Sekitar seminggu kemudian dia menelpon saya dengan nada kesal.
Hey you wrote it’s too sweet but it’s f*cking chilli only!’
Cepat saya menutup telpon dan mengiriminya permintaan maaf lewat messenger bahwa jalur telpon saya mati.

Sama seperti bule lain, boss saya suka banget bilang ‘Oh, I see’. Kalau udah keseringan, saya balik tanya ‘What do you see?’

Juga sama seperti bule lain, dia biasa menyebut saya ‘babe‘ atau kalau mood-nya lagi bagus biasanya sebutan ‘honey‘ yang digunakannya. Masalahnya kadang dia ga pandang tempat padahal saya lagi ga mood melototin orang yang mungkin berpikiran negatif.
‘Hani, Hani, Hani. Nama saya Wyd!’

10 September 2008 - Posted by | Umum | ,

11 Comments »

  1. hehehe… itu mungkin mengapa blog transtoolish terasa aneh buatmu. mungkin itu salah satu alasan ingin nulis posting ini juga🙂. salut bu, maaf saya termasuk anak-anak yang merusak bahasa di transtoolish. bukan sebuah wujud penghinaan, hanya terlalu kesal ga bisa2 bahasa inggris hingga banyak tawaran bekerja abroad dibatalkan karena penguasaan bahasa inggris saya yang ‘katrok’ abis🙂. dan mungkin mengkritisi kemampuan software penterjemah semacam transtool yang tak mengalami peningkatan dibanding software serupa untuk bahasa inggris ke bahasa lain seperti china dan jepang. saya sering baca website china dan jepang dengan translator dan lumayan paham🙂

    Comment by reekoheek | 10 September 2008

  2. hehe.
    kadang2 putri suka ngerasa, temen2 bule atau middle east punya standar menghargain cewe yang lebih tinggi dari temen2 indonesia (khususnya cowo).

    kalo temen2 putri disini, 90% belajar bahasa indonesia nya dimulai dengan kata2 kotor (maklum anak muda).

    digosipin macem2 emang udah jd resiko.
    salah satu temen yg juga tetangga samping kamar pernah bilang (tapi gak serius), “I start hating Indonesians”
    “Kenapa?”
    “First, they really like gossip. We just talk now and tomorrow they will said we are pacaran”
    Saya cuma ketawa. “Ok, what else?”
    “Can’t stand on their super loud voice-especially in someone’s birthday!”

    narsis, gila foto, heboh, rame.
    itu udah image indonesia bgt buat mereka.
    tapi tetep aja mereka bilang orang indonesia adalah yang paling ramah!🙂

    Comment by putrijump | 10 September 2008

  3. Nah bu, seperti komentar yang ibu tinggalkan di blog saya.

    “yang penting sama-sama ngertilah..daripada pake EYD tapi sama-sama bingung…”

    nah tu bu, si pak bule, bisa membuat emosi orang kan kalau dia salah ngomong..kan bahaya tu bu, iya kalau cuma waitress, kalau yang dia buat emosi itu “LAE BATAK BERTATO DI SIMPANG SEKIP MEDAN”, nah, bisa-bisa ibu besok ganti bos..hehehe..

    maksud saya sih, pergunakanlah EYD di tempat-tempat formal bu. Masa buat iklan atau pebulisan di surat kabar pakai bahasa pasaran..gitu..
    tp kalo bahasa sehari-hari mesti pake EYD ya emg bakal merepotkan..

    Comment by Doli Anggia Harahap | 15 September 2008

  4. belum lihat rambu2 jalan di sepanjang jakarta yang juga udah banyak diganti ‘lidah bule’ gara2 aksen cinta laura?
    cek deh buruan!

    Comment by wyd | 16 September 2008

  5. bahasa indonesia kita semakin parah…

    Comment by Doli Anggia Harahap | 16 September 2008

  6. bos nya ganteng ya…. Bu Wyd, salam untuk Partner nya….

    Comment by J | 27 April 2012

  7. wyd… oh I C.. Ok babe (lah kapan gw operasi kelamin jadi laki2, manggil gw babe). honey i luv u. Sialan dia mau jadiin gw madu-nya dia, kawin lagi dong.

    Comment by Riri El Rose | 11 October 2013

  8. Asli aku ga berenti ketawa bacanya hahahhh

    Comment by glouvara | 16 April 2015

  9. ini lucu bangettttt!! aku ketawa ketawa sendiri bacanya😀

    Comment by Anonymous | 25 April 2015

  10. hehehee
    lucu banget ceritanya…bule itu memang lucu kalau mereka gk bisa atau kurang fasih ngomong dalam bahasa indonesia…kentang aja di bilang kandang

    Comment by hamida | 22 August 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s